Minggu, 27 September 2015

My Everything



Author : Sherly Holmes
Genre : Family, Drama
Cerita ini hanya fiktif belaka dan hanya untuk hiburan semata.
___
Pagi itu,
“kakak, tunggu aku kak” seorang perempuan mengejar laki-laki yang masuk ke mobil, “kakak”
Laki-laki itu menoleh, “mau apa kau?”
“kakak, aku ikut kakak ya” perempuan itu masuk ke mobil.
“kenapa kau tidak ikut ayahmu?”
“bukan ayahku, tapi ayah kita”
“terserah kau”
Sesampainya di sekolah,
“nanti kita pulang bareng ya kak”
“aku gak bisa”
“aku akan menunggu”
“aku pergi sampai malam”
“menginap pun tak masalah”
“Holly, bisakah kau menjauh dariku?” laki-laki itu kesal.
“maaf kak” Holly menunduk, ia pun pergi ke kelasnya.
“Robert”
Laki-laki itu menoleh, “hey Sam”
“nanti kau akan ikut?”
“aku tidak tau, si Holiday ingin pulang bersama ku”
“ajak saja dia, menurutku, dia adik yang manis”
“kalau begitu, kau saja yang jadi kakaknya” Robert pergi.
“lho, kok kamu marah? Robert?”
Sore itu,
Holly menunggu Robert di depan kelasnya.
“Holly, ngapain kamu disini?”
“kak Erza, kakak liat kakakku gak?”
“Robert kan udah pulang dari tadi”
“pulang?” Holly kaget.
***
Di rumah,
Ayah melihat Holly berjalan, “Holly? Ya ampun, kamu jalan kaki kesini?”
“iya ayah”
Ayah marah, “mana Robert?”
“aku gak tau, katanya kakak udah pulang”
“kurang ajar dia”
“ayah, aku mohon, jangan marah pada kakak”
Malam itu,
Robert baru pulang, ayah sudah menunggunya dengan marah.
“dari mana kau? Balapan liar lagi?”
Robert tersenyum, “kau marah karena aku meninggalkan anakmu kan?”
“dia adikmu”
“ok” Robert membuka bajunya.
Ayah pun melepas sabuknya dan mulai mencambuk Robert.
“ah” Robert kesakitan.
Holly yang mendengar itu, berlari ke ruang tamu, “ayah, hentikan”
Robert kaget dan menoleh.
Ayah terdiam, “Holly?”
Holly mendekati Robert, “ya Tuhan...” air matanya menetes melihat luka di punggung Robert, “aku mohon ayah, jangan sakiti kakak lagi”
Ayah pun pergi.
Robert menatap Holly, “kenapa kau belum tidur?”
“aku takut ayah akan memukul kakak dengan tongkat baseball lagi, aku gak mau tulang rusuk kakak patah lagi”
“dia hanya memecutku”
Holly memeluk Robert, “aku sayang kakak”
“lepaskan aku, aku tidak apa-apa” Robert bangun dan meninggalkan Holly.
“kakak” Holly mengikuti Robert.
“jangan ganggu aku, aku ingin tidur” Robert masuk ke kamar dan menutup pintunya.
Besoknya,
Holly keluar dari kamarnya dan melihat Robert, “kakak mau kemana?”
“kau ingin tau saja”
“kak” Holly memegang tangan Robert, “aku ikut ya kak”
“bisakah sehari saja kau tidak menggangguku?”
“kak” Holly sedikit pusing.
“lepas” Robert pergi.
“kakak, tunggu aku kak”
Robert masuk ke mobil dan menatap Holly, “mau apa lagi?”
“ikut”
Robert diam dengan kesal, Holly tersenyum dan masuk ke mobil.
Di jalan,
“aku tidak mau balapan jika ada kamu di dalam mobil”
“kenapa kakak suka hal berbahaya seperti itu?”
“aku berharap segera menyusul ibu, aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini”
“kakak jangan bilang begitu, aku sayang kakak. Ayah juga begitu”
“jadi menurutmu, pria yang suka memukulku itu sayang padaku?” Robert menghentikan mobilnya, “kau tau, apa yang paling aku benci? Dia selalu menghajarku karena kau”
Holly diam dan menunduk.
“aku benci kalian berdua”
Mereka sampai.
Holly turun dari mobil Robert, “hati-hati ya kak, jangan lupa pake sabuk pengamannya”
“cerewet”
Balapan pun dimulai.
“ayo kak” Holly berteriak memberi semangat pada Robert, “ayo kakak”
Panas terik matahari tak menghentikan semangat Holly untuk terus mendukung Robert.
Mobil Robert masuk ke garis finish.
“yeah”
Tapi darah tiba-tiba keluar dari hidung Holly.
Robert keluar dari mobil dan teman-temannya berkerumun.
“kau hebat kawan”
“tentu saja, siapa dulu”
“Robert, Robert” seseorang berteriak.
Robert menoleh.
“adikmu pingsan”
“Holly?”
***
Di rumah sakit,
“dasar anak bodoh, kenapa kau membiarkan Holly di tengah panas terik?” ayah marah pada Robert.
“ayah tidak pernah bilang padaku kalau dia sakit, mana mungkin aku tau apa yang boleh dan apa yang tidak boleh”
Ayah menampar Robert, “jika terjadi apa-apa pada Holly, kau harus bertanggung jawab”
“ayah ingin memenjarakan aku? Lakukan, ayah ingin membunuhku? Lakukan”
“kau..”
“tuan-tuan, maaf. Ini rumah sakit, tolong tenang” seorang suster menghampiri mereka.
Ayah duduk dan menangis.
Robert menunduk, “kenapa ayah tidak pernah bilang jika Holly sakit parah? Kenapa ayah dan ibu merahasiakan semua itu dariku?”
“Holly yang menginginkan itu, dia bilang, dia tidak mau kakaknya sedih”
Dokter keluar, “tuan Gary?”
“saya dok”
“keadaan anak anda sangat lemah, tapi kami akan berusaha membuatnya stabil kembali”
“terima kasih dok”
Dokter kembali masuk.
Ayah menatap Robert, “aku akan pergi ke ruang administrasi, Holly harus segera dioprasi jika keadaannya sudah stabil” ayah pergi.
Robert menangis, aku bukan kakak yang baik. Kenapa kau selalu menyayangiku? Kenapa kau tidak pernah berhenti meski aku selalu kasar padamu?
“tuan” seorang suster keluar dari ruang perawatan Holly.
“iya?” Robert menghapus air matanya dan menoleh.
“apa anda kakak dari Holly?”
“ya”
“silahkan masuk, nona Holly ingin bertemu anda”
“iya sus” Robert masuk dan mendekati Holly, ia menatap Holly.
“kakak” Holly tersenyum.
Dokter dan suster pun pergi.
“kau menyebalkan” Robert menatap Holly.
“maaf”
Robert duduk dan mengelus Holly, “apa yang harus aku lakukan sekarang?”
“berjanjilah kakak akan selalu bersamaku”
“itu hal bodoh”
“aku mohon”
“ok, tapi kau juga harus janji untuk segera sembuh”
Holly mengangguk, “aku gak apa-apa kok, besok pasti aku pulang”
“percaya diri sekali kamu”
Holly tersenyum , “mata kakak merah, kakak abis nangis ya?”
“enak saja, mataku kelilipan tadi. Lagi pula jika aku menangis, aku tidak akan menangis untukmu”
“o ya?”
“sudahlah, kau ini harus banyak istirahat. Dokter bilang, keadaanmu belum baik”
“aku ingin pulang”
“bodoh”
Holly tersenyum, “aku senang kakak mau bicara denganku seperti ini”
Ayah masuk, “Holly”
“ayahmu datang, aku akan pergi” Robert keluar.
“apa yang dia katakan padamu?” ayah menatap Holly.
Holly menggeleng, “kami baik-baik saja”
“kakakmu itu menyebalkan, ayah selalu jengkel padanya”
“ayah janji kan gak akan kasar lagi pada kakak?”
“kakakmu itu nakal, dia tidak akan jera jika tidak dipukul”
“aku ingat saat ayah memukul kakak dengan vas bunga, saat itu, ibu begitu panik dan mencoba menghentikan pendarahan di kepala kakak dengan handuk”
“ah... sakit bu”
“sabar sayang, tenang. Ibu akan mengobatimu nak”
“sakit”
Holly yang melihat itu, hanya bisa menangis.
“saat itu, kakak begitu kesakitan. Aku selalu sedih jika melihat kakak terluka”
“iya, ayah janji tidak akan melukai kakakmu lagi”
“kalian akan berdamai?”
“itu semua tergantung kakakmu”
“ayah, buktikan padanya jika dia benar-benar kakakku. Buktikan jika dia benar-benar anak ayah”
“ya ampun Holly, untuk apa? Jelas-jelas kalian berdua itu anak ayah,  ayah berani jika harus tes DNA”
“tapi kakak selalu merasa asing, dia merasa bukan anak ayah. Aku mohon ayah, dekatilah kakak”
Ayah diam.
***
Oprasi Holly pun dimulai,
Robert dan ayah menunggu dengan cemas.
Ayah menatap Robert, “kau khawatir?”
“ya, aku belum pernah membuatnya bahagia”
“aku pun begitu, aku selalu berharap bisa membahagiakan kedua anakku. Meski kenyataannya, salah satu dari mereka membenciku”
“siapa yang sedang kau bicarakan?”
“Robert, ayah sayang padamu. Kau anakku”
“aku mengerti, setiap kau memukulku, itu semua karena kesalahanku terhadap Holly”
“Robert, ayah tau ayah salah. Tapi ayah tidak tau harus bagaimana lagi, dia tidak mau jika kau tau penyakitnya”
“aku mau makan siang”
“Robert, apa kau sangat membenci ayah?”
Robert diam dan menoleh, “aku akan membawakan makanan untuk ayah” ia tersenyum dan pergi.
Di sebuah cafe,
Robert melamun, Holly...
“maaf tuan, ini pesanan anda”
“terima kasih” Robert mengambilnya dan kembali ke rumah sakit.
Ayah masih menunggu oprasi Holly.
Robert datang, “makan dulu”
Ayah tersenyum, “terima kasih”
Robert duduk dengan sedikit cemas.
Ayah menatap Robert, “apa kau sayang pada Holly?”
“dia begitu keras kepala, dia selalu mendekatiku meski aku tidak mau”
“jadi kau sayang padanya kan? Bagaimana dengan ayah? Apa kau sayang pada ayah?”
“ayah pikir, makanan ini untuk siapa?”
“hey, ayah sayang padamu. Lagi pula, kau sudah tau penyakit Holly. Ayah yakin, kau mengerti dan ayah janji untuk tidak menyakitimu lagi”
“lebih baik ayah makan saja, aku mau cari udara segar” Robert berdiri.
“Robert, ayah mohon. Jangan balapan liar lagi, nak”
Robert pun duduk disamping ayahnya, ayah tersenyum dan memeluk Robert.
Besoknya,
Holly membuka mata, ia melihat Robert tidur di kursi dengan mulut yang terbuka. Holly tersenyum.
Robert membuka mata dan menatap Holly, “apa ini sudah pagi?”
Holly mengangguk.
“ayah pulang tadi malam, dia harus kerja hari ini”
“terus, kakak kok disini? Kakak juga harus sekolah kan?”
“terus, kamu mau sendirian di rumah sakit? Aku bolos sekolah demi kamu”
Holly tersenyum.
“kenapa kau tersenyum?”
“kakak lucu”
“apa? Aku lucu? Kau ini benar-benar menyebalkan” Robert mengelus Holly.
“kak, aku ingin dipeluk”
“aku tidak mau”
“kakak, sebentar saja”
“ok, sebentar saja ya” Robert memeluk Holly.
“aku sayang kakak”
“aku tidak usah menjawab itu kan?”
“terserah” Holly senang Robert memeluknya.
Beberapa hari kemudian,
“kakak, tunggu kak” Holly berlari.
“hey hey hey, santai saja. Aku tidak akan meninggalkanmu” Robert memegangi Holly yang berlari.
Holly tersenyum.
Mereka masuk ke mobil.
“kau ingin kemana?”
“tentu saja ke sekolah, memangnya kemana? Kakak aneh”
Robert tersenyum.
“kakak baik padaku, bukan karena aku sakit kan?”
Robert menghentikan mobilnya, ia menatap Holly. “kenapa kau bicara begitu?”
“aku merasa, kakak berubah semenjak aku di rumah sakit”
“oh, begitukah? Itu memang benar, aku berubah karena baru tau kau sakit. Tapi aku peduli padamu karena kau adikku” Robert membentak Holly, “aku benci pembicaraan ini”
“maafkan aku, kak”
Robert diam, “aku tau aku bukan kakak yang baik”
Holly menatap Robert.
“aku minta maaf, Holly”
Holly menangis, “bagiku, kakak adalah orang yang paling berarti”
“benarkah? Bagaimana dengan ayah?”
“ayah juga berarti, boleh aku memeluk kakak?”
“kenapa kau selalu ingin dipeluk?” Robert memeluk Holly.
Sore itu,
Di rumah, Holly sedang duduk di sofa. Ia melihat Robert akan pergi.
“kakak mau kemana?”
“ada tugas kelompok di rumah temen”
“kakak gak bo’ong kan?”
Robert menatap Holly.
Holly menunduk.
“pacarku meminta putus hari ini, padahal aku masih mencintainya. Aku ingin memintanya kembali”
“ok”
Robert menatap Holly.
“kakak semangat ya, dia pasti mau kok kembali sama kakak”
“so tau kamu” Robert melempar Holly dengan makanan ringan.
Holly menangkapnya, “ini untukku? Terima kasih kakak” Holly senang.
Malam itu,
“aduh, kok ujannya gak berhenti-berhenti sih?” Holly cemas, apa lagi dia sendiri di rumah.
Suara mobil terdengar.
Holly membuka pintu, ia melihat Robert basah kuyup dengan matanya yang merah.
“kakak?”
“aku kehujanan”
“atap mobil kakak kan gak dibuka”
“cerewet” Robert masuk sambil membuka bajunya.
Holly mengambil handuk, “ini kak” Holly membantu mengeringkan rambut Robert.
Robert hanya menunduk.
“kakak...” Holly cemas, ia mengambil handuk Robert yang basah.
“aku mau tidur” Robert masuk ke kamar.
Setelah menyimpan handuk, Holly mengetuk pintu kamar Robert dengan pelan. “kakak”
Tapi Robert tidak menjawab.
“kak, boleh aku masuk?” Holly membuka pintu karena pintunya tidak dikunci.
“Holly?” Robert kaget.
“kakak beneran tidur?”
“masuklah”
Holly mendekat dan duduk disamping Robert, “kakak baik-baik aja kan?”
“tentu, emangnya kenapa?”
Holly menggeleng dan diam.
“dia tidak mau kembali padaku, padahal, aku sudah memohon-mohon dan berdiri di depan rumahnya”
“kakak ujan-ujanan?”
“yap, tapi dia tetap tidak mau kembali padaku”
“kakak sabar ya, aku yakin, kakak akan mendapatkan perempuan yang lebih baik”
“benarkah?” Robert menatap Holly, “tau dari mana kau?”
“ya, tau aja”
“dasar” Robert memeluk Holly dan menangis.
Holly tersenyum sambil mengelus Robert, “aku tau karena kakak orang baik”
“terima kasih karena kau sudah menjadi adik yang baik untukku”
***
Hari itu,
Keadaan Holly memburuk, ia pun dilarikan ke rumah sakit. Robert duduk di ruang tunggu bersama ayahnya.
“aku kira, setelah oprasi, Holly akan sembuh” Robert kesal.
“sabar nak, lebih baik kita berdo’a untuk Holly”
Dokter keluar dari ruang tindakan.
“dokter?”
Mereka berdiri dan mendekati dokter.
“tenang tuan”
“tenang? Adikku sakit, mana mungkin aku bisa tenang?” Robert semakin kesal.
“Robert, tenanglah” ayah menatap Robert.
Robert diam.
“bagaimana dok?”
“nona Holly membutuhkan sumsum tulang belakang, biasanya yang bisa mendonorkan itu adalah orang tuanya”
“kalau begitu, donorkan saja milikku sekarang”
“maaf tuan, kami harus melakukan pemeriksaan”
“baiklah dok, lakukan sekarang”
Ayah pun mengikuti seorang suster untuk melakukan cek dan Robert masuk ke ruang perawatan Holly,
Robert mendekati Holly yang terbaring, “kamu harus kuat, Holly” Robert duduk dan mengelus Holly, “kakak disini, kau bilang, semuanya akan baik-baik saja jika kakak ada di sampingmu. Tapi, kenapa keadaanmu malah jadi begini?” mata Robert memerah.
Sayangnya, hasil tes menunjukan jika sumsum ayah tidak cocok untuk Holly.
Ayah sedih, ia tau, yang cocok dengan Holly adalah sumsum dari almarhum istrinya.
“ayah” Robert menatap ayahnya, “apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa iya, Holly bisa selamat?”
Ayah duduk di ruang tunggu dan menangis.
Robert bersandar ke dinding, “aku tidak rela jika Holly harus pergi sekarang”
“kita tidak bisa melakukan apapun, nak”
“bagaimana jika sumsum tulang belakang ibu, sama denganku?”
Ayah menatap Robert, “tapi nak...”
“aku anak kalian kan? Bisa saja sumsum tulang belakangku sama dengan ibu, jika begitu, Holly bisa selamat. Jika saat itu ibu tidak keguguran, Holly adalah anak ke-3 kan?”
“baiklah, jika itu maumu”
Robert pun melakukan tes dan hasilnya cocok.
Ayah dan Robert begitu senang mendengar itu.
Di ruang tunggu,
“kau benar-benar siap?” ayah menatap Robert.
“tentu, aku akan melakukan apapun untuk Holly”
“berjanjilah jika kau akan baik-baik saja”
Robert tersenyum.
“ayah sayang padamu, nak. Ayah ingin kalian berdua selamat”
“aku juga sayang ayah”
“tuan” dokter mendekat.
Robert tersenyum, “dokter”
Mereka berdiri dan mendekati dokter.
“apa anda sudah siap?” dokter menatap Robert.
“tentu saja, tapi sebelum itu, aku ingin melihat adikku dulu”
“silahkan”
Ayah memegang pundak Robert.
Robert tersenyum dan masuk ke ruang perawatan Holly.
Di dalam,
Robert duduk dan mengelus Holly, “kamu harus sembuh, kakak sangat berharap akan hal itu. Semoga setelah ini, kau bisa sembuh. Aku ingin kau membuka matamu dan menjalani kehidupan ini dengan bahagia, Holly” Robert melihat ke arah lain dan kembali menatap Holly, “aku memang bukan kakak yang baik, tapi sekarang, aku selalu berusaha untuk membahagiakanmu. Aku banyak berubah karena kau, kau membuat hidupku menjadi lebih baik. Aku berhenti balapan demi kau, kau tidak suka itu kan? Banyak hal buruk yang aku tinggalkan karena kamu, dan aku berharap, kau bisa kembali bersamaku untuk melihat semua itu” Robert mencium kening Holly, “aku sayang padamu”
***
Oprasi pun dimulai.
Robert yang berbaring, menoleh dan melihat Holly yang ada di ranjang sebelah.
Dokter menatap Robert dan Robert mengangguk, ia pun mulai menyuntikan obat biusnya kepada Robert.
Di luar,
Ayah menunggu mereka dengan begitu cemas, ia berharap, mereka akan baik-baik saja.
Pagi itu,
Holly membuka matanya.
Ayah yang sedang duduk pun tersenyum, “Holly?”
“ayah, kakak mana?”
“kakakmu”
Holly yang masih lemas, menatap ayahnya.
“kakakmu sedang istirahat”
“kakak baik-baik saja kan?”
“iya sayang, kau tenang saja”
“aku mimpi buruk, saat itu aku akan jatuh ke jurang. Lalu kakak datang menolongku”
“lho, itu bagus kan? Artinya kamu selamat”
“tapi kakak jatuh”
Ayah diam.
“kakak baik-baik saja kak? Ayah, jawab aku”
“kakakmu, mendonorkan sumsum tulang belakangnya untukmu”
“terus?” mata Holly memerah.
“kamu tenang saja, dia baik-baik saja”
“aku ingin bertemu kakak”
“tenanglah sayang, setelah kondisinya membaik, Robert pasti akan menjengukmu”
Holly diam dengan sedih.
Ayah mengelus Holly.
Sorenya,
Robert yang memakai kursi roda, masuk ke ruang perawatan Holly.
Holly senang melihat Robert, “kakak”
“hey” Robert mendekat, “aku senang, kau baik-baik saja”
“terima kasih banyak kak”
“untuk apa?”
Holly menangis.
“hey, jangan menangis”
“aku sayang kakak”
“aku sudah tau, dari dulu, kau selalu mengatakan itu”
Holly tersenyum.
Robert memeluk Holly, “tanpa kau minta, aku akan melakukan ini jika aku mau”
Beberapa hari kemudian,
Robert keluar dari mobilnya dan masuk ke rumah.
“selamat datang, kakak” Holly menyambut Robert.
“hey, kau terlihat bersemangat hari ini”
“aku kan selalu bersemangat”
“benarkah?”
“bagaimana dengan pacar baru kakak?”
“mau tau aja”
“ih, kakak...”
Robert tersenyum dan mengelus Holly.
“ayah bilang, hari ini mau lembur”
“itu berarti, aku harus menjagamu?”
Holly mengangguk.
“baiklah, akan ku lakukan dengan senang hati. Sini, aku peluk”
Mereka pun berpelukan.
The End
___
Thank’s for reading…
Maaf kalau isinya kurang menarik, komentar yang membangun sangat diharapkan! ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar