Jumat, 03 Juni 2016

Try to Remember part 1

Author : Sherly Holmes
Genre : Romance, Crime
Cerita ini hanya fiktif belaka dan hanya untuk hiburan semata.
___
Note : cerita ini terinspirasi dari Captain America : Civil War, tapi gak ada hubungannya sama sekali dengan film tersebut.
Di sebuah universitas,
Seorang pria keluar dari gerbang dan masuk ke sebuah mobil.
“aku senang, sekarang aku tidak usah tinggal di asrama lagi” pria itu tersenyum.
“iya tuan, selamat atas S2 anda” supir tersenyum sambil menoleh ke arah pria itu.
“Happy, apa ibu ada di rumah?”
“iya, tuan. Nyonya Maria dan tuan Howard baru pulang tadi malam”
“semoga itu pertanda baik”
Di rumah,
Pria itu turun dengan bahagia dari mobilnya dan masuk ke rumah sambil mencari ibunya, tapi ayahnya tiba-tiba muncul dan hampir ia tabrak.
“hati-hati, Anthony” ayah menatap Tony.
“maaf, tuan Stark” Tony menatap ayahnya.
Steve yang melihat itu, tersenyum. Ia mendekat, “selamat atas kelulusan anda, tuan”
Tony menatap Steve, “terima kasih” ia pergi dan mencari kembali ibunya.
Di kamar orang tua Tony,
Tony terdiam melihat ibunya yang sudah berpakaian rapi.
“sayang” ibu tersenyum dan mendekat.
“ibu mau kemana? Happy bilang, ibu baru saja pulang”
“maaf, sayang. Kau tau, kan? Pekerjaannya ayahmu begitu banyak, dia membutuhkan ibu”
“bagaimana dengan Steve? Dia orang kepercayaan ayah, kan?”
“nak, Steve bertugas untuk menjagamu”
“selama 14 tahun aku diasuh baby siter dan sekarang, aku tidak mau diasuh lagi. Umurku sudah 20 tahun, bu”
“sayang, jika dewasa nanti, kamu pasti akan mengerti”
Tony kesal dan menunduk.
“hey, jangan begitu”
“pokoknya, aku gak mau ibu pergi” Tony meninggalkan ibunya.
“Tony?” Maria sedih, sebenarnya ia memang ingin bersama Tony. Tapi pekerjaan Howard sangatlah penting.
Tony menuruni tangga.
“Tony..” Steve tersenyum.
Tony menatap Steve dan meninggalkannya.
Steve hanya diam melihat tingkah Tony.
Tony masuk ke sebuah ruangan dan mendekati pianonya, ia mulai menyentuh piano itu. Tony ingat, sang ibu selalu memainkannya untuk Tony saat kecil. Meski sang ayah selalu membawa ibu jauh dari Tony.
Di kamar,
Howard menatap Maria, “Maria, misi ini sangat penting. Pemerintah sangat membutuhkan ini, kau harus ingat, kita ini SHIELD”
“beri aku waktu untuk melihat Tony” Maria pergi.
***
Maria melihat Tony tidur di sofa dekat piano, ia tersenyum dan mendekati Tony. Maria mengelusnya, “sayang, jangan tidur disini”
Tony hanya diam dan pura-pura tidur.
Maria mengetahui itu, ia duduk di kursi pianonya dan mulai memaikan lagu yang sering ia nyanyikan saat Tony kecil.
Try to remember the kind of September
When life was slow and oh, so mellow
(The Brothers Four – Try to Remember)
Tony sedih mendengar itu, tapi ia sedikit bahagia mendengar sang ibu menyanyikannya lagi untuknya.
Howard datang, “Maria, cepatlah. Waktu kita tidak banyak” ia membuka selimut yang menutupi Tony di sofa.
Tony bangun, “bisakah kau membiarkan ibuku menyelesaikan lagunya?”
“maaf jenius, tapi ini lebih penting dari pada nostalgia”
“sudahlah Howard, lebih baik kau bawa barangnya dulu” Maria menatap Howard.
“ok” Howard keluar mengambil sebuah koper.
Tony menatap ibunya, “aku benci SHIELD”
“jangan begitu, sayang” Maria mendekati Tony.
“saat aku pulang, aku ingin bersamamu. Aku sudah memimpikan ini sejak lama, tapi...” Tony begitu sedih.
“cepat Maria” Howard yang kembali, menatap mereka.
“maafkan ibu, nak” Maria menatap Tony, “sampaikan sesuatu pada ayahmu” ia tau, Tony kesal pada Howard. Maria sedih, “ayolah, bagaimana jika ini hari terakhir kita bertemu?”
Tony menatap ayahnya, “aku sayang ayah” ia kembali menatap ibunya dengan perasaan yang masih kesal.
“sayang” Maria mengelus Tony dan mencium pipinya, “jadilah anak yang baik”
Mereka pun pergi.
Tony hanya diam melihat itu dan itu merupakan hari terakhir Tony bertemu dengan kedua orang tuanya.
***
Sepuluh tahun kemudian,
Di sebuah gedung, sedang diadakan pesta.
“yeah” Tony berteriak.
Semua yang ada disana begitu senang.
Seorang perempuan berambut pirang, menutup telinganya dan mendekati Steve.
“Pepper?”
“Steve, sampai kapan semua ini akan berakhir?”
“aku rasa, kau harus menanyakannya sendiri pada Tony” Steve tersenyum melihat tingkah Tony.
Pepper melihat Tony yang mabuk, “ini tidak benar” ia pun mendekati Tony.
“Pepper?” Tony menatap Pepper.
“Tony, kau harus menghentikan ini”
“tapi ini Stark Expo”
“menurutku, ini bukan Expo perusahaan. Ini lebih ke kegilaanmu”
“hey, aku memang ulang tahun hari ini. Apa kau lupa? Tangal ulang tahunku sama dengan ulang tahun perusahaan, dan satu hal lagi”
Pepper menatap Tony.
“aku bosmu, kenapa kau panggil namaku?”
“kau sudah terlalu mabuk”
“aku tidak mabuk”
Pepper kesal, “terserah kau saja, aku akan pulang bersama Steve” ia meninggalkan Tony.
Tony terdiam melihat Pepper pergi bersama Steve.
Pagi itu,
Di rumah Tony, Pepper sedang membuat air jeruk untuk Tony.
“hey Pep” Steve mendekat.
“Steve?”
“apa anak manja itu sudah bangun?”
“sepertinya dia masih tidur”
“benarkah?”
“dia baru pulang 2 jam yang lalu”
“waw, dia sangat-sangat...”
“sudahlah Steve” Pepper tersenyum.
“apa yang kau lakukan?”
“membuat air jeruk, agar si pemabuk itu cepat sadar”
“kau memang sekretaris yang baik”
“terima kasih” Pepper mendekati Steve, “kenapa kau datang sepagi ini?”
“direktur ingin bertemu Tony”
“SHIELD?”
Steve mengangguk.
“aku rasa, dia tidak akan mau”
“ini penting”
“baiklah, kalau begitu. Aku duluan” Pepper meninggalkan Steve.
Di kamar Tony,
“bangun pemalas, ini sudah pagi” Pepper masuk.
Tony membuka matanya, “emh...” ia melihat Pepper, “Pepper?” Tony tersenyum.
“ini air jeruk untukmu”
Tony bangun dan meminumnya, “terima kasih”
“kalau begitu, aku akan keluar”
“hey, tunggu dulu” Tony memegang tangan Pepper.
“ada apa?” Pepper menatap Tony dan duduk disampingnya.
“aku masih ngantuk”
“tentu saja, kau baru tidur 2 jam”
“maksudku, aku merasa tidak bisa tidur nyenyak beberapa hari ini”
“lalu?”
“bolehkah aku tidur di kamarmu?”
“apa?” Pepper kaget, “emh... baiklah” ia menatap Tony.
“really?” Tony menatap Pepper.
“tapi aku tidur disini” Pepper tersenyum.
Tony diam, itu artinya, mereka hanya bertukar kamar.
“kau ini ada-ada saja” Pepper mengambil gelas kosong yang Tony pegang, “ o iya, di bawah ada Steve”
“si kapten?”
“ya, dia bilang, kau harus menemui direktur Fury”
“Nick? Aku tidak mau”
“Tony, kau harus ingat, orang tuamu adalah salah satu dari pendiri SHIELD. Jadi...”
“sejak dulu, aku benci SHIELD”
“jangan begitu” Pepper menatap Tony, “lebih baik kau segera mandi, aku tidak suka baumu” ia pergi.
Tony kaget, ia menciumi baju dan ketiaknya, “memangnya aku bau? Pepper?” Tony menatap Pepper yang meninggalkannya.
Setelah bersiap, Tony keluar dari lift dan melihat Steve yang sedang duduk di sofa.
“Tony”
“Cap”
***
Di SHIELD,
“dengarkan aku, Nick. Sejak dulu, aku tidak suka SHIELD”
“sabar dulu, tenang dulu. Kau pikir, aku memanggilmu untuk memintamu bergabung?”
Tony kaget.
“kau sama sekali tidak lulus dalam banyak hal, Tony. Hanya orang-orang terpilih yang bisa masuk SHIELD”
“maksudmu, aku tidak masuk kriteria sama sekali?”
Nick menatap Tony.
Tony agak kesal, “tak masalah, lagi pula, aku memang tidak berniat masuk ke super secret boyband-mu ini” Tony berdiri dan tersenyum.
Nick tersenyum, “bilang saja, kau kesal karena tidak masuk kategori seperti Steve”
“maksudmu, aku iri padanya?” Tony menatap Steve, “bagiku, dia hanya Oldman” ia kembali menatap Nick.
“jadi?” Nick menatap Tony.
“aku sama sekali tidak peduli dengan SHIELD dan aku harap, kau tidak akan menghubungiku lagi. Karena aku jamin, kau tidak akan mampu membayarku”
“kesombonganmu melebihi ayahmu” Nick tersenyum.
“terserah” Tony tersenyum, “boleh aku pergi, sekarang?” ia pun meninggalkan Steve dan Nick.
Steve menatap Nick, “apa yang akan kita lakukan sekarang?”
“dia memang tidak peduli dengan SHIELD, lebih baik kau segera mengambil data-data SHIELD yang ada di Stark Industries. Aku yakin, Tony tidak akan keberatan”
“ok”
Di rumah,
Tony turun dari mobilnya, ia melihat Happy mendekat.
“tuan?”
“hey, Hap”
“tuan tidak bekerja?”
“aku mau tidur, lagi pula, di kantor ada Pepper”
Di perusahaan,
Pepper keluar dari ruangan Tony.
“nona” seorang pegawai, mendekati Pepper.
“ada apa?”
“tadi Steve menelpon, dia bilang, dia akan membawa semua data rahasia di sektor 3”
Data SHIELD? Pepper menatap orang itu, “baiklah, kalau begitu, mari kita keluarkan semuanya”
“baik nona”
Di sektor 3,
Beberapa pegawai sedang merapikan sektor tersebut, Pepper pun ikut membantu. Ia takut, ada file penting perusahaan yang terbawa oleh SHIELD.
Tapi Pepper terdiam, ia melihat laporan kematian orang tua Tony.
“Pepper”
Pepper kaget, “Steve?”
“apa yang kau baca? Apa kau tidak tau, semua file ini rahasia?”
“aaku... minta maaf”
“hey, ada apa?”
“tidak Steve, aku permisi” Pepper menyimpan file itu dan pergi, tapi ia sempat mengambil salah satu laporan dan menyimpannya ke dompet.
Steve melihat file yang baru saja Pepper baca, ia terdiam dan menatap Pepper yang sudah pergi.
***
Pepper berlari, “Tony harus tau ini” ia melihat Tony yang baru turun dari mobilnya lewat jendela perusahaan. Pepper berniat memberikan laporan itu dan ia pun mendekati lift.
“Pepper”
“Steve?” Pepper kaget, karena Steve menghalanginya. Ia langsung menyembunyikan kertas itu lagi, “Steve, aku...”
“tidak, Pep” Steve mendekat dan mencium Pepper.
Saat lift terbuka,
Tony yang ada di dalam lift, terdiam. Ia melihat mereka berciuman. Tony terdiam dan ia memutuskan untuk kembali ke bawah.
Lift pun kembali tertutup dan Steve melepaskan Pepper.
“apa yang kau lakukan?” Pepper menatap Steve.
“Pepper...”
“kau tidak bermaksud menyembunyikan semua ini dari Tony, kan?”
“Pepper, kau harus berhati-hati dengan apa yang kau lakukan”
“apa kau sedang mengancamku?”
“bukan begitu, Pep...”
“ada apa dengan semua ini? Apa SHIELD ada hubungannya dengan HYDRA?”
“hentikan, Pep!” Steve membentak Pepper.
Pepper diam, “kau yakin dengan semua ini? Bukankah tuan Howard begitu peduli padamu melebihi Tony? Kenapa kau sama sekali tidak peduli dengan kematiannya?”
“Pepper, aku mohon. Nyawamu bisa terancam jika kau masuk terlalu jauh”
“aku tidak takut, selama aku berada di jalan yang benar” Pepper menatap Steve dan pergi.
Di rumah,
“tuan, anda sudah pulang?” Happy kaget.
“aku sudah bilang jika hari ini aku libur, kan?”
“tapi, bukankah tuan baru saja berangkat kerja?”
“jangan lupa untuk menjemput Pepper, sore ini”
“siap, tuan”
Di kamar,
Tony diam, ia ingat dengan apa yang baru saja ia lihat di kantor. Pepper berciuman dengan Steve? Sejak kapan, sejak kapan mereka punya hubungan? Ya Tuhan... apa benar, Steve lebih baik dariku? Ia juga ingat saat Nick bilang, ia sama sekali tidak masuk kategori SHIELD seperti Steve.
Tony keluar dari kamarnya dan masuk ke ruang piano, ia duduk dan mulai memainkan piano itu. Alunan Try to Remember pun terdengar begitu sedih bagi Tony. Selama ini Tony selalu bilang, jika nostalgia bukan gayanya. Namun dibalik semua itu, kenangan sang ibu selalu ada dalam bayang-bayangnya.
Di perusahaan,
Pepper menyimpan hadiah di meja kerja Tony, “semoga kau tambah dewasa” ia tersenyum dan keluar dari ruang CEO.
Perusahaan begitu sepi, para pegawai sudah pulang sejak dua jam yang lalu.
Pepper terdiam, ia merasakan kehadiran seseorang. Ia pun mulai waspada dan melihat ke sekitar.
Tapi seseorang tiba-tiba muncul di hadapan Pepper dan mencekiknya.
“ah...” Pepper tidak bisa bernafas, ia berusaha berontak. Tapi Pepper tidak bisa berbuat apa-apa.
***
Di rumah,
Tony sedang mengambil salah satu wine dari kulkas yang akan ia tuangkan ke gelas di meja makan. Tony berniat untuk merayakan ulang tahunnya berdua dengan Pepper, apalagi Pepper sedang dijemput Happy. Ia harus menyiapkannya sesegera mungkin.
“Tony” Steve melihat Tony yang sedang mendekor ruangan.
Tony menoleh, “Steve?”
“apa yang sedang kau lakukan?”
“aku akan makan malam dengan Pepper”
“begitukah? Apa kau mencintainya?”
“dia sekretarisku, dan sebagai sekretaris, dia sudah melakukan yang lebih dari itu”
Steve tersenyum.
“kenapa? Kau pikir, aku akan merebutnya darimu?” Tony menatap Steve, “aku memang melihat kalian berciuman di perusahaan, tapi bukan berarti kau adalah segalanya, Steve”
“hey, kenapa kau marah-marah begitu? Kau cemburu, ya?”
“pergilah Oldman, aku tidak takut untuk memukulmu” Tony kesal.
Tapi hp Tony berbunyi.
“hallo?” Tony mengangkatnya.
“tuan, nona Pepper masuk rumah sakit”
Tony terdiam, “b..baiklah Happy, aku akan segera kesana” ia menyimpan HP-nya dan mengambil jaket, “sayang sekali, Cap. Hari ini aku tidak bisa berkelahi” Tony pergi meninggalkan Steve.
Steve menatap Tony yang pergi dan ia tau, ada masalah dengan Pepper.
Di rumah sakit,
Tony masuk ke ruang perawatan Pepper, ia menatap sekretarisnya yang tak sadarkan diri dengan luka-luka di tubuhnya.
“Pepper” Tony duduk dan masih menatap wajah Pepper, “siapa yang berani melukaimu sampai seperti ini, Pep? Bahkan dia tega melukai wajahmu” Tony menunduk, “maafkan aku, Pep. Ini semua salahku, harusnya aku tidak membiarkanmu mengurus semua ini sendiri. Aku hanya bos yang ingin enaknya saja, maafkan aku”
Di luar,
Steve mengintip mereka, ia diam. Steve tidak tega melihat keadaan Pepper.
Dokter mendekat, “tuan?”
“dokter?” Steve menoleh, “bagaimana keadaannya? Apa yang terjadi?”
“keadaannya sangat lemah, pasien dianiaya sampai tak sadarkan diri”
“dianiaya? Apa orang itu sudah ditangkap?”
“saya kurang tau, tuan. Tapi polisi bilang, pelakunya sudah terkenal dan menjadi buron sejak lama”
HYDRA? Steve terdiam, “kalau begitu, aku permisi” ia pun pergi.
Dokter masuk ke ruang perawatan Pepper.
Di dalam,
Tony menoleh, “dokter?”
“selamat malam, tuan Stark”
“dia akan baik-baik saja, kan? Tolong kabari aku jika ada apa-apa” Tony berdiri.
“baik, tuan”
Tony keluar.
Di luar,
Tony masih terdiam.
“tuan Stark” seorang remaja, memanggil Tony.
Tony menoleh, “Petter?”
“tuan, tadi saya ke rumah tuan”
“sekretarisku sakit”
“dia menjadi korban kejahatan?”
Tony menatap Petter.
“aku cuma...”
“kau benar, Pete. Maka dari itu, aku harus menyiapkanmu untuk semua ini”
“aku mengerti, tuan Stark”
Mereka pun pergi.
Di jalan,
Petter menatap Tony yang sedang mengemudi, “tuan Stark”
“aku sedang menyetir, Pete”
“tapi tuan terlihat sedih”
“tau dari mana, kau?”
“aku hanya...”
“insting?”
“apa sekretaris itu sangat berharga untukmu?”
“bukan hanya dia yang berarti untukku, Pete. Semua orang yang dekat denganku, semua orang yang ada di sekitarku. Bagiku, mereka sangat penting”
“apa aku juga penting, tuan?”
Tony menatap Petter, “kau pikir, bagaimana?”
Petter tersenyum, “kau tau, beberapa pelajaran yang kau berikan sudah menerap di otakku. Jadi aku bisa merasakan itu”
“maksudmu, kau mau bilang jika kau lebih jenius dariku?”
“tidak juga, masalah teknologi, kau segalanya. Tapi banyak hal yang aku pelajari dan membuatku lebih maju darimu. Aku bisa bela diri, psikologi, blah blah blah”
“bisakah kau diam?!”
Petter diam, ia kaget, biasanya Tony tidak pernah membentaknya.
“maafkan  aku, Pete”
“ti..tidak apa-apa, tuan”
Mereka pun sampai di rumah Pete.
“apa aku harus ikut sampai ke depan pintu?” Tony menatap Petter yang mengajaknya ke rumah.
“hari ini aku pulang malam, aku takut bibiku marah”
“ah, kau menjadikanku tameng?”
Petter mengetuk pintu, “bi, bibi May. Ini aku, bi. Petter”
“iya, sebentar” May membuka pintu.
Tony terdiam, ternyata bibi May begitu cantik.
“tuan Stark?” May kaget melihat Tony.
“e.., hey” Tony tersenyum.
“aku dari rumah tuan Stark, aku harap, bibi tidak marah”
“kau dari rumah tuan Stark?” May semakin kaget.
“e.. ya, dia mendapatkan beasiswa dari yayasanku”
“benarkah? Petter, kenapa kau tidak pernah bilang pada bibi?”
“e.. maafkan aku, bi” Petter sedikit bingung, karena mereka berbohong.
“baiklah kalau begitu, aku harus pulang”
“oh, baiklah” May masih bingung dan menatap mereka berdua.
“tuan, bagaimana jika anda makan malam bersama kami?” Petter menatap May, “iya kan, bi? Lagipula, anda belum makan, kan?” ia menatap Tony.
“e..” Tony diam, “ok” ia tersenyum, “kedengarannya itu ide yang bagus”
Mereka pun makan bersama.
Di ruang makan,
May mengambilkan makanan untuk Tony dan Petter.
“terima kasih” Tony tersenyum.
“terima kasih, bi” Petter memakannya dengan lahap.
May tersenyum, “ayo dimakan, aku akan mengambil satu hidangan lagi di dapur”
Tony mengangguk.
Saat May pergi,
Tony memakan makanannya, tapi ia terdiam.
“tuan Stark?” Petter kaget.
“i..ini apa, Pete?” Tony merasa aneh dan membuang makanan dari mulutnya ke tisu yang ia ambil.
“tuan, jangan lakukan itu. Nanti bibi May marah”
May kembali mengambil sepiring kue kering, “aku tidak lama, kan?”
Mereka kaget.
Tony langsung melipat tisu itu dan membuangnya, ia tersenyum pada May.
“bagaimana tuan Stark?” May duduk kembali, “masakannya, enak kan?” ia menatap Tony.
“e..” Tony menatap Petter yang panik, “i..iya” ia tersenyum, “sayangnya, aku harus pergi sekarang. Ada urusan mendadak”
“sayang sekali, ya. Padahal anda baru makan sedikit”
“tidak apa-apa, tenang saja” Tony tersenyum.
“kalau begitu, anda mau membawa kue ini ke rumah?”
“tidak-tidak, Petter bilang, itu makanan kesukaannya. Jadi...”
Petter kaget mendengar alasan Tony.
May menatap Petter, “Petter, kau bicara apa pada tuan Stark?”
“ti..tidak, bi”
“tidak apa-apa, sungguh. Jangan marahi dia” Tony berdiri.
“tuan Stark?” May menatap Tony.
“sungguh, May. Aku tidak apa-apa”
“baiklah kalau begitu, aku harap, kau bisa kembali lain waktu”
“ah? E... tentu, aku akan menyempatkannya” Tony tersenyum.
Mereka pun mengantar Tony keluar.
Tony masuk ke mobil dan tersenyum pada mereka.
Setelah mereka masuk dan menutup pintunya, Tony membuka pintu mobil dan muntah.
“makanan macam apa ini? Aku salut jika selama ini Petter hidup dengan masakan May yang seperti ini”
***
Di SHIELD,
“direktur”
“Steve?” Nick kaget.
“apa kau tau tentang Pepper?”
“ya”
“apa benar, itu ulah HYDRA?”
“aku...”
“tolong jawab”
“ok, lebih baik kau ke ruangan Hill. Disana, dia sedang melihat CCTV perusahaan Stark”
Steve pun pergi, ia melihat Phil menjaga pintu ruangan.
“agent Coulsen?”
“Cap” Phil tersenyum.
“aku mau lihat vidionya”
“silahkan” Phil membuka pintu.
Steve masuk dan melihat Hill dan agent lain sedang memutar vidio tersebut.
“Cap?”
“Hill, kau tau siapa pelakunya?”
“kami rasa, itu The Soldier”
Steve terdiam melihat hasil rekaman CCTV itu, Bucky? Ia ingat...
Saat remaja,
Bucky masuk ke sebuah organisasi bernama HYDRA. Sayangnya, Steve tidak bisa masuk karena fisiknya yang lemah. Namun Bucky selalu menyemangati Steve dan selalu ada di dekatnya, itu yang membuat Steve tidak pantang menyerah.
Tapi suatu hari,
HYDRA memberontak kepada pemerintah dan dianggap jahat. Lalu SHIELD dibentuk dan Steve berhasil masuk menjadi anggotanya, SHIELD pun berhasil melenyapkan HYDRA.
Sejak saat itu, Bucky menghilang dan Steve dekat dengan Howard. Salah satu pendiri SHIELD sekaligus ayah dari Tony.
“Steve, kau baik-baik saja?” Hill menatap Steve.
“aku harus pergi.
***
Di sebuah tempat,
“Bucky”
Bucky kaget dan akan menyerang.
“Bucky, hentikan” Steve menahan Bucky.
“kau mau menangkap aku, kan?”
“tidak-tidak” Steve menatap Bucky, “kita teman, apa kau lupa?”
Bucky diam.
“Bucky, aku mohon. Jangan pergi lagi”
“kau mau memenjarakanku, kan? Kau anggota SHIELD”
“tidak, aku akan membantumu. Aku akan bersamamu, seperti dulu”
Bucky diam.
“bisa kita bicara?”
“kau sendirian?”
Steve mengangguk.
“masuklah”
Di dalam,
“kau menganiaya Pepper?”
“aku terpaksa melakukan itu, dia tau jika aku yang membunuh orang tua Stark. Jika dia memberi tau si jenius sombong tentang ini, nyawaku bisa terancam”
“Bucky..”
“saat membunuh pasangan itu, aku diperintah HYDRA. Aku tidak bisa menolak”
“aku mengerti, tapi menganiaya Pepper...”
“kenapa Steve? Membunuh keluarga Stark bukan keinginanku, aku disuruh. Jadi aku tidak merasa bersalah akan hal ini, aku tidak mau perempuan berambut pirang itu mengatakannya pada Stark”
“dengar Bucky, aku akan selalu ada disampingmu apapun yang terjadi. Dan bagiku, kau jauh lebih berharga daripada Stark”
“bagaimana aku bisa tenang?”
“Stark benci SHIELD, aku jamin, dia tidak akan pernah mengetahui semua ini dan aku akan tetap menutup rapat semuanya demi kamu”
Bucky menatap Steve, “aku ingat, nama ibumu Sarah. Dia selalu memberiku makan siang jika kita pulang dari sekolah”
“jangan bilang, jika nama ibumu juga Sarah?” Steve tersenyum.
“mari kita berteman” Bucky tersenyum.
Mereka pun berjabat tangan.
To be Continued
___
Thank’s for reading…
Maaf kalau isinya kurang menarik, komentar kalian sangat berarti untuk Sherly! ^_^


Tidak ada komentar:

Posting Komentar