Author : Sherly Holmes
Genre : Family, Drama
Cerita ini hanya fiktif
belaka dan hanya untuk
hiburan semata.
Pagi itu,
“kakak, tunggu aku kak”
seorang perempuan mengejar laki-laki yang masuk ke mobil, “kakak”
Laki-laki itu menoleh,
“mau apa kau?”
“kakak, aku ikut kakak ya”
perempuan itu masuk ke mobil.
“kenapa kau tidak ikut
ayahmu?”
“bukan ayahku, tapi ayah
kita”
“terserah kau”
Sesampainya di sekolah,
“nanti kita pulang bareng
ya kak”
“aku gak bisa”
“aku akan menunggu”
“aku pergi sampai malam”
“menginap pun tak masalah”
“Holly, bisakah kau
menjauh dariku?” laki-laki itu kesal.
“maaf kak” Holly menunduk,
ia pun pergi ke kelasnya.
“Robert”
Laki-laki itu menoleh,
“hey Sam”
“nanti kau akan ikut?”
“aku tidak tau, si Holiday
ingin pulang bersama ku”
“ajak saja dia, menurutku,
dia adik yang manis”
“kalau begitu, kau saja
yang jadi kakaknya” Robert pergi.
“lho, kok kamu marah?
Robert?”
Sore itu,
Holly menunggu Robert di
depan kelasnya.
“Holly, ngapain kamu
disini?”
“kak Erza, kakak liat
kakakku gak?”
“Robert kan udah pulang
dari tadi”
“pulang?” Holly kaget.
***
Di rumah,
Ayah melihat Holly
berjalan, “Holly? Ya ampun, kamu jalan kaki kesini?”
“iya ayah”
Ayah marah, “mana Robert?”
“aku gak tau, katanya
kakak udah pulang”
“kurang ajar dia”
“ayah, aku mohon, jangan
marah pada kakak”
Malam itu,
Robert baru pulang, ayah
sudah menunggunya dengan marah.
“dari mana kau? Balapan
liar lagi?”
Robert tersenyum, “kau
marah karena aku meninggalkan anakmu kan?”
“dia adikmu”
“ok” Robert membuka
bajunya.
Ayah pun melepas sabuknya
dan mulai mencambuk Robert.
“ah” Robert kesakitan.
Holly yang mendengar itu,
berlari ke ruang tamu, “ayah, hentikan”
Robert kaget dan menoleh.
Ayah terdiam, “Holly?”
Holly mendekati Robert,
“ya Tuhan...” air matanya menetes melihat luka di punggung Robert, “aku mohon
ayah, jangan sakiti kakak lagi”
Ayah pun pergi.
Robert menatap Holly,
“kenapa kau belum tidur?”
“aku takut ayah akan
memukul kakak dengan tongkat baseball lagi, aku gak mau tulang rusuk kakak
patah lagi”
“dia hanya memecutku”
Holly memeluk Robert, “aku
sayang kakak”
“lepaskan aku, aku tidak
apa-apa” Robert bangun dan meninggalkan Holly.
“kakak” Holly mengikuti
Robert.
“jangan ganggu aku, aku
ingin tidur” Robert masuk ke kamar dan menutup pintunya.
Besoknya,
Holly keluar dari kamarnya
dan melihat Robert, “kakak mau kemana?”
“kau ingin tau saja”
“kak” Holly memegang
tangan Robert, “aku ikut ya kak”
“bisakah sehari saja kau
tidak menggangguku?”
“kak” Holly sedikit
pusing.
“lepas” Robert pergi.
“kakak, tunggu aku kak”
Robert masuk ke mobil dan
menatap Holly, “mau apa lagi?”
“ikut”
Robert diam dengan kesal,
Holly tersenyum dan masuk ke mobil.
Di jalan,
“aku tidak mau balapan
jika ada kamu di dalam mobil”
“kenapa kakak suka hal
berbahaya seperti itu?”
“aku berharap segera
menyusul ibu, aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini”
“kakak jangan bilang
begitu, aku sayang kakak. Ayah juga begitu”
“jadi menurutmu, pria yang
suka memukulku itu sayang padaku?” Robert menghentikan mobilnya, “kau tau, apa
yang paling aku benci? Dia selalu menghajarku karena kau”
Holly diam dan menunduk.
“aku benci kalian berdua”
Mereka sampai.
Holly turun dari mobil
Robert, “hati-hati ya kak, jangan lupa pake sabuk pengamannya”
“cerewet”
Balapan pun dimulai.
“ayo kak” Holly berteriak
memberi semangat pada Robert, “ayo kakak”
Panas terik matahari tak
menghentikan semangat Holly untuk terus mendukung Robert.
Mobil Robert masuk ke
garis finish.
“yeah”
Tapi darah tiba-tiba
keluar dari hidung Holly.
Robert keluar dari mobil
dan teman-temannya berkerumun.
“kau hebat kawan”
“tentu saja, siapa dulu”
“Robert, Robert” seseorang
berteriak.
Robert menoleh.
“adikmu pingsan”
“Holly?”
***
Di rumah sakit,
“dasar anak bodoh, kenapa
kau membiarkan Holly di tengah panas terik?” ayah marah pada Robert.
“ayah tidak pernah bilang
padaku kalau dia sakit, mana mungkin aku tau apa yang boleh dan apa yang tidak
boleh”
Ayah menampar Robert,
“jika terjadi apa-apa pada Holly, kau harus bertanggung jawab”
“ayah ingin memenjarakan
aku? Lakukan, ayah ingin membunuhku? Lakukan”
“kau..”
“tuan-tuan, maaf. Ini
rumah sakit, tolong tenang” seorang suster menghampiri mereka.
Ayah duduk dan menangis.
Robert menunduk, “kenapa
ayah tidak pernah bilang jika Holly sakit parah? Kenapa ayah dan ibu
merahasiakan semua itu dariku?”
“Holly yang menginginkan
itu, dia bilang, dia tidak mau kakaknya sedih”
Dokter keluar, “tuan
Gary?”
“saya dok”
“keadaan anak anda sangat
lemah, tapi kami akan berusaha membuatnya stabil kembali”
“terima kasih dok”
Dokter kembali masuk.
Ayah menatap Robert, “aku
akan pergi ke ruang administrasi, Holly harus segera dioprasi jika keadaannya
sudah stabil” ayah pergi.
Robert menangis, aku bukan kakak yang baik. Kenapa kau selalu
menyayangiku? Kenapa kau tidak pernah berhenti meski aku selalu kasar padamu?
“tuan” seorang suster
keluar dari ruang perawatan Holly.
“iya?” Robert menghapus
air matanya dan menoleh.
“apa anda kakak dari
Holly?”
“ya”
“silahkan masuk, nona
Holly ingin bertemu anda”
“iya sus” Robert masuk dan
mendekati Holly, ia menatap Holly.
“kakak” Holly tersenyum.
Dokter dan suster pun
pergi.
“kau menyebalkan” Robert
menatap Holly.
“maaf”
Robert duduk dan mengelus
Holly, “apa yang harus aku lakukan sekarang?”
“berjanjilah kakak akan
selalu bersamaku”
“itu hal bodoh”
“aku mohon”
“ok, tapi kau juga harus
janji untuk segera sembuh”
Holly mengangguk, “aku gak
apa-apa kok, besok pasti aku pulang”
“percaya diri sekali kamu”
Holly tersenyum , “mata
kakak merah, kakak abis nangis ya?”
“enak saja, mataku
kelilipan tadi. Lagi pula jika aku menangis, aku tidak akan menangis untukmu”
“o ya?”
“sudahlah, kau ini harus
banyak istirahat. Dokter bilang, keadaanmu belum baik”
“aku ingin pulang”
“bodoh”
Holly tersenyum, “aku
senang kakak mau bicara denganku seperti ini”
Ayah masuk, “Holly”
“ayahmu datang, aku akan
pergi” Robert keluar.
“apa yang dia katakan
padamu?” ayah menatap Holly.
Holly menggeleng, “kami
baik-baik saja”
“kakakmu itu menyebalkan,
ayah selalu jengkel padanya”
“ayah janji kan gak akan
kasar lagi pada kakak?”
“kakakmu itu nakal, dia
tidak akan jera jika tidak dipukul”
“aku ingat saat ayah
memukul kakak dengan vas bunga, saat itu, ibu begitu panik dan mencoba
menghentikan pendarahan di kepala kakak dengan handuk”
“ah...
sakit bu”
“sabar
sayang, tenang. Ibu akan mengobatimu nak”
“sakit”
Holly
yang melihat itu, hanya bisa menangis.
“saat itu, kakak begitu
kesakitan. Aku selalu sedih jika melihat kakak terluka”
“iya, ayah janji tidak
akan melukai kakakmu lagi”
“kalian akan berdamai?”
“itu semua tergantung
kakakmu”
“ayah, buktikan padanya
jika dia benar-benar kakakku. Buktikan jika dia benar-benar anak ayah”
“ya ampun Holly, untuk
apa? Jelas-jelas kalian berdua itu anak ayah,
ayah berani jika harus tes DNA”
“tapi kakak selalu merasa
asing, dia merasa bukan anak ayah. Aku mohon ayah, dekatilah kakak”
Ayah diam.
***
Oprasi Holly pun dimulai,
Robert dan ayah menunggu
dengan cemas.
Ayah menatap Robert, “kau
khawatir?”
“ya, aku belum pernah
membuatnya bahagia”
“aku pun begitu, aku
selalu berharap bisa membahagiakan kedua anakku. Meski kenyataannya, salah satu
dari mereka membenciku”
“siapa yang sedang kau
bicarakan?”
“Robert, ayah sayang
padamu. Kau anakku”
“aku mengerti, setiap kau
memukulku, itu semua karena kesalahanku terhadap Holly”
“Robert, ayah tau ayah
salah. Tapi ayah tidak tau harus bagaimana lagi, dia tidak mau jika kau tau penyakitnya”
“aku mau makan siang”
“Robert, apa kau sangat
membenci ayah?”
Robert diam dan menoleh,
“aku akan membawakan makanan untuk ayah” ia tersenyum dan pergi.
Di sebuah cafe,
Robert melamun, Holly...
“maaf tuan, ini pesanan
anda”
“terima kasih” Robert
mengambilnya dan kembali ke rumah sakit.
Ayah masih menunggu oprasi
Holly.
Robert datang, “makan
dulu”
Ayah tersenyum, “terima
kasih”
Robert duduk dengan
sedikit cemas.
Ayah menatap Robert, “apa
kau sayang pada Holly?”
“dia begitu keras kepala,
dia selalu mendekatiku meski aku tidak mau”
“jadi kau sayang padanya
kan? Bagaimana dengan ayah? Apa kau sayang pada ayah?”
“ayah pikir, makanan ini
untuk siapa?”
“hey, ayah sayang padamu.
Lagi pula, kau sudah tau penyakit Holly. Ayah yakin, kau mengerti dan ayah janji
untuk tidak menyakitimu lagi”
“lebih baik ayah makan
saja, aku mau cari udara segar” Robert berdiri.
“Robert, ayah mohon.
Jangan balapan liar lagi, nak”
Robert pun duduk disamping
ayahnya, ayah tersenyum dan memeluk Robert.
Besoknya,
Holly membuka mata, ia
melihat Robert tidur di kursi dengan mulut yang terbuka. Holly tersenyum.
Robert membuka mata dan
menatap Holly, “apa ini sudah pagi?”
Holly mengangguk.
“ayah pulang tadi malam,
dia harus kerja hari ini”
“terus, kakak kok disini?
Kakak juga harus sekolah kan?”
“terus, kamu mau sendirian
di rumah sakit? Aku bolos sekolah demi kamu”
Holly tersenyum.
“kenapa kau tersenyum?”
“kakak lucu”
“apa? Aku lucu? Kau ini
benar-benar menyebalkan” Robert mengelus Holly.
“kak, aku ingin dipeluk”
“aku tidak mau”
“kakak, sebentar saja”
“ok, sebentar saja ya”
Robert memeluk Holly.
“aku sayang kakak”
“aku tidak usah menjawab
itu kan?”
“terserah” Holly senang
Robert memeluknya.
Beberapa hari kemudian,
“kakak, tunggu kak” Holly
berlari.
“hey hey hey, santai saja.
Aku tidak akan meninggalkanmu” Robert memegangi Holly yang berlari.
Holly tersenyum.
Mereka masuk ke mobil.
“kau ingin kemana?”
“tentu saja ke sekolah,
memangnya kemana? Kakak aneh”
Robert tersenyum.
“kakak baik padaku, bukan
karena aku sakit kan?”
Robert menghentikan
mobilnya, ia menatap Holly. “kenapa kau bicara begitu?”
“aku merasa, kakak berubah
semenjak aku di rumah sakit”
“oh, begitukah? Itu memang
benar, aku berubah karena baru tau kau sakit. Tapi aku peduli padamu karena kau
adikku” Robert membentak Holly, “aku benci pembicaraan ini”
“maafkan aku, kak”
Robert diam, “aku tau aku
bukan kakak yang baik”
Holly menatap Robert.
“aku minta maaf, Holly”
Holly menangis, “bagiku,
kakak adalah orang yang paling berarti”
“benarkah? Bagaimana
dengan ayah?”
“ayah juga berarti, boleh
aku memeluk kakak?”
“kenapa kau selalu ingin
dipeluk?” Robert memeluk Holly.
Sore itu,
Di rumah, Holly sedang
duduk di sofa. Ia melihat Robert akan pergi.
“kakak mau kemana?”
“ada tugas kelompok di
rumah temen”
“kakak gak bo’ong kan?”
Robert menatap Holly.
Holly menunduk.
“pacarku meminta putus
hari ini, padahal aku masih mencintainya. Aku ingin memintanya kembali”
“ok”
Robert menatap Holly.
“kakak semangat ya, dia
pasti mau kok kembali sama kakak”
“so tau kamu” Robert
melempar Holly dengan makanan ringan.
Holly menangkapnya, “ini
untukku? Terima kasih kakak” Holly senang.
Malam itu,
“aduh, kok ujannya gak
berhenti-berhenti sih?” Holly cemas, apa lagi dia sendiri di rumah.
Suara mobil terdengar.
Holly membuka pintu, ia
melihat Robert basah kuyup dengan matanya yang merah.
“kakak?”
“aku kehujanan”
“atap mobil kakak kan gak
dibuka”
“cerewet” Robert masuk
sambil membuka bajunya.
Holly mengambil handuk,
“ini kak” Holly membantu mengeringkan rambut Robert.
Robert hanya menunduk.
“kakak...” Holly cemas, ia
mengambil handuk Robert yang basah.
“aku mau tidur” Robert
masuk ke kamar.
Setelah menyimpan handuk,
Holly mengetuk pintu kamar Robert dengan pelan. “kakak”
Tapi Robert tidak
menjawab.
“kak, boleh aku masuk?”
Holly membuka pintu karena pintunya tidak dikunci.
“Holly?” Robert kaget.
“kakak beneran tidur?”
“masuklah”
Holly mendekat dan duduk
disamping Robert, “kakak baik-baik aja kan?”
“tentu, emangnya kenapa?”
Holly menggeleng dan diam.
“dia tidak mau kembali
padaku, padahal, aku sudah memohon-mohon dan berdiri di depan rumahnya”
“kakak ujan-ujanan?”
“yap, tapi dia tetap tidak
mau kembali padaku”
“kakak sabar ya, aku
yakin, kakak akan mendapatkan perempuan yang lebih baik”
“benarkah?” Robert menatap
Holly, “tau dari mana kau?”
“ya, tau aja”
“dasar” Robert memeluk
Holly dan menangis.
Holly tersenyum sambil
mengelus Robert, “aku tau karena kakak orang baik”
“terima kasih karena kau
sudah menjadi adik yang baik untukku”
***
Hari itu,
Keadaan Holly memburuk, ia
pun dilarikan ke rumah sakit. Robert duduk di ruang tunggu bersama ayahnya.
“aku kira, setelah oprasi,
Holly akan sembuh” Robert kesal.
“sabar nak, lebih baik
kita berdo’a untuk Holly”
Dokter keluar dari ruang
tindakan.
“dokter?”
Mereka berdiri dan
mendekati dokter.
“tenang tuan”
“tenang? Adikku sakit,
mana mungkin aku bisa tenang?” Robert semakin kesal.
“Robert, tenanglah” ayah
menatap Robert.
Robert diam.
“bagaimana dok?”
“nona Holly membutuhkan
sumsum tulang belakang, biasanya yang bisa mendonorkan itu adalah orang tuanya”
“kalau begitu, donorkan
saja milikku sekarang”
“maaf tuan, kami harus
melakukan pemeriksaan”
“baiklah dok, lakukan
sekarang”
Ayah pun mengikuti seorang
suster untuk melakukan cek dan Robert masuk ke ruang perawatan Holly,
Robert mendekati Holly
yang terbaring, “kamu harus kuat, Holly” Robert duduk dan mengelus Holly,
“kakak disini, kau bilang, semuanya akan baik-baik saja jika kakak ada di
sampingmu. Tapi, kenapa keadaanmu malah jadi begini?” mata Robert memerah.
Sayangnya, hasil tes
menunjukan jika sumsum ayah tidak cocok untuk Holly.
Ayah sedih, ia tau, yang
cocok dengan Holly adalah sumsum dari almarhum istrinya.
“ayah” Robert menatap
ayahnya, “apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa iya, Holly bisa selamat?”
Ayah duduk di ruang tunggu
dan menangis.
Robert bersandar ke
dinding, “aku tidak rela jika Holly harus pergi sekarang”
“kita tidak bisa melakukan
apapun, nak”
“bagaimana jika sumsum
tulang belakang ibu, sama denganku?”
Ayah menatap Robert, “tapi
nak...”
“aku anak kalian kan? Bisa
saja sumsum tulang belakangku sama dengan ibu, jika begitu, Holly bisa selamat.
Jika saat itu ibu tidak keguguran, Holly adalah anak ke-3 kan?”
“baiklah, jika itu maumu”
Robert pun melakukan tes
dan hasilnya cocok.
Ayah dan Robert begitu
senang mendengar itu.
Di ruang tunggu,
“kau benar-benar siap?”
ayah menatap Robert.
“tentu, aku akan melakukan
apapun untuk Holly”
“berjanjilah jika kau akan
baik-baik saja”
Robert tersenyum.
“ayah sayang padamu, nak.
Ayah ingin kalian berdua selamat”
“aku juga sayang ayah”
“tuan” dokter mendekat.
Robert tersenyum, “dokter”
Mereka berdiri dan
mendekati dokter.
“apa anda sudah siap?”
dokter menatap Robert.
“tentu saja, tapi sebelum
itu, aku ingin melihat adikku dulu”
“silahkan”
Ayah memegang pundak
Robert.
Robert tersenyum dan masuk
ke ruang perawatan Holly.
Di dalam,
Robert duduk dan mengelus
Holly, “kamu harus sembuh, kakak sangat berharap akan hal itu. Semoga setelah
ini, kau bisa sembuh. Aku ingin kau membuka matamu dan menjalani kehidupan ini
dengan bahagia, Holly” Robert melihat ke arah lain dan kembali menatap Holly,
“aku memang bukan kakak yang baik, tapi sekarang, aku selalu berusaha untuk
membahagiakanmu. Aku banyak berubah karena kau, kau membuat hidupku menjadi
lebih baik. Aku berhenti balapan demi kau, kau tidak suka itu kan? Banyak hal
buruk yang aku tinggalkan karena kamu, dan aku berharap, kau bisa kembali
bersamaku untuk melihat semua itu” Robert mencium kening Holly, “aku sayang
padamu”
***
Oprasi pun dimulai.
Robert yang berbaring,
menoleh dan melihat Holly yang ada di ranjang sebelah.
Dokter menatap Robert dan
Robert mengangguk, ia pun mulai menyuntikan obat biusnya kepada Robert.
Di luar,
Ayah menunggu mereka
dengan begitu cemas, ia berharap, mereka akan baik-baik saja.
Pagi itu,
Holly membuka matanya.
Ayah yang sedang duduk pun
tersenyum, “Holly?”
“ayah, kakak mana?”
“kakakmu”
Holly yang masih lemas,
menatap ayahnya.
“kakakmu sedang istirahat”
“kakak baik-baik saja
kan?”
“iya sayang, kau tenang
saja”
“aku mimpi buruk, saat itu
aku akan jatuh ke jurang. Lalu kakak datang menolongku”
“lho, itu bagus kan?
Artinya kamu selamat”
“tapi kakak jatuh”
Ayah diam.
“kakak baik-baik saja kak?
Ayah, jawab aku”
“kakakmu, mendonorkan
sumsum tulang belakangnya untukmu”
“terus?” mata Holly
memerah.
“kamu tenang saja, dia
baik-baik saja”
“aku ingin bertemu kakak”
“tenanglah sayang, setelah
kondisinya membaik, Robert pasti akan menjengukmu”
Holly diam dengan sedih.
Ayah mengelus Holly.
Sorenya,
Robert yang memakai kursi
roda, masuk ke ruang perawatan Holly.
Holly senang melihat
Robert, “kakak”
“hey” Robert mendekat,
“aku senang, kau baik-baik saja”
“terima kasih banyak kak”
“untuk apa?”
Holly menangis.
“hey, jangan menangis”
“aku sayang kakak”
“aku sudah tau, dari dulu,
kau selalu mengatakan itu”
Holly tersenyum.
Robert memeluk Holly,
“tanpa kau minta, aku akan melakukan ini jika aku mau”
Beberapa hari kemudian,
Robert keluar dari
mobilnya dan masuk ke rumah.
“selamat datang, kakak”
Holly menyambut Robert.
“hey, kau terlihat
bersemangat hari ini”
“aku kan selalu
bersemangat”
“benarkah?”
“bagaimana dengan pacar baru
kakak?”
“mau tau aja”
“ih, kakak...”
Robert tersenyum dan
mengelus Holly.
“ayah bilang, hari ini mau
lembur”
“itu berarti, aku harus
menjagamu?”
Holly mengangguk.
“baiklah, akan ku lakukan
dengan senang hati. Sini, aku peluk”
Mereka pun berpelukan.
The End
___
Thank’s for reading…
Maaf kalau isinya kurang menarik, komentar yang
membangun sangat diharapkan! ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar