Author : Sherly Holmes
Genre : Romance, Drama
Cerita ini hanya fiktif belaka dan hanya untuk hiburan semata.
Di sebuah rumah,
Dua anak yang sedang
bermain, saling tatap. Anak laki-laki yang berada disamping anak perempuan itu,
memegang tangan anak perempuan itu.
“aku janji”
Anak perempuan itu,
tersenyum.
***
Beberapa tahun kemudian,
Seorang laki-laki, turun
dari tangga.
“Robert, sarapan dulu nak”
“gak usah, bu. Aku ada
janji” Robert berlari.
Tiba-tiba, seorang
perempuan yang membawa segelas air, muncul dari pintu.
Duk...
“ah”
Air yang dibawa perempuan
itu, mengenai baju Robert.
“ya Tuhan..., tuan,
maafkan aku”
“makanya, liat-liat dong”
Robert kesal dan membuka bajunya.
“sa..saya akan bawakan
baju baru untuk tuan”
“cepat sana” Robert menatap
perempuan itu.
“Robert, kamu gak boleh
gitu sama Tina. Dia kan gak sengaja” ibu menatap Robert.
“tapi aku udah telat, bu”
Tina kembali, “ini
bajunya, tuan”
Robert mengambilnya dan
memakai baju sambil keluar, ia masuk ke dalam mobil.
Ibu Robert mendekati Tina, “maafkan dia, ya”
“iya, nyonya” Tina
tersenyum, “saya juga salah”
Di jalan,
Robert mengemudi sambil
menelpon, “iya sayang, aku kesana. Sebentar lagi juga sampai” ia menyimpan
telponnya dan sampai ke sebuah rumah.
Robert turun dari mobil,
seorang perempuan sudah menyambutnya disana.
“hey, sayang”
“hey, Patrice”
Mereka berciuman.
“kau akan menginap di
rumahku, malam ini?”
“tentu, sayang” Patrice
memeluk Robert.
***
Malam itu,
Robert kembali ke rumah
bersama Patrice.
“Robert, dari mana kamu?”
ibu marah.
“ibu, aku kuliah”
“Tina bilang, hari ini gak
ada jadwal”
Robert kesal, kenapa aku harus sekelas dengan pembantu
bodoh itu?
“Robert, jawab ibu”
Robert menatap Patrice,
“kau duluan”
Patrice mengangguk,
“permisi, tante” ia pergi ke kamar Robert.
“Robert?!” ibu semakin
kesal.
“maaf, bu. Aku lelah”
Robert menaiki tangga dan pergi ke kamarnya.
Ibu kesal dengan sikap
Robert.
Di kamar Robert,
“sayang, ibumu bagaimana?”
“tidak apa-apa” Robert
naik ke kasur, “ah, aku lelah sekali”
“benarkah?” Patrice
berbaring disamping Robert.
“permisi” Tina masuk
membawakan piyama Robert, “maaf, tuan” ia lupa jika di kamar Robert ada
Patrice.
“kamu ngapain kesini?”
Robert menatap Tina.
“saya... saya hanya
mengantarkan piyama ini”
“ya udah, simpen sana”
Robert memalingkan wajahnya, “cepet pergi”
“iya, tuan”
Pagi itu,
Tina kembali masuk ke
kamar Robert, ia berniat untuk mengambil baju kotor yang ada di kamar Robert.
Tina sedih melihat Robert
yang tidur sambil dipeluk Patrice, ia tidak menyangka jika teman masa kecilnya
benar-benar berubah.
Robert membuka matanya,
“ngapain kamu kesini?” ia kesal melihat Tina.
“maaf, tuan. Saya hanya
ingin mengambil baju kotor”
“gak usah banyak alasan”
Robert bangun dengan kesal.
Patrice pun terbangun
mendengar suara Robert.
“maaf, tuan. Tapi saya..”
“kamu itu ganggu banget,
tau gak? Kamu gak liat, disini ada pacarku?”
“maaf, tuan”
“pergi sana, cepat pergi”
“iya, tuan” Tina keluar
dari kamar Robert, ia sedih melihat piyamanya tidak dipakai oleh Robert.
Robert menatap Tina dari
pintu kamarnya, “jangan ganggu aku lagi”
“maaf, tuan” Tina menuruni
tangga.
“nak” ibu Tina, khawatir
pada Tina.
“aku gak apa-apa, bu” Tina
pergi ke kamarnya.
Ibu Tina mengikuti Tina ke
kamar.
Di kamar,
Tina menangis.
“sayang” ibu mendekat.
“kenapa Robert jadi
seperti itu padaku? Padahal, dulu kami sering bermain bersama”
“ibu tau, nak. Ibu juga
tidak menyangka jika semakin dewasa, tuan Robert berubah jadi seperti itu”
“apa dia sudah lupa akan
janjinya?”
“bersabarlah, nak. Nyonya
Mira juga sudah kesal dengan tingkal anaknya itu”
Di kamar Robert,
Robert duduk di ranjang
dengan kesal.
“sayang, jangan cemberut
terus dong”
“aku kesal pada Tina”
“aku juga kesal, dia
benar-benar menyebalkan. Setiap aku menginap, dia selalu mengganggu”
“harusnya ibu tidak
mempekerjakan dia disini”
“dia disini karena ibunya
kan?”
“jadi untuk
menyingkirkannya, aku harus memecat ibunya juga?”
“tentu saja” Patrice
mengelus Robert, “sudahlah, lebih baik kau memikirkan hal lain”
“yap, kau benar”
Mereka berciuman.
***
Pagi itu,
Tina dan Mira sedang
berbincang-bincang, Robert turun dari tangga dan sudah bersiap untuk kuliah.
“sayang, ajak Tina juga
dong” ibu menatap Robert.
“yang bener aja deh, bu.
Aku kan malu ke kampus sama pembantu”
“Robert, jaga bicaramu” Mira
kaget dengan perkataan Robert.
“bu, aku itu anak dari pemilik
perusahaan hebat. Mana mungkin aku datang ke kampus dengan dia? Pasti
teman-teman akan meledekku”
“tidak apa-apa, nyonya.
Biar saya naik sepeda saja” Tina tersenyum pada Mira.
“tuh, ibu denger sendiri
kan?”
“Robert?!”
“bu, aku udah telat nih”
Robert pergi begitu saja.
“Tina, maafkan Robert, ya”
“gak apa-apa kok, nyonya.
Kalau begitu, saya permisi” Tina pun pergi.
Mira semakin heran dengan
sikap Robert, apa yang terjadi sebenarnya? Apa Robert salah pergaulan? Kenapa
dia tumbuh menjadi anak yang sombong dan tidak berperasaan?
Di universitas,
Robert datang,
teman-temannya menyambut Robert. Dari balkon, beberapa anak berkumpul melihat
itu.
“kau lihat? Menyebalkan
sekali dia”
“si Robert memang so
hebat”
“ayo kita hajar”
“Diego, tenang. Sabar
dulu, kita tidak boleh gegabah”
“tapi aku menyimpan dendam
padanya”
Di Gym,
Semua mahasiswa di kelas
Robert, berbaris. Mereka bersiap untuk tes renang.
Dosen menatap mereka, “aku
ingin, kalian satu per satu berenang kesana. Lalu kembali kesini, mengerti?”
“mengerti, pak”
“kalian boleh latihan di
kolam mana pun”
Semua mahasiswa pun
berlatih untuk memberikan yang terbaik.
Robert hanya diam, ia
ingat, saat kecil, ia pernah tenggelam di laut dan terpisah dari orang tuanya.
Dan kecelakaan itu, membuat ia trauma sampai sekarang.
Wajah Robert mulai resah
melihat kolam itu.
Tina berenang, ia memang
pandai melakukan banyak gaya. Semua tau jika Tina akan mendapat nilai yang
bagus, karena Tina adalah atlet dari exkul renang kampusnya.
Tiba-tiba, beberapa anak
perempuan panik.
“ah” mereka menjerit.
“Robert, Robert?!”
Tina kaget dan naik ke
darat, ia mendekati sumber kegaduhan itu.
“ada apa?”
“Robert tenggelam, tadi
ada anak kelas lain berlari dan Robert tiba-tiba jatuh ke air”
“mungkin dia tersenggol”
Tina pun langsung berenang
untuk menyelamatkan Robert, ia melihat Robert yang tenggelam dan mengangkatnya
ke darat.
Robert batuk-batuk dan
gemetar.
Tina memeluk Robert,
“tenanglah, tuan. Aku disini”
Dosen yang sedang menilai
pun baru mengetahui jika ada yang tenggelam, “ada apa ini?” ia mendekat dan
melihat keadaan Robert, “Tina, bawa dia ke klinik”
“baik, pak” Tina pun
membantu Robert untuk bangun dan memapahnya.
Di klinik,
“tuan baik-baik saja kan?”
“kau fikir, aku akan
berterima kasih padamu?”
“tidak, tuan. Saya ihklas
menolong tuan”
Robert tersenyum sinis,
“aku tau, kau senang kan?”
“ya Tuhan..., tentu saja
tidak, tuan”
Robert memalingkan
wajahnya.
Patrice masuk ke ruang
perawatan Robert, “sayang, kamu gak apa-apa kan?”
Robert tersenyum, “tadi
ada orang yang mendorongku ke kolam”
“ya ampun” Patrice
mengelus Robert, tapi ia menatap Tina yang berada disana. Patrice pun kesal,
“ngapain kamu disini?”
“sa..saya cuma, saya...
mau menjaga tuan”
“pergi sana” Patrice
memalingkan wajahnya.
Robert hanya diam.
“baik, nona” Tina pergi.
***
Di rumah,
Tina melamun, ia mengingat
saat bermain bersama Robert di taman.
Saat itu,
Tina sedang duduk di rerumputan dan Robert mendekat
sambil memakaikan mahkota yang terbuat dari rangkaian bunga ke kepala Tina.
Tina tersenyum.
“aku bawa sesuatu untukmu” Robert menunjukan sebuah
kalung.
“terima kasih”
Tina sedih mengingat itu.
“Tina” ibu melihat Tina
melamun.
“ibu?”
“kenapa kamu melamun,
nak?”
“aku...”
“kau ingat pada tuan
Robert?”
“masa kecil kami begitu
indah”
“ibu mengerti, nak. Tapi
kau tidak boleh terlarut ke dalam semua itu”
“aku tau, bu”
Suara mobil Robert
terdengar dan Robert pun masuk ke rumah.
“nak, kamu dari mana
saja?” Mira menatap Robert.
“membeli kue, untuk ibuku”
Robert tersenyum dan memberikan paket pada ibunya.
“terima kasih, sayang”
Robert tersenyum dan Mira
mencium pipinya.
“ibu sudah bilang pada
dosen, jika kau tidak bisa ikut olahraga berenang”
“ibu, kenapa ibu bilang?”
“sayang, tidak apa-apa.
Itu semua kan demi kebaikanmu, ibu takut jika kau...”
“sudahhlah bu, aku akan
baik-baik saja”
Mira mengelus Robert,
“sebentar lagi musim dingin, ibu sudah membuatkan sweater untukmu”
“benarkah? Terima kasih,
bu” Robert memeluk ibunya.
Musim salju pun tiba,
Para mahasiswa pergi ke
bukit salju untuk bermain ski.
Robert yang sedang
meluncur, tiba-tiba dihadang oleh Diego dan beberapa temannya. Hal itu membuat
Robert kaget dan terjatuh dari papan skinya.
Brak...
“ah” Robert bangun.
Mereka mendekati Robert.
Robert menatap mereka, ia
tau jika niat mereka tidak baik. Robert waspada, “kalian mau apa?”
“kami?” Diego tertawa,
“kau terlihat ketakutan, tuan so pintar”
“apa maksudmu?”
“ambil mantelnya” Diego
menatap Robert sambil tersenyum.
Mereka pun memaksa Robert
untuk membuka mantelnya.
“apa-apaan kalian?” Robert
mencoba melawan.
Dak...
“ah”
Diego memukul perut
Robert.
Mereka pun berhasil
membuka mantel Robert dan memegangi tangan Robert.
“bagaimana, apa kau merasa
dingin?”
“lepaskan aku” Robert
kesal.
“kau memang keras kepala.
Sudah tak berdaya, tapi masih sombong” Diego menatap Robert dengan kesal, “buka
bajunya” ia tersenyum.
“tidak” Robert berusaha
melawan.
Diego kembali memukul
Robert.
Dak...
Robert jatuh dan mereka
berhasil melepaskan baju Robert.
“bangunkan dia”
Mereka kembali
membangunkan Robert dan tetap memeganginya.
“apa yang kalian inginkan
dariku?”
“kau ingin tau?” Diego
menjambak rambut Robert, “kau ingat dengan adik tingkatmu yang mati karena
kedinginan saat kau ospek?”
Robert menatap Diego.
“dia adalah kakakku” Diego
melepaskan tangannya dari rambut Robert, “kau telah membunuh kakakku”
“aku tidak pernah
bermaksud melakukan itu, aku tidak tau jika dia sakit”
“kau bohong” Diego
menghajar Robert.
“aku tidak bohong” Robert
menahan sakit.
“oh ya? Lalu, kenapa kau
menyuruhnya membuka baju dan berlari di bukit ini? Kakakku meninggal karena
kedinginan dan aku ingin kau mengalami hal yang sama dengannya”
“tidak, sungguh, aku tidak
sengaja. Bukan dia saja yang dihukum seperti itu. Jika aku tau kakakmu sakit,
aku tidak akan menyuruhnya melakukan itu”
“bohong”
Dak...
Diego semakin emosi,
“hajar dia”
Robert yang kedinginan pun
pasrah, ia tidak bisa melakukan apa-apa.
Mereka terus menghajar
Robert.
Diego menendang Robert dan
tanpa diduga, Robert terlepas dari pegangan mereka dan jatuh ke jurang.
Mereka kaget, Robert terus
terguling ke bawah.
“Diego, bagaimana ini?”
Diego agak panik,
dendamnya berubah menjadi ketatukan dan penyesalan.
“bagaimana jika dia
benar-benar mati dan mayatnya tidak ditemukan? Kita bisa dipenjara jika
ketahuan”
***
Tina yang terpisah dari
teman-temannya, terus meluncur di papan ski. Ia berusaha untuk mencari tempat
istirahat setelah ia berusaha mencari teman-temannya.
“bagaimana ini? Bagaimana
jika aku terpisah sendirian dan tidak ditemukan?” Tina sedikit cemas, “HP-ku
lowbet lagi”
Tapi tiba-tiba, Tina
melihat seseorang yang tergeletak dengan sebagian tubuh yang tertimbun salju.
Tina melihat sebuah gelang
yang melingkar di pergelangan tangan orang itu, “ya Tuhan...” Tina langsung
mendekat, ia kenal gelang itu.
Tina mengeluarkan tubuh
pria itu dan terkejut melihat pria itu adalah Robert.
“tuan? Ya Tuhan...” Tina
menyentuh tubuh Robert yang begitu dingin, “tuan, bangun. Apa yang terjadi?”
Tina panik, tapi ia melihat sebuah gua dan membawa Robert kesana.
Di gua,
Tina membuat api unggun,
ia duduk di dekat api unggun dan mengangkat Robert ke pangkuannya.
Melihat Robert yang
terkulai dan tak bergerak, Tina menangis. Ia memeluk Robert, “tuan harus kuat”
Tina pun mengelurkan HP-nya,
semoga ini cukup. Tina mulai menelpon...
“hallo?”
“tolong, pak. Saya
tersesat, teman saya juga tak sadarkan diri. Tubuhnya begitu dingin”
“dimana posisi kalian?”
“ada di gua dekat...”
Batrai HP Tina, habis.
“hallo?” Tina melihat
HP-nya mati, “tidak” Tina semakin panik, ia terus memeluk Robert. Tina berusaha
menghangatkan tubuh Robert, “tuan”
Air mata Tina menetes,
Tina ingat saat mereka bermain bersama di halaman rumah Robert. Mereka membuat
snowman bersama dan perang salju, itu adalah musim salju terindah yang pernah
Tina lalui bersama Robert dan ia tidak ingin jika sekarang adalah musim salju terakhir
bagi mereka.
Kamu
harus kuat, aku sayang padamu. Robert...
Tim penyelamat datang,
mereka langsung memberikan tindakan pada Robert.
Tina yang lemas pun di
papah untuk duduk di mobil dan diberi air hangat.
“aku harus melihatnya”
Tina khawatir pada Robert.
“tenang nona, kami akan
berusaha menolongnya”
“tubuhnya dingin, dia
tidak bergerak”
“’tenang nona, tenang”
***
Di rumah sakit,
Tina yang menunggu di
ruang tunggu, berharap Robert akan baik-baik saja.
Mira datang, “Tina,
bagaimana Robert?”
“dokter sedang melakukan
tindakan, nyonya”
“apa yang terjadi? Kenapa
Robert bisa seperti ini?”
“saya juga tidak tau,
nyonya. Saya menemukan tuan dalam keadaan seperti itu”
Mira khawatir.
Paginya,
“dengar ya tante, aku gak
mau pacaran sama cowok cacat”
“Patrice, tante mohon. Saat
ini, Robert sangat membutuhkan semangat darimu”
“aku rasa, hubungan kami
sampai disini saja”
“Patrice” Mira kecewa.
Di ruang perawatan,
Robert mendengar itu, ia
sedih. Robert menatap kaki kanannya yang dibalut perban.
Tina masuk, “selamat pagi,
tuan”
“mau apa kau?”
“membawakan sarapan untuk
tuan. Nyonya bilang, tadi malam tuan tidak mau makan karena tidak suka masakan
rumah sakit”
“aku tidak lapar”
“tuan” Tina duduk, “tuan
harus makan, biar cepat sembuh”
“untuk apa aku hidup jika
aku cacat?”
“tuan, kenapa tuan bicara
begitu?”
“aku mendengar pembicaraan
ibu dan Patrice”
Tina sedih, “itu tidak
benar, tuan. Kaki tuan memang patah, tapi tuan masih bisa berjalan lagi”
“kau bohong”
“aku tidak bohong. Jika perlu,
aku akan memanggilkan dokter agar tuan percaya”
Robert diam dan menunduk.
Tina membuka kotak
bekalnya, “tuan makan dulu ya”
“kenapa kau baik padaku?”
“karena...” Tina terdiam
mengenang semua kenangan mereka, “karena janji kita”
Robert menatap Tina.
Tina tersenyum, “aku
suapin ya, ini sup udang. Tuan pasti suka”
Robert pun memakan suapan
yang diberikan oleh Tina, “terima kasih” ia diam.
Tina senang mendengar itu.
Beberapa hari kemudian,
Tina sedang mengepel
lantai rumah, tiba-tiba Robert lewat dengan sepatu kotor.
Robert sengaja
menginjak-nginjak lantai rumah.
“tuan?”
Robert menatap Tina, “kau
mengepel lantai yang bersih, untuk apa?” ia menari, “aku sedang melatih kaki
kananku, kau tau?”
“hati-hati, tuan” Tina
khawatir jika Robert akan jatuh.
“Robert?” Mira menatap
Robert, “kamu apa-apaan?”
“membantu Tina”
“mengotori rumah?” Mira
mendekati Robert, “kamu ini” ia menjewer Robert.
“aw, ampun bu, ampun”
Tina tersenyum melihat itu,
ia senang. Meski Robert masih memandangnya sebagai asisten rumah tangga, tapi
sekarang, Robert mau berkomunikasi dengannya.
***
Robert sedang mengemudikan
mobilnya untuk ke universitas, tapi ia terdiam melihat Tina yang masuk ke mobil
Diego.
“Tina? Dia kenal dengan
laki-laki itu?”
Di mobil Diego,
“makasih banyak ya, maaf
jadi ngerepoti”
“udahlah, Tin. Lagian
juga, kita kan sekampus” Diego tersenyum, “o iya, kenapa kamu gak pernah bareng
sama Robert?”
“tuan, tidak mau. Dia malu
jika ke kampus bersama seorang pembantu”
“setiap kamu manggil dia
tuan, aku kesal”
“kenapa?”
“harusnya, di tempat umum,
kamu panggil namanya saja. Sombong sekali ingin dipanggil tuan”
“aku hanya tidak mau
membuat dia kesal”
“kamu itu baik banget
sih?”
Tina tersenyum.
Di universitas,
Robert sedang berjalan,
Tina mendekat.
“tuan”
Robert menoleh dan menatap
Tina.
“saya... saya tadi melihat
ini jatuh” Tina memberikan gelang Robert.
Robert menatap gelang
pemberian Patrice itu, “aku sudah tidak butuh ini”
“ta..tapi”
“aku sudah putus dengan
Patrice, untuk apa aku memakainya?”
“maaf tuan, saya tidak tau
jika...”
“sudahlah, buang sana”
“i..iya tuan”
“o iya, kau kenal dengan
Diego?”
“i..iya, kami sekelas saat
SMA. Tapi sekarang, kami beda dua tahun. Dia jadi adik tingkatku”
“kau akan berpacaran
dengan adik tingkat?”
“tidak tuan, kami hanya
teman”
“ok” Robert pergi meninggalkan
Tina.
Tapi Tina tiba-tiba
pusing, ia pun jatuh.
Brak...
Robert menoleh, ia melihat
Tina tergeletak di lapang.
“Tina?” Robert kaget.
Robert berlari ke arah
Tina dan mengangkatnya, ia terkejut melihat hidung Tina berdarah. Robert pun
membawanya ke klinik kampus.
Disana, Robert bicara
dengan dokter.
“gimana, dok?”
“dia hanya kelelahan, kau
tau kan? Musim dingin sekarang lebih dingin dari tahun kemarin”
“tapi hidungnya berdarah,
dok”
“itu hanya mimisan biasa,
mungkin dia kurang vitamin. Yang jelas, dia harus istirahan yang cukup”
“syukurlah kalau begitu”
Robert mengangkat Tina dan
membawanya ke luar klinik.
Dari balkon, Patrice
melihat itu.
“apa-apaan dia? Kenapa
Robert mau membawa Tina pulang?” Patrice kesal.
Di mobil,
Robert memakaikan sabuk
pengaman pada Tina, ia melihat jaket Tina yang tidak pernah diganti. Robert
mengelus Tina dengan khawatir dan ia pun ingat masa kecilnya.
“aku janji” Robert kecil, tersenyum.
“Tina” Robert mencium
kening Tina.
Di rumah,
“ya Tuhan..., Tina kenapa,
tuan?” ibu Tina kaget melihat Robert membawa Tina pulang dalam keadaan pingsan.
“kau tenang saja, dia
hanya kelelahan” Robert masuk ke kamar Tina dan membaringkannya, “tolong jaga
dia”
Ibu Tina pun duduk
disamping Tina dengan khawatir.
Di kamar Robert,
Robert berbaring di kamarnya,
ia memikirkan semua yang terjadi. Putusnya hubungan dengan Patrice, Tina yang
sakit.
Robert menutup matanya, ia
ingat, Tina selalu menolongnya. Saat Robert tenggelam, saat Robert hampir mati
karena kedinginan. Tina selalu ada untuk Robert, tanpa memikirkan keadaannya
sendiri.
Di kamar Tina,
“ibu...”
“sayang, bagaimana
keadaanmu?”
“aku baik-baik saja” Tina
melihat jaket kulit berwarna coklat tua.
“itu jaket tuan Robert,
katanya, jaket itu untukmu”
“benarkah?” Tina tersenyum
mendengar itu.
“iya, dia bilang, jaketmu
jelek”
“aku kan cuma punya satu
jaket”
“makanya dia memberimu
ini” ibu tersenyum, ia tau jika Tina bahagia.
Besoknya,
Di universitas, Diego dan
teman-temannya ditangkap polisi.
Tina kaget melihat itu,
“apa yang terjadi?”
“mereka mencoba untuk membunuhku
di bukit salju” Robert menatap Tina.
“benarkah? Ya Tuhan... aku
tidak menyangka jika Diego...”
Belum selesai Tina bicara,
Robert sudah meninggalkannya. Tina pun diam.
Saat menaiki tangga, Tina
terdiam. Patrice menghadangnya dan menatap Tina dengan tajam.
“bukankah itu jaket
Robert?”
“tuan memberikannya
padaku, memangnya kenapa?”
“kau tidak pantas memakai
jaket mahal seperti itu”
“memangnya jaket ini
milikmu? Kenapa kau yang repot?”
“kamu mulai berani padaku?
Aku tau, kamu suka kan sama Robert? Denger ya, kamu itu gak pantes buat dia”
“kamu juga gak pantes,
kamu ninggalin tuan Robert saat sakit. Dan sekarang, kamu nyesel kan? Kamu
pingin balikan lagi ya?”
“kurang ajar” Patrice mau
menampar Tina.
Robert memegangi tangan
Patrice.
“Robert?” Patrice kaget.
“jangan pernah sakiti dia”
“Robert, aku minta maaf”
“minta maaflah padanya”
Robert menatap Patrice.
Tina kaget dengan apa yang
Robert lakukan, ya Tuhan... dia
membelaku?
Robert menatap Tina, “ayo
pergi” ia merangkulnya.
“ii..ya, tuan”
Mereka pun meninggalkan
Patrice.
Malam itu,
Tina masuk ke kamar Robert, “tuan”
Robert menoleh.
“ini, saya membawakan piyama anda” Tina menyimpannya.
“taruh saja disana”
“iya tuan” Tina pun menaruh piyama Robert, “saya permisi” ia
keluar dari kamar Robert.
Tina menuruni tangga dan ibu tersenyum padanya.
“bagaimana, nak?”
“tuan tetap tidak mau memakai piyamanya”
“ya sudah, yang penting, kamu udah bilang terima kasih”
“aku belum bilang”
“kenapa?”
“tuan terlihat tidak ingin diganggu”
“ya sudah, ayo bantu ibu beres-beres”
“iya bu”
Besoknya,
Tina masuk ke mobil Robert
dengan sedikit canggung.
“kau itu kenapa sih?”
Robert menatap Tina.
“tidak apa-apa, tuan”
Robert memberi Tina
coklat.
Tina kaget.
“ayo ambil”
“i..iya, terima kasih,
tuan”
Robert tersenyum dan mulai
menjalankan mobilnya, “mulai sekarang, tidak usah memanggilku tuan”
Di universitas,
Robert sedang berjalan dan
Patrice mengejarnya.
“Robert”
Robert menoleh, “mau apa?”
“maafkan aku”
Robert tersenyum sambil
memalingkan wajahnya.
“Robert, aku ingin
kembali”
“apa aku tidak salah
dengar?”
“Robert, aku serius. Aku
cinta kamu, aku menyesal”
“jika kakiku tidak sembuh,
kau tidak akan meminta ini kan?”
“Robert, jangan begitu”
“aku rasa, kau terlambat.
Aku sudah punya kekasih”
“apa?”
“ya” Robert tersenyum,
“itu dia”
Patrice menoleh dan
melihat Tina yang sedang berjalan.
“Tina” Robert menatap
Tina.
Tina mendekati Robert,
“iya?”
Robert langsung mencium
pipi Tina.
Tina kaget dan terdiam,
sementara Patrice, ia begitu kesal.
Robert menatap Patrice,
“ini pacarku”
Patrice pun pergi.
“Robert, kenapa kau
melakukan ini?” Tina menatap Robert dengan khawatir.
“kau tidak mau?”
“aku...”
“sudahlah” Robert
merangkul Tina ke kelas.
Gosip pun menyebar begitu
cepat, semua tau jika Tina adalah pacar baru Robert dan hal itu, membuat
Patrice semakin kesal.
Di rumah,
Tina bicara dengan ibunya
di kamar.
“jadi, kalian pacaran?”
“iya, bu. Robert tiba-tiba
menciumku dan bilang bahwa kami pacaran, semua orang di universitas sudah tau”
Ibu tersenyum, “bukankah
itu yang kau inginkan?”
“tapi, bu. Ini aneh, ini
terlalu mengejutkan. Kami tiba-tiba jadian dan pacaran begitu saja”
Di kamar Robert,
Robert yang berbaring,
memikirkan Patrice.
Dia
menyesal, dia ingin kembali padaku. Apa yang harus aku lakukan? Apa keputusanku
tepat memilih Tina sebagai pacarku? Ya Tuhan...
Robert bingung.
Tina masuk ke kamar
Robert, “selamat malam”
“Tina?”
“aku cuma mau menyimpan
piyamamu”
Robert tersenyum dan
bangun, ia mendekati Tina.
“e.., Robert”
“kau mau tidur disini?”
“aku...” Tina bingung,
“aku”
“aku mengerti, aku tidak
akan memaksamu”
Tina tersenyum, “terima
kasih, Robert”
Robert memeluk Tina dan
Tina hanya diam dipelukannya.
“kau suka coklatnya?”
“iya, Robert. Rasanya
sangat enak”
“aku akan membelinya lagi
jika kau mau”
“tidak Robert, tidak usah.
Harganya mahal kan?”
“jangan begitu” Robert
menatap Tina.
Tina terdiam.
Robert tersenyum dan
mengelus Tina.
“aku permisi”
“ok”
“selamat tidur, Robert”
Tina keluar.
Robert pun diam.
Pagi itu,
Robert turun dari tangga
dan bersiap untuk kuliah, ia melihat Tina yang sudah rapi menunggunya di bawah.
“sayang, ayo cepat” Robert
merangkul Tina.
Tina tersenyum malu karena
kedua orang tua mereka ada disana.
Setelah mereka pergi,
Ibu Tina mendekati Mira,
“nyonya, apa anda tidak keberatan dengan hubungan mereka?”
“kenapa harus keberatan?
Bukankan dulu, mereka teman baik?”
“terima kasih, nyonya”
“aku lebih menyukai Tina
daripada Patrice yang tidak sopan itu. Aku harap, Tina bisa membuat Robert
lebih baik lagi”
Di jalan,
“Robert, bolehkah aku
menanyakan sesuatu padamu?”
“apa itu?” Robert yang
sedang menyetir, menatap Tina.
“semenjak kita bersama,
kau seperti memikirkan sesuatu. Apa kau serius dengan hubungan kita?”
“maksudmu apa? Aku serius
dengan hubungan kita. Akhir-akhir ini, aku memang banyak fikiran”
“maafkan aku karena
bertanya seperti itu. tapi aku bersyukur jika kau nyaman dengan hubungan ini”
Robert menghentikan
mobilnya dan menatap Tina.
Tina diam, ia takut Robert
marah.
Robert mendekat dan
mencium Tina, lalu ia tersenyum dan mengelus Tina. Robert kembali menyalakan
mobilnya, “bagaimana dengan janji kita?”
Di universitas,
Tina sedang berjalan ke
kantin karena Robert sudah menunggunya disana. Tapi di tengah jalan, langkah
Tina terhenti. Patrice ada di hadapannya.
“Patrice?” Tina kaget.
“aku ingin bicara, ini
sangat penting”
“o..ok”
“nanti, kita bertemu di
kedai waffle. Jangan sampai ada yang tau tentang ini”
Tina mengangguk dan
Patrice meningalkannya.
Tina pun kembali berjalan.
Di kantin,
Robert yang duduk, sudah
mulai resah. Ia melihat ke segala arah, “kemana sih? Kok lama banget ya?”
Tina muncul, ia mendekat
dan duduk.
“dari mana?”
“maaf, aku ke toilet dulu”
“ya udah, pesen sana”
Tina tersenyum, “kamu
marah ya? Pasti udah laper banget, maaf ya”
Robert tersenyum, “pesenin
ya”
Tina mengangguk.
Saat pulang,
“sayang, ayo” Robert
merangkul Tina.
“maaf Robert, aku ada
janji dengan teman-teman”
“teman-teman?”
“iya, sebentar lagi ada
lomba renang kan?”
Robert mengangguk.
“kami akan latihan”
“kau akan lomba lagi?”
“mungkin”
“baiklah, aku pulang
duluan” Robert sedikit kecewa.
“jangan marah”
Robert tersenyum dan
mencium kening Tina, “telpon aku dan aku akan menjemputmu”
Tina mengangguk.
Setelah Robert pergi, Tina
pun pergi ke kedai waffle. Disana, Patrice sudah menunggunya.
“duduklah” Patrice
tersenyum.
Tina duduk, “ada apa?”
“aku... aku tidak bermaksud
mengganggu hubungan kalian, tapi”
Tina menatap Patrice.
“ada hal penting yang aku
harus sampaikan padamu” Patrice mulai serius, “Robert menghubungiku tadi malam,
dia akan datang ke rumahku malam ini”
Tina kaget, ia ingat,
pantas saja Robert terlihat resah sejak kemarin.
“dia masih mencintaiku,
Tina”
“tapi aku kan...”
“aku tau, ini memang sulit
untukmu”
“tapi inilah kenyataan,
kau hanya pelampiasan baginya”
“gak mungkin”
“apa kau tidak merasa ada
yang Robert sembunyikan darimu?”
“ya, dia akhir-akhir ini seperti...”
“mungkin dia bimbang
karena memikirkan ini. Tina, aku benar-benar tidak punya maksud apa pun. Aku
hanya takut, kau menjadi korban Robert seperti perempuan lainnya”
Tina tidak percaya dengan
itu.
“datanglah ke rumahku agar
kau percaya”
“maaf, Patrice. Sepertinya
aku harus pulang”
“Tina, kau baik-baik saja
kan?”
“permisi” Tina pergi
dengan sedih.
Patrice tersenyum.
Di jalan,
Tina menangis, ia tidak
percaya jika selama ini hanya menjadi pelampiasan Robert. Kenapa Robert, kenapa kau lakukan ini padaku? Kau bilang, kau ingat
janjimu. Tapi apa?
Sesampainya di rumah,
“Tina?” Robert kaget, “ko
kamu gak telpon? Padahal, aku mau jemput kamu lho”
“gak usah, makasih” Tina
menahan kesedihannya.
“hey, kamu kenapa?”
“aku lelah” Tina pergi ke
kamarnya.
Robert merasa aneh.
Malam itu,
Robert datang ke rumah
Patrice, ia turun dari mobilnya dan mulai mengetuk pintu.
Patrice membuka pintunya, “selamat datang” Patrice sengaja
tidak menutup pintunya.
Mereka masuk.
“ada apa?” Robert menatap Patrice.
Patrice menggeleng, “aku hanya...” ia tersenyum, “aku hanya
rindu padamu” Patrice mendekati Robert.
“apa maksudmu?”
“Robert” Patrice memeluk Robert.
“aku sudah punya pacar” Robert melepaskan pelukan Patrice.
“aku tau kau masih mencintaiku”
Robert diam.
“jangan bohong, Robert” Patrice menatap Robert, “jauh di
lubuk hatimu, kau masih sangat mencintaiku”
“Patrice”
Patrice pun langsung mencium Robert.
Tina yang datang, melihat itu. Air matanya menetes, ternyata
yang dikatakan Patrice itu benar.
“Robert...” Tina menatap mereka.
Robert melepas Patrice dan menoleh ke arah Tina, “Tina?” ia
benar-benar kaget.
Patrice hanya diam.
“ngapain kamu disini?” Tina menangis.
“aku... aku...” Robert bingung.
“kita putus” Tina pergi.
“Tina” Robert berlari mengejar Tina.
Patrice pun tersenyum karena rencananya berhasil.
Di jalan,
“Tina, tunggu aku, Tina” Robert memegang tangan Tina.
“mau apa lagi, Robert? Semuanya sudah jelas”
“tapi Tina, aku mencintaimu”
“tapi kenapa kau berciuman dengannya?”
“aku tidak melakukan itu”
“aku melihatnya dengan kedua mataku”
“Tina, percayakan padaku”
Tina menggeleng, “aku tidak mau mendengar apa pun lagi” Tina
meninggalkan Robert.
Robert kesal, ia kembali ke rumah Patrice.
“Robert” Patrice tersenyum.
“kau puas? Kau merencanakan semua ini kan?” Robert membentak
Patrice.
“sayang, aku tidak tau. Sungguh, aku juga kaget melihat Tina”
“penipu” Robert pergi dari rumah Patrice dan masuk ke
mobilnya.
Di jalan,
Robert menyetir mobilnya dengan resah, “Tina, kenapa semua
ini harus tenjadi? Kenapa kau percaya pada Patrice?”
Robert memegang kepalanya dengan tangan kanan, “ya Tuhan...”
Robert pun minum, ia terus minum dan mengemudi tak tentu
arah.
Di rumah,
Mira resah karena Robert belum kembali, “ya Tuhan..., Robert,
kamu dimana nak?”
Di kamar Tina,
Tina terus menangis, apalagi ia tau, jika Robert belum
pulang. Tina yakin, Robert pasti sedang bersama Patrice saat ini.
Ibu Tina begitu khawatir melihat Tina, tapi ia tidak bisa
memberitau Mira tentang masalah ini. Karena ia takut, masalahnya akan semakin
kacau.
Pagi itu,
Brak...
Mobil Robert menabrak vas besar di pinggir jalan, kepala
Robert langsung terkulai ke belakang dan botol yang ia pegang, jatuh.
Atap mobil yang terbuka, membuat orang-orang mudah
menolongnya.
“ya Tuhan...” mereka menolong Robert.
Seseorang memeriksa denyut nadi di leher Robert, “dia
baik-baik saja”
Mereka bersyukur karena Robert pingsan akibat mabuk, bukan
karena benturan kecelakaan.
Robert dibawa ke rumah, Mira sangat panik mengetahui anaknya
pingsan di jalan dan sangat berantakan. Dokter pun dipanggil untuk memeriksa
Robert.
Tina yang melihat itu, merasa khawatir. Tapi ia masih sakit
hati dengan Robert.
“aku permisi, bu” Tina menatap ibunya.
“kau yakin tidak akan menunggu kabar Robert?”
“bukankah mereka bilang, Robert hanya mabuk?”
“ya sudah, pergilah ke kampus” ibu tau, Tina harus latihan
karena terpilih mewakili kampus untuk lomba renang.
Di kamar Robert,
Robert membuka matanya, “ibu..” ia melihat Mira yang
menangis.
“kamu kenapa, nak? Ibu takut waktu mendengarmu menabrak vas
di jalan”
“maafkan aku”
“kenapa kamu mabuk?”
“aku menyesal, bu. Jangan marah”
Mira memeluk Robert, “jangan diulangi lagi”
Robert mengangguk.
Siang itu,
Di gym, Tina sedang latihan
untuk lombanya, ia berenang bolak-balik di disana. Setelah merasa lelah,
Tina naik ke darat lalu terdiam melihat Robert yang ada di hadapannya.
“hey” Robert tersenyum.
“harusnya kau istirahat”
“aku baik-baik saja, aku ingin melihat pacarku berlatih”
“aku bukan pacarmu lagi”
“Tina, aku mohon. Percayalah padaku, kita dijebak”
“benarkah? Jika kita dijebak, kenapa kau dia saja saat dia
menciummu? Memelukmu dengan...”
“Tina, aku mencintaimu. Janji kita...”
“jangan bicarakan janji itu lagi, aku sadar, itu hanyalah
janji anak kecil yang tidak bisa dipegang”
“aku selalu mengingat janji itu”
“bohong” Tina mengambil barang-barangnya dan akan keluar.
“jika kau terus begitu, aku akan lompat ke kolam ini” Robert
menatap Tina.
“kolam itu dalamnya 5 meter”
Robert menoleh dan melihat tulisan di pinggir kolam, ia menelan
ludah. Robert kembali menatap Tina, “aku serius, aku akan lompat agar kau
percaya”
“pulanglah, Robert. Sepertinya pengaruh alkoholmu masih ada”
Tina pergi.
Robert mengeluarkan kotak cincin dari sakunya dan menatap
kotak itu, Tina...
***
Tina sedang makan di kantin, tiba-tiba dua orang perempuan
mendekatinya.
“Tina”
“iya?” Tina kaget.
“apa kau melihat Robert?”
Tina menatap mereka, “ada apa?”
“semenjak istirahat, Robert menghilang. Tapi tasnya masih ada
di kelas, mobilnya juga masih terparkir di parkiran. Ada yang bilang, jika
tadi, dia pergi ke gym untuk menemuimu”
Tina terdiam, ia ingat perkataan Robert.
“aku akan
lompat ke kolam ini” Robert menatap Tina.
Tina langsung berlari ke Gym, dua orang itu kaget dan
mengikuti Tina.
Saat Tina sampai di Gym,
Disana sudah banyak orang berkerumun, Tina melewati mereka
dan melihat tubuh Robert yang tergeletak di pinggir kolam.
Tina mendekat.
Dosen yang berusaha menyelamatkan Robert, menatap Tina. Ia
tau jika Tina adalah pacar Robert, “dia tenggelam terlalu lama”
Para medis pun datang, mereka memasang oksigen dan
menggunakan alat pacu jantung untuk menolong Robert.
Dak...
Dada Robert terangkat.
Tina menangis, ia ingat...
Robert kecil menatap Tina, “aku akan menikah denganmu
jika besar nanti”
Tina menatap Robert.
Robert memegang tangan Tina, “aku janji”
Tina pun tersenyum.
Dak...
Dada Robert kembali terangkat, namun sayangnya, deteksi
jantung tetap berbunyi datar.
“Robert?!” Tina histris.
Mereka pun mencabut alat itu dan melepas oksigennya.
“tidak” air mata Tina terus menetes, ia tidak percaya jika
Robert telah meninggal.
“maafkan kami, nona. Kami tidak dapat menolongnya”
Tina menatap Robert, “kenapa kau meninggalkanku? Kenapa?”
“Tina, tenanglah” seorang dosen perempuan mendekati Tina,
“kamu harus sabar, nak”
Tina pun menutupi tubuh Robert dengan jaketnya, ia memeluk
Robert dengan begitu sedih.
Patrice yang melihat itu, hanya bisa diam dan menangis. Ia
tidak menyangka jika Robert akan meninggal dengan cara seperti ini.
Mereka pun ikut sedih melihat itu, mereka tidak menyangka jika
Robert akan tenggelam disana.
Tina mengelus Robert dan mencium pipinya, “aku mencintaimu,
Robert. Aku percaya padamu, maafkan aku”
Tina sangat menyesal, seandainya dia tidak egois dan mau
mendengarkan Robert, mungkin Robert tidak akan melakukan hal nekad dan mungkin
Robert masih hidup sampai saat ini.
Tina melihat kotak cincin yang ada di genggaman tangan kanan
Robert. Mereka bilang, sudah terlalu sulit melepaskan itu. Ternyata, Robert
benar-benar mengingat janjinya.
“Robert?!” Tina terbangun, ternyata ia hanya mimpi.
Tina bersyukur dia ada di kamar. Tapi Tina ingat, ancaman
Robert untuk melompat ke kolam itu benar-benar terjadi siang tadi. Tina
langsung keluar dari kamarnya, ia melihat Mira dan mendekatinya.
“nyonya”
“Tina, ada apa?”
“apa Robert sudah pulang?”
“Robert ada di kamarnya. Setelah pulang dari kampus, ia belum
keluar sampai sekarang. Sepertinya dia masih sedikit pusing”
“terima kasih, nyonya” Tina langsung berlari ke kamar Robert.
Mira kaget.
Di kamar Robert,
Tina melihat Robert yang sedang tidur di kasur dengan piyama,
air mata Tina menetes. Ia bersyukur mimpi itu tidak menjadi nyata dan ia senang
melihat Robert memakai piyama.
Tina mendekat dan mengelus Robert.
Robert membuka matanya, “Tina?” ia bangun.
“tidurlah, bukankah kau masih pusing?”
Robert tersenyum, “aku senang, kau sudah tidak marah padaku”
“maafkan aku, aku percaya padamu”
“kau menangis?” Robert menatap Tina, “ada apa, Tina?”
Tina langsung memeluk Robert.
“sayang?” Robert yang tidak mengerti, hanya mengelusnya. Ia
sedikit khawatir, “tenanglah”
“aku takut, aku takut kamu lompat ke kolam itu”
“kau tau sendiri kan? Dalamnya 5 meter, aku berfikir dua kali
dan aku harus tetap hidup. Banyak hal yang belum aku selesaikan di dunia ini
dan terlalu bodoh jika aku mengakhirinya”
“aku senang mendengar itu”
“bagaimana dengan piyama ini, kau suka?”
Tina mengangguk.
“maaf, aku tidak pernah memakai piyama yang kau siapkan”
“tidak apa-apa”
“tidurlah disini”
Tina mengangguk dan naik, ia berbaring disamping Robert.
Robert tersenyum dan mencium kening Tina, “selamat tidur,
sayang” ia mulai berbaring, “aduh, ini apa ya?” Robert mengeluarkan benda yang
membuat tidurnya tak nyaman.
“itu pasti kotak cincin” Tina tersenyum.
“hey” Robert yang memegang kotak itu pun terkejut, “kenapa
kau tau?”
Tina menatap Robert, “karena itu adalah janjimu”
Robert tersenyum, “menikahlah denganku, Tina”
“siap, tuan”
Robert tersenyum dan memeluk Tina.
The End
___
Thank’s for reading…
Maaf kalau isinya
kurang menarik, komentar yang membangun sangat diharapkan! ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar