Author
: Sherly Holmes
Genre
: Romance, Crime
Cerita ini hanya
fiktif belaka dan hanya untuk hiburan
semata.
Note : cerita ini
terinspirasi dari Captain America : Civil War, tapi gak ada hubungannya sama
sekali dengan film tersebut.
Di sebuah universitas,
Seorang pria keluar
dari gerbang dan masuk ke sebuah mobil.
“aku senang,
sekarang aku tidak usah tinggal di asrama lagi” pria itu tersenyum.
“iya tuan, selamat
atas S2 anda” supir tersenyum sambil menoleh ke arah pria itu.
“Happy, apa ibu ada
di rumah?”
“iya, tuan. Nyonya
Maria dan tuan Howard baru pulang tadi malam”
“semoga itu
pertanda baik”
Di rumah,
Pria itu turun
dengan bahagia dari mobilnya dan masuk ke rumah sambil mencari ibunya, tapi
ayahnya tiba-tiba muncul dan hampir ia tabrak.
“hati-hati,
Anthony” ayah menatap Tony.
“maaf, tuan Stark”
Tony menatap ayahnya.
Steve yang melihat
itu, tersenyum. Ia mendekat, “selamat atas kelulusan anda, tuan”
Tony menatap Steve,
“terima kasih” ia pergi dan mencari kembali ibunya.
Di kamar orang tua
Tony,
Tony terdiam
melihat ibunya yang sudah berpakaian rapi.
“sayang” ibu
tersenyum dan mendekat.
“ibu mau kemana?
Happy bilang, ibu baru saja pulang”
“maaf, sayang. Kau
tau, kan? Pekerjaannya ayahmu begitu banyak, dia membutuhkan ibu”
“bagaimana dengan
Steve? Dia orang kepercayaan ayah, kan?”
“nak, Steve
bertugas untuk menjagamu”
“selama 14 tahun
aku diasuh baby siter dan sekarang, aku tidak mau diasuh lagi. Umurku sudah 20
tahun, bu”
“sayang, jika
dewasa nanti, kamu pasti akan mengerti”
Tony kesal dan menunduk.
“hey, jangan
begitu”
“pokoknya, aku gak
mau ibu pergi” Tony meninggalkan ibunya.
“Tony?” Maria
sedih, sebenarnya ia memang ingin bersama Tony. Tapi pekerjaan Howard sangatlah
penting.
Tony menuruni
tangga.
“Tony..” Steve
tersenyum.
Tony menatap Steve
dan meninggalkannya.
Steve hanya diam
melihat tingkah Tony.
Tony masuk ke
sebuah ruangan dan mendekati pianonya, ia mulai menyentuh piano itu. Tony
ingat, sang ibu selalu memainkannya untuk Tony saat kecil. Meski sang ayah
selalu membawa ibu jauh dari Tony.
Di kamar,
Howard menatap
Maria, “Maria, misi ini sangat penting. Pemerintah sangat membutuhkan ini, kau
harus ingat, kita ini SHIELD”
“beri aku waktu
untuk melihat Tony” Maria pergi.
***
Maria melihat Tony
tidur di sofa dekat piano, ia tersenyum dan mendekati Tony. Maria mengelusnya,
“sayang, jangan tidur disini”
Tony hanya diam dan
pura-pura tidur.
Maria mengetahui
itu, ia duduk di kursi pianonya dan mulai memaikan lagu yang sering ia
nyanyikan saat Tony kecil.
Try to remember the kind of September
When life was slow and oh, so mellow
(The Brothers Four – Try to Remember)
Tony sedih
mendengar itu, tapi ia sedikit bahagia mendengar sang ibu menyanyikannya lagi
untuknya.
Howard datang,
“Maria, cepatlah. Waktu kita tidak banyak” ia membuka selimut yang menutupi Tony
di sofa.
Tony bangun,
“bisakah kau membiarkan ibuku menyelesaikan lagunya?”
“maaf jenius, tapi
ini lebih penting dari pada nostalgia”
“sudahlah Howard,
lebih baik kau bawa barangnya dulu” Maria menatap Howard.
“ok” Howard keluar mengambil
sebuah koper.
Tony menatap
ibunya, “aku benci SHIELD”
“jangan begitu,
sayang” Maria mendekati Tony.
“saat aku pulang,
aku ingin bersamamu. Aku sudah memimpikan ini sejak lama, tapi...” Tony begitu
sedih.
“cepat Maria”
Howard yang kembali, menatap mereka.
“maafkan ibu, nak”
Maria menatap Tony, “sampaikan sesuatu pada ayahmu” ia tau, Tony kesal pada
Howard. Maria sedih, “ayolah, bagaimana jika ini hari terakhir kita bertemu?”
Tony menatap
ayahnya, “aku sayang ayah” ia kembali menatap ibunya dengan perasaan yang masih
kesal.
“sayang” Maria
mengelus Tony dan mencium pipinya, “jadilah anak yang baik”
Mereka pun pergi.
Tony hanya diam
melihat itu dan itu merupakan hari terakhir Tony bertemu dengan kedua orang
tuanya.
***
Sepuluh tahun
kemudian,
Di sebuah gedung, sedang
diadakan pesta.
“yeah” Tony
berteriak.
Semua yang ada
disana begitu senang.
Seorang perempuan
berambut pirang, menutup telinganya dan mendekati Steve.
“Pepper?”
“Steve, sampai
kapan semua ini akan berakhir?”
“aku rasa, kau
harus menanyakannya sendiri pada Tony” Steve tersenyum melihat tingkah Tony.
Pepper melihat Tony
yang mabuk, “ini tidak benar” ia pun mendekati Tony.
“Pepper?” Tony
menatap Pepper.
“Tony, kau harus
menghentikan ini”
“tapi ini Stark
Expo”
“menurutku, ini
bukan Expo perusahaan. Ini lebih ke kegilaanmu”
“hey, aku memang
ulang tahun hari ini. Apa kau lupa? Tangal ulang tahunku sama dengan ulang
tahun perusahaan, dan satu hal lagi”
Pepper menatap
Tony.
“aku bosmu, kenapa
kau panggil namaku?”
“kau sudah terlalu
mabuk”
“aku tidak mabuk”
Pepper kesal,
“terserah kau saja, aku akan pulang bersama Steve” ia meninggalkan Tony.
Tony terdiam
melihat Pepper pergi bersama Steve.
Pagi itu,
Di rumah Tony,
Pepper sedang membuat air jeruk untuk Tony.
“hey Pep” Steve
mendekat.
“Steve?”
“apa anak manja itu
sudah bangun?”
“sepertinya dia
masih tidur”
“benarkah?”
“dia baru pulang 2
jam yang lalu”
“waw, dia
sangat-sangat...”
“sudahlah Steve”
Pepper tersenyum.
“apa yang kau
lakukan?”
“membuat air jeruk,
agar si pemabuk itu cepat sadar”
“kau memang
sekretaris yang baik”
“terima kasih”
Pepper mendekati Steve, “kenapa kau datang sepagi ini?”
“direktur ingin
bertemu Tony”
“SHIELD?”
Steve mengangguk.
“aku rasa, dia
tidak akan mau”
“ini penting”
“baiklah, kalau
begitu. Aku duluan” Pepper meninggalkan Steve.
Di kamar Tony,
“bangun pemalas,
ini sudah pagi” Pepper masuk.
Tony membuka
matanya, “emh...” ia melihat Pepper, “Pepper?” Tony tersenyum.
“ini air jeruk
untukmu”
Tony bangun dan meminumnya,
“terima kasih”
“kalau begitu, aku
akan keluar”
“hey, tunggu dulu”
Tony memegang tangan Pepper.
“ada apa?” Pepper
menatap Tony dan duduk disampingnya.
“aku masih ngantuk”
“tentu saja, kau
baru tidur 2 jam”
“maksudku, aku
merasa tidak bisa tidur nyenyak beberapa hari ini”
“lalu?”
“bolehkah aku tidur
di kamarmu?”
“apa?” Pepper kaget,
“emh... baiklah” ia menatap Tony.
“really?” Tony
menatap Pepper.
“tapi aku tidur
disini” Pepper tersenyum.
Tony diam, itu
artinya, mereka hanya bertukar kamar.
“kau ini ada-ada
saja” Pepper mengambil gelas kosong yang Tony pegang, “ o iya, di bawah ada
Steve”
“si kapten?”
“ya, dia bilang,
kau harus menemui direktur Fury”
“Nick? Aku tidak
mau”
“Tony, kau harus
ingat, orang tuamu adalah salah satu dari pendiri SHIELD. Jadi...”
“sejak dulu, aku
benci SHIELD”
“jangan begitu”
Pepper menatap Tony, “lebih baik kau segera mandi, aku tidak suka baumu” ia
pergi.
Tony kaget, ia
menciumi baju dan ketiaknya, “memangnya aku bau? Pepper?” Tony menatap Pepper
yang meninggalkannya.
Setelah bersiap,
Tony keluar dari lift dan melihat Steve yang sedang duduk di sofa.
“Tony”
“Cap”
***
Di SHIELD,
“dengarkan aku,
Nick. Sejak dulu, aku tidak suka SHIELD”
“sabar dulu, tenang
dulu. Kau pikir, aku memanggilmu untuk memintamu bergabung?”
Tony kaget.
“kau sama sekali
tidak lulus dalam banyak hal, Tony. Hanya orang-orang terpilih yang bisa masuk
SHIELD”
“maksudmu, aku
tidak masuk kriteria sama sekali?”
Nick menatap Tony.
Tony agak kesal,
“tak masalah, lagi pula, aku memang tidak berniat masuk ke super secret
boyband-mu ini” Tony berdiri dan tersenyum.
Nick tersenyum,
“bilang saja, kau kesal karena tidak masuk kategori seperti Steve”
“maksudmu, aku iri
padanya?” Tony menatap Steve, “bagiku, dia hanya Oldman” ia kembali menatap
Nick.
“jadi?” Nick
menatap Tony.
“aku sama sekali
tidak peduli dengan SHIELD dan aku harap, kau tidak akan menghubungiku lagi.
Karena aku jamin, kau tidak akan mampu membayarku”
“kesombonganmu
melebihi ayahmu” Nick tersenyum.
“terserah” Tony
tersenyum, “boleh aku pergi, sekarang?” ia pun meninggalkan Steve dan Nick.
Steve menatap Nick,
“apa yang akan kita lakukan sekarang?”
“dia memang tidak
peduli dengan SHIELD, lebih baik kau segera mengambil data-data SHIELD yang ada
di Stark Industries. Aku yakin, Tony tidak akan keberatan”
“ok”
Di rumah,
Tony turun dari
mobilnya, ia melihat Happy mendekat.
“tuan?”
“hey, Hap”
“tuan tidak
bekerja?”
“aku mau tidur,
lagi pula, di kantor ada Pepper”
Di perusahaan,
Pepper keluar dari
ruangan Tony.
“nona” seorang
pegawai, mendekati Pepper.
“ada apa?”
“tadi Steve
menelpon, dia bilang, dia akan membawa semua data rahasia di sektor 3”
Data SHIELD? Pepper menatap
orang itu, “baiklah, kalau begitu, mari kita keluarkan semuanya”
“baik nona”
Di sektor 3,
Beberapa pegawai
sedang merapikan sektor tersebut, Pepper pun ikut membantu. Ia takut, ada file
penting perusahaan yang terbawa oleh SHIELD.
Tapi Pepper
terdiam, ia melihat laporan kematian orang tua Tony.
“Pepper”
Pepper kaget,
“Steve?”
“apa yang kau baca?
Apa kau tidak tau, semua file ini rahasia?”
“aaku... minta
maaf”
“hey, ada apa?”
“tidak Steve, aku
permisi” Pepper menyimpan file itu dan pergi, tapi ia sempat mengambil salah
satu laporan dan menyimpannya ke dompet.
Steve melihat file
yang baru saja Pepper baca, ia terdiam dan menatap Pepper yang sudah pergi.
***
Pepper berlari,
“Tony harus tau ini” ia melihat Tony yang baru turun dari mobilnya lewat
jendela perusahaan. Pepper berniat memberikan laporan itu dan ia pun mendekati
lift.
“Pepper”
“Steve?” Pepper
kaget, karena Steve menghalanginya. Ia langsung menyembunyikan kertas itu lagi,
“Steve, aku...”
“tidak, Pep” Steve
mendekat dan mencium Pepper.
Saat lift terbuka,
Tony yang ada di
dalam lift, terdiam. Ia melihat mereka berciuman. Tony terdiam dan ia
memutuskan untuk kembali ke bawah.
Lift pun kembali
tertutup dan Steve melepaskan Pepper.
“apa yang kau
lakukan?” Pepper menatap Steve.
“Pepper...”
“kau tidak
bermaksud menyembunyikan semua ini dari Tony, kan?”
“Pepper, kau harus
berhati-hati dengan apa yang kau lakukan”
“apa kau sedang
mengancamku?”
“bukan begitu,
Pep...”
“ada apa dengan
semua ini? Apa SHIELD ada hubungannya dengan HYDRA?”
“hentikan, Pep!”
Steve membentak Pepper.
Pepper diam, “kau
yakin dengan semua ini? Bukankah tuan Howard begitu peduli padamu melebihi
Tony? Kenapa kau sama sekali tidak peduli dengan kematiannya?”
“Pepper, aku mohon.
Nyawamu bisa terancam jika kau masuk terlalu jauh”
“aku tidak takut,
selama aku berada di jalan yang benar” Pepper menatap Steve dan pergi.
Di rumah,
“tuan, anda sudah
pulang?” Happy kaget.
“aku sudah bilang
jika hari ini aku libur, kan?”
“tapi, bukankah
tuan baru saja berangkat kerja?”
“jangan lupa untuk menjemput
Pepper, sore ini”
“siap, tuan”
Di kamar,
Tony diam, ia ingat
dengan apa yang baru saja ia lihat di kantor. Pepper berciuman dengan Steve? Sejak kapan, sejak kapan mereka punya
hubungan? Ya Tuhan... apa benar, Steve lebih baik dariku? Ia juga ingat
saat Nick bilang, ia sama sekali tidak masuk kategori SHIELD seperti Steve.
Tony keluar dari
kamarnya dan masuk ke ruang piano, ia duduk dan mulai memainkan piano itu.
Alunan Try to Remember pun terdengar begitu sedih bagi Tony. Selama ini Tony
selalu bilang, jika nostalgia bukan gayanya. Namun dibalik semua itu, kenangan
sang ibu selalu ada dalam bayang-bayangnya.
Di perusahaan,
Pepper menyimpan
hadiah di meja kerja Tony, “semoga kau tambah dewasa” ia tersenyum dan keluar
dari ruang CEO.
Perusahaan begitu
sepi, para pegawai sudah pulang sejak dua jam yang lalu.
Pepper terdiam, ia
merasakan kehadiran seseorang. Ia pun mulai waspada dan melihat ke sekitar.
Tapi seseorang
tiba-tiba muncul di hadapan Pepper dan mencekiknya.
“ah...” Pepper tidak
bisa bernafas, ia berusaha berontak. Tapi Pepper tidak bisa berbuat apa-apa.
***
Di rumah,
Tony sedang
mengambil salah satu wine dari kulkas yang akan ia tuangkan ke gelas di meja
makan. Tony berniat untuk merayakan ulang tahunnya berdua dengan Pepper,
apalagi Pepper sedang dijemput Happy. Ia harus menyiapkannya sesegera mungkin.
“Tony” Steve
melihat Tony yang sedang mendekor ruangan.
Tony menoleh,
“Steve?”
“apa yang sedang
kau lakukan?”
“aku akan makan
malam dengan Pepper”
“begitukah? Apa kau
mencintainya?”
“dia sekretarisku,
dan sebagai sekretaris, dia sudah melakukan yang lebih dari itu”
Steve tersenyum.
“kenapa? Kau pikir,
aku akan merebutnya darimu?” Tony menatap Steve, “aku memang melihat kalian
berciuman di perusahaan, tapi bukan berarti kau adalah segalanya, Steve”
“hey, kenapa kau
marah-marah begitu? Kau cemburu, ya?”
“pergilah Oldman,
aku tidak takut untuk memukulmu” Tony kesal.
Tapi hp Tony
berbunyi.
“hallo?” Tony
mengangkatnya.
“tuan, nona Pepper
masuk rumah sakit”
Tony terdiam,
“b..baiklah Happy, aku akan segera kesana” ia menyimpan HP-nya dan mengambil
jaket, “sayang sekali, Cap. Hari ini aku tidak bisa berkelahi” Tony pergi
meninggalkan Steve.
Steve menatap Tony
yang pergi dan ia tau, ada masalah dengan Pepper.
Di rumah sakit,
Tony masuk ke ruang
perawatan Pepper, ia menatap sekretarisnya yang tak sadarkan diri dengan
luka-luka di tubuhnya.
“Pepper” Tony duduk
dan masih menatap wajah Pepper, “siapa yang berani melukaimu sampai seperti
ini, Pep? Bahkan dia tega melukai wajahmu” Tony menunduk, “maafkan aku, Pep.
Ini semua salahku, harusnya aku tidak membiarkanmu mengurus semua ini sendiri.
Aku hanya bos yang ingin enaknya saja, maafkan aku”
Di luar,
Steve mengintip
mereka, ia diam. Steve tidak tega melihat keadaan Pepper.
Dokter mendekat,
“tuan?”
“dokter?” Steve
menoleh, “bagaimana keadaannya? Apa yang terjadi?”
“keadaannya sangat
lemah, pasien dianiaya sampai tak sadarkan diri”
“dianiaya? Apa orang
itu sudah ditangkap?”
“saya kurang tau,
tuan. Tapi polisi bilang, pelakunya sudah terkenal dan menjadi buron sejak
lama”
HYDRA? Steve terdiam, “kalau
begitu, aku permisi” ia pun pergi.
Dokter masuk ke
ruang perawatan Pepper.
Di dalam,
Tony menoleh,
“dokter?”
“selamat malam,
tuan Stark”
“dia akan baik-baik
saja, kan? Tolong kabari aku jika ada apa-apa” Tony berdiri.
“baik, tuan”
Tony keluar.
Di luar,
Tony masih terdiam.
“tuan Stark” seorang
remaja, memanggil Tony.
Tony menoleh,
“Petter?”
“tuan, tadi saya ke
rumah tuan”
“sekretarisku
sakit”
“dia menjadi korban
kejahatan?”
Tony menatap
Petter.
“aku cuma...”
“kau benar, Pete.
Maka dari itu, aku harus menyiapkanmu untuk semua ini”
“aku mengerti, tuan
Stark”
Mereka pun pergi.
Di jalan,
Petter menatap Tony
yang sedang mengemudi, “tuan Stark”
“aku sedang
menyetir, Pete”
“tapi tuan terlihat
sedih”
“tau dari mana,
kau?”
“aku hanya...”
“insting?”
“apa sekretaris itu
sangat berharga untukmu?”
“bukan hanya dia yang
berarti untukku, Pete. Semua orang yang dekat denganku, semua orang yang ada di
sekitarku. Bagiku, mereka sangat penting”
“apa aku juga
penting, tuan?”
Tony menatap
Petter, “kau pikir, bagaimana?”
Petter tersenyum,
“kau tau, beberapa pelajaran yang kau berikan sudah menerap di otakku. Jadi aku
bisa merasakan itu”
“maksudmu, kau mau
bilang jika kau lebih jenius dariku?”
“tidak juga,
masalah teknologi, kau segalanya. Tapi banyak hal yang aku pelajari dan
membuatku lebih maju darimu. Aku bisa bela diri, psikologi, blah blah blah”
“bisakah kau
diam?!”
Petter diam, ia
kaget, biasanya Tony tidak pernah membentaknya.
“maafkan aku, Pete”
“ti..tidak apa-apa,
tuan”
Mereka pun sampai
di rumah Pete.
“apa aku harus ikut
sampai ke depan pintu?” Tony menatap Petter yang mengajaknya ke rumah.
“hari ini aku
pulang malam, aku takut bibiku marah”
“ah, kau
menjadikanku tameng?”
Petter mengetuk
pintu, “bi, bibi May. Ini aku, bi. Petter”
“iya, sebentar” May
membuka pintu.
Tony terdiam,
ternyata bibi May begitu cantik.
“tuan Stark?” May
kaget melihat Tony.
“e.., hey” Tony
tersenyum.
“aku dari rumah
tuan Stark, aku harap, bibi tidak marah”
“kau dari rumah
tuan Stark?” May semakin kaget.
“e.. ya, dia
mendapatkan beasiswa dari yayasanku”
“benarkah? Petter,
kenapa kau tidak pernah bilang pada bibi?”
“e.. maafkan aku,
bi” Petter sedikit bingung, karena mereka berbohong.
“baiklah kalau
begitu, aku harus pulang”
“oh, baiklah” May masih
bingung dan menatap mereka berdua.
“tuan, bagaimana
jika anda makan malam bersama kami?” Petter menatap May, “iya kan, bi?
Lagipula, anda belum makan, kan?” ia menatap Tony.
“e..” Tony diam,
“ok” ia tersenyum, “kedengarannya itu ide yang bagus”
Mereka pun makan
bersama.
Di ruang makan,
May mengambilkan
makanan untuk Tony dan Petter.
“terima kasih” Tony
tersenyum.
“terima kasih, bi”
Petter memakannya dengan lahap.
May tersenyum, “ayo
dimakan, aku akan mengambil satu hidangan lagi di dapur”
Tony mengangguk.
Saat May pergi,
Tony memakan
makanannya, tapi ia terdiam.
“tuan Stark?”
Petter kaget.
“i..ini apa, Pete?”
Tony merasa aneh dan membuang makanan dari mulutnya ke tisu yang ia ambil.
“tuan, jangan
lakukan itu. Nanti bibi May marah”
May kembali
mengambil sepiring kue kering, “aku tidak lama, kan?”
Mereka kaget.
Tony langsung
melipat tisu itu dan membuangnya, ia tersenyum pada May.
“bagaimana tuan
Stark?” May duduk kembali, “masakannya, enak kan?” ia menatap Tony.
“e..” Tony menatap
Petter yang panik, “i..iya” ia tersenyum, “sayangnya, aku harus pergi sekarang.
Ada urusan mendadak”
“sayang sekali, ya.
Padahal anda baru makan sedikit”
“tidak apa-apa,
tenang saja” Tony tersenyum.
“kalau begitu, anda
mau membawa kue ini ke rumah?”
“tidak-tidak,
Petter bilang, itu makanan kesukaannya. Jadi...”
Petter kaget
mendengar alasan Tony.
May menatap Petter,
“Petter, kau bicara apa pada tuan Stark?”
“ti..tidak, bi”
“tidak apa-apa,
sungguh. Jangan marahi dia” Tony berdiri.
“tuan Stark?” May
menatap Tony.
“sungguh, May. Aku
tidak apa-apa”
“baiklah kalau
begitu, aku harap, kau bisa kembali lain waktu”
“ah? E... tentu,
aku akan menyempatkannya” Tony tersenyum.
Mereka pun
mengantar Tony keluar.
Tony masuk ke mobil
dan tersenyum pada mereka.
Setelah mereka
masuk dan menutup pintunya, Tony membuka pintu mobil dan muntah.
“makanan macam apa
ini? Aku salut jika selama ini Petter hidup dengan masakan May yang seperti
ini”
***
Di SHIELD,
“direktur”
“Steve?” Nick
kaget.
“apa kau tau
tentang Pepper?”
“ya”
“apa benar, itu
ulah HYDRA?”
“aku...”
“tolong jawab”
“ok, lebih baik kau
ke ruangan Hill. Disana, dia sedang melihat CCTV perusahaan Stark”
Steve pun pergi, ia
melihat Phil menjaga pintu ruangan.
“agent Coulsen?”
“Cap” Phil
tersenyum.
“aku mau lihat
vidionya”
“silahkan” Phil
membuka pintu.
Steve masuk dan
melihat Hill dan agent lain sedang memutar vidio tersebut.
“Cap?”
“Hill, kau tau
siapa pelakunya?”
“kami rasa, itu The
Soldier”
Steve terdiam
melihat hasil rekaman CCTV itu, Bucky? Ia
ingat...
Saat
remaja,
Bucky
masuk ke sebuah organisasi bernama HYDRA. Sayangnya, Steve tidak bisa masuk
karena fisiknya yang lemah. Namun Bucky selalu menyemangati Steve dan selalu
ada di dekatnya, itu yang membuat Steve tidak pantang menyerah.
Tapi
suatu hari,
HYDRA
memberontak kepada pemerintah dan dianggap jahat. Lalu SHIELD dibentuk dan
Steve berhasil masuk menjadi anggotanya, SHIELD pun berhasil melenyapkan HYDRA.
Sejak
saat itu, Bucky menghilang dan Steve dekat dengan Howard. Salah satu pendiri
SHIELD sekaligus ayah dari Tony.
“Steve, kau baik-baik
saja?” Hill menatap Steve.
“aku harus pergi.
***
Di sebuah tempat,
“Bucky”
Bucky kaget dan
akan menyerang.
“Bucky, hentikan”
Steve menahan Bucky.
“kau mau menangkap
aku, kan?”
“tidak-tidak” Steve
menatap Bucky, “kita teman, apa kau lupa?”
Bucky diam.
“Bucky, aku mohon.
Jangan pergi lagi”
“kau mau
memenjarakanku, kan? Kau anggota SHIELD”
“tidak, aku akan
membantumu. Aku akan bersamamu, seperti dulu”
Bucky diam.
“bisa kita bicara?”
“kau sendirian?”
Steve mengangguk.
“masuklah”
Di dalam,
“kau menganiaya Pepper?”
“aku terpaksa
melakukan itu, dia tau jika aku yang membunuh orang tua Stark. Jika dia memberi
tau si jenius sombong tentang ini, nyawaku bisa terancam”
“Bucky..”
“saat membunuh
pasangan itu, aku diperintah HYDRA. Aku tidak bisa menolak”
“aku mengerti, tapi
menganiaya Pepper...”
“kenapa Steve?
Membunuh keluarga Stark bukan keinginanku, aku disuruh. Jadi aku tidak merasa
bersalah akan hal ini, aku tidak mau perempuan berambut pirang itu
mengatakannya pada Stark”
“dengar Bucky, aku
akan selalu ada disampingmu apapun yang terjadi. Dan bagiku, kau jauh lebih
berharga daripada Stark”
“bagaimana aku bisa
tenang?”
“Stark benci
SHIELD, aku jamin, dia tidak akan pernah mengetahui semua ini dan aku akan
tetap menutup rapat semuanya demi kamu”
Bucky menatap Steve,
“aku ingat, nama ibumu Sarah. Dia selalu memberiku makan siang jika kita pulang
dari sekolah”
“jangan bilang,
jika nama ibumu juga Sarah?” Steve tersenyum.
“mari kita
berteman” Bucky tersenyum.
Mereka pun berjabat
tangan.
To be Continued
___
Thank’s for reading…
Maaf
kalau isinya kurang menarik, komentar kalian sangat berarti untuk Sherly! ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar