Minggu, 04 Oktober 2015

The Promise


Author : Sherly Holmes
Genre : Romance, Drama
Cerita ini hanya fiktif belaka dan hanya untuk hiburan semata.
___
Di sebuah rumah,
Dua anak yang sedang bermain, saling tatap. Anak laki-laki yang berada disamping anak perempuan itu, memegang tangan anak perempuan itu.
“aku janji”
Anak perempuan itu, tersenyum.
***
Beberapa tahun kemudian,
Seorang laki-laki, turun dari tangga.
“Robert, sarapan dulu nak”
“gak usah, bu. Aku ada janji” Robert berlari.
Tiba-tiba, seorang perempuan yang membawa segelas air, muncul dari pintu.
Duk...
“ah”
Air yang dibawa perempuan itu, mengenai baju Robert.
“ya Tuhan..., tuan, maafkan aku”
“makanya, liat-liat dong” Robert kesal dan membuka bajunya.
“sa..saya akan bawakan baju baru untuk tuan”
“cepat sana” Robert menatap perempuan itu.
“Robert, kamu gak boleh gitu sama Tina. Dia kan gak sengaja” ibu menatap Robert.
“tapi aku udah telat, bu”
Tina kembali, “ini bajunya, tuan”
Robert mengambilnya dan memakai baju sambil keluar, ia masuk ke dalam mobil.
Ibu Robert  mendekati Tina, “maafkan dia, ya”
“iya, nyonya” Tina tersenyum, “saya juga salah”
Di jalan,
Robert mengemudi sambil menelpon, “iya sayang, aku kesana. Sebentar lagi juga sampai” ia menyimpan telponnya dan sampai ke sebuah rumah.
Robert turun dari mobil, seorang perempuan sudah menyambutnya disana.
“hey, sayang”
“hey, Patrice”
Mereka berciuman.
“kau akan menginap di rumahku, malam ini?”
“tentu, sayang” Patrice memeluk Robert.
***
Malam itu,
Robert kembali ke rumah bersama Patrice.
“Robert, dari mana kamu?” ibu marah.
“ibu, aku kuliah”
“Tina bilang, hari ini gak ada jadwal”
Robert kesal, kenapa aku harus sekelas dengan pembantu bodoh itu?
“Robert, jawab ibu”
Robert menatap Patrice, “kau duluan”
Patrice mengangguk, “permisi, tante” ia pergi ke kamar Robert.
“Robert?!” ibu semakin kesal.
“maaf, bu. Aku lelah” Robert menaiki tangga dan pergi ke kamarnya.
Ibu kesal dengan sikap Robert.
Di kamar Robert,
“sayang, ibumu bagaimana?”
“tidak apa-apa” Robert naik ke kasur, “ah, aku lelah sekali”
“benarkah?” Patrice berbaring disamping Robert.
“permisi” Tina masuk membawakan piyama Robert, “maaf, tuan” ia lupa jika di kamar Robert ada Patrice.
“kamu ngapain kesini?” Robert menatap Tina.
“saya... saya hanya mengantarkan piyama ini”
“ya udah, simpen sana” Robert memalingkan wajahnya, “cepet pergi”
“iya, tuan”
Pagi itu,
Tina kembali masuk ke kamar Robert, ia berniat untuk mengambil baju kotor yang ada di kamar Robert.
Tina sedih melihat Robert yang tidur sambil dipeluk Patrice, ia tidak menyangka jika teman masa kecilnya benar-benar berubah.
Robert membuka matanya, “ngapain kamu kesini?” ia kesal melihat Tina.
“maaf, tuan. Saya hanya ingin mengambil baju kotor”
“gak usah banyak alasan” Robert bangun dengan kesal.
Patrice pun terbangun mendengar suara Robert.
“maaf, tuan. Tapi saya..”
“kamu itu ganggu banget, tau gak? Kamu gak liat, disini ada pacarku?”
“maaf, tuan”
“pergi sana, cepat pergi”
“iya, tuan” Tina keluar dari kamar Robert, ia sedih melihat piyamanya tidak dipakai oleh Robert.
Robert menatap Tina dari pintu kamarnya, “jangan ganggu aku lagi”
“maaf, tuan” Tina menuruni tangga.
“nak” ibu Tina, khawatir pada Tina.
“aku gak apa-apa, bu” Tina pergi ke kamarnya.
Ibu Tina mengikuti Tina ke kamar.
Di kamar,
Tina menangis.
“sayang” ibu mendekat.
“kenapa Robert jadi seperti itu padaku? Padahal, dulu kami sering bermain bersama”
“ibu tau, nak. Ibu juga tidak menyangka jika semakin dewasa, tuan Robert berubah jadi seperti itu”
“apa dia sudah lupa akan janjinya?”
“bersabarlah, nak. Nyonya Mira juga sudah kesal dengan tingkal anaknya itu”
Di kamar Robert,
Robert duduk di ranjang dengan kesal.
“sayang, jangan cemberut terus dong”
“aku kesal pada Tina”
“aku juga kesal, dia benar-benar menyebalkan. Setiap aku menginap, dia selalu mengganggu”
“harusnya ibu tidak mempekerjakan dia disini”
“dia disini karena ibunya kan?”
“jadi untuk menyingkirkannya, aku harus memecat ibunya juga?”
“tentu saja” Patrice mengelus Robert, “sudahlah, lebih baik kau memikirkan hal lain”
“yap, kau benar”
Mereka berciuman.
***
Pagi itu,
Tina dan Mira sedang berbincang-bincang, Robert turun dari tangga dan sudah bersiap untuk kuliah.
“sayang, ajak Tina juga dong” ibu menatap Robert.
“yang bener aja deh, bu. Aku kan malu ke kampus sama pembantu”
“Robert, jaga bicaramu” Mira kaget dengan perkataan Robert.
“bu, aku itu anak dari pemilik perusahaan hebat. Mana mungkin aku datang ke kampus dengan dia? Pasti teman-teman akan meledekku”
“tidak apa-apa, nyonya. Biar saya naik sepeda saja” Tina tersenyum pada Mira.
“tuh, ibu denger sendiri kan?”
“Robert?!”
“bu, aku udah telat nih” Robert pergi begitu saja.
“Tina, maafkan Robert, ya”
“gak apa-apa kok, nyonya. Kalau begitu, saya permisi” Tina pun pergi.
Mira semakin heran dengan sikap Robert, apa yang terjadi sebenarnya? Apa Robert salah pergaulan? Kenapa dia tumbuh menjadi anak yang sombong dan tidak berperasaan?
Di universitas,
Robert datang, teman-temannya menyambut Robert. Dari balkon, beberapa anak berkumpul melihat itu.
“kau lihat? Menyebalkan sekali dia”
“si Robert memang so hebat”
“ayo kita hajar”
“Diego, tenang. Sabar dulu, kita tidak boleh gegabah”
“tapi aku menyimpan dendam padanya”
Di Gym,
Semua mahasiswa di kelas Robert, berbaris. Mereka bersiap untuk tes renang.
Dosen menatap mereka, “aku ingin, kalian satu per satu berenang kesana. Lalu kembali kesini, mengerti?”
“mengerti, pak”
“kalian boleh latihan di kolam mana pun”
Semua mahasiswa pun berlatih untuk memberikan yang terbaik.
Robert hanya diam, ia ingat, saat kecil, ia pernah tenggelam di laut dan terpisah dari orang tuanya. Dan kecelakaan itu, membuat ia trauma sampai sekarang.
Wajah Robert mulai resah melihat kolam itu.
Tina berenang, ia memang pandai melakukan banyak gaya. Semua tau jika Tina akan mendapat nilai yang bagus, karena Tina adalah atlet dari exkul renang kampusnya.
Tiba-tiba, beberapa anak perempuan panik.
“ah” mereka menjerit.
“Robert, Robert?!”
Tina kaget dan naik ke darat, ia mendekati sumber kegaduhan itu.
“ada apa?”
“Robert tenggelam, tadi ada anak kelas lain berlari dan Robert tiba-tiba jatuh ke air”
“mungkin dia tersenggol”
Tina pun langsung berenang untuk menyelamatkan Robert, ia melihat Robert yang tenggelam dan mengangkatnya ke darat.
Robert batuk-batuk dan gemetar.
Tina memeluk Robert, “tenanglah, tuan. Aku disini”
Dosen yang sedang menilai pun baru mengetahui jika ada yang tenggelam, “ada apa ini?” ia mendekat dan melihat keadaan Robert, “Tina, bawa dia ke klinik”
“baik, pak” Tina pun membantu Robert untuk bangun dan memapahnya.
Di klinik,
“tuan baik-baik saja kan?”
“kau fikir, aku akan berterima kasih padamu?”
“tidak, tuan. Saya ihklas menolong tuan”
Robert tersenyum sinis, “aku tau, kau senang kan?”
“ya Tuhan..., tentu saja tidak, tuan”
Robert memalingkan wajahnya.
Patrice masuk ke ruang perawatan Robert, “sayang, kamu gak apa-apa kan?”
Robert tersenyum, “tadi ada orang yang mendorongku ke kolam”
“ya ampun” Patrice mengelus Robert, tapi ia menatap Tina yang berada disana. Patrice pun kesal, “ngapain kamu disini?”
“sa..saya cuma, saya... mau menjaga tuan”
“pergi sana” Patrice memalingkan wajahnya.
Robert hanya diam.
“baik, nona” Tina pergi.
***
Di rumah,
Tina melamun, ia mengingat saat bermain bersama Robert di taman.
Saat itu,
Tina sedang duduk di rerumputan dan Robert mendekat sambil memakaikan mahkota yang terbuat dari rangkaian bunga ke kepala Tina.
Tina tersenyum.
“aku bawa sesuatu untukmu” Robert menunjukan sebuah kalung.
“terima kasih”
Tina sedih mengingat itu.
“Tina” ibu melihat Tina melamun.
“ibu?”
“kenapa kamu melamun, nak?”
“aku...”
“kau ingat pada tuan Robert?”
“masa kecil kami begitu indah”
“ibu mengerti, nak. Tapi kau tidak boleh terlarut ke dalam semua itu”
“aku tau, bu”
Suara mobil Robert terdengar dan Robert pun masuk ke rumah.
“nak, kamu dari mana saja?” Mira menatap Robert.
“membeli kue, untuk ibuku” Robert tersenyum dan memberikan paket pada ibunya.
“terima kasih, sayang”
Robert tersenyum dan Mira mencium pipinya.
“ibu sudah bilang pada dosen, jika kau tidak bisa ikut olahraga berenang”
“ibu, kenapa ibu bilang?”
“sayang, tidak apa-apa. Itu semua kan demi kebaikanmu, ibu takut jika kau...”
“sudahhlah bu, aku akan baik-baik saja”
Mira mengelus Robert, “sebentar lagi musim dingin, ibu sudah membuatkan sweater untukmu”
“benarkah? Terima kasih, bu” Robert memeluk ibunya.
Musim salju pun tiba,
Para mahasiswa pergi ke bukit salju untuk bermain ski.
Robert yang sedang meluncur, tiba-tiba dihadang oleh Diego dan beberapa temannya. Hal itu membuat Robert kaget dan terjatuh dari papan skinya.
Brak...
“ah” Robert bangun.
Mereka mendekati Robert.
Robert menatap mereka, ia tau jika niat mereka tidak baik. Robert waspada, “kalian mau apa?”
“kami?” Diego tertawa, “kau terlihat ketakutan, tuan so pintar”
“apa maksudmu?”
“ambil mantelnya” Diego menatap Robert sambil tersenyum.
Mereka pun memaksa Robert untuk membuka mantelnya.
“apa-apaan kalian?” Robert mencoba melawan.
Dak...
“ah”
Diego memukul perut Robert.
Mereka pun berhasil membuka mantel Robert dan memegangi tangan Robert.
“bagaimana, apa kau merasa dingin?”
“lepaskan aku” Robert kesal.
“kau memang keras kepala. Sudah tak berdaya, tapi masih sombong” Diego menatap Robert dengan kesal, “buka bajunya” ia tersenyum.
“tidak” Robert berusaha melawan.
Diego kembali memukul Robert.
Dak...
Robert jatuh dan mereka berhasil melepaskan baju Robert.
“bangunkan dia”
Mereka kembali membangunkan Robert dan tetap memeganginya.
“apa yang kalian inginkan dariku?”
“kau ingin tau?” Diego menjambak rambut Robert, “kau ingat dengan adik tingkatmu yang mati karena kedinginan saat kau ospek?”
Robert menatap Diego.
“dia adalah kakakku” Diego melepaskan tangannya dari rambut Robert, “kau telah membunuh kakakku”
“aku tidak pernah bermaksud melakukan itu, aku tidak tau jika dia sakit”
“kau bohong” Diego menghajar Robert.
“aku tidak bohong” Robert menahan sakit.
“oh ya? Lalu, kenapa kau menyuruhnya membuka baju dan berlari di bukit ini? Kakakku meninggal karena kedinginan dan aku ingin kau mengalami hal yang sama dengannya”
“tidak, sungguh, aku tidak sengaja. Bukan dia saja yang dihukum seperti itu. Jika aku tau kakakmu sakit, aku tidak akan menyuruhnya melakukan itu”
“bohong”
Dak...
Diego semakin emosi, “hajar dia”
Robert yang kedinginan pun pasrah, ia tidak bisa melakukan apa-apa.
Mereka terus menghajar Robert.
Diego menendang Robert dan tanpa diduga, Robert terlepas dari pegangan mereka dan jatuh ke jurang.
Mereka kaget, Robert terus terguling ke bawah.
“Diego, bagaimana ini?”
Diego agak panik, dendamnya berubah menjadi ketatukan dan penyesalan.
“bagaimana jika dia benar-benar mati dan mayatnya tidak ditemukan? Kita bisa dipenjara jika ketahuan”
***
Tina yang terpisah dari teman-temannya, terus meluncur di papan ski. Ia berusaha untuk mencari tempat istirahat setelah ia berusaha mencari teman-temannya.
“bagaimana ini? Bagaimana jika aku terpisah sendirian dan tidak ditemukan?” Tina sedikit cemas, “HP-ku lowbet lagi”
Tapi tiba-tiba, Tina melihat seseorang yang tergeletak dengan sebagian tubuh yang tertimbun salju.
Tina melihat sebuah gelang yang melingkar di pergelangan tangan orang itu, “ya Tuhan...” Tina langsung mendekat, ia kenal gelang itu.
Tina mengeluarkan tubuh pria itu dan terkejut melihat pria itu adalah Robert.
“tuan? Ya Tuhan...” Tina menyentuh tubuh Robert yang begitu dingin, “tuan, bangun. Apa yang terjadi?” Tina panik, tapi ia melihat sebuah gua dan membawa Robert kesana.
Di gua,
Tina membuat api unggun, ia duduk di dekat api unggun dan mengangkat Robert ke pangkuannya.
Melihat Robert yang terkulai dan tak bergerak, Tina menangis. Ia memeluk Robert, “tuan harus kuat”
Tina pun mengelurkan HP-nya, semoga ini cukup. Tina mulai menelpon...
“hallo?”
“tolong, pak. Saya tersesat, teman saya juga tak sadarkan diri. Tubuhnya begitu dingin”
“dimana posisi kalian?”
“ada di gua dekat...”
Batrai HP Tina, habis.
“hallo?” Tina melihat HP-nya mati, “tidak” Tina semakin panik, ia terus memeluk Robert. Tina berusaha menghangatkan tubuh Robert, “tuan”
Air mata Tina menetes, Tina ingat saat mereka bermain bersama di halaman rumah Robert. Mereka membuat snowman bersama dan perang salju, itu adalah musim salju terindah yang pernah Tina lalui bersama Robert dan ia tidak ingin jika sekarang adalah musim salju terakhir bagi mereka.
Kamu harus kuat, aku sayang padamu. Robert...
Tim penyelamat datang, mereka langsung memberikan tindakan pada Robert.
Tina yang lemas pun di papah untuk duduk di mobil dan diberi air hangat.
“aku harus melihatnya” Tina khawatir pada Robert.
“tenang nona, kami akan berusaha menolongnya”
“tubuhnya dingin, dia tidak bergerak”
“’tenang nona, tenang”
***
Di rumah sakit,
Tina yang menunggu di ruang tunggu, berharap Robert akan baik-baik saja.
Mira datang, “Tina, bagaimana Robert?”
“dokter sedang melakukan tindakan, nyonya”
“apa yang terjadi? Kenapa Robert bisa seperti ini?”
“saya juga tidak tau, nyonya. Saya menemukan tuan dalam keadaan seperti itu”
Mira khawatir.
Paginya,
“dengar ya tante, aku gak mau pacaran sama cowok cacat”
“Patrice, tante mohon. Saat ini, Robert sangat membutuhkan semangat darimu”
“aku rasa, hubungan kami sampai disini saja”
“Patrice” Mira kecewa.
Di ruang perawatan,
Robert mendengar itu, ia sedih. Robert menatap kaki kanannya yang dibalut perban.
Tina masuk, “selamat pagi, tuan”
“mau apa kau?”
“membawakan sarapan untuk tuan. Nyonya bilang, tadi malam tuan tidak mau makan karena tidak suka masakan rumah sakit”
“aku tidak lapar”
“tuan” Tina duduk, “tuan harus makan, biar cepat sembuh”
“untuk apa aku hidup jika aku cacat?”
“tuan, kenapa tuan bicara begitu?”
“aku mendengar pembicaraan ibu dan Patrice”
Tina sedih, “itu tidak benar, tuan. Kaki tuan memang patah, tapi tuan masih bisa berjalan lagi”
“kau bohong”
“aku tidak bohong. Jika perlu, aku akan memanggilkan dokter agar tuan percaya”
Robert diam dan menunduk.
Tina membuka kotak bekalnya, “tuan makan dulu ya”
“kenapa kau baik padaku?”
“karena...” Tina terdiam mengenang semua kenangan mereka, “karena janji kita”
Robert menatap Tina.
Tina tersenyum, “aku suapin ya, ini sup udang. Tuan pasti suka”
Robert pun memakan suapan yang diberikan oleh Tina, “terima kasih” ia diam.
Tina senang mendengar itu.
Beberapa hari kemudian,
Tina sedang mengepel lantai rumah, tiba-tiba Robert lewat dengan sepatu kotor.
Robert sengaja menginjak-nginjak lantai rumah.
“tuan?”
Robert menatap Tina, “kau mengepel lantai yang bersih, untuk apa?” ia menari, “aku sedang melatih kaki kananku, kau tau?”
“hati-hati, tuan” Tina khawatir jika Robert akan jatuh.
“Robert?” Mira menatap Robert, “kamu apa-apaan?”
“membantu Tina”
“mengotori rumah?” Mira mendekati Robert, “kamu ini” ia menjewer Robert.
“aw, ampun bu, ampun”
Tina tersenyum melihat itu, ia senang. Meski Robert masih memandangnya sebagai asisten rumah tangga, tapi sekarang, Robert mau berkomunikasi dengannya.
***
Robert sedang mengemudikan mobilnya untuk ke universitas, tapi ia terdiam melihat Tina yang masuk ke mobil Diego.
“Tina? Dia kenal dengan laki-laki itu?”
Di mobil Diego,
“makasih banyak ya, maaf jadi ngerepoti”
“udahlah, Tin. Lagian juga, kita kan sekampus” Diego tersenyum, “o iya, kenapa kamu gak pernah bareng sama Robert?”
“tuan, tidak mau. Dia malu jika ke kampus bersama seorang pembantu”
“setiap kamu manggil dia tuan, aku kesal”
“kenapa?”
“harusnya, di tempat umum, kamu panggil namanya saja. Sombong sekali ingin dipanggil tuan”
“aku hanya tidak mau membuat dia kesal”
“kamu itu baik banget sih?”
Tina tersenyum.
Di universitas,
Robert sedang berjalan, Tina mendekat.
“tuan”
Robert menoleh dan menatap Tina.
“saya... saya tadi melihat ini jatuh” Tina memberikan gelang Robert.
Robert menatap gelang pemberian Patrice itu, “aku sudah tidak butuh ini”
“ta..tapi”
“aku sudah putus dengan Patrice, untuk apa aku memakainya?”
“maaf tuan, saya tidak tau jika...”
“sudahlah, buang sana”
“i..iya tuan”
“o iya, kau kenal dengan Diego?”
“i..iya, kami sekelas saat SMA. Tapi sekarang, kami beda dua tahun. Dia jadi adik tingkatku”
“kau akan berpacaran dengan adik tingkat?”
“tidak tuan, kami hanya teman”
“ok” Robert pergi meninggalkan Tina.
Tapi Tina tiba-tiba pusing, ia pun jatuh.
Brak...
Robert menoleh, ia melihat Tina tergeletak di lapang.
“Tina?” Robert kaget.
Robert berlari ke arah Tina dan mengangkatnya, ia terkejut melihat hidung Tina berdarah. Robert pun membawanya ke klinik kampus.
Disana, Robert bicara dengan dokter.
“gimana, dok?”
“dia hanya kelelahan, kau tau kan? Musim dingin sekarang lebih dingin dari tahun kemarin”
“tapi hidungnya berdarah, dok”
“itu hanya mimisan biasa, mungkin dia kurang vitamin. Yang jelas, dia harus istirahan yang cukup”
“syukurlah kalau begitu”
Robert mengangkat Tina dan membawanya ke luar klinik.
Dari balkon, Patrice melihat itu.
“apa-apaan dia? Kenapa Robert mau membawa Tina pulang?” Patrice kesal.
Di mobil,
Robert memakaikan sabuk pengaman pada Tina, ia melihat jaket Tina yang tidak pernah diganti. Robert mengelus Tina dengan khawatir dan ia pun ingat masa kecilnya.
“aku janji” Robert kecil, tersenyum.
“Tina” Robert mencium kening Tina.
Di rumah,
“ya Tuhan..., Tina kenapa, tuan?” ibu Tina kaget melihat Robert membawa Tina pulang dalam keadaan pingsan.
“kau tenang saja, dia hanya kelelahan” Robert masuk ke kamar Tina dan membaringkannya, “tolong jaga dia”
Ibu Tina pun duduk disamping Tina dengan khawatir.
Di kamar Robert,
Robert berbaring di kamarnya, ia memikirkan semua yang terjadi. Putusnya hubungan dengan Patrice, Tina yang sakit.
Robert menutup matanya, ia ingat, Tina selalu menolongnya. Saat Robert tenggelam, saat Robert hampir mati karena kedinginan. Tina selalu ada untuk Robert, tanpa memikirkan keadaannya sendiri.
Di kamar Tina,
“ibu...”
“sayang, bagaimana keadaanmu?”
“aku baik-baik saja” Tina melihat jaket kulit berwarna coklat tua.
“itu jaket tuan Robert, katanya, jaket itu untukmu”
“benarkah?” Tina tersenyum mendengar itu.
“iya, dia bilang, jaketmu jelek”
“aku kan cuma punya satu jaket”
“makanya dia memberimu ini” ibu tersenyum, ia tau jika Tina bahagia.
Besoknya,
Di universitas, Diego dan teman-temannya ditangkap polisi.
Tina kaget melihat itu, “apa yang terjadi?”
“mereka mencoba untuk membunuhku di bukit salju” Robert menatap Tina.
“benarkah? Ya Tuhan... aku tidak menyangka jika Diego...”
Belum selesai Tina bicara, Robert sudah meninggalkannya. Tina pun diam.
Saat menaiki tangga, Tina terdiam. Patrice menghadangnya dan menatap Tina dengan tajam.
“bukankah itu jaket Robert?”
“tuan memberikannya padaku, memangnya kenapa?”
“kau tidak pantas memakai jaket mahal seperti itu”
“memangnya jaket ini milikmu? Kenapa kau yang repot?”
“kamu mulai berani padaku? Aku tau, kamu suka kan sama Robert? Denger ya, kamu itu gak pantes buat dia”
“kamu juga gak pantes, kamu ninggalin tuan Robert saat sakit. Dan sekarang, kamu nyesel kan? Kamu pingin balikan lagi ya?”
“kurang ajar” Patrice mau menampar Tina.
Robert memegangi tangan Patrice.
“Robert?” Patrice kaget.
“jangan pernah sakiti dia”
“Robert, aku minta maaf”
“minta maaflah padanya” Robert menatap Patrice.
Tina kaget dengan apa yang Robert lakukan, ya Tuhan... dia membelaku?
Robert menatap Tina, “ayo pergi” ia merangkulnya.
“ii..ya, tuan”
Mereka pun meninggalkan Patrice.
Malam itu,
Tina masuk ke kamar Robert, “tuan”
Robert menoleh.
“ini, saya membawakan piyama anda” Tina menyimpannya.
“taruh saja disana”
“iya tuan” Tina pun menaruh piyama Robert, “saya permisi” ia keluar dari kamar Robert.
Tina menuruni tangga dan ibu tersenyum padanya.
“bagaimana, nak?”
“tuan tetap tidak mau memakai piyamanya”
“ya sudah, yang penting, kamu udah bilang terima kasih”
“aku belum bilang”
“kenapa?”
“tuan terlihat tidak ingin diganggu”
“ya sudah, ayo bantu ibu beres-beres”
“iya bu”
Besoknya,
Tina masuk ke mobil Robert dengan sedikit canggung.
“kau itu kenapa sih?” Robert menatap Tina.
“tidak apa-apa, tuan”
Robert memberi Tina coklat.
Tina kaget.
“ayo ambil”
“i..iya, terima kasih, tuan”
Robert tersenyum dan mulai menjalankan mobilnya, “mulai sekarang, tidak usah memanggilku tuan”
Di universitas,
Robert sedang berjalan dan Patrice mengejarnya.
“Robert”
Robert menoleh, “mau apa?”
“maafkan aku”
Robert tersenyum sambil memalingkan wajahnya.
“Robert, aku ingin kembali”
“apa aku tidak salah dengar?”
“Robert, aku serius. Aku cinta kamu, aku menyesal”
“jika kakiku tidak sembuh, kau tidak akan meminta ini kan?”
“Robert, jangan begitu”
“aku rasa, kau terlambat. Aku sudah punya kekasih”
“apa?”
“ya” Robert tersenyum, “itu dia”
Patrice menoleh dan melihat Tina yang sedang berjalan.
“Tina” Robert menatap Tina.
Tina mendekati Robert, “iya?”
Robert langsung mencium pipi Tina.
Tina kaget dan terdiam, sementara Patrice, ia begitu kesal.
Robert menatap Patrice, “ini pacarku”
Patrice pun pergi.
“Robert, kenapa kau melakukan ini?” Tina menatap Robert dengan khawatir.
“kau tidak mau?”
“aku...”
“sudahlah” Robert merangkul Tina ke kelas.
Gosip pun menyebar begitu cepat, semua tau jika Tina adalah pacar baru Robert dan hal itu, membuat Patrice semakin kesal.
Di rumah,
Tina bicara dengan ibunya di kamar.
“jadi, kalian pacaran?”
“iya, bu. Robert tiba-tiba menciumku dan bilang bahwa kami pacaran, semua orang di universitas sudah tau”
Ibu tersenyum, “bukankah itu yang kau inginkan?”
“tapi, bu. Ini aneh, ini terlalu mengejutkan. Kami tiba-tiba jadian dan pacaran begitu saja”
Di kamar Robert,
Robert yang berbaring, memikirkan Patrice.
Dia menyesal, dia ingin kembali padaku. Apa yang harus aku lakukan? Apa keputusanku tepat memilih Tina sebagai pacarku? Ya Tuhan...
Robert bingung.
Tina masuk ke kamar Robert, “selamat malam”
“Tina?”
“aku cuma mau menyimpan piyamamu”
Robert tersenyum dan bangun, ia mendekati Tina.
“e.., Robert”
“kau mau tidur disini?”
“aku...” Tina bingung, “aku”
“aku mengerti, aku tidak akan memaksamu”
Tina tersenyum, “terima kasih, Robert”
Robert memeluk Tina dan Tina hanya diam dipelukannya.
“kau suka coklatnya?”
“iya, Robert. Rasanya sangat enak”
“aku akan membelinya lagi jika kau mau”
“tidak Robert, tidak usah. Harganya mahal kan?”
“jangan begitu” Robert menatap Tina.
Tina terdiam.
Robert tersenyum dan mengelus Tina.
“aku permisi”
“ok”
“selamat tidur, Robert” Tina keluar.
Robert pun diam.
Pagi itu,
Robert turun dari tangga dan bersiap untuk kuliah, ia melihat Tina yang sudah rapi menunggunya di bawah.
“sayang, ayo cepat” Robert merangkul Tina.
Tina tersenyum malu karena kedua orang tua mereka ada disana.
Setelah mereka pergi,
Ibu Tina mendekati Mira, “nyonya, apa anda tidak keberatan dengan hubungan mereka?”
“kenapa harus keberatan? Bukankan dulu, mereka teman baik?”
“terima kasih, nyonya”
“aku lebih menyukai Tina daripada Patrice yang tidak sopan itu. Aku harap, Tina bisa membuat Robert lebih baik lagi”
Di jalan,
“Robert, bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?”
“apa itu?” Robert yang sedang menyetir, menatap Tina.
“semenjak kita bersama, kau seperti memikirkan sesuatu. Apa kau serius dengan hubungan kita?”
“maksudmu apa? Aku serius dengan hubungan kita. Akhir-akhir ini, aku memang banyak fikiran”
“maafkan aku karena bertanya seperti itu. tapi aku bersyukur jika kau nyaman dengan hubungan ini”
Robert menghentikan mobilnya dan menatap Tina.
Tina diam, ia takut Robert marah.
Robert mendekat dan mencium Tina, lalu ia tersenyum dan mengelus Tina. Robert kembali menyalakan mobilnya, “bagaimana dengan janji kita?”
Di universitas,
Tina sedang berjalan ke kantin karena Robert sudah menunggunya disana. Tapi di tengah jalan, langkah Tina terhenti. Patrice ada di hadapannya.
“Patrice?” Tina kaget.
“aku ingin bicara, ini sangat penting”
“o..ok”
“nanti, kita bertemu di kedai waffle. Jangan sampai ada yang tau tentang ini”
Tina mengangguk dan Patrice meningalkannya.
Tina pun kembali berjalan.
Di kantin,
Robert yang duduk, sudah mulai resah. Ia melihat ke segala arah, “kemana sih? Kok lama banget ya?”
Tina muncul, ia mendekat dan duduk.
“dari mana?”
“maaf, aku ke toilet dulu”
“ya udah, pesen sana”
Tina tersenyum, “kamu marah ya? Pasti udah laper banget, maaf ya”
Robert tersenyum, “pesenin ya”
Tina mengangguk.
Saat pulang,
“sayang, ayo” Robert merangkul Tina.
“maaf Robert, aku ada janji dengan teman-teman”
“teman-teman?”
“iya, sebentar lagi ada lomba renang kan?”
Robert mengangguk.
“kami akan latihan”
“kau akan lomba lagi?”
“mungkin”
“baiklah, aku pulang duluan” Robert sedikit kecewa.
“jangan marah”
Robert tersenyum dan mencium kening Tina, “telpon aku dan aku akan menjemputmu”
Tina mengangguk.
Setelah Robert pergi, Tina pun pergi ke kedai waffle. Disana, Patrice sudah menunggunya.
“duduklah” Patrice tersenyum.
Tina duduk, “ada apa?”
“aku... aku tidak bermaksud mengganggu hubungan kalian, tapi”
Tina menatap Patrice.
“ada hal penting yang aku harus sampaikan padamu” Patrice mulai serius, “Robert menghubungiku tadi malam, dia akan datang ke rumahku malam ini”
Tina kaget, ia ingat, pantas saja Robert terlihat resah sejak kemarin.
“dia masih mencintaiku, Tina”
“tapi aku kan...”
“aku tau, ini memang sulit untukmu”
“tapi inilah kenyataan, kau hanya pelampiasan baginya”
“gak mungkin”
“apa kau tidak merasa ada yang Robert sembunyikan darimu?”
“ya, dia akhir-akhir ini seperti...”
“mungkin dia bimbang karena memikirkan ini. Tina, aku benar-benar tidak punya maksud apa pun. Aku hanya takut, kau menjadi korban Robert seperti perempuan lainnya”
Tina tidak percaya dengan itu.
“datanglah ke rumahku agar kau percaya”
“maaf, Patrice. Sepertinya aku harus pulang”
“Tina, kau baik-baik saja kan?”
“permisi” Tina pergi dengan sedih.
Patrice tersenyum.
Di jalan,
Tina menangis, ia tidak percaya jika selama ini hanya menjadi pelampiasan Robert. Kenapa Robert, kenapa kau lakukan ini padaku? Kau bilang, kau ingat janjimu. Tapi apa?
Sesampainya di rumah,
“Tina?” Robert kaget, “ko kamu gak telpon? Padahal, aku mau jemput kamu lho”
“gak usah, makasih” Tina menahan kesedihannya.
“hey, kamu kenapa?”
“aku lelah” Tina pergi ke kamarnya.
Robert merasa aneh.
Malam itu,
Robert datang ke rumah Patrice, ia turun dari mobilnya dan mulai mengetuk pintu.
Patrice membuka pintunya, “selamat datang” Patrice sengaja tidak menutup pintunya.
Mereka masuk.
“ada apa?” Robert menatap Patrice.
Patrice menggeleng, “aku hanya...” ia tersenyum, “aku hanya rindu padamu” Patrice mendekati Robert.
“apa maksudmu?”
“Robert” Patrice memeluk Robert.
“aku sudah punya pacar” Robert melepaskan pelukan Patrice.
“aku tau kau masih mencintaiku”
Robert diam.
“jangan bohong, Robert” Patrice menatap Robert, “jauh di lubuk hatimu, kau masih sangat mencintaiku”
“Patrice”
Patrice pun langsung mencium Robert.
Tina yang datang, melihat itu. Air matanya menetes, ternyata yang dikatakan Patrice itu benar.
“Robert...” Tina menatap mereka.
Robert melepas Patrice dan menoleh ke arah Tina, “Tina?” ia benar-benar kaget.
Patrice hanya diam.
“ngapain kamu disini?” Tina menangis.
“aku... aku...” Robert bingung.
“kita putus” Tina pergi.
“Tina” Robert berlari mengejar Tina.
Patrice pun tersenyum karena rencananya berhasil.
Di jalan,
“Tina, tunggu aku, Tina” Robert memegang tangan Tina.
“mau apa lagi, Robert? Semuanya sudah jelas”
“tapi Tina, aku mencintaimu”
“tapi kenapa kau berciuman dengannya?”
“aku tidak melakukan itu”
“aku melihatnya dengan kedua mataku”
“Tina, percayakan padaku”
Tina menggeleng, “aku tidak mau mendengar apa pun lagi” Tina meninggalkan Robert.
Robert kesal, ia kembali ke rumah Patrice.
“Robert” Patrice tersenyum.
“kau puas? Kau merencanakan semua ini kan?” Robert membentak Patrice.
“sayang, aku tidak tau. Sungguh, aku juga kaget melihat Tina”
“penipu” Robert pergi dari rumah Patrice dan masuk ke mobilnya.
Di jalan,
Robert menyetir mobilnya dengan resah, “Tina, kenapa semua ini harus tenjadi? Kenapa kau percaya pada Patrice?”
Robert memegang kepalanya dengan tangan kanan, “ya Tuhan...”
Robert pun minum, ia terus minum dan mengemudi tak tentu arah.
Di rumah,
Mira resah karena Robert belum kembali, “ya Tuhan..., Robert, kamu dimana nak?”
Di kamar Tina,
Tina terus menangis, apalagi ia tau, jika Robert belum pulang. Tina yakin, Robert pasti sedang bersama Patrice saat ini.
Ibu Tina begitu khawatir melihat Tina, tapi ia tidak bisa memberitau Mira tentang masalah ini. Karena ia takut, masalahnya akan semakin kacau.
Pagi itu,
Brak...
Mobil Robert menabrak vas besar di pinggir jalan, kepala Robert langsung terkulai ke belakang dan botol yang ia pegang, jatuh.
Atap mobil yang terbuka, membuat orang-orang mudah menolongnya.
“ya Tuhan...” mereka menolong Robert.
Seseorang memeriksa denyut nadi di leher Robert, “dia baik-baik saja”
Mereka bersyukur karena Robert pingsan akibat mabuk, bukan karena benturan kecelakaan.
Robert dibawa ke rumah, Mira sangat panik mengetahui anaknya pingsan di jalan dan sangat berantakan. Dokter pun dipanggil untuk memeriksa Robert.
Tina yang melihat itu, merasa khawatir. Tapi ia masih sakit hati dengan Robert.
“aku permisi, bu” Tina menatap ibunya.
“kau yakin tidak akan menunggu kabar Robert?”
“bukankah mereka bilang, Robert hanya mabuk?”
“ya sudah, pergilah ke kampus” ibu tau, Tina harus latihan karena terpilih mewakili kampus untuk lomba renang.
Di kamar Robert,
Robert membuka matanya, “ibu..” ia melihat Mira yang menangis.
“kamu kenapa, nak? Ibu takut waktu mendengarmu menabrak vas di jalan”
“maafkan aku”
“kenapa kamu mabuk?”
“aku menyesal, bu. Jangan marah”
Mira memeluk Robert, “jangan diulangi lagi”
Robert mengangguk.
Siang itu,
Di gym, Tina sedang latihan  untuk lombanya, ia berenang bolak-balik di disana. Setelah merasa lelah, Tina naik ke darat lalu terdiam melihat Robert yang ada di hadapannya.
“hey” Robert tersenyum.
“harusnya kau istirahat”
“aku baik-baik saja, aku ingin melihat pacarku berlatih”
“aku bukan pacarmu lagi”
“Tina, aku mohon. Percayalah padaku, kita dijebak”
“benarkah? Jika kita dijebak, kenapa kau dia saja saat dia menciummu? Memelukmu dengan...”
“Tina, aku mencintaimu. Janji kita...”
“jangan bicarakan janji itu lagi, aku sadar, itu hanyalah janji anak kecil yang tidak bisa dipegang”
“aku selalu mengingat janji itu”
“bohong” Tina mengambil barang-barangnya dan akan keluar.
“jika kau terus begitu, aku akan lompat ke kolam ini” Robert menatap Tina.
“kolam itu dalamnya 5 meter”
Robert menoleh dan melihat tulisan di pinggir kolam, ia menelan ludah. Robert kembali menatap Tina, “aku serius, aku akan lompat agar kau percaya”
“pulanglah, Robert. Sepertinya pengaruh alkoholmu masih ada” Tina pergi.
Robert mengeluarkan kotak cincin dari sakunya dan menatap kotak itu, Tina...
***
Tina sedang makan di kantin, tiba-tiba dua orang perempuan mendekatinya.
“Tina”
“iya?” Tina kaget.
“apa kau melihat Robert?”
Tina menatap mereka, “ada apa?”
“semenjak istirahat, Robert menghilang. Tapi tasnya masih ada di kelas, mobilnya juga masih terparkir di parkiran. Ada yang bilang, jika tadi, dia pergi ke gym untuk menemuimu”
Tina terdiam, ia ingat perkataan Robert.
“aku akan lompat ke kolam ini” Robert menatap Tina.
Tina langsung berlari ke Gym, dua orang itu kaget dan mengikuti Tina.
Saat Tina sampai di Gym,
Disana sudah banyak orang berkerumun, Tina melewati mereka dan melihat tubuh Robert yang tergeletak di pinggir kolam.
Tina mendekat.
Dosen yang berusaha menyelamatkan Robert, menatap Tina. Ia tau jika Tina adalah pacar Robert, “dia tenggelam terlalu lama”
Para medis pun datang, mereka memasang oksigen dan menggunakan alat pacu jantung untuk menolong Robert.
Dak...
Dada Robert terangkat.
Tina menangis, ia ingat...
Robert kecil menatap Tina, “aku akan menikah denganmu jika besar nanti”
Tina menatap Robert.
Robert memegang tangan Tina, “aku janji”
Tina pun tersenyum.
Dak...
Dada Robert kembali terangkat, namun sayangnya, deteksi jantung tetap berbunyi datar.
“Robert?!” Tina histris.
Mereka pun mencabut alat itu dan melepas oksigennya.
“tidak” air mata Tina terus menetes, ia tidak percaya jika Robert telah meninggal.
“maafkan kami, nona. Kami tidak dapat menolongnya”
Tina menatap Robert, “kenapa kau meninggalkanku? Kenapa?”
“Tina, tenanglah” seorang dosen perempuan mendekati Tina, “kamu harus sabar, nak”
Tina pun menutupi tubuh Robert dengan jaketnya, ia memeluk Robert dengan begitu sedih.
Patrice yang melihat itu, hanya bisa diam dan menangis. Ia tidak menyangka jika Robert akan meninggal dengan cara seperti ini.
Mereka pun ikut sedih melihat itu, mereka tidak menyangka jika Robert akan tenggelam disana.
Tina mengelus Robert dan mencium pipinya, “aku mencintaimu, Robert. Aku percaya padamu, maafkan aku”
Tina sangat menyesal, seandainya dia tidak egois dan mau mendengarkan Robert, mungkin Robert tidak akan melakukan hal nekad dan mungkin Robert masih hidup sampai saat ini.
Tina melihat kotak cincin yang ada di genggaman tangan kanan Robert. Mereka bilang, sudah terlalu sulit melepaskan itu. Ternyata, Robert benar-benar mengingat janjinya.
“Robert?!” Tina terbangun, ternyata ia hanya mimpi.
Tina bersyukur dia ada di kamar. Tapi Tina ingat, ancaman Robert untuk melompat ke kolam itu benar-benar terjadi siang tadi. Tina langsung keluar dari kamarnya, ia melihat Mira dan mendekatinya.
“nyonya”
“Tina, ada apa?”
“apa Robert sudah pulang?”
“Robert ada di kamarnya. Setelah pulang dari kampus, ia belum keluar sampai sekarang. Sepertinya dia masih sedikit pusing”
“terima kasih, nyonya” Tina langsung berlari ke kamar Robert.
Mira kaget.
Di kamar Robert,
Tina melihat Robert yang sedang tidur di kasur dengan piyama, air mata Tina menetes. Ia bersyukur mimpi itu tidak menjadi nyata dan ia senang melihat Robert memakai piyama.
Tina mendekat dan mengelus Robert.
Robert membuka matanya, “Tina?” ia bangun.
“tidurlah, bukankah kau masih pusing?”
Robert tersenyum, “aku senang, kau sudah tidak marah padaku”
“maafkan aku, aku percaya padamu”
“kau menangis?” Robert menatap Tina, “ada apa, Tina?”
Tina langsung memeluk Robert.
“sayang?” Robert yang tidak mengerti, hanya mengelusnya. Ia sedikit khawatir, “tenanglah”
“aku takut, aku takut kamu lompat ke kolam itu”
“kau tau sendiri kan? Dalamnya 5 meter, aku berfikir dua kali dan aku harus tetap hidup. Banyak hal yang belum aku selesaikan di dunia ini dan terlalu bodoh jika aku mengakhirinya”
“aku senang mendengar itu”
“bagaimana dengan piyama ini, kau suka?”
Tina mengangguk.
“maaf, aku tidak pernah memakai piyama yang kau siapkan”
“tidak apa-apa”
“tidurlah disini”
Tina mengangguk dan naik, ia berbaring disamping Robert.
Robert tersenyum dan mencium kening Tina, “selamat tidur, sayang” ia mulai berbaring, “aduh, ini apa ya?” Robert mengeluarkan benda yang membuat tidurnya tak nyaman.
“itu pasti kotak cincin” Tina tersenyum.
“hey” Robert yang memegang kotak itu pun terkejut, “kenapa kau tau?”
Tina menatap Robert, “karena itu adalah janjimu”
Robert tersenyum, “menikahlah denganku, Tina”
“siap, tuan”
Robert tersenyum dan memeluk Tina.
The End
___
Thank’s for reading…
Maaf kalau isinya kurang menarik, komentar yang membangun sangat diharapkan! ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar