Author : Sherly Holmes
Genre : Romance, Drama
Cerita ini hanya fiktif
belaka dan hanya untuk
hiburan semata.
Sore itu,
Seorang pria turun dari
mobilnya, ia melihat ban depan mobil yang kempes. Pria itu kesal, “sial”
Setelah mobil derek tiba,
Pria itu mencari taxi yang
lewat, “menyebalkan sekali”
Sebuah taxi mendekat dan
pria itu masuk.
“mau kemana tuan?” supir
taxi itu menoleh ke belakang.
“ya Tuhan... kau
perempuan?” pria itu kaget.
Perempuan itu tersenyum
dan mulai menjalankan taxi-nya.
“kau tomboy? Aku suka”
pria itu tersenyum, “namaku Robert, by the way”
Perempuan itu kembali
menatap jalan.
“hey, kenapa kau tidak
memberitaukan namamu?” Robert menatap perempuan itu.
“maaf tuan, dilarang
bicara dengan supir saat sedang berkendara. Itu bisa membuat supir kehilangan
konsentrasi”
“ok, tapi.. tadi juga,
kamu bicara kan?”
Perempuan itu sedikit
kesal.
Robert diam, ia tau
perempuan itu tidak suka. Ia mulai bingung, “ok ok, aku tidak akan mengajakmu
bicara lagi”
Sepanjang jalan, Robert
tetap diam. Perempuan itu menatapnya lewat spion depan, ia tersenyum melihat
Robert menutup mulutnya dengan rapat.
“aku bercanda, tuan.
Santai saja”
“ah, kau ini. Kau
satu-satunya supir taxi yang membuatku kikuk”
“benarkah?”
“yups, ngomong-ngomong,
apa sekarang... aku boleh tau namamu?”
“kau memaksa sekali”
“ayolah, aku akan membayar
2 kali lipat jika kau mau memberi tau namamu”
“jadi, sekarang kau mulai
merayu?”
“ya” jawab Robert, polos.
Sesampainya di depan rumah
Robert,
“silahkan tuan”
“aku tidak akan turun
sebelum kau memberi taukan namamu”
Perempuan itu menoleh dan
menatap Robert.
Robert agak takut, “aku
tidak akan turun meski kau marah”
“namaku Bella, bisakah
tuan turun sekarang?”
“aku lebih suka dipanggil
Robert” Robert tersenyum.
Bella semakin kesal, “aku
mohon, Robert”
Robert tersenyum, “ok,
terima kasih” ia memberikan uangnya pada Bella, lalu turun.
Taxi pun pergi.
Robert tersenyum, perempuan itu boleh juga.
***
Di sebuah taman,
“dasar laki-laki, semuanya
sama saja. Mata keranjang” Bella mengingat Robert.
“hey, kau sedang apa?”
seorang pria mendekat.
“Teddy? Aku.. aku tidak
melakukan apa-apa. Aku hanya duduk disini”
Ted membuka topi Bella.
“apaan sih?”
“kamu itu cewek, jangan
dandan kaya gini terus dong”
“kok kamu ngomong gitu?
Biasanya juga, kamu nerima aku apa adanya kan? Atau.. sekarang, kau tidak mau
berteman dengan ku lagi?”
“eeh... jangan marah gitu
dong, aku kan cuma bercanda”
“tapi itu gak lucu, tau?”
“sorry deh, tapi jujur,
sebenernya kamu cantik kalau dandan”
“aku ini supir taxi, bukan
model” Bella meninggalkan Ted.
“Bella, tunggu dong” Ted
mengikutinya.
Malamnya,
Bella duduk di sofa rumahnya
dan melamun, Bella mengingat masa lalunya...
Saat
itu,
Orang
tua Bella bertengkar hebat, mereka bertengkar karena ayah Bella ketauan
selingkuh. Ayah Bella mengeluarkan kata-kata kasar dan menyakiti ibu Bella,
Bella kecil tidak bisa berbuat apa-apa melihat itu.
Akhirnya,
orang tua Bella bercerai. Ayah menikah dengan wanita lain dan ibu, ia begitu
menderita. Ibu yang mulai sakit, membuat Bella berusaha melakukan apa pun demi
kebahagiaan ibunya. Sejak saat itu, ia bertekat untuk menjadi pelindung ibunya.
Dan laki-laki, mereka adalah orang yang paling menyebalkan di dunia.
Sejak
saat itu pula, Bella menutup hatinya. Ia tidak ingin mencintai pria manapun, ia
memutuskan untuk hidup sendiri tanpa adanya seorang pria disampingnya.
“Bella” Ted masuk dan
duduk disamping Bella.
“Ted?”
“kamu kenapa sih?”
“aku gak apa-apa”
“jangan bo’ong deh, kita
kan temen”
“tadi sore, ada penumpang
aneh”
“maksudnya?”
“dia genit, maksa-maksa
pingin kenalan”
Ted yang mengerti perinsip
Bella, hanya tersenyum.
“eh, kenapa senyum?”
“gak apa-apa, nih, aku
bawain makanan”
“makasih ya” Bella
tersenyum.
***
Di rumah Robert,
Robert sedang bicara
dengan seseorang lewat telpon, ia begitu kesal dengan orang tersebut.
“denger ya, kita itu udah
putus. Apa kamu gak ngerti?” Robert menutup telponnya, “dasar cewek gila”
Telpon Robert kembali
berbunyi.
Robert yang masih emosi,
mengangkatnya lagi. Ia marah, “mau apa lagi sih?”
“Robert, kamu kok gitu?”
“ya ampun, sayang? Maaf,
aku kira...”
“apa?”
“itu, tadi ada penelpon
gak jelas yang maksa-maksa gitu deh”
“maksa apa? Kamu gak
ngeduain aku kan?”
“ya ampun, enggak sayang.
Kamu itu satu-satunya pacarku”
“bener?”
“bener sayang”
“ok deh”
“nah gitu dong” Robert
tersenyum, ia lega pacarnya sudah percaya.
“ya udah, jangan lupa,
besok kita ketemu di kedai yang biasa. Jangan sampai telat, jangan ada alasan
meeting lagi”
“siap bos” Robert menutup
telponnya, lalu ia menarik nafas panjang dan mengeluarkannya.
Besoknya,
Robert keluar dari
perusahaan, seseorang mendekat.
“maaf tuan, biar saya yang
mengeluarkan mobil anda”
“tidak usah, lebih baik,
kau mengantarkan mobilku ke rumah” Robert memberikan kunci mobilnya.
“lho? Tapi...”
“aku mau naik taxi” Robert
tersenyum, ia ingat pada Bella.
Orang itu kaget, “ah?
Baiklah” ia pun pergi untuk membawa mobil Robert.
Robert berjalan ke luar
gerbang perusahaan, ia diam di pinggir jalan.
“ah, panas sekali hari
ini”
Sebuah taxi mulai
terlihat.
“aduh, itu taxi dia bukan
ya? Aku lupa plat nomornya” Robert berfikir.
Taxi itu mendekat, Robert
masuk.
“kemana tuan?” Ted menoleh
dan menatap Robert.
Ah,
ternyata bukan dia. Robert agak kecewa, ia ingin Bella yang
mengemudikan taxinya.
“tuan?”
“ah, iya. Maafkan aku,
kita ke kedai waffle yang ada di taman kota”
“baik”
Taxi pun mulai berangkat.
Di jalan,
Telpon Robert berbunyi.
“hallo?”
“sayang, kamu dimana? Aku
udah di kedai nih”
“ya ampun, sorry banget
yang. Aku masih di taxi, tapi bentar lagi juga sampe kok”
“pokoknya, kamu harus
cepet datang kesini”
“iya iya, siap” Robert
menyimpan HP-nya, ia menatap Ted dan tersenyum. Robert mengeluarkan uang, “jika
kau bisa mengemudi lebih cepat lagi, aku akan membayarmu 2 kali lipat”
Ted kaget.
***
Di kedai,
Robert masuk dan melihat
pacarnya yang sudah menunggu dengan kesal, “sayang” Robert mendekat.
“lama banget sih?”
“aku baru bubar, aku sibuk
di kantor”
“setiap hari juga gitu”
“hey, jangan marah-marah
terus dong”
“ya udah, aku mau pesen
dulu” perempuan itu pergi.
Robert duduk santai, tapi
HP-nya kembali berbunyi.
“hallo?”
“sayang, kamu dimana?”
Robert kaget, ternyata itu
adalah pacarnya yang lain, “aduh, aku lagi meeting nih. Entar malem aja. Aku
jemput kamu, ok?”
“kebiasaan deh”
“udah dulu sayang, ini
meetingnya udah dimulai” Robert melihat pacarnya kembali, ia pun menutup
telponnya.
“telpon dari siapa?” pacar
Robert curiga.
“ini, kolegaku”
“beneran?”
“ya ampun, kamu itu kenapa
sih?”
“kamu kan mata keranjang”
“emh, teganya”
Setelah makan selesai,
mereka berpisah di depan kedai. Robert memanggil taxi dan masuk.
Di dalam taxi,
Robert menatap supir taxi
dan tersenyum, “Bella?”
Bella menoleh, “hey” ia
kembali mengemudi, “mau kemana kita?”
“kemana pun, aku mau”
“jika ingin bermain-main,
cari taxi lain”
“ya ampun, dari kemarin
kamu galak terus. Kamu gak suka ya sama aku?”
“tugas seorang supir taxi
itu, hanya mengantarkan penumpangnya ke tempat tujuan. Apa ada yang lain?”
“ok” Robert mengangguk,
“kau sangat profesional sebagai supir taxi, tapi... apakah miss independent ini
tidak punya kekasih?”
Bella menghentikan
mobilnya.
“hey?” Robert kaget.
Bella menoleh dan menatap
Robert, “turun dari taxi-ku, sekarang”
Robert melihat tatapan
Bella yang begitu kesal, “kau marah?”
“turun”
“o..ok” Robert turun, lalu
ia mendekati pintu depan mobil dan membukanya, ia memberikan uang pada Bella.
“aku gak butuh” Bella
langsung menutup pintunya.
“aduh, tanganku kejepit”
Bella kaget, “maafkan aku”
ia langsung membuka pintu mobil dan turun, Bella memegang tangan Robert dan
melihat luka di jarinya.
Robert tersenyum melihat
expresi Bella, “aku gak apa-apa kok”
“dasar menyebalkan” Bella
kesal dan meremas jari Robert.
“aaw.., itu beneran sakit”
“maaf-maaf” Bella melihat
luka memar.
Akhirnya, Bella kembali
mengantarkan Robert. Sekarang Robert duduk di kursi depan di samping Bella.
“harusnya kamu gak
ngelakuin hal-hal aneh” Bella bicara tanpa menatap Robert, ia terus
memperhatikan jalan.
“jadi, aku yang salah?”
Robert menatap Bella.
“ok, aku yang salah. Aku
yang menyebabkan jarimu terjepit”
Robert tersenyum, “kenapa
kau begitu marah? Aku hanya bertanya statusmu kan? Kau single atau sudah...”
“aku rasa, itu hal
pribadi. Kau tidak pantas bertanya seperti itu kan?”
“aku tau, kita memang baru
bertemu. Tapi, bagaimana seseorang mau mendekati wanita, jika dia tidak tau
statusnya?”
“maksudmu?”
“maksudku, aku ingin makan
siang denganmu. Besok, di kedai es krim”
“tapi aku harus kerja, aku
bukan perempuan yang dibayar untuk menemanimu makan”
“ok, bagaimana jika besok
kau menjemputku ke perusahaan” Robert memberikan alamatnya, “lalu kau antar aku
ke kedai es krim dan kembalikan aku ke perusahaan lagi” Robert tersenyum, “kau
bilang, tugas seorang supir untuk mengantar penumpangnya kemana pun. Itu sama
saja kan?”
“kau pintar”
“memang”
“tapi kau licik”
Robert diam, “ok, yang
penting aku pintar”
Bella tersenyum.
“oh God... kau cantik
sekali saat tersenyum” Robert menatap rambut Bella yang agak kemerahan di balik
topinya, “jika rambut itu dibiarkan terurai, aku rasa, kau akan semakin cantik”
“stop” Bella kembali
jutek, “dilarang merayu supir saat menyetir”
“aku tidak merayu, itu kan
kenyataan. Memangnya, kau tidak pernah bercermin ya?”
Bella langsung menatap
dirinya dari spion.
***
Malam itu,
Bella bercermin, ia
membuka topinya dan membiarkan rambutnya terurai. Bella melihat rambutnya yang
agak bergelombang, dia bilang, aku
cantik. Robert yang sedang tersenyum, ada dalam bayangan Bella.
“hey Bell” Ted tersenyum
melihat Bella.
“Ted?” Bella kaget dan
kembali memakai topinya.
“kenapa? Rambut kamu bagus
kok”
Bella menatap Ted,
“menurutmu.. bagaimana jika aku membiarkan rambutku terurai saat sedang
bekerja?”
“tak masalah, asalkan kau
nyaman”
“ok”
“ada apa sih? Apa yang
membuatmu...?”
“besok, aku diajak makan
siang” Bella tersenyum.
“makan siang? Apa dia
seorang pria?”
“tentu saja, kau fikir,
aku apa? Aku masih normal tau”
“jadi kau punya pacar?”
“tidak” Bella ingat pada
Robert, “tadi aku gak sengaja bikin tangannya kejepit, jadi dia minta makan
siang bareng. Ya, untuk menebus rasa bersalah”
“oh, gitu?”
“kok kamu ngomongnya
gitu?”
“enggak, sedikit kaget
aja. Tiba-tiba, kamu kenalan sama cowok dan...”
“udah deh Ted, itu semua
gak seperti yang kamu bayangin kok”
Besoknya,
Bella menjalankan taxinya
ke dekat perusahaan Robert, ia melihat Robert sudah stand by di pinggir jalan.
Bella tersenyum dan mendekatkan taxinya.
“akhirnya kau datang juga”
Robert masuk, “sudah 15 menit kau membiarkanku dibakar matahari”
“apa kau keturunan
vampire?”
“hey, sekarang miss
independent bisa bercanda?” Robert tersenyum melihat rambut Bella yang terurai,
“kau terlihat seperti seorang putri”
“jadi, aku seorang putri
yang mengemudikan taxi?”
“ya, tidak masalah. Aku
jamin, banyak pria yang ingin naik taxi ini jika melihat wanita cantik yang
mengemudikannya”
“kau mulai lagi kan?
Merayu dengan bualan aneh dari mulutmu”
“kau itu kenapa sih?
Setiap aku bicara status, kau marah. Jika aku bicara pria, kau juga marah. Kau
ingin aku bicara apa? Atau jangan-jangan, kau tidak suka pria?”
“jangan berfikir yang
macam-macam”
“aku rela jadi wanita demi
bisa dekat denganmu”
“jika kau berubah jadi
wanita, aku akan menendangmu keluar dari taxi ini”
“oh, menyeramkan”
Mereka sampai.
Di kedai,
“aku ingin es krim coklat,
stawberry, vanilla, emh... apa lagi ya?” Robert bicara pada pelayan.
“banyak sekali” Bella
kaget, “kau itu berdandan seperti pria dewasa, tapi kelakuanmu seperti anak
kecil”
“sayang... sayang..., apa
kau tidak mengerti? A. Aku memang pria dewasa, B. Aku suka es krim dan C. Aku
memang C.E.O. dari perusahaan tadi” Robert menatap Bella, “apa semuanya sudah
jelas?”
“baiklah, tuan, nona, saya
permisi” pelayan itu pergi.
“kau tidak perlu
memanggilku sayang, kau bukan siapa-siapaku” Bella kesal.
“ok” Robert terus
memperhatikan Bella sambil tersenyum.
“kau itu kenapa sih?”
“apa kau tidak menyadari
kecantikanmu?”
“cukup, jangan mulai lagi”
“ayolah Bella, kau itu
seorang wanita. Jadilah wanita yang...”
“jangan mengaturku”
“aku tidak bermaksud
untuk...”
“jika kau bicara lagi, aku
akan keluar”
“tapi aku belum membayarmu
kan?”
“aku tidak peduli” Bella
bangun dari tempat duduknya.
“Bella” Robert memegang
tangan Bella.
Bella terdiam menatap Robert,
ia merasa, ada yang aneh dengan perasaannya.
“duduklah, aku minta maaf.
Aku janji tidak akan macam-macam lagi”
Bella duduk tanpa bicara,
ia masih bingung dengan apa yang dia rasakan.
Robert tersenyum dan
pesanan mereka datang, “asyik” Robert senang dan mulai memakan es krimnya.
Bella tersenyum melihat
tingkah Robert.
“eh, dimakan dong es
krimnya” Robert menatap Bella.
“iya” Bella mulai
memakannya.
Saat mereka keluar dari
kedai,
Ted yang ada di dalam
taxi, melihat itu. Ia kaget, “ya ampun, cowok itu kan...?” Ted ingat saat
Robert menjadi penumpangnya, “bukannya dia udah punya pacar?” ia ingat saat
Robert ditelpon oleh seorang wanita.
***
Robert dan Bella kembali
masuk ke dalam taxi,
“kamu gak malu apa? Makan
es krim sama supir taxi”
“kenapa harus malu? Aku
kan makan sama bidadari”
Bella menatap Robert.
“maaf” Robert diam, “tapi
jika aku tidak merayu, bagaimana kau menyukaiku?”
Bella diam, ia ingat akan
sakit hatinya terhadap laki-laki. Laki-laki itu kejam, buktinya, ayah menyakiti
perasaan ibu hingga ibu sakit parah.
“Bella, kau baik-baik
saja?” Robert merasa aneh.
“ya, tolong jangan bicara
lagi”
“ok, aku minta maaf”
Mereka pun sampai di
perusahaan Robert.
“terima kasih ya” Robert
memberikan uangnya.
Bella tersenyum dan
kembali menjalankan taxinya.
Robert terus menatap taxi
Bella, sepertinya ada yang aneh dengan perempuan itu.
***
Malam itu,
Bella mulai bercermin, ia
menatap dirinya. Mungkinkah yang
dikatakan Robert itu benar? Apa iya sebaiknya aku mulai berdandan?
Bella tersenyum dan mulai
membuka bedak yang baru saja ia beli. Perlahan, Bella mulai memakainya.
“Bella?” Ted kaget melihat
Bella.
“Ted?” Bella menoleh dan
menyimpan bedaknya.
Ted tersenyum, “apa yang
merasukimu?”
“jangan bicara begitu,
memangnya, aku tidak boleh berdandan?”
“tapi ini udah malem Bell,
ini saatnya tidur”
“aku tau, aku hanya...”
“apa pria itu lagi?” Ted
menatap Bella.
“apa maksudmu? Aku hanya
ingin seperti wanita lain, mereka berdandan saat dewasa dan aku rasa, aku sudah
dewasa”
“ok, kau benar”
Bella menatap Ted.
“aku ikut senang dengan
perubahanmu akhir-akhir ini, tapi aku berharap, ini benar-benar dari hatimu, bukan
karena pria itu”
“maksudmu apa?”
“Bell, pria yang tadi
pergi bersamamu sudah memiliki kekasih”
“tau dari mana kau?”
“aku..., kemarin aku
mengantarnya ke kedai waffle. Dia ditelpon pacarnya”
“lalu?”
“tadi aku melihat kalian
keluar dari kedai es krim”
“kau memata-mataiku?”
“Bella...”
“cukup Ted, aku gak suka
ini”
“Bell, aku cuma..”
“apa? Mau lindungin aku?
Aku bisa jaga diriku sendiri. Lagi pula, kau tau prinsipku kan?”
“aku tau, kau ingin hidup
tanpa pria disampingmu kan? Tapi yang saat ini kau lakukan, itu sudah berbeda
Bell. Aku tau, kamu suka sama cowok itu kan?” Ted menatap Bella, “aku hanya
memperingatkanmu sebagai teman, aku tidak ingin kau terluka lagi”
“cukup, jangan bicarakan
itu” Bella kesal, ia tidak mau mengingat sakit hatinya.
“maafkan aku” Ted pergi.
Besoknya,
Robert melihat taxi Bella,
“itu dia, itu plat nomornya” ia tersenyum dan mendekati taxi itu, Robert masuk.
Tanpa diduga, yang
mengendarainya adalah Ted.
“ya Tuhan, kau bukan
Bella?” Robert kaget, “kau bukan Bella kan? Atau Bella sudah berubah menjadi
seorang pria?”
“jangan pura-pura bodoh
begitu tuan, aku memang bukan Bella”
“syukurlah, aku kira, dia
berubah menjadi pria”
“aku teman Bella dan aku
ingin bicara denganmu”
“denganku?” Robert menatap
Ted.
“yap” Ted pun mengendarai
taxinya.
“hey, mau kemana kita?”
“itu tidak penting”
“tapi aku harus kerja”
“jika yang mengendarai
taxi ini Bella, kau rela libur kan?”
“tergantung”
“dasar mata keranjang”
“hey, kenapa kau
mengataiku?”
“aku mohon, jangan ganggu
Bella”
“apa maksudmu?”
“Bella memiliki masa lalu
yang menyedihkan, aku tidak mau dia semakin sakit”
Robert menatap Ted dan Ted
mulai menceritakan masa lalu Bella.
“jadi, Bella bersikap
seperti itu karena sakit hati pada ayahnya?”
Ted mengangguk, “dan kau
telah membuatnya berubah menjadi perempuan yang sebenarnya”
“bagus, aku ingin segera
bertemu dengannya”
“aku rasa, kau harus
menjauhinya”
Robert kaget mendengar
itu, ia menatap Ted dengan sedikit kesal.
“aku tidak mau kau
menyakiti hati Bella, mungkin sekarang Bella mulai berubah dan membuka hatinya
padamu. Tapi aku tau, kau bukan pria yang serius padanya, iya kan? Kau hanya
ingin mempermainkan Bella”
“hey, kenapa kau berfikir
buruk padaku?”
“itu memang nyata, apa kau
lupa? Aku pernah mengantarmu untuk bertemu dengan pacarmu dan aku tau jika kau
memiliki selingkuhan dibalik semua itu”
“ya Tuhan... kau
benar-benar...”
“jangan mengelak tuan, aku
tau”
“ok, jadi apa tujuanmu?”
“aku ingin kau bertindak serius”
Ted menatap Robert, “jika kau serius pada Bella, aku tidak akan melarang
hubungan kalian. Tapi jika kau hanya ingin mempermainkannya, lebih baik kau
pergi. Jauhi Bella, jangan pernah mengganggunya dan mebuatnya menderita”
“sepertinya, aku turun disini
saja”
Ted menghentikan taxi-nya,
“aku tidak akan macam-macam jika kau bersikap baik, tapi jika kau menyakitinya,
aku tidak akan segan untuk melukaimu”
Robert semakin kesal.
“silahkan turun, kau tidak
usah membayar, ini gratis”
Robert sangat kesal dan keluar
dari mobil itu, “dasar supir sialan” ia berjalan menjauh dan memakai
kacamatanya.
Setelah berjalan cukup
jauh,
Klakson berbunyi dan
sebuah taxi mendekati Robert, Robert menatap taxi itu. Kaca jendela turun dan
Bella tersenyum dari dalam taxi.
“Bella?” Robert kaget.
“kau butuh taxi?”
“tentu” Robert masuk.
“kau terlihat kesal” Bella
menatap Robert.
Robert menatap Bella, “kau
terlihat sangat cantik” ia membuka kaca matanya.
“jika kau memakai kaca
mata, mata keranjangmu sedikit tertutup”
“oh, kau mulai lagi”
“hey, kau agak sensitif
hari ini”
“yap, aku sedikit kesal”
Robert menatap Bella, “dengan seseorang”
“emh?”
“ya, dia menurunkan aku di
tempat aneh ini”
“kasihan sekali”
“untungnya miss
independent datang menyelamatkan aku”
“begitukah?”
“yap, aku juga sangat
kaget melihat penampilannya”
Bella kaget mendengar itu,
ini adalah pertama kalinya ia berdandan.
“jangan cemas, kau sangat
cantik. Aku suka”
Bella tersenyum.
“aku ingin mengajakmu
jalan-jalan, malam ini”
Bella kaget dan menatap
Robert.
“berikan alamatmu, aku
akan menjemputmu nanti malam. Aku akan mengemudi dan aku ingin, kau menjadi
putri yang cantik malam ini”
“bagaimana jika aku tidak
bisa?”
“aku akan terus memaksa
sampai kau mau”
Bella menatap Robert, “kau
selalu memaksa”
“terima kasih”
Bella menggeleng dengan
heran.
***
Malam itu,
Bella memakai gaun, ia
bercermin dan mulai berdandan. Ya
Tuhan... aku rasa, rasa sakit itu sedikit berkurang karena Robert, apa benar
aku mencintainya? Padahal, dulu aku sudah berjanji pada diriku untuk hidup
tanpa pria. Tapi sekarang, ah... mungkinkah hanya Robert yang membuatku begini?
Bisakah dia menjadi pengecualian dari janjiku?
Ted melihat Bella melamun,
“Bella?”
“Ted?” Bella kaget.
Ted kaget melihat
penampilan Bella, “kau mau kemana?”
“aku akan makan malam, dengan
Robert” Bella tersenyum dan berdiri.
“ya ampun Bell, udah
berapa kali aku bilang kan?”
Bella menatap Ted.
“ok ok, tapi jika pria itu
macam-macam...”
“aku bisa membela diriku
sendiri” Bella membentak Ted dan pergi.
Di luar,
Robert sudah datang dengan
mobil sport-nya, Bella masuk ke mobil Robert dan mereka pergi. Ted kesal
melihat itu.
Di restoran,
“kau senang?” Robert yang
duduk berhadapan dengan Bella, tersenyum.
“apa maksudmu?”
“apa aku boleh masuk dalam
hidupmu?”
Bella diam.
“Bella” Robert memegang tangan
Bella, “aku senang melihat perubahan dalam dirimu, kau begitu cantik, kau...”
Robert menatap Bella dan menciumnya.
Bella tetap diam, semua
kebenciannya terhadap pria, sirna sudah.
Saat Bella pulang,
Ternyata Ted masih ada di
rumah Bella.
“Ted?” Bella kaget.
“kau lama sekali”
“itu bukan urusanmu kan?”
“kita ini teman, kenapa
kau lebih memilih pria itu daripada aku?”
“maksud kamu apa sih? Apa
salah jika aku mencintai dia? Kau ingin aku hidup sendiri?”
“Bella, apa kau sadar? Dia
banyak membuatmu berubah, kau tidak seperti dirimu yang dulu”
“aku tau Ted, janjiku di
masa lalu adalah tindakan yang bodoh. Semua orang di dunia ini butuh cinta,
termasuk aku”
“kenapa kau lebih memilih
dia daripada aku Bell? Dari dulu, aku selalu menerimamu apa adanya”
“aku kira, kita teman”
“kau benar, maaf jika aku
sudah bicara yang bukan-bukan” Ted pergi.
Bella duduk di sofa, ia
bingung dengan semua yang terjadi. Bella hanya diam memikirkan semua itu.
Besoknya,
Bella mengemudikan
mobilnya ke dekat rumah Robert, tapi ia terdiam. Bella melihat Robert sedang
berciuman dengan seorang perempuan di depan rumahnya.
“Robert?” Bella kaget, ia
pun mengemudikan mobilnya agar segera menjauh dari sana.
Air mata Bella kembali
jatuh, kenapa Robert? Kenapa kau lakukan
ini padaku?
Siang itu,
Robert keluar dari
perusahaannya, ia mencari taxi Bella.
Robert melihat
kesana-kemari, “mana sih? Biasanya, Bella lewat kesini”
Robert diam di pinggir
jalan, ia terus berharap, Bella akan datang.
“ayolah Bella, kenapa kamu
gak lewat-lewat sih?” Robert mulai kesal karena merasa kepanasan.
Akhirnya, Robert kembali
ke perusahaan.
Sore itu,
Robert mengendarai
mobilnya, ia mencari Bella dengan berkeliling kota.
Robert melihat taxi Bella
yang sedang berhenti di pinggir jalan, “itu dia” Robert keluar dari mobilnya dan
mendekati taxi Bella.
Robert masuk ke taxi
Bella, Bella yang kaget, menoleh.
“hey Bella”
“kamu mau apa?”
“lho, kok?”
“dengar Robert, aku sedang
bekerja. Aku gak punya waktu buat ngeladenin kamu”
“hey, aku akan membayar.
Kau tenang saja”
Bella menahan emosinya,
“keluar, Robert”
“Bella, kamu kenapa sih?”
“aku bilang, keluar” Bella
membentak Robert.
“Bella?” Robert kaget.
“tolong keluar, tuan mata
keranjang” air mata Bella menetes.
“Bella, apa yang terjadi?
Kenapa kau bicara begitu padaku?”
“aku memang bodoh, aku
lemah. Bisa-bisanya aku terbawa perasaan dengan pria menyebalkan sepertimu. Kau
mata keranjang, kau hanya ingin mempermainkanku”
Robert diam.
“saat itu, Ted sudah
memberitauku jika kau bukan pria yang baik. Tapi aku tidak percaya, aku malah
menyukaimu. Dan sekarang, semua itu sudah aku lihat dengan mata kepalaku
sendiri. Tadi pagi, kamu ciuman sama perempuan lain”
Robert terdiam, lalu ia
ingat dengan perkataan Ted. Robert tersenyum, “Bella Bella, jadi kamu percaya
kalau aku suka sama kamu? Bukankah selama ini, kamu marah jika aku merayumu?
Kau memang rapuh, hatimu lemah, tidak seperti penampilanmu. Aku akui, perempuan
yang tadi pagi kucium adalah pacarku. Dan asal kau tau saja, aku punya 2
simpanan dan selama ini, pacarku tidak tau akan hal itu”
“keluar” Bella berteriak.
“ok, santai saja cantik”
Robert keluar dari taxi dengan menahan rasa sedihnya, ia berfikir, mungkin
inilah yang terbaik. Robert sadar, dia bukanlah pria yang baik untuk Bella.
Sementara Bella, ia terus
menangis di dalam taxi.
Beberapa hari kemudian,
Robert melamun di
ruanganya, ia duduk termenung sambil menatap jendela. Robert ingat pada Bella.
Seorang perempuan tomboy
yang mau berubah demi dirinya. Hati Bella pasti sangat sakit dengan apa yang
Robert lakukan, apalagi masa lalunya yang menyedihkan. Mungkin Bella tidak akan
percaya lagi pada cinta dan menutup hatinya untuk selama-lamanya.
Bella,
maafkan aku...
***
Robert sampai di depan
rumah Bella, ia berjalan masuk ke halaman.
“berhenti”
Robert menoleh, ia melihat
Ted ada disana.
“mau apa kau kemari?” ted
menatap Robert.
“aku, aku ingin bertemu
Bella”
“belum puas kau menyakiti
perasaannya?”
“aku hanya ingin meminta
maaf, setelah itu, aku janji, aku tidak akan mengganggunya lagi”
“bohong”
“aku bersumpah, aku
menyesal dengan semua...”
“Robert?” Bella yang baru
saja datang, kaget melihat Robert.
“Bella” Robert mau
mendekati Bella.
“berhenti disana” Ted
berteriak.
“hey, aku hanya ingin
minta maaf” Robert menatap Ted.
“kurang ajar” Ted kesal
dan mau memukul Robert.
“Ted, tenang” Bella
menatap Ted.
“Bella, dia harus diberi
pelajaran. Dia telah menyakiti perasaanmu”
Robert berlutut dihadapan
Bella, “maafkan aku”
Bella menatap Robert,
“Robert...” ia bingung.
“aku tau aku memang tidak
pantas untukmu, aku hanya ingin minta maaf. Aku janji tidak akan menggangumu
lagi, tolong maafkan aku” Robert hanya menunduk.
“Robert” Bella duduk dan
menatap Robert.
“maafkan aku”
Air mata Bella menetes.
“Bella” Robert sangat
merasa bersalah.
“aku sudah memaafkanmu,
pergilah”
Robert mengangguk, “terima
kasih Bella”
***
Pagi itu,
Ted bersiap untuk
mengantarkan seseorang ke bandara, tapi ia sadar jika orang itu Robert. Ia pun
menghubungi Bella dan memberitaunya.
Robert masuk ke dalam
taxi, ia tersenyum pada Ted.
“kau mau kemana?”
“kembali ke keluargaku”
“bagaimana dengan
perusahaanmu?”
“aku bertukar tempat
dengan ayah”
“begitukah?”
“yap”
“bagaimana dengan pacarmu
yang banyak itu?”
“aku sudah putus dengan
mereka semua, aku juga minta maaf dan jujur”
“owh, hebat sekali”
“ya, memang. Aku hanya
ingin berubah menjadi lebih baik”
Ted menatap Robert, “apa
yang menyadarkanmu?”
“Bella” Robert menatap
Ted, “juga kau”
“aku mulai takut mendengar
itu”
“jangan salah sangka
begitu”
“jadi, kau tidak akan
kembali?”
“aku sudah bicara dengan
orang tuaku setelah aku minta maaf pada Bella”
“jadi, niatmu sudah
bulat?”
“jika tidak, mengapa aku
memutuskan untuk pergi?”
“kau yakin?”
“Ted, kau aneh hari ini”
Robert menatap Ted.
Di bandara,
“terima kasih banyak”
Robert turun dan mengambil kopernya.
Saat Robert berjalan
masuk, langkahnya terhenti. Ia melihat Bella dihadapannya.
“kau akan pergi?”
“yap” Robert diam.
Bella menunduk.
“a..aku minta maaf”
“bukankah kau sudah minta
maaf?”
“rasa bersalah itu tetap
ada pada diriku” Robert menatap Bella, “seandainya waktu bisa diputar, aku
tidak ingin menyakitimu”
“benarkah kau tidak ingin
menyakitiku?” Bella menatap Robert dengan mata yang memerah.
“tentu, aku sayang padamu”
“tapi yang kau lakukan
sekarang, akan menyakitiku”
Robert melihat ke arah
lain, “aku sudah membicarakan ini dengan orang tuaku seminggu yang lalu, mereka
setuju jika aku bertukar tempat dengan ayah”
Bella menunduk.
Robert menatap Bella,
“tapi, jika aku menghubungi mereka lagi. Mungkin hal ini bisa dibatalkan”
Bella menatap Robert dan
Robert tersenyum, mereka berpelukan.
“jadi tuan mata keranjang
tidak akan pergi?”
“itu karena nona
independent yang membuatku iba”
“apa?”
“aku bercanda” Robert
tersenyum, “aku mencintaimu, makanya aku tidak jadi pergi”
“lalu, apa yang membuatmu
ingin pergi?”
“aku takut... jika kau
tidak ingin bertemu denganku lagi”
“benarkah?”
“ya, aku jatuh cinta
padamu dan aku sangat mengharapkanmu”
Ted hanya tersenyum
melihat mereka dari dalam taxi, ya... meski ia juga menyukai Bella, tapi ia
tau, jika Bella hanya akan bahagia bersama Robert.
The End
___
Thank’s for reading…
Maaf kalau isinya kurang menarik, komentar yang
membangun sangat diharapkan! ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar