Senin, 29 Juni 2015

The Only Exception


Author : Sherly Holmes
Genre : Romance, Drama
Cerita ini hanya fiktif belaka dan hanya untuk hiburan semata.
___
Sore itu,
Seorang pria turun dari mobilnya, ia melihat ban depan mobil yang kempes. Pria itu kesal, “sial”
Setelah mobil derek tiba,
Pria itu mencari taxi yang lewat, “menyebalkan sekali”
Sebuah taxi mendekat dan pria itu masuk.
“mau kemana tuan?” supir taxi itu menoleh ke belakang.
“ya Tuhan... kau perempuan?” pria itu kaget.
Perempuan itu tersenyum dan mulai menjalankan taxi-nya.
“kau tomboy? Aku suka” pria itu tersenyum, “namaku Robert, by the way”
Perempuan itu kembali menatap jalan.
“hey, kenapa kau tidak memberitaukan namamu?” Robert menatap perempuan itu.
“maaf tuan, dilarang bicara dengan supir saat sedang berkendara. Itu bisa membuat supir kehilangan konsentrasi”
“ok, tapi.. tadi juga, kamu bicara kan?”
Perempuan itu sedikit kesal.
Robert diam, ia tau perempuan itu tidak suka. Ia mulai bingung, “ok ok, aku tidak akan mengajakmu bicara lagi”
Sepanjang jalan, Robert tetap diam. Perempuan itu menatapnya lewat spion depan, ia tersenyum melihat Robert menutup mulutnya dengan rapat.
“aku bercanda, tuan. Santai saja”
“ah, kau ini. Kau satu-satunya supir taxi yang membuatku kikuk”
“benarkah?”
“yups, ngomong-ngomong, apa sekarang... aku boleh tau namamu?”
“kau memaksa sekali”
“ayolah, aku akan membayar 2 kali lipat jika kau mau memberi tau namamu”
“jadi, sekarang kau mulai merayu?”
“ya” jawab Robert, polos.
Sesampainya di depan rumah Robert,
“silahkan tuan”
“aku tidak akan turun sebelum kau memberi taukan namamu”
Perempuan itu menoleh dan menatap Robert.
Robert agak takut, “aku tidak akan turun meski kau marah”
“namaku Bella, bisakah tuan turun sekarang?”
“aku lebih suka dipanggil Robert” Robert tersenyum.
Bella semakin kesal, “aku mohon, Robert”
Robert tersenyum, “ok, terima kasih” ia memberikan uangnya pada Bella, lalu turun.
Taxi pun pergi.
Robert tersenyum, perempuan itu boleh juga.
***
Di sebuah taman,
“dasar laki-laki, semuanya sama saja. Mata keranjang” Bella mengingat Robert.
“hey, kau sedang apa?” seorang pria mendekat.
“Teddy? Aku.. aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya duduk disini”
Ted membuka topi Bella.
“apaan sih?”
“kamu itu cewek, jangan dandan kaya gini terus dong”
“kok kamu ngomong gitu? Biasanya juga, kamu nerima aku apa adanya kan? Atau.. sekarang, kau tidak mau berteman dengan ku lagi?”
“eeh... jangan marah gitu dong, aku kan cuma bercanda”
“tapi itu gak lucu, tau?”
“sorry deh, tapi jujur, sebenernya kamu cantik kalau dandan”
“aku ini supir taxi, bukan model” Bella meninggalkan Ted.
“Bella, tunggu dong” Ted mengikutinya.
Malamnya,
Bella duduk di sofa rumahnya dan melamun, Bella mengingat masa lalunya...
Saat itu,
Orang tua Bella bertengkar hebat, mereka bertengkar karena ayah Bella ketauan selingkuh. Ayah Bella mengeluarkan kata-kata kasar dan menyakiti ibu Bella, Bella kecil tidak bisa berbuat apa-apa melihat itu.
Akhirnya, orang tua Bella bercerai. Ayah menikah dengan wanita lain dan ibu, ia begitu menderita. Ibu yang mulai sakit, membuat Bella berusaha melakukan apa pun demi kebahagiaan ibunya. Sejak saat itu, ia bertekat untuk menjadi pelindung ibunya. Dan laki-laki, mereka adalah orang yang paling menyebalkan di dunia.
Sejak saat itu pula, Bella menutup hatinya. Ia tidak ingin mencintai pria manapun, ia memutuskan untuk hidup sendiri tanpa adanya seorang pria disampingnya.
“Bella” Ted masuk dan duduk disamping Bella.
“Ted?”
“kamu kenapa sih?”
“aku gak apa-apa”
“jangan bo’ong deh, kita kan temen”
“tadi sore, ada penumpang aneh”
“maksudnya?”
“dia genit, maksa-maksa pingin kenalan”
Ted yang mengerti perinsip Bella, hanya tersenyum.
“eh, kenapa senyum?”
“gak apa-apa, nih, aku bawain makanan”
“makasih ya” Bella tersenyum.
***
Di rumah Robert,
Robert sedang bicara dengan seseorang lewat telpon, ia begitu kesal dengan orang tersebut.
“denger ya, kita itu udah putus. Apa kamu gak ngerti?” Robert menutup telponnya, “dasar cewek gila”
Telpon Robert kembali berbunyi.
Robert yang masih emosi, mengangkatnya lagi. Ia marah, “mau apa lagi sih?”
“Robert, kamu kok gitu?”
“ya ampun, sayang? Maaf, aku kira...”
“apa?”
“itu, tadi ada penelpon gak jelas yang maksa-maksa gitu deh”
“maksa apa? Kamu gak ngeduain aku kan?”
“ya ampun, enggak sayang. Kamu itu satu-satunya pacarku”
“bener?”
“bener sayang”
“ok deh”
“nah gitu dong” Robert tersenyum, ia lega pacarnya sudah percaya.
“ya udah, jangan lupa, besok kita ketemu di kedai yang biasa. Jangan sampai telat, jangan ada alasan meeting lagi”
“siap bos” Robert menutup telponnya, lalu ia menarik nafas panjang dan mengeluarkannya.
Besoknya,
Robert keluar dari perusahaan, seseorang mendekat.
“maaf tuan, biar saya yang mengeluarkan mobil anda”
“tidak usah, lebih baik, kau mengantarkan mobilku ke rumah” Robert memberikan kunci mobilnya.
“lho? Tapi...”
“aku mau naik taxi” Robert tersenyum, ia ingat pada Bella.
Orang itu kaget, “ah? Baiklah” ia pun pergi untuk membawa mobil Robert.
Robert berjalan ke luar gerbang perusahaan, ia diam di pinggir jalan.
“ah, panas sekali hari ini”
Sebuah taxi mulai terlihat.
“aduh, itu taxi dia bukan ya? Aku lupa plat nomornya” Robert berfikir.
Taxi itu mendekat, Robert masuk.
“kemana tuan?” Ted menoleh dan menatap Robert.
Ah, ternyata bukan dia. Robert agak kecewa, ia ingin Bella yang mengemudikan taxinya.
“tuan?”
“ah, iya. Maafkan aku, kita ke kedai waffle yang ada di taman kota”
“baik”
Taxi pun mulai berangkat.
Di jalan,
Telpon Robert berbunyi.
“hallo?”
“sayang, kamu dimana? Aku udah di kedai nih”
“ya ampun, sorry banget yang. Aku masih di taxi, tapi bentar lagi juga sampe kok”
“pokoknya, kamu harus cepet datang kesini”
“iya iya, siap” Robert menyimpan HP-nya, ia menatap Ted dan tersenyum. Robert mengeluarkan uang, “jika kau bisa mengemudi lebih cepat lagi, aku akan membayarmu 2 kali lipat”
Ted kaget.
***
Di kedai,
Robert masuk dan melihat pacarnya yang sudah menunggu dengan kesal, “sayang” Robert mendekat.
“lama banget sih?”
“aku baru bubar, aku sibuk di kantor”
“setiap hari juga gitu”
“hey, jangan marah-marah terus dong”
“ya udah, aku mau pesen dulu” perempuan itu pergi.
Robert duduk santai, tapi HP-nya kembali berbunyi.
“hallo?”
“sayang, kamu dimana?”
Robert kaget, ternyata itu adalah pacarnya yang lain, “aduh, aku lagi meeting nih. Entar malem aja. Aku jemput kamu, ok?”
“kebiasaan deh”
“udah dulu sayang, ini meetingnya udah dimulai” Robert melihat pacarnya kembali, ia pun menutup telponnya.
“telpon dari siapa?” pacar Robert curiga.
“ini, kolegaku”
“beneran?”
“ya ampun, kamu itu kenapa sih?”
“kamu kan mata keranjang”
“emh, teganya”
Setelah makan selesai, mereka berpisah di depan kedai. Robert memanggil taxi dan masuk.
Di dalam taxi,
Robert menatap supir taxi dan tersenyum, “Bella?”
Bella menoleh, “hey” ia kembali mengemudi, “mau kemana kita?”
“kemana pun, aku mau”
“jika ingin bermain-main, cari taxi lain”
“ya ampun, dari kemarin kamu galak terus. Kamu gak suka ya sama aku?”
“tugas seorang supir taxi itu, hanya mengantarkan penumpangnya ke tempat tujuan. Apa ada yang lain?”
“ok” Robert mengangguk, “kau sangat profesional sebagai supir taxi, tapi... apakah miss independent ini tidak punya kekasih?”
Bella menghentikan mobilnya.
“hey?” Robert kaget.
Bella menoleh dan menatap Robert, “turun dari taxi-ku, sekarang”
Robert melihat tatapan Bella yang begitu kesal, “kau marah?”
“turun”
“o..ok” Robert turun, lalu ia mendekati pintu depan mobil dan membukanya, ia memberikan uang pada Bella.
“aku gak butuh” Bella langsung menutup pintunya.
“aduh, tanganku kejepit”
Bella kaget, “maafkan aku” ia langsung membuka pintu mobil dan turun, Bella memegang tangan Robert dan melihat luka di jarinya.
Robert tersenyum melihat expresi Bella, “aku gak apa-apa kok”
“dasar menyebalkan” Bella kesal dan meremas jari Robert.
“aaw.., itu beneran sakit”
“maaf-maaf” Bella melihat luka memar.
Akhirnya, Bella kembali mengantarkan Robert. Sekarang Robert duduk di kursi depan di samping Bella.
“harusnya kamu gak ngelakuin hal-hal aneh” Bella bicara tanpa menatap Robert, ia terus memperhatikan jalan.
“jadi, aku yang salah?” Robert menatap Bella.
“ok, aku yang salah. Aku yang menyebabkan jarimu terjepit”
Robert tersenyum, “kenapa kau begitu marah? Aku hanya bertanya statusmu kan? Kau single atau sudah...”
“aku rasa, itu hal pribadi. Kau tidak pantas bertanya seperti itu kan?”
“aku tau, kita memang baru bertemu. Tapi, bagaimana seseorang mau mendekati wanita, jika dia tidak tau statusnya?”
“maksudmu?”
“maksudku, aku ingin makan siang denganmu. Besok, di kedai es krim”
“tapi aku harus kerja, aku bukan perempuan yang dibayar untuk menemanimu makan”
“ok, bagaimana jika besok kau menjemputku ke perusahaan” Robert memberikan alamatnya, “lalu kau antar aku ke kedai es krim dan kembalikan aku ke perusahaan lagi” Robert tersenyum, “kau bilang, tugas seorang supir untuk mengantar penumpangnya kemana pun. Itu sama saja kan?”
“kau pintar”
“memang”
“tapi kau licik”
Robert diam, “ok, yang penting aku pintar”
Bella tersenyum.
“oh God... kau cantik sekali saat tersenyum” Robert menatap rambut Bella yang agak kemerahan di balik topinya, “jika rambut itu dibiarkan terurai, aku rasa, kau akan semakin cantik”
“stop” Bella kembali jutek, “dilarang merayu supir saat menyetir”
“aku tidak merayu, itu kan kenyataan. Memangnya, kau tidak pernah bercermin ya?”
Bella langsung menatap dirinya dari spion.
***
Malam itu,
Bella bercermin, ia membuka topinya dan membiarkan rambutnya terurai. Bella melihat rambutnya yang agak bergelombang, dia bilang, aku cantik. Robert yang sedang tersenyum, ada dalam bayangan Bella.
“hey Bell” Ted tersenyum melihat Bella.
“Ted?” Bella kaget dan kembali memakai topinya.
“kenapa? Rambut kamu bagus kok”
Bella menatap Ted, “menurutmu.. bagaimana jika aku membiarkan rambutku terurai saat sedang bekerja?”
“tak masalah, asalkan kau nyaman”
“ok”
“ada apa sih? Apa yang membuatmu...?”
“besok, aku diajak makan siang” Bella tersenyum.
“makan siang? Apa dia seorang pria?”
“tentu saja, kau fikir, aku apa? Aku masih normal tau”
“jadi kau punya pacar?”
“tidak” Bella ingat pada Robert, “tadi aku gak sengaja bikin tangannya kejepit, jadi dia minta makan siang bareng. Ya, untuk menebus rasa bersalah”
“oh, gitu?”
“kok kamu ngomongnya gitu?”
“enggak, sedikit kaget aja. Tiba-tiba, kamu kenalan sama cowok dan...”
“udah deh Ted, itu semua gak seperti yang kamu bayangin kok”
Besoknya,
Bella menjalankan taxinya ke dekat perusahaan Robert, ia melihat Robert sudah stand by di pinggir jalan. Bella tersenyum dan mendekatkan taxinya.
“akhirnya kau datang juga” Robert masuk, “sudah 15 menit kau membiarkanku dibakar matahari”
“apa kau keturunan vampire?”
“hey, sekarang miss independent bisa bercanda?” Robert tersenyum melihat rambut Bella yang terurai, “kau terlihat seperti seorang putri”
“jadi, aku seorang putri yang mengemudikan taxi?”
“ya, tidak masalah. Aku jamin, banyak pria yang ingin naik taxi ini jika melihat wanita cantik yang mengemudikannya”
“kau mulai lagi kan? Merayu dengan bualan aneh dari mulutmu”
“kau itu kenapa sih? Setiap aku bicara status, kau marah. Jika aku bicara pria, kau juga marah. Kau ingin aku bicara apa? Atau jangan-jangan, kau tidak suka pria?”
“jangan berfikir yang macam-macam”
“aku rela jadi wanita demi bisa dekat denganmu”
“jika kau berubah jadi wanita, aku akan menendangmu keluar dari taxi ini”
“oh, menyeramkan”
Mereka sampai.
Di kedai,
“aku ingin es krim coklat, stawberry, vanilla, emh... apa lagi ya?” Robert bicara pada pelayan.
“banyak sekali” Bella kaget, “kau itu berdandan seperti pria dewasa, tapi kelakuanmu seperti anak kecil”
“sayang... sayang..., apa kau tidak mengerti? A. Aku memang pria dewasa, B. Aku suka es krim dan C. Aku memang C.E.O. dari perusahaan tadi” Robert menatap Bella, “apa semuanya sudah jelas?”
“baiklah, tuan, nona, saya permisi” pelayan itu pergi.
“kau tidak perlu memanggilku sayang, kau bukan siapa-siapaku” Bella kesal.
“ok” Robert terus memperhatikan Bella sambil tersenyum.
“kau itu kenapa sih?”
“apa kau tidak menyadari kecantikanmu?”
“cukup, jangan mulai lagi”
“ayolah Bella, kau itu seorang wanita. Jadilah wanita yang...”
“jangan mengaturku”
“aku tidak bermaksud untuk...”
“jika kau bicara lagi, aku akan keluar”
“tapi aku belum membayarmu kan?”
“aku tidak peduli” Bella bangun dari tempat duduknya.
“Bella” Robert memegang tangan Bella.
Bella terdiam menatap Robert, ia merasa, ada yang aneh dengan perasaannya.
“duduklah, aku minta maaf. Aku janji tidak akan macam-macam lagi”
Bella duduk tanpa bicara, ia masih bingung dengan apa yang dia rasakan.
Robert tersenyum dan pesanan mereka datang, “asyik” Robert senang dan mulai memakan es krimnya.
Bella tersenyum melihat tingkah Robert.
“eh, dimakan dong es krimnya” Robert menatap Bella.
“iya” Bella mulai memakannya.
Saat mereka keluar dari kedai,
Ted yang ada di dalam taxi, melihat itu. Ia kaget, “ya ampun, cowok itu kan...?” Ted ingat saat Robert menjadi penumpangnya, “bukannya dia udah punya pacar?” ia ingat saat Robert ditelpon oleh seorang wanita.
***
Robert dan Bella kembali masuk ke dalam taxi,
“kamu gak malu apa? Makan es krim sama supir taxi”
“kenapa harus malu? Aku kan makan sama bidadari”
Bella menatap Robert.
“maaf” Robert diam, “tapi jika aku tidak merayu, bagaimana kau menyukaiku?”
Bella diam, ia ingat akan sakit hatinya terhadap laki-laki. Laki-laki itu kejam, buktinya, ayah menyakiti perasaan ibu hingga ibu sakit parah.
“Bella, kau baik-baik saja?” Robert merasa aneh.
“ya, tolong jangan bicara lagi”
“ok, aku minta maaf”
Mereka pun sampai di perusahaan Robert.
“terima kasih ya” Robert memberikan uangnya.
Bella tersenyum dan kembali menjalankan taxinya.
Robert terus menatap taxi Bella, sepertinya ada yang aneh dengan perempuan itu.
***
Malam itu,
Bella mulai bercermin, ia menatap dirinya. Mungkinkah yang dikatakan Robert itu benar? Apa iya sebaiknya aku mulai berdandan?
Bella tersenyum dan mulai membuka bedak yang baru saja ia beli. Perlahan, Bella mulai memakainya.
“Bella?” Ted kaget melihat Bella.
“Ted?” Bella menoleh dan menyimpan bedaknya.
Ted tersenyum, “apa yang merasukimu?”
“jangan bicara begitu, memangnya, aku tidak boleh berdandan?”
“tapi ini udah malem Bell, ini saatnya tidur”
“aku tau, aku hanya...”
“apa pria itu lagi?” Ted menatap Bella.
“apa maksudmu? Aku hanya ingin seperti wanita lain, mereka berdandan saat dewasa dan aku rasa, aku sudah dewasa”
“ok, kau benar”
Bella menatap Ted.
“aku ikut senang dengan perubahanmu akhir-akhir ini, tapi aku berharap, ini benar-benar dari hatimu, bukan karena pria itu”
“maksudmu apa?”
“Bell, pria yang tadi pergi bersamamu sudah memiliki kekasih”
“tau dari mana kau?”
“aku..., kemarin aku mengantarnya ke kedai waffle. Dia ditelpon pacarnya”
“lalu?”
“tadi aku melihat kalian keluar dari kedai es krim”
“kau memata-mataiku?”
“Bella...”
“cukup Ted, aku gak suka ini”
“Bell, aku cuma..”
“apa? Mau lindungin aku? Aku bisa jaga diriku sendiri. Lagi pula, kau tau prinsipku kan?”
“aku tau, kau ingin hidup tanpa pria disampingmu kan? Tapi yang saat ini kau lakukan, itu sudah berbeda Bell. Aku tau, kamu suka sama cowok itu kan?” Ted menatap Bella, “aku hanya memperingatkanmu sebagai teman, aku tidak ingin kau terluka lagi”
“cukup, jangan bicarakan itu” Bella kesal, ia tidak mau mengingat sakit hatinya.
“maafkan aku” Ted pergi.
Besoknya,
Robert melihat taxi Bella, “itu dia, itu plat nomornya” ia tersenyum dan mendekati taxi itu, Robert masuk.
Tanpa diduga, yang mengendarainya adalah Ted.
“ya Tuhan, kau bukan Bella?” Robert kaget, “kau bukan Bella kan? Atau Bella sudah berubah menjadi seorang pria?”
“jangan pura-pura bodoh begitu tuan, aku memang bukan Bella”
“syukurlah, aku kira, dia berubah menjadi pria”
“aku teman Bella dan aku ingin bicara denganmu”
“denganku?” Robert menatap Ted.
“yap” Ted pun mengendarai taxinya.
“hey, mau kemana kita?”
“itu tidak penting”
“tapi aku harus kerja”
“jika yang mengendarai taxi ini Bella, kau rela libur kan?”
“tergantung”
“dasar mata keranjang”
“hey, kenapa kau mengataiku?”
“aku mohon, jangan ganggu Bella”
“apa maksudmu?”
“Bella memiliki masa lalu yang menyedihkan, aku tidak mau dia semakin sakit”
Robert menatap Ted dan Ted mulai menceritakan masa lalu Bella.
“jadi, Bella bersikap seperti itu karena sakit hati pada ayahnya?”
Ted mengangguk, “dan kau telah membuatnya berubah menjadi perempuan yang sebenarnya”
“bagus, aku ingin segera bertemu dengannya”
“aku rasa, kau harus menjauhinya”
Robert kaget mendengar itu, ia menatap Ted dengan sedikit kesal.
“aku tidak mau kau menyakiti hati Bella, mungkin sekarang Bella mulai berubah dan membuka hatinya padamu. Tapi aku tau, kau bukan pria yang serius padanya, iya kan? Kau hanya ingin mempermainkan Bella”
“hey, kenapa kau berfikir buruk padaku?”
“itu memang nyata, apa kau lupa? Aku pernah mengantarmu untuk bertemu dengan pacarmu dan aku tau jika kau memiliki selingkuhan dibalik semua itu”
“ya Tuhan... kau benar-benar...”
“jangan mengelak tuan, aku tau”
“ok, jadi apa tujuanmu?”
“aku ingin kau bertindak serius” Ted menatap Robert, “jika kau serius pada Bella, aku tidak akan melarang hubungan kalian. Tapi jika kau hanya ingin mempermainkannya, lebih baik kau pergi. Jauhi Bella, jangan pernah mengganggunya dan mebuatnya menderita”
“sepertinya, aku turun disini saja”
Ted menghentikan taxi-nya, “aku tidak akan macam-macam jika kau bersikap baik, tapi jika kau menyakitinya, aku tidak akan segan untuk melukaimu”
Robert semakin kesal.
“silahkan turun, kau tidak usah membayar, ini gratis”
Robert sangat kesal dan keluar dari mobil itu, “dasar supir sialan” ia berjalan menjauh dan memakai kacamatanya.
Setelah berjalan cukup jauh,
Klakson berbunyi dan sebuah taxi mendekati Robert, Robert menatap taxi itu. Kaca jendela turun dan Bella tersenyum dari dalam taxi.
“Bella?” Robert kaget.
“kau butuh taxi?”
“tentu” Robert masuk.
“kau terlihat kesal” Bella menatap Robert.
Robert menatap Bella, “kau terlihat sangat cantik” ia membuka kaca matanya.
“jika kau memakai kaca mata, mata keranjangmu sedikit tertutup”
“oh, kau mulai lagi”
“hey, kau agak sensitif hari ini”
“yap, aku sedikit kesal” Robert menatap Bella, “dengan seseorang”
“emh?”
“ya, dia menurunkan aku di tempat aneh ini”
“kasihan sekali”
“untungnya miss independent datang menyelamatkan aku”
“begitukah?”
“yap, aku juga sangat kaget melihat penampilannya”
Bella kaget mendengar itu, ini adalah pertama kalinya ia berdandan.
“jangan cemas, kau sangat cantik. Aku suka”
Bella tersenyum.
“aku ingin mengajakmu jalan-jalan, malam ini”
Bella kaget dan menatap Robert.
“berikan alamatmu, aku akan menjemputmu nanti malam. Aku akan mengemudi dan aku ingin, kau menjadi putri yang cantik malam ini”
“bagaimana jika aku tidak bisa?”
“aku akan terus memaksa sampai kau mau”
Bella menatap Robert, “kau selalu memaksa”
“terima kasih”
Bella menggeleng dengan heran.
***
Malam itu,
Bella memakai gaun, ia bercermin dan mulai berdandan. Ya Tuhan... aku rasa, rasa sakit itu sedikit berkurang karena Robert, apa benar aku mencintainya? Padahal, dulu aku sudah berjanji pada diriku untuk hidup tanpa pria. Tapi sekarang, ah... mungkinkah hanya Robert yang membuatku begini? Bisakah dia menjadi pengecualian dari janjiku?
Ted melihat Bella melamun, “Bella?”
“Ted?” Bella kaget.
Ted kaget melihat penampilan Bella, “kau mau kemana?”
“aku akan makan malam, dengan Robert” Bella tersenyum dan berdiri.
“ya ampun Bell, udah berapa kali aku bilang kan?”
Bella menatap Ted.
“ok ok, tapi jika pria itu macam-macam...”
“aku bisa membela diriku sendiri” Bella membentak Ted dan pergi.
Di luar,
Robert sudah datang dengan mobil sport-nya, Bella masuk ke mobil Robert dan mereka pergi. Ted kesal melihat itu.
Di restoran,
“kau senang?” Robert yang duduk berhadapan dengan Bella, tersenyum.
“apa maksudmu?”
“apa aku boleh masuk dalam hidupmu?”
Bella diam.
“Bella” Robert memegang tangan Bella, “aku senang melihat perubahan dalam dirimu, kau begitu cantik, kau...” Robert menatap Bella dan menciumnya.
Bella tetap diam, semua kebenciannya terhadap pria, sirna sudah.
Saat Bella pulang,
Ternyata Ted masih ada di rumah Bella.
“Ted?” Bella kaget.
“kau lama sekali”
“itu bukan urusanmu kan?”
“kita ini teman, kenapa kau lebih memilih pria itu daripada aku?”
“maksud kamu apa sih? Apa salah jika aku mencintai dia? Kau ingin aku hidup sendiri?”
“Bella, apa kau sadar? Dia banyak membuatmu berubah, kau tidak seperti dirimu yang dulu”
“aku tau Ted, janjiku di masa lalu adalah tindakan yang bodoh. Semua orang di dunia ini butuh cinta, termasuk aku”
“kenapa kau lebih memilih dia daripada aku Bell? Dari dulu, aku selalu menerimamu apa adanya”
“aku kira, kita teman”
“kau benar, maaf jika aku sudah bicara yang bukan-bukan” Ted pergi.
Bella duduk di sofa, ia bingung dengan semua yang terjadi. Bella hanya diam memikirkan semua itu.
Besoknya,
Bella mengemudikan mobilnya ke dekat rumah Robert, tapi ia terdiam. Bella melihat Robert sedang berciuman dengan seorang perempuan di depan rumahnya.
“Robert?” Bella kaget, ia pun mengemudikan mobilnya agar segera menjauh dari sana.
Air mata Bella kembali jatuh, kenapa Robert? Kenapa kau lakukan ini padaku?
Siang itu,
Robert keluar dari perusahaannya, ia mencari taxi Bella.
Robert melihat kesana-kemari, “mana sih? Biasanya, Bella lewat kesini”
Robert diam di pinggir jalan, ia terus berharap, Bella akan datang.
“ayolah Bella, kenapa kamu gak lewat-lewat sih?” Robert mulai kesal karena merasa kepanasan.
Akhirnya, Robert kembali ke perusahaan.
Sore itu,
Robert mengendarai mobilnya, ia mencari Bella dengan berkeliling kota.
Robert melihat taxi Bella yang sedang berhenti di pinggir jalan, “itu dia” Robert keluar dari mobilnya dan mendekati taxi Bella.
Robert masuk ke taxi Bella, Bella yang kaget, menoleh.
“hey Bella”
“kamu mau apa?”
“lho, kok?”
“dengar Robert, aku sedang bekerja. Aku gak punya waktu buat ngeladenin kamu”
“hey, aku akan membayar. Kau tenang saja”
Bella menahan emosinya, “keluar, Robert”
“Bella, kamu kenapa sih?”
“aku bilang, keluar” Bella membentak Robert.
“Bella?” Robert kaget.
“tolong keluar, tuan mata keranjang” air mata Bella menetes.
“Bella, apa yang terjadi? Kenapa kau bicara begitu padaku?”
“aku memang bodoh, aku lemah. Bisa-bisanya aku terbawa perasaan dengan pria menyebalkan sepertimu. Kau mata keranjang, kau hanya ingin mempermainkanku”
Robert diam.
“saat itu, Ted sudah memberitauku jika kau bukan pria yang baik. Tapi aku tidak percaya, aku malah menyukaimu. Dan sekarang, semua itu sudah aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Tadi pagi, kamu ciuman sama perempuan lain”
Robert terdiam, lalu ia ingat dengan perkataan Ted. Robert tersenyum, “Bella Bella, jadi kamu percaya kalau aku suka sama kamu? Bukankah selama ini, kamu marah jika aku merayumu? Kau memang rapuh, hatimu lemah, tidak seperti penampilanmu. Aku akui, perempuan yang tadi pagi kucium adalah pacarku. Dan asal kau tau saja, aku punya 2 simpanan dan selama ini, pacarku tidak tau akan hal itu”
“keluar” Bella berteriak.
“ok, santai saja cantik” Robert keluar dari taxi dengan menahan rasa sedihnya, ia berfikir, mungkin inilah yang terbaik. Robert sadar, dia bukanlah pria yang baik untuk Bella.
Sementara Bella, ia terus menangis di dalam taxi.
Beberapa hari kemudian,
Robert melamun di ruanganya, ia duduk termenung sambil menatap jendela. Robert ingat pada Bella.
Seorang perempuan tomboy yang mau berubah demi dirinya. Hati Bella pasti sangat sakit dengan apa yang Robert lakukan, apalagi masa lalunya yang menyedihkan. Mungkin Bella tidak akan percaya lagi pada cinta dan menutup hatinya untuk selama-lamanya.
Bella, maafkan aku...
***
Robert sampai di depan rumah Bella, ia berjalan masuk ke halaman.
“berhenti”
Robert menoleh, ia melihat Ted ada disana.
“mau apa kau kemari?” ted menatap Robert.
“aku, aku ingin bertemu Bella”
“belum puas kau menyakiti perasaannya?”
“aku hanya ingin meminta maaf, setelah itu, aku janji, aku tidak akan mengganggunya lagi”
“bohong”
“aku bersumpah, aku menyesal dengan semua...”
“Robert?” Bella yang baru saja datang, kaget melihat Robert.
“Bella” Robert mau mendekati Bella.
“berhenti disana” Ted berteriak.
“hey, aku hanya ingin minta maaf” Robert menatap Ted.
“kurang ajar” Ted kesal dan mau memukul Robert.
“Ted, tenang” Bella menatap Ted.
“Bella, dia harus diberi pelajaran. Dia telah menyakiti perasaanmu”
Robert berlutut dihadapan Bella, “maafkan aku”
Bella menatap Robert, “Robert...” ia bingung.
“aku tau aku memang tidak pantas untukmu, aku hanya ingin minta maaf. Aku janji tidak akan menggangumu lagi, tolong maafkan aku” Robert hanya menunduk.
“Robert” Bella duduk dan menatap Robert.
“maafkan aku”
Air mata Bella menetes.
“Bella” Robert sangat merasa bersalah.
“aku sudah memaafkanmu, pergilah”
Robert mengangguk, “terima kasih Bella”
***
Pagi itu,
Ted bersiap untuk mengantarkan seseorang ke bandara, tapi ia sadar jika orang itu Robert. Ia pun menghubungi Bella dan memberitaunya.
Robert masuk ke dalam taxi, ia tersenyum pada Ted.
“kau mau kemana?”
“kembali ke keluargaku”
“bagaimana dengan perusahaanmu?”
“aku bertukar tempat dengan ayah”
“begitukah?”
“yap”
“bagaimana dengan pacarmu yang banyak itu?”
“aku sudah putus dengan mereka semua, aku juga minta maaf dan jujur”
“owh, hebat sekali”
“ya, memang. Aku hanya ingin berubah menjadi lebih baik”
Ted menatap Robert, “apa yang menyadarkanmu?”
“Bella” Robert menatap Ted, “juga kau”
“aku mulai takut mendengar itu”
“jangan salah sangka begitu”
“jadi, kau tidak akan kembali?”
“aku sudah bicara dengan orang tuaku setelah aku minta maaf pada Bella”
“jadi, niatmu sudah bulat?”
“jika tidak, mengapa aku memutuskan untuk pergi?”
“kau yakin?”
“Ted, kau aneh hari ini” Robert menatap Ted.
Di bandara,
“terima kasih banyak” Robert turun dan mengambil kopernya.
Saat Robert berjalan masuk, langkahnya terhenti. Ia melihat Bella dihadapannya.
“kau akan pergi?”
“yap” Robert diam.
Bella menunduk.
“a..aku minta maaf”
“bukankah kau sudah minta maaf?”
“rasa bersalah itu tetap ada pada diriku” Robert menatap Bella, “seandainya waktu bisa diputar, aku tidak ingin menyakitimu”
“benarkah kau tidak ingin menyakitiku?” Bella menatap Robert dengan mata yang memerah.
“tentu, aku sayang padamu”
“tapi yang kau lakukan sekarang, akan menyakitiku”
Robert melihat ke arah lain, “aku sudah membicarakan ini dengan orang tuaku seminggu yang lalu, mereka setuju jika aku bertukar tempat dengan ayah”
Bella menunduk.
Robert menatap Bella, “tapi, jika aku menghubungi mereka lagi. Mungkin hal ini bisa dibatalkan”
Bella menatap Robert dan Robert tersenyum, mereka berpelukan.
“jadi tuan mata keranjang tidak akan pergi?”
“itu karena nona independent yang membuatku iba”
“apa?”
“aku bercanda” Robert tersenyum, “aku mencintaimu, makanya aku tidak jadi pergi”
“lalu, apa yang membuatmu ingin pergi?”
“aku takut... jika kau tidak ingin bertemu denganku lagi”
“benarkah?”
“ya, aku jatuh cinta padamu dan aku sangat mengharapkanmu”
Ted hanya tersenyum melihat mereka dari dalam taxi, ya... meski ia juga menyukai Bella, tapi ia tau, jika Bella hanya akan bahagia bersama Robert.
The End
___
Thank’s for reading…
Maaf kalau isinya kurang menarik, komentar yang membangun sangat diharapkan! ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar