Selasa, 27 Desember 2016

Something Stupid part 1


Author : Sherly Holmes
Genre : Romance-Drama, Friendship
Cerita ini adalah fiktif belaka dan hanya untuk hiburan semata.
___
Di sebuah toilet,
Seorang perempuan menangis sambil menatap cermin di hadapannya, “aku tidak boleh berhenti disini, aku harus bisa mengatasi semuanya. Tinggal beberapa langkah lagi untuk menjadi sarjana, ya Tuhan...”
Tapi saat menoleh, perempuan itu terdiam. Ada seorang laki-laki berdiri menatapnya.
Perempuan itu kaget dan menghapus air matanya, “maaf, kenapa kau masuk kesini?”
“aku mau ke toilet” pria itu merasa aneh.
“dengar ya, kau salah ruangan” perempuan itu kesal.
“maaf nona, tapi kau yang salah ruangan. Lihatlah di sekelilingmu”
Perempuan itu pun melihat ke sekitar, ia tersadar jika ini memang toilet pria.
Pria itu tersenyum, “pergilah, sebelum ada orang lain masuk”
“ba..baiklah, aku permisi” perempuan itu pergi.
Di luar,
“ya Tuhan.. memalukan sekali, kenpa aku bisa salah masuk?”
Hp perempuan itu berbunyi.
“hallo?”
“Natalie, kapan kau akan membayar uang kuliah?”
“iya bu, saya sedang berusaha. Beri saya kesempatan, tolong bu”
“tapi kamu nunggak satu semester”
“saya tau, bu. Saya tau” Natalie agak panik, “saya janji akan membayar langsung dua semester”
“ya sudah, tapi jangan bohong”
“iya bu, saya mengerti” Natalie menutup telponnya dan terdiam melihat pria tadi ada dihadapannya.
“kau sedang kuliah?” pria itu menatap Natalie.
“iya” Natalie menatap pria asing itu.
“apa ada masalah?”
“ini bukan urusan kamu”
“hey, jangan marah” pria itu tersenyum, “aku hanya ingin memberimu ini” pria itu memberikan alamat sebuah perusahaan.
Natalie membacanya, “Stark Enterprise, SE (singkatan Stark Enterprise)? Aku tau perusahaan ini memiliki yayasan yang selalu memberikan beasiswa, tapi...”
“kau pesimis?”
“aku..”
“tenang saja, aku bekerja disana”
“maksudmu, kau akan meloloskan aku?”
Pria itu tersenyum, “namaku Robert” ia pun mengajak Natalie untuk berjabat tangan.
“a..aku... Natalie” Natalie menjabat tangan Robert.
“aku akan menunggu kedatanganmu” Robert pun pergi.
“i...iya” Natalie terdiam.
Di kostan,
Natalie menatap sahabatnya, “gimana dong, Din? Dia bilang, dia kerja disana”
“ya bagus dong, jadi kamu bisa dapet beasiswa dan lulus sebagai sarjana” Dini tersenyum.
“iya sih, tapi...”
“apa lagi?”
“dia kok bisa baik banget gitu, ya? Kami kan baru ketemu...?”
“udahlah, itu semua udah diatur sama Tuhan... kamu harusnya banyak bersyukur, bukan banyak bertanya dan bingung”
“iya juga sih” Natalie tersenyum.
“ngomong-ngomong, kamu udah bab berapa?”
“baru mau bab 2”
“payah, aku udah mau bab 4”
“aku kan nunggak, jadi agak dipersulit” Natalie mengeluh.
“dosennya belum kamu bayar sih, jadi setengah-setengah ngebimbingnya” Dini tertawa.
“ih... kau kok gitu sih?” Natalie tersenyum.
Besoknya,
Dini melihat Natalie yang sudah rapi, “hey, bukannya hari ini libur?”
“aku kan mau ke Stark Enterprise, kamu iri kan?”
“ah, enggak”
“idih, bo’ong tuh. Mau kesana kan? Pergi ke SE kan, impian semua orang”
“dasar”
“ya udah, aku berangkat dulu ya”
“hati-hati”
***
Di Stark Enterprise,
Natalie masuk dan benar-benar takjub dengan gedung megah itu.
“selamat datang di SE, ada yang bisa kami bantu?” seorang resepsionis yang ramah, menyambut Natalie.
“sa..saya mau ketemu sama Robert”
“tuan Robert? Apa anda sudah membuat janji?”
“kemarin dia memberiku alamat perusahaan” Natalie memberikan sebuah kertas.
Resepsionis itu melihat kertas Natalie dan tersenyum melihat tulisan Robert, “baiklah nona, silahkan masuk lift. Disana akan ada yang membantu anda”
“terima kasih”
***
Setelah keluar dari lift,
“selamat datang, anda mau bertemu dengan tuan Robert?” seorang sekretaris tersenyum pada Natalie.
“i...iya”
“silahkan masuk, tuan ada di dalam”
“terima kasih” Natalie pun masuk.
Di dalam,
Natalie kaget dengan ruangan Robert yang begitu besar dan ia pun melihat Robert yang sedang menelpon.
“iya sayang, ayah janji akan segera menjemputmu. Iya nak...” Robert menoleh dan tersenyum melihat Natalie, “nanti ayah telpon lagi ya?” Robert menutup telponnya dan menatap Natalie, “Natalie?”
“apa aku mengganggumu?”
“tidak, itu hanya telpon dari anakku”
“ya, aku mendengarnya. Maksudku, aku mendengar kau bilang nak dan..”
“ayah?” Robert tersenyum.
Natalie tersenyum sambil mengangguk.
“duduklah”
“i..iya”
Malamnya,
Natalie kembali bercerita dengan Dini, di kostan.
“jadi...?”
“iya, aku baru sadar kalau dia itu CEO dari SE”
“ah... payah, benar-benar payah. Semua orang di dunia ini kenal dengan CEO SE, dia kan suka ada di majalah dan tv”
“iya, tapi kan aku...”
“faham kok” Dini tersenyum, “boro-boro beli majalah mahal, bayaran juga belum”
“idih, bahas itu melulu. Bentar lagi juga semuanya lunas, kok. Bahkan Robert nawarin aku S2”
“wow, keren juga tuh. Mending kamu minta kerja di SE aja”
“enggak ah, aku minder sama karyawan-karyawan disana”
“ayolah, perusahaan Robert gak kaya loker jaman sekarang kok. SE selalu memprioritaskan keterampilan, bukan penampilan”
“iya sih, waktu masuk kesana emang beda banget. Rasanya nyaman banget, semua pegawainya profesional. Gak kaya di tempat lain, cuma bagus di fisik tapi pelayanannya gak memuaskan”
“makanya SE jadi perusahaan impian semua orang, mungkin seluruh dunia”
“kamu kok jadi ngebagus-bagusin perusahaan orang, sih?”
“biarin, kenyataan kok”
“tapi...”
“apa?” Dini menatap Natalie.
“ternyata Robert udah nikah”
“nikah?”
“iya” Natalie menatap Dini, “waktu aku kesana, dia lagi nelpon anaknya”
“aku gak tau kalau dia udah nikah, soalnya Robert gak pernah mempublikasi keluarganya ‘kan?”
“mana ku tau?”
“tunggu” Dini menatap Natalie, “emangnya kalau dia udah nikah, kenapa?”
“gak apa-apa”
Dini tersenyum, “jangan-jangan, kamu suka sama dia”
“ih... apaan sih, Din? Masa aku suka sama orang yang udah nikah?”
“ya, siapa tau aja?”
“masih banyak cowok lajang di dunia ini”
Dini tertawa.
“udah ah, aku mau tidur”
“idih, marah tuh...?”
“enggak kok”
Besoknya,
Natalie kembali datang ke Stark Enterprise, ia masuk menemui sekretaris Robert.
“sebentar nona, di dalam sedang ada tamu”
“ok” Natalie duduk di sofa.
Tak lama kemudian,
Robert keluar dari ruangannya bersama seorang wanita.
“sampai jumpa” perempuan itu tersenyum dan terlihat begitu dekat dengan Robert.
“sampai jumpa” Robert tersenyum menatap perempuan itu, lalu ia menoleh dan melihat Natalie.
Perempuan itu menatap Natalie dan pergi.
“Natalie?” Robert menatap Natalie.
Natalie hanya tersenyum.
“masuklah”
Mereka masuk ke ruangan Robert dan sekretaris pun tersenyum.
Di dalam,
“aku kira, kau akan datang siang” Robert duduk sambil mempersilahkan Natalie duduk.
“maaf, aku mengganggumu dan istrimu?”
“istri?” Robert kaget, “dia bukan...”
Ya Tuhan... jangan-jangan perempuan tadi selingkuhannya Robert? Natalie diam dengan pikiran besarnya.
“kau pasti salah faham” Robert tersenyum, “aku seorang duda”
Lagi-lagi Natalie terdiam, dia duda? Berarti dia sendirian? Berarti...? Natalie agak senang mendengar itu, tapi... mungkin perempuan tadi pacarnya. Mana mungkin seorang Robert sendirian? Pasti banyak cewe yang ngantri demi dia, Natalie jadi agak kesal.
“hey, kamu kok jadi keringetan?” Robert kaget, “padahal AC-nya nyala lho”
“ah, itu... itu biasa. Aku abis sarapan, jadi suka keringetan. Tau kan sistem pembakaran?” Natalie berusaha tersenyum.
“ah?” Robert merasa aneh, “ok” ia tersenyum, “kau sendiri, bagaimana? Apa kau punya pacar?” Robert meminum segelas air yang ada di mejanya.
“aku...” Natalie bingung untuk bicara, tapi dia masih kesal melihat perempuan tadi dekat dengan Robert. Dan Natalie pun berusaha untuk menutupi rasa itu, “aku sudah pacaran, dan sekarang aku sedang menjalin hubungan dengan ayah sekaligus anaknya”
Air memuncrat dari mulut Robert, “maaf, apa aku tidak salah dengar?”
Ya Tuhan... apa yang baru saja aku katakan? Se-playgirl-playgirlnya orang, apa ada yang macarin ayah dan anak sekaligus? Natalie diam dengan bingung.
“kau hebat sekali ya?” Robert mengambil tisu dan mengelap bibirnya, “lihat, air yang ku minum sampai muncrat. Aku baru dengan jika ada orang yang bisa nge-date sama orang tua sekaligus anaknya, itu benar-benar...”
Natalie menatap Robert, “?”
“gila, ya Tuhan...” Robert masih tidak percaya, “yang aku tau, biasanya seseorang memacari adik dan kakak, atau misalnya pacarnya kembar atau...” ia menatap Natalie, “sudahlah, tapi menurutku harusnya orang tua itu bisa mendanai kuliahmu. Maaf”
“kalau gitu, batalin aja beasiswanya” Natalie berdiri.
“hey” Robert berdiri dan memegang tangan Natalie, “kok, jadi marah?”
“kamu sendiri, apa-apaan? Cewe itu gak punya hubungan sama kamu, tapi kalian hampir berciuman. Apa semua cowok di dunia ini...”
“hey, kau sendiri memacari ayah dan anak, kan?”
“itu cuma ngarang” Natalie kesal mengakuinya.
Robert tersenyum, “sejak awal, aku tau jika itu tidak benar”
“lalu?” Natalie menatap Robert.
“perempuan tadi mantanku saat SMA”
“apa hubungannya denganku?”
“tadi kau marah karena itu, kan?”
Natalie diam dengan wajah yang masih kesal.
“aku tidak jadi memberikan beasiswa hari ini, karena ada syarat yang harus kau penuhi”
Natalie masih diam dan tidak mau dengar.
“kau harus makan malam bersamaku, hari ini”
Natalie kaget mendengar syaratnya, ia menatap Robert.
“aku tidak perlu ditatap dengan wajah super kaget itu, aku hanya perlu jawaban. Iya atau tidak?”
“iya...” Natalie tidak bisa berkata-kata lagi.
***
Dini sedang mendandani Natalie di kostan.
“kau harus terlihat cantik di depannya” Dini memakaikan bedak di wajah Natalie.
“lho, aku kan emang cantik?”
“emh... percaya dirimu bagus. Itu tandanya, kamu udah siap makan malam”
“ayolah Din, aku benar-benar tegang”
“ya, aku bisa membayangkan bagaimana expresimu saat berkeringat. Padahal AC begitu dingin”
“mungkin dia bisa menebak, yang terbakar itu bukan perut karena abis makan”
“tapi hati yang cemburu, karena sang pangeran hampir dicium orang lain di depan mata”
Natalie semakin bingung, “tapi kan dia duda satu anak”
“tau dari mana? Gimana kalau dia anaknya banyak?”
“Din, jangan bikin aku makin down dong”
“siapa yang bikin down? Aku kan dandanin kamu biar tambah cantik, ini namanya dukungan”
“iya, tapi...” Natalie ragu, “ini terasa begitu cepat. Tidak ada pendekatan, tidak saling kenal. Tiba-tiba dia mengajakku untuk... ah... aku...”
“apa?” Dini menatap Natalie, “dengarkan aku, kamu harus tenang. Hadapi saja semuanya, siapa tau setelah ini, kau akan semakin kenal dengannya. Dan kau bisa menilai, apakah dia orang baik atau sebaliknya”
“kau benar”
“berusahalah” Dini tersenyum melihat Natalie yang sudah ada kemajuan soal cinta.
Knock... knock...
“sepertinya, itu Robert” Natalie mulai panik.
“ayo cepet sana”
“tapi...”
“udah, cepet”
Mereka keluar dari kamar.
Natalie membuka pintu dan melihat Robert yang datang dengan pakaian rapi.
“selamat malam” Robert tersenyum.
“malam” Natalie hanya diam melihat Robert.
Robert tersenyum pada Dini, “hey, aku Robert” ia mengajak Dini untuk berjabat tangan.
“aku sudah tau” Dini senang bisa berjabat tangan dengan Robert, “namaku Dini, by the way” ia mengeluarkan Hp, “bolehkah aku minta foto?”
Robert tersenyum, “tentu”
Dini pun foto berdua dengan Robert, “medsosku pasti heboh”
“tentu, aku akan nge-love fotonya” Robert menatap Natalie, “ayo?”
Natalie mengangguk dan merangkul tangan Robert, Dini hanya tersenyum melihat mereka pergi.
Di sebuah club,
Robert mengajak Natalie ke lantai dansa.
“kau tau? Aku tidak bisa berdansa” Natalie menatap Robert.
“tak masalah, lagunya up-beat. Kita menari sesukanya”
“begitukah?”
“yap, tak masalah. Lihat orang di sekitarmu, mereka begitu lincah” Robert tersenyum.
“Robert, aku tidak pernah pulang terlalu malam”
Robert melihat jam tangannya yang menunjukan pukul 10.00 p.m., “ayolah, ini belum larut” ia menatap Natalie yang agak khawatir, “ok, aku akan mengantarmu sekarang”
Mereka pun keluar.
Di mobil,
Natalie tersenyum melihat Robert yang sedang menyetir, ia merasa nyaman dengan cara mengemudi Robert yang tenang dan tak menyadari seberapa cepat Robert mengendarainya.
Robert menghentikan mobilnya, “kenapa kau melihatku terus?”
“ah... aku...” Natalie kaget.
Robert menatap Natalie, “Natalie...”
“Robert, aku...”
“hey” Robert mengelus Natalie, “kau sudah sampai”
“aku... sudah sampai?” Natalie melihat ke sekitarnya, “ya Tuhan.. cepat sekali?”
Robert tersenyum.
“terima kasih banyak, eh... Robert”
“yap, sampai jumpa besok”
“besok? Ya.. ya tentu saja, iya” Natalie tersenyum lagi.
Robert membuka pintu mobil di samping Natalie dari dalam, Natalie hanya diam melihat wajah Robert yang begitu dekat dan menatapnya dengan tajam.
Pintu pun terbuka.
“silahkan...”
“terima kasih” Natalie langsung pergi karena perasaannya yang semakin tidak karuan.
Mobil Robert pun pergi, Natalie masih melihat ke jalan meski mobil itu sudah tak terlihat.
“cie... yang udah nge-date” Dini keluar dan mendekati Natalie.
“Dini, apaan sih?”
“gimana rasanya naik mobil mewah?”
“biasa aja, justru yang enak...”
“semobil sama Robert kan? Jadi gak masalah kalau tiba-tiba kalian naik kendaraan umum dan berdesakan”
“ya gak gitu juga sih”
Mereka pun masuk ke dalam kostan.
“ceritain dong” Dini penasaran.
“gak mau ah, malu”
“ih... kamu pelit amat sih. Aku kan tim sukses”
“aku gerogi melulu di depan dia. Kayanya dia tau deh”
“gak apa-apa dong, kan biar dia yakin”
“tapi kan aku jadi salah tingkah”
Mereka masuk ke kamar.
“Robert ngajak aku nari”
“nari? Aku kira, kalian makan doang”
“aku juga gak tau bakal gitu. Untung gak dansa, aku kan gak bisa”
“ya, tinggal minta ajarin kan? Tapi dia gak macem-macem kan sama kamu?”
“enggak sih, dia masih sopan. Cuma... tatapan dia bikin aku klepek-klepek”
“cie... dia nyium kamu?”
“enggak”
“cium tangan?”
“enggak” Natalie menatap Dini, “udah aku bilang, kan? Dia gak ngapa-ngapain. Kita cuma makan dan nari”
“ok” Dini menatap Natalie, “kalau masalah gak nyium karena sopan santun, aku ngerti sih. Tapi kalau gak ngelakuin apapun yang nunjukin keromantisan dan kepedulian dia, kanyanya...”
“apa Din?”
“kayanya itu cuma makan biasa, gak ada spesialnya. Pasti dia juga ngelakuin hal yang sama ke cewe yang pernah kamu ceritain itu”
Natalie diam.
“apa lagi, cewe itu berani kan? Bahkan dia hampir nyium Robert di kantornya”
“maksud kamu, kalau aku gak bertindak, aku kalah?”
“sulit juga, kita emang harus jaga-jaga sih. Kamu juga baru kenal sama Robert, tapi cewe itu... dia pasti akan ngelakuin apapun”
“aku harus ngapain, dong?”
“minta kepastian lah, apa lagi?”
“aku...”
“kamu gak boleh diem aja, siapa tau Robert cuma manfaatin kamu? Nanti kalau ujung-ujungan dia milih cewe itu, gimana?”
“kamu bener sih...” Natalie diam dan merenung.
Siang itu,
Natalie kembali datang ke Stark Enterprise. Tapi saat akan masuk ke ruang CEO, ia terdiam. Natalie melihat perempuan itu keluar dari ruangan Robert.
Natalie menatap sekretaris Robert, “apa dia sudah lama?”
“ya, nona Jennifer membawa makan siang untuk tuan”
Jadi nama dia Jennifer? Natalie kesal, tunggu! Apa katanya? Makan siang? Menyebalkan... Dini benar, cewe itu emang bahaya.
“nona, nona?”
“ah, iya?” Natalie tersadar dan menatap sekretaris.
“tuan memanggil anda dari tadi”
“oh, iya” Natalie melihat Robert yang tersenyum dan berdiri di dekat pintu.
Natalie pun masuk ke ruangan Robert.
“aku senang, akhirnya kau datang” Robert duduk dan mempersilahkan Natalie untuk duduk, “aku kira...”
Natalie tidak mau duduk, “aku gak akan datang dan kau bisa bebas dengan Jennifer?”
“hey, ada apa?”
“apa yang kalian lakukan? Kenapa dia sering kemari?”
“hey, Natalie? Tenangkan dirimu” Robert berdiri dan mendekati Natalie.
“mana mungkin aku bisa tenang, setiap melihatnya disini. Setiap aku melihat dia, dia seperti...”
“apa?” Robert menatap Natalie.
“di..dia seperti punya hubungan spesial denganmu”
“ya ampun, aku kan sudah bilang? Dia mantanku”
“tapi kalian selalu...”
“?”
“terlihat mesra, dia begitu berani memelukmu, begitu dekat denganmu”
“kami hanya teman, aku selalu bersikap baik dengan semua mantanku. Tidak ada satupun mantan yang bermusuhan  denganku”
“oh, bagus. Dengan begitu, kau bisa mencium semuanya” Natalie kesal.
“mencium?”
“sudahlah Robert. Setiap melihat Jennifer, aku tau jika dia selalu ingin menciummu”
“tapi itu tidak pernah terjadi, kan?” Robert tersenyum, “kau cemburu?”
“aku? Tidak”
“jangan bohong” Robert memaksa Natalie duduk dan Robert pun duduk disampingnya, ia memutar kursi dan menatap Natalie.
“aku...”
“Natalie... aku bukan orang yang mudah melakukan itu, bagiku itu sangat...” Robert melihat ke arah lain dan kembali menatap Natalie, “percayalah, aku tidak akan mencium siapapun”
“siapapun?”
“yap”
Itu tandanya... termasuk aku, Natalie menatap Robert.
“percayalah”
“ok, aku permisi” Natalie berdiri.
“hey” Robert memegang kedua pundak Natalie, “jangan cemberut begitu, aku minta maaf”
“kalau kau merasa tidak bersalah, kau tidak usah minta maaf” Natalie pergi.
Robert diam.
Di kostan,
Dini sedang mengepel dengan bahagia, malam ini pacarnya akan mengajaknya kencan untuk yang kesekian kalinya.
Tapi Natalie tiba-tiba datang dan menendang ember berisi air pel.
“ya Tuhan... Natalie, kau kenapa?”
“tidak apa-apa” Natalie naik ke ranjangnya dan menangis sambil memeluk guling.
“hey, ada apa?” Dini melupakan pelnya dan naik ke ranjang.
Natalie tidak mau bicara dan menutup wajahnya dengan guling itu.
“hey, kau kesal pada Robert ya?”
“aku tidak tau, aku rasa... kisahku tidak sebahagia kisahmu”
“apa maksudmu? Aku juga sering kok berantem sama pacarku”
“tapi kan dia ngasih kejelasan, sejak kuliah kalian udah pacaran”
“ya, tapi kan tetep ada prosesnya juga”
“aku rasa, yang kamu katakan benar. Robert cuma main-main”
“emh... mulai deh, galau kacau balau”
Hp Dini berbunyi.
“hallo?” Dini mengangkat telponnya.
“sayang, jadi kan?”
“aduh, gimana ya?” Dini khawatir pada Natalie.
“yah, kok jadi gini? Tadi kan udah ok? Aku bentar lagi kesana ya?”
“tapi...” Dini kesal karena telponnya sudah di tutup, “aduh, maksa banget sih?”
“ada apa?” Natalie menatap Dini.
“Huan ngajak aku pergi”
“ya udah, pergi aja. Kok gak jadi?”
“aku gak mungkin ninggalin kamu”
“ya gak apa-apalah, aku berani kok sendiri”
“bukan soal berani enggaknya, kamu kan lagi sedih”
“udahlah, gak usah khawatir. Kasihan Huan kalau kalian gak jadi pergi, dia kan lagi sibuk-sibuknya di kampus”
“iya deh, tapi kamu beneran gak apa-apa?”
“iya, Din. Tenang aja”
“makasih ya”
“makasih juga kamu udah peduli”
Mereka berpelukan.
Huan pun datang dan menjemput Dini.
“hati-hati ya” Natalie melanjutkan mengepel lantai.
“ok” Huan tersenyum sambil merangkul Dini.
Knock knock...
Natalie menatap pintu, “mereka kan baru aja pergi, masa udah ngetuk pintu lagi?” Natalie membuka pintunya.
“sorry, Hp aku ketinggalan” Dini tersenyum.
“ok” Natalie mengambilnya dan meberikan Hp itu pada Dini.
“bye”
“bye” Natalie tersenyum dan menutup pintunya.
Knock knock...
“aduh, pasti ada yang ketinggalan lagi” Natalie membuka pintu.
Dini tersenyum, “powerbank”
“ok ok” Natalie mengambilnya, “ini”
“makasih”
“awas, entar ada yang ketinggalan lagi”
“hahah” Dini tertawa dan menutup pintunya.
Knock knock...
“aduh, apa lagi coba?” Natalie membuka pintu dan terdiam.
“hey” Robert tersenyum.
“Robert?”
“kau sedang mengepel? Ini sudah malam”
“tadi ada masalah kecil, jadi aku mengepel”
“oh ya?” Robert mendekati Natalie.
“ya, temanku sedang mengepel dan aku tak sengaja menumpahkan air pelnya”
“begitukah?” Robert menatap Natalie.
“ya, jadi sekarang aku harus mengepel karena temanku sedang kencan”
“kau sendirian?”
“yap, ada apa kau kemari?”
“kenapa kau bertanya seperti itu? Kau kan tidak marah saat pacar temanmu datang?”
“iya, tapi...”
“masih marah padaku?”
“tidak, aku tidak marah. Aku hanya...” Natalie tau jika Robert akan menciumnya, ia mulai tegang karena Robert semakin dekat.
“kau baik-baik saja?”
“ya...”
“bagus” Robert menatap bibir Natalie dan semakin dekat.
Ya Tuhan... kuatkan aku, Natalie menutup matanya.
Dan Robert pun mencium kening Natalie.
Natalie membuka matanya dan terdiam, dia mencium keningku? Aku kira... ia menatap Robert.
Robert tersenyum, “kau lupa beasiswamu, kembalilah besok ke SE”
“besok? O...ok”
Robert pun pergi.
“sampai jumpa” Natalie terus menatap Robert.
Malamnya,
Dini kembali ke kostan dengan Huan.
“ok sayang, sampai jumpa” Huan tersenyum.
“sampai jumpa” Dini mencium pipi Huan.
“bye Natalie” Huan menatap Natalie dan pergi.
“bye” Natalie tersenyum dan menatap Dini.
“kenapa kau menatapku seperti itu?” Dini yang menutup pintu, menatap Natalie.
“aku seneng aja, pasti kalian abis happy-happy”
“ah, kamu... nih oleh-oleh”
“asyik... Dini baik banget sih?” Natalie membuka makanan yang Dini berikan.
“dasar”
Mereka pun duduk dan mulai bercerita.
“jadi, tadi Robert kesini?”
Natalie mengangguk sambil makan.
“cerita dong, makan melulu”
“kan kamu ngasih oleh-oleh ini buat aku” Natalie terus makan.
“iya deh” Dini menatap Natalie yang makan seperti kelaparan.
“aku kira, yang ngetuk pintu ketiga kalinya itu kamu, soalnya aku liat kabel USB kamu ketinggalan. Eh, tau nya...”
“terus dia ngapain aja?”
“dia nyium aku”
“nyium?” Dini kaget.
“iya, tapi di kening”
“emang kenapa kalau di kening? Kamu pengen di kiss ya?”
“ih... apaan sih?”
“alah, bo’ong tuh. Pasti kamu udah mikir pengen dicium di bibir, tau-tau dia nyium jidat. Ahaha” Dini tertawa.
“Dini?” Natalie menatap Dini.
“iya deh, sorry. Terus, dia ngapain lagi?”
“dia ngasih tau kalau beasiswaku ketinggalan”
“aku jadi heran? Kamu kan butuh banget, tapi kok gak diambil-ambil?”
“aku lupa”
“kebanyakan cemburu sih, marah terus. Jadi lupa deh sama beasiswanya”
Besoknya,
Cuaca siang begitu panas, terik matahari membuat Natalie malas keluar dari kostan. Tapi saat masuk SE, semua berubah.
“emh... adem banget sih disini? Pantes aja pegawainya pada betah” Natalie merasa sejuk.
“nona?” resepsionis tersenyum.
“oh, maaf. Aku mau...”
“bertemu tuan? Silahkah...”
Natalie tersenyum dan masuk lift.
Di ruangan Robert,
Robert sedang memeriksa beberapa berkas, ia melihat jam yang ada di dinding dan kembali memeriksa berkasnya.
“selamat siang” Natalie masuk.
“hey” Robert tersenyum dan berdiri dari tempat duduknya.
“kau sibuk?” Natalie melihat beberapa berkas yang menumpuk.
“tidak juga” Robert menatap Natalie dan memegang pundaknya, “duduklah”
Natalie duduk dan kaget, ia menatap Robert.
“ada apa? Kau mengkhawatirkan sesuatu?”
“tidak, aku hanya...”
“kau meragukan aku, kan?”
“aku...” Natalie bingung.
“ayolah”
“k...karena kau selalu berhubungan baik dengan mantan pacarmu”
“what else?”
“mantan pacarmu banyak”
“and then...?”
“kau seorang duda”
“hanya itu?”
Natalie mengangguk.
“kau yakin?”
Natalie mangangguk lagi.
Robert tersenyum dan mencium bibir Natalie.
Natalie begitu kaget.
“jangan ragukan aku lagi”
Natalie tidak dapat berkata-kata.
Robert membangunkan Natalie yang masih kaku karena efek berciuman, “ayo belajar dansa”
Natalie menatap Robert.
“injak sepatuku”
“sepatumu mahal”
“ayolah, ini hanya sepatu”
Natalie tersenyum dan mulai menginjak sepatu Robert.
“kau harus lebih dekat lagi” Robert memeluk Natalie dan mulai berdansa.
Natalie tidak tau harus berbuat apa, ia hanya diam mengikuti gerakan Robert. Belajar dansa tanpa iringan musik, berduaan di sebuah ruangan. Mungkin ini begitu aneh baginya yang belum berpengalaman.
“kenapa kau diam? Kau merasa tidak nyaman?” Robert menatap Natalie.
“a...aku... tidak tau”
Robert tersenyum dan melepaskan Natalie, “jadi, bagaimana hubungan kita sekarang?”
“kita seperti...” Natalie menunduk dan kembali menatap Robert, “berpacaran?”
“lalu?” Robert menatap Natalie.
“kita akan tetap bertemu meskipun kau sudah memberikan beasiswa itu”
“yap” Robert tersenyum.
“dan akan selalu bertemu untuk seterusnya?”
“yap”
Natalie tersenyum.
“ah, aku lega melihat senyuman itu”
“kenapa?”
“aku takut jika kau akan lari dariku”
“mana mungkin?”
“bagimu, aku seorang playboy”
“aku akan memberimu kesempatan untuk membuktikan bahwa semua itu tidak benar”
“deal” Robert tersenyum.
Natalie pun pulang dengan bahagia.
Di kostan,
“Natalie” Dini menatap Natalie, “tadi aku abis bimbingan di kampus, terus dosen pembimbing kamu nanyain”
“dia mau nyuruh aku bimbingan?”
“bukan, dia nanyain. Kamu udah bayar uang bimbingan atau belum?”
“ah...” Natalie duduk.
“kok lemes? Jangan-jangan kamu lupa lagi?” Dini ikut cape, “kamu setiap hari ke Stark Enterprise, tapi lupa bawa yang penting”
“aku gak lupa kok” Natalie menunjukan beasiswanya yang ditandatangani oleh Robert, “dan aku juga mau bilang, kalau aku udah resmi pacaran sama dia”
“wah, beneran?” Dini memeluk Natalie, “aku ikut seneng”
“makasih, Din” Natalie begitu bahagia dan memeluk Dini.
***
Di kampus,
Natalie sedang menunggu saat bimbingan, ia duduk di teras luar ruang dosen. Sang dosen belum mengijinkannya masuk, karena sedang istirahat.
“ya Tuhan... aku sudah menunggu dari jam 8 pagi...” Natalie agak mengeluh.
“kamu harus kuat” Robert tersenyum.
“Robert?” Natalie kaget melihat Robert yang tiba-tiba ada di hadapannya.
“ternyata sehari saja kau tak datang ke SE, aku begitu rindu” Robert duduk disamping Natalie.
Natalie menatap Robert sambil tersenyum, “memangnya kau siapa? Kenapa setiap hari aku harus menemuimu?” ia menggoda Robert.
“oh... apa aku salah orang? Aku kira, kau pacarku. Kalau tidak salah, namanya Natalie” Robert pura-pura kaget.
Mereka saling tatap dan akan berciuman.
Bruk...
Dini memukul kepala Natalie dengan kertas bimbingannya yang setebal 3 bab.
“aduh” Natalie memegang kepalanya.
Robert kaget dan menatap Dini.
“ini kampus, bukan tempat pacaran. Kalau kalian ciuman disini, bisa tamat” Dini heran dengan sepasang kekasih yang ada di hadapannya itu.
“kau benar” Natalie diam.
“maafkan aku” Robert tersenyum, “aku tunggu kau di SE besok, deal?”
“deal” Natalie tersenyum.
Robert menatap Dini, “jaga dia”
“hati-hati Robert” Dini tersenyum melihat Robert pergi, “dia benar-benar gila, berani datang ke kampus cuma buat nemuin kamu” Dini duduk disamping Natalie.
“kamu ngiri?”
“enggaklah, cuma...”
“apa?”
“orang-orang di kampus pasti pada heboh kalau tau kalian pacaran”
“emh... aku gak mau semua orang tau, entar kalau kami putus...”
“kok ngomongnya gitu? Aku rasa, kalian begitu serasi. Mungkin kalian salah satu pasangan yang diimpikan setiap orang”
“mungkin” Natalie diam.
“kenapa disini terus? Gak bimbingan? Kamu udah bayar, kan?”
“aku udah bayar, tapi dosennya bilang, entar sore aja”
“what? Dari pagi datang, disuruh sore?”
Natalie mengangguk.
“syukurlah dosenku tidak seperti itu, lihat bab 4-ku udah di acc. Saatnya melanjutkan”
“enak banget ya, jadi kamu? Pacar baik, selalu ada. Dapet dosen yang soleh dan solehah pula”
“mungkin amal kamu jelek kali” Dini tertawa.
Natalie cemberut.
“harusnya kamu bersyukur punya Robert, dia kan pacar sekaligus pemberi beasiswa”
Natalie diam.
“kenapa?”
“aku jadi kepikiran, kira-kira dia lebih milih kerjaan atau aku ya? Dia kan cowok sibuk, kamu tau kan Stark Enterprise? Aku takut kalau suatu saat kami menikah, dia akan terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan melupakan aku”
“ah kamu, mikirnya kejauhan. Pacarannya juga baru”
“iya sih” Natalie tersenyum.
Besoknya,
Robert duduk di ruangannya dengan sedikit resah, “mana dia? Ini kan udah siang?” Robert menatap jam tangannya.
“selamat siang” Natalie masuk.
“hey” Robert tersenyum dan berdiri.
Natalie mendekat, “apa kau sudah lama menunggu?”
“yap” Robert mengelus rambut Natalie.
Natalie tersenyum senang dengan belaian Robert yang lembut.
“kau sudah kenal denganku?”
“ya, kau tidak seasing di kampus” Natalie tersenyum melanjutkan candaan mereka yang kemarin.
Mereka semakin dekat.
“kau akan mengajariku dansa lagi?”
“yap, tapi sekarang dengan musik”
Lagu pun mulai terdengar, Robert menatap Natalie dan mengangguk.
“emh...” Natalie tersenyum dan memeluk Robert.
Robert pun tersenyum dan memeluk Natalie. Mereka mulai berdansa.
“sepertinya dansaku mulai baik, iya kan?”
“diam dan rasakan” Robert tetap memeluk Natalie.
“ok” Natalie tersenyum dan begitu senang.
“selamat siang” Jennifer masuk dan melihat mereka.
“Jennifer?” Robert kaget dan melepas Natalie.
Natalie menatap Jennifer.
“hey?” Jennifer tersenyum bingung, “apa kalian...?”
“yap” Robert diam.
“hey, aku Natalie. Senang bertemu denganmu”
“ya, aku Jennifer. Aku...”
“mantan Robert, iya kan?” Natalie menatap Robert dan tersenyum pada Jennifer.
“ya” Robert diam lagi dan begitu bingung.
“apa aku mengganggu kalian?” Jennifer menatap mereka.
“emh... sebenarnya...” Robert takut salah bicara.
“tidak, tentu saja tidak. Sebentar lagi aku akan pergi, aku hanya sedang... sedang belajar dansa. Kami akan berdansa nanti malam, iya kan?” Natalie menatap Robert.
“yap” Robert tegang.
“oh, kedengarnya bagus” Jennifer tersenyum, “apa aku boleh ikut?”
Robert semakin panik.
“oh... e.. tentu, iya kan sayang?” Natalie menatap Robert semakin tajam.
“yap” Robert diam.
Natalie melihat expresi Robert yang seperti itu, “ok, lebih baik aku pergi sekarang” ia menahan kesal.
“hey” Robert menarik Natalie dan menciumnya, “kau lupa sesuatu”
“aku harus pergi, aku ada bimbingan” Natalie mencium Robert.
“ok” Robert diam.
Natalie tersenyum pada Jennifer, “sampai jumpa”
“hati-hati, Nat” Jennifer tersenyum.
Natalie pun pergi.
Jennifer menatap Robert, “aku kaget sekali melihat kalian...”
“berciuman?” Robert menatap Jennifer.
“maksudku, aku tidak menyangka akhirnya kau kembali punya pasangan”
“Jenny, aku...”
“aku tau, dia pasti memiliki kelebihan yang tidak dimiliki wanita lain. Iya, kan?” Jennifer tersenyum, “aku rasa, dia memberi banyak kebahagiaan untukmu”
Robert tersenyum.
“aku juga berharap, dia bisa memberikan kebahagiaan untuk anakmu”
Robert diam.
“bagaimana kabarnya?”
“Harley masih tinggal bersama kakek dan neneknya. Aku rasa, dia sangat bahagia disana. Karena sebagai orang tua, aku bukan orang tua yang baik. Selalu sibuk dan...”
“hey, sudahlah” Jennifer mengelus pipi Robert.
“Jenny” Robert menatap Jennifer.
“kau tau? Saat istrimu meninggal dan melihatmu terpuruk, aku ikut sedih. Aku selalu berusaha berada disisimu agar kecemasanku hilang, dan sampai saat ini pun begitu”
Robert menunduk.
“apa kau tau, kenapa aku rela melakukan semua itu? Kenapa aku begitu peduli padamu?”
“Jenny...”
“Robert, aku ingin kita bersama lagi. Aku mencintaimu, aku tau kau juga begitu. Sebenarnya, aku begitu menyesal saat kita putus. Sayangnya, saat aku ingin kembali, kau sudah menikah. Dan sekarang...”
“aku sedang menjalin hubungan dengan Natalie, kita tidak bisa bersama, Jenny. Maafkan aku”
“aku mengerti” Jennifer tersenyum, “apa hubunganmu akan serius kali ini? Kau akan menikahinya?”
“aku...” Robert diam.
“kau ragu?”
“aku berusaha melakukan yang terbaik” Robert menatap Jennifer.
“Robert, aku tau segalanya butuh proses. Apa lagi saat istrimu meninggal dan kau terlihat sudah tidak perduli dengan yang namanya cinta, aku selalu disisimu dan berharap hatimu bisa terbuka sedikit demi sedikit untukku. Dan sekarang, kau tiba-tiba berpacaran dengan perempuan itu”
“namanya Natalie”
“ya, perempuan yang kau kenal dalam beberapa hari”
“mungkin hampir 2 minggu”
“ini mustahil”
“tidak ada yang mustahil bagiku”
“begitupun aku” Jennifer mendekat, “aku tidak percaya jika orang yang sudah menutup hatinya bisa luluh semudah itu oleh perempuan yang baru ia kenal”
“Jenny...” Robert menatap Jennifer.
Mereka berciuman.
Robert melepaskan ciumannya, “maafkan aku, aku tidak bisa” ia pergi.
“Robert?” Jennifer agak kesal ditinggalkan sendirian.
Di luar,
Robert melihat Natalie yang masih berdiri di dekat sekretarisnya, “Natalie..?”
Natalie pun melihat bekas lipstik di bibir Robert, “apa yang kalian lakukan?”
“ka..kami...” Robert sadar, ia belum sempat membersihkan bibirnya.
“kau berciuman dengannya?”
“Natalie aku bisa jelaskan”
“gak perlu” mata Natalie memerah, “aku akan pergi”
“Natalie...” Robert mendekat.
“aku ada bimbingan!” Natalie menatap Robert dengan mata yang berkaca-kaca.
Robert diam dan Natalie meninggalkannya, sang sekretaris bingung harus bagaimana. Robert menoleh dan menatap Jennifer yang keluar dari ruangannya, ia pun pergi.
Malamnya,
Robert menunggu Natalie di restoran, ia belum memesan apapun. Robert tetap sabar meskipun sudah 2 jam menunggunya.
Robert mencoba menghubungi Natalie, namun Hp-nya tidak aktif.
“Robert?”
Robert menoleh dan melihat Jennifer, ia berdiri dan menatapnya.
“Natalie tidak datang?”
“oh, Natalie tidak datang?” Robert pura-pura kaget dan masih menatap Jennifer, “kau pikir ini ulah siapa?” ia agak kesal.
“dia marah padamu?”
“maybe” Robert memalingkan wajahnya.
“Seandainya kau tidak keluar dari ruanganmu, dia pasti tidak akan tau kejadian itu”
“yap, betapa bodohnya aku” Robert kembali menatap Jennifer, “harusnya aku tidak pernah membiarkanmu masuk ke dalam hidupku setelah kita putus”
“Robert, aku mencintaimu”
“aku sudah mendengarnya”
“kau tidak mengerti, aku selalu mencintaimu sejak dulu. Perempuan itu orang baru, aku lebih memahamimu melebihi siapapun”
“tapi aku mencintainya. Semenjak Selly meninggal, baru sekarang aku merasakan cinta lagi”
Jennifer diam, “benarkah?” air matanya menetes, “kau benar-benar mencintainya?”
“yap, bagiku kau hanya teman. Tak lebih dari itu, Jenny” Robert menahan emosinya, “jadi mulai sekarang, lebih baik kau pergi”
“apa maksudmu?” Jennifer kaget mendengar itu.
“jangan ganggu aku lagi, jangan pernah datang ke dalam hidupku lagi”
“baik, aku pergi” Jennifer begitu sakit hati, “aku jamin, dia tidak akan pernah mau berhubungan dengan pria complicated sepertimu” Jennifer pergi.
Robert diam, keadaan disana begitu hening karena melihat pertengkaran mereka.
Di kostan,
Natalie menangis, “firasatku selama ini benar, kan?”
“aku rasa, lebih baik kau dengarkan penjelasannya” Dini khawatir.
“bekas lipstik itu sudah menjelaskan semuanya”
“bagaimana jika mereka tidak berciuman? Bagaimana jika Jennifer memaksa Robert?”
“jika Robert tidak mau, kenapa dia tidak menolaknya?”
“ya... kau harus tanyakan padanya” Dini menatap Natalie, “bukankah malam ini kalian akan pergi? Apa Robert belum menelpon?”
“aku tidak mengaktifkan Hp-ku”
“kenapa?”
“kau tau alasannya, Din. Gak usah banyak tanya”
“ok” Dini diam, ia tau jika Natalie benar-benar marah.
Pagi itu,
Dini yang sudah bersiap, menatap Natalie. Ia kaget melihat Natalie yang masih tidur, “Nat, kamu gak bimbingan?”
“aku udah ijin sama dosen, aku sakit”
“pura-pura sakit?” Dini tersenyum, “kaya anak SD”
Natalie menatap Dini.
“ok ok” Dini mengambil Hp-nya, “aku berangkat ya?”
“ya udah, sana”
“kamu baik-baik di rumah”
“iya, kamu juga hati-hati”
Dini pun pergi.
Natalie kembali diam, ia ingin menangis tapi berusaha tegar. Natalie berusaha untuk tidak terus bersedih dan terbawa dengan kejadian kemarin, aku harus kuat.
Knock knock...
Ah, Dini kebiasaan deh. Pasti ada yang ketinggalan, Natalie membuka pintu.
“hey” Robert tersenyum.
“mau apa kamu kesini?”
“ya ketemu sama kamu dong, mau apa lagi?”
“maaf, aku lagi pengen sendiri” Natalie memegang pintu dan mau menutupnya.
“Natalie...” Robert mendekat.
Bruk...
Pintu di tutup.
“awh..”
Natalie kaget dan langsung membuka pintunya, “Robert?” ia melihat Robert yang sedang memegangi hidungnya.
“aduh...”
“maafkan aku, salah siapa idung kamu mancung?” Natalie kembali kesal.
“daripada hidung kamu, pesek” Robert tersenyum, “udah ah, hidung itu ciptaan Tuhan. Kamu sengaja ya?”
“aku? Ya enggak lah”
“idungku berdarah gak?” Robert menunjukan hidungnya.
Natalie agak cemas, “enggak”
Robert masuk, “kamu khawatir ya?”
“siapa bilang?” Natalie memalingkan wajahnya, “jadi kamu pura-pura kejedot pintu?”
“pura-pura? Liat dong, idungku merah”
“Robert, dengar” Natalie menatap Robert, “aku tau aku bodoh, aku tidak berpengalaman sepertimu dalam masalah cinta. Tapi aku tidak sebodoh pikiranmu, yang kamu kira, aku mudah untuk ditipu” ia begitu kesal.
“aku tidak pernah menganggapmu bodoh dan aku tidak pernah bermaksud menipu” Robert menatap Natalie, “aku memang berciuman dengan Jennifer, aku akui itu. Tapi aku tidak pernah ingin melakukannya”
“oh, ya?” Natalie bernada sinis.
“ya” Robert agak bernada tinggi, “semenjak istriku meninggal, aku tidak pernah merasakan cinta seperti aku mencitaimu” ia menatap Natalie, “aku mencintaimu, Natalie. Dan aku tidak bohong dengan perasaan itu”
Natalie menunduk, “aku tidak bisa melihatmu dekat dengan Jennifer. Walau bagaimanapun alasannya, dia adalah mantan pacarmu”
“aku tau, aku tau” Robert mendekat dan memegang pundak Natalie, “percayalah padaku, aku hanya menginginkanmu”
Natalie menatap Robert.
“tinggalah bersamaku”
Natalie kaget mendengar itu.
“aku ingin kita lebih dekat lagi” Robert mengelus Natalie.
“kita tidak perlu tinggal serumah”
“kenapa?”
“Dini bilang, laki-laki yang ngajak move in tidak akan mengajakmu menikah”
“jadi kita akan menikah?” Robert tersenyum.
Natalie diam.
“aku mencintaimu, Nat. Aku tidak bohong”
Saat mereka mau berciuman,
Huan masuk, “oh, maaf” ia kaget melihat mereka.
Natalie melepas Robert, “Huan?”
“Natalie” Huan tersenyum, tapi ia kaget melihat Robert. Huan berteriak, “kau CEO dari Stark Enterprise? Ya Tuhan... aku bertemu dengan Robert di kostan pacarku? Ya Tuhan...” ia sangat girang.
Robert menatap Natalie.
“dia pacarnya Dini” Natalie tersenyum.
“ok” Robert kembali tenang.
“tuan, bolehkah aku foto bersamamu?”
“tentu” Robert tersenyum.
“yes, terima kasih Tuhan... aku bisa bertemu seorang Robert” Huan masih begitu senang, “Nat, tolong fotoin” ia memberikan Hp-nya.
Natalie menatap Huan, “aku kira, kita akan foto bertiga?”
“gak perlu, aku pengen foto sama Robert doang” Huan masih tidak percaya dengan semua ini.
Robert bingung dan mulai berfoto, tapi ia bersyukur karena Natalie tidak marah lagi padanya.
Pagi itu,
Natalie sedang menunggu giliran untuk bimbingan di kampus, ia pun di panggil sang dosen dan masuk ke ruangannya.
“selamat siang, bu”
“siang” Dosen itu menatap Natalie, “mana hasilnya? Udah kamu benerin? Sini, ibu liat”
“iya bu” Natalie memberikan setumpuk kertas.
“emh... apa ini? Gak jelas, bolak-balik lagi kata-katanya. Benerin, ibu gak suka” dosen itu mencurat-coret setiap lembar kertas.
Natalie diam, ya Tuhan... kenapa main coret gitu aja sih? Gak dijelasin pula sebelah mana salahnya, terus harusnya digimanain?
“kenapa diem? Ngerti gak?”
“iya bu, tapi...”
“apa?”
“yang ini maksudnya gimana ya?”
“ya pokoknya kamu ulang lagi bab yang ini, kata-katanya jangan muter-muter”
“o..ok bu” Natalie pasrah, nampaknya sang dosen tidak bisa menjelaskan solusinya.
“ibu dengar, kamu dapet beasiswa dari SE ya?”
“iya bu”
“gimana caranya kamu bisa dapet beasiswa? Apa syarat biar dapet beasiswa itu?”
“saya ketemu sama CEO Stark Enterprise-nya”
“apa?”
Natalie mengangguk.
“kamu kenal sama dia? Atau kamu punya saudara yang kerja disana?”
“saya...”
Dosen itu menatap Natalie.
“CEO-nya pacar saya, bu”
“apa?” dosen itu kaget sekaget-kagetnya.
Natalie tersenyum bingung karena melihat expresi sang dosen.
Siangnya,
Seperti biasa, Natalie pergi ke SE. Ia masuk ke ruang CEO.
“selamat siang”
“Natalie” Robert yang sedang memeriksa berkas, tersenyum.
“kamu sibuk ya?” Natalie mendekati Robert yang duduk, dan mengelus pundaknya.
“aku senang, kau datang” Robert menatap Natalie, “sayangnya pekerjaanku kurang mendukung”
“sudahlah, selesaikan saja”
“terima kasih”
“nanti malam, jadi kan?” Natalie duduk di kursi yang berhadapan dengan Robert.
Robert menyimpan berkasnya dan menatap Natalie, “pekerjaanku banyak, sayang”
Natalie diam dan sedikit kecewa, “ok, aku pulang”
“hey” Robert berdiri dan mendekati Natalie sebelum Natalie bangun dari tempat duduknya.
Natalie menatap Robert.
“kamu gak marah, kan?”
“kenapa harus marah? Aku harus bisa mengerti jika pacarku itu seorang CEO yang sangat sibuk”
“jika kau bicara begitu, aku jadi sedikit khawatir”
“Robert, aku akan berusaha untuk mengerti. Percayalah padaku, aku pasti akan terbiasa. Terbiasa jika nanti kita jarang bertemu, tidak makan malam, tidak...”
“hey... aku tidak mau itu terjadi” Robert menatap Natalie, “aku mencintaimu”
Natalie tersenyum, “aku tau”
Mereka pun berciuman.
“jadi?”
“jadi apa?” Natalie menatap Robert.
“kau baik-baik saja, kan?”
“tentu saja, aku kan sudah bilang” Natalie tersenyum, “yang penting, kamu gak selingkuh”
“kau tenang saja, Jennifer sudah pergi”
“apa maksudmu?”
“setelah kejadian itu, dia memilih untuk pergi”
Natalie menatap Robert.
“aku marah padanya, aku yang menyuruhnya pergi dan memintanya untuk menjauh dari kita”
“kau menyesal?”
Robert menunduk, “aku...” ia kembali menatap Natalie, “aku hanya ingin yang terbaik untuk kita, aku ingin kau tenang. Aku tidak ingin kau berpikir macam-macam, karena aku benar-benar bekerja disini”
Natalie diam.
“ini bukan salahmu, Nat. Ini memang yang seharusnya aku lakukan, karena aku tidak ingin kehilanganmu”
Natalie kambali menatap Robert.
“boleh aku menciummu lagi?”
Natalie tersenyum.
“sebenarnya... aku akan pergi ke luar negeri”
Natalie terdiam.
“malam ini”
“a..apa?” Natalie menatap Robert.
“maafkan aku, sayang. Ini mendadak”
Natalie melepaskan pelukannya, “apa ini alasannya sehingga kau begitu sibuk?”
“sayang, aku harus menjemput Harley”
“anakmu?”
“yap, sebentar lagi dia akan masuk sekolah dasar. Dia ingin sekolah disini, aku sudah janji padanya. Jika dia masuk SD, dia sekolah disini”
“ya, kau benar. Kau harus menjemputnya jika kau sudah janji” Natalie berusaha tersenyum, “tapi, setidaknya kita makan malam dulu sebelum kau pergi?”
“tidak bisa, sayang. Aku sudah memesan tiketnya dan aku tidak ingin terlambat”
Natalie diam.
“maafkan aku”
“tidak masalah, ka..kalau begitu... aku permisi”
“hey, kau marah?” Robert memegang tangan Natalie.
“tidak” Natalie berusaha tegar, “kau harus bekerja keras, sayang. Ingat, waktumu terbatas”
“terima kasih, kau mau mengerti”
“permisi” Natalie langsung keluar sambil menangis.
Robert tau perasaan Natalie, tapi ia hanya diam dan menunduk.
Di luar,
“nona?” sekretaris khawatir pada Natalie.
“dia akan pergi nanti malam, tapi dia sama sekali tidak ingin bertemu denganku sebelum dia pergi”
“nona, tuan memiliki alasan untuk itu”
“maksudmu?”
“tuan masih trauma dengan kepergian istrinya, semenjak itu... tuan tidak pernah mau mengucapkan selamat tinggal. Karena terakhir kali ia melakukan itu, istrinya meninggal”
“jadi itu alasan kenapa dia tidak berani makan denganku sebelum ia pergi?”
“iya, nona”
Natalie diam.
Malamnya,
Natalie yang sedang tidur di kostan, tiba-tiba bangun dan menangis.
Dini menatap Natalie, “kamu kenapa?”
“Robert mau pergi ke luar negeri, dia mau jemput anaknya”
“terus kenapa?”
“aku mimpi, dia gak akan kembali”
“itu kan cuma mimpi?”
“iya, tapi kalau itu benar, bagaimana?”
“ah, kamu aneh”
“aku serius, Din. Rumah orang tua Robert dekat dengan rumah Jennifer”
“kok kamu bisa tau?”
“dia mantan Robert saat SMA. Itu tandanya, Jennifer bertetangga dengan orang tua Robert”
“bisa saja rumah mereka berjauhan”
“tapi kan sekota?”
“udah deh, gak usah pusing. Telpon dia, terus ketemu”
“Robert gak mau”
“ah?” Dini kaget.
“dia tidak mau mengucapkan selamat tinggal sebelum dia pergi, dia masih trauma”
Dini duduk disamping Natalie, “jika dia tidak bisa, kamu kan bisa?”
“kau benar”
***
Robert keluar dari rumahnya sambil memegang koper.
“Robert”
Robert menoleh, “Natalie?” ia juga melihat Dini dan Huan di dalam taxi.
Natalie berlari dan memeluk Robert.
“a... Natalie, aku...”
“aku tau, biar aku yang bicara” Natalie tersenyum, “kamu hati-hati di jalan ya? aku akan selalu menunggumu pulang”
“yep, I’ll be back” Robert tersenyum.
Natalie kembali memeluk Robert.
“maafkan aku, Nat”
“aku mengerti” Natalie menatap Robert.
“baiklah, aku pergi”
Natalie pun hanya diam melihat Robert pergi.
Dini mendekati Natalie, “ayo pulang”
Natalie mengangguk.
Seminggu kemudian,
Dini sudah bersiap untuk pergi ke kampus, tapi ia melihat Natalie masih menelpon.
“jadi kau baik-baik saja?”
“ya, aku baik-baik saja”
“bagaimana skripsimu?”
“sudah masuk bab 4”
“bagaimana dengan Dini?”
“bab 5-nya hampir selesai”
“emh... kau harus bisa menyusulnya”
“mana mungkin? Sejak pertama, dia sudah jauh mendahuluiku”
“yap, untungnya ada orang baik hati yang mau memberikan beasiswa padamu”
“apa kau sedang membicarakan diri sendiri?”
“yap”
“awas ya” Natalie tersenyum, “dasar sombong”
“sombong? Aku dermawan”
Natalie tertawa, tapi ia terdiam melihat Dini.
“sayang, hallo?”
“maaf Robert, aku harus segera pergi”
“oh, ok. Semoga skripsimu cepat selesai”
“terima kasih” Natalie menutup telponnya.
“aku kira, kau tidak akan pernah menutup telpon itu” Dini mendekat.
“maafkan aku, aku terlalu senang”
“aku mengerti, sudah lama Robert meninggalkanmu”
“dia akan segera kembali, iya kan?”
“tentu” Dini tersenyum, “ayo kita pergi”
“let’s go”
Siang itu,
Natalie berjalan, ia merasa lelah karena baru selesai bimbingan. Ia terus memikirkan Robert, kapan Robert akan kembali?
Natalie masuk ke kostan dan melihat sebuah boneka yang duduk di kursinya, “Din? Dini, ini boneka siapa?”
Dini mendekat sambil tersenyum, “itu kiriman dari pacarmu”
Natalie tersenyum dan memeluk boneka itu, “Robert...”
“kau tidak usah cemas, aku yakin jika dia akan segera kembali”
Natalie mengangguk.
To be Continued
___
Thank’s for reading…
Maaf kalau isinya kurang menarik, komentar kalian sangat berarti untuk Sherly! ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar