Selasa, 27 Desember 2016

Something Stupid part 2


Author : Sherly Holmes
Genre : Romance-Drama, Friendship
Cerita ini adalah fiktif belaka dan hanya untuk hiburan semata.
___
Malam itu,
“ah?” Natalie terbangun.
Dini yang tidur di sampingnya, kaget.
“Din...”
“ada apa?”
“aku mimpi buruk”
“ah...” Dini bosan, “pasti selalu begini”
Sejak Robert pergi, Natalie memang sering mimpi buruk.
“aku mimpi nyusul Robert, tapi aku naik bis”
“naik bis? Bukankah dia ke luar negeri?”
“makanya, aku gak pernah nyampe ke rumah orang tuanya”
“ah... mimpi kamu ada-ada aja deh”
“Din...”
“kenapa?”
“kalau dia gak pernah kembali, bagaimana?”
“ngaco” Dini menatap Natalie, “setiap pagi, dia selalu nelpon kan?”
Natalie mengangguk.
“itu tandanya, dia masih milikmu”
Natalie mengangguk lagi.
“udahlah, relax. Liat boneka yang dia kirim, itu tandanya dia peduli sama kamu”
Natalie tersenyum dan kembali tidur.
Pagi itu,
Seperti biasa, Natalie sedang menelpon.
“jadi hari ini kamu gak bimbingan?”
“iya, dosennya ada acara”
“bagus”
“bagus apanya?”
“kamu bisa istirahat di kostan”
“bosen, aku gak bisa kemana-mana”
“kan ada Dini?”
“dia bimbingan. Sebentar lagi juga, Huan jemput dia”
“ya gak apa-apa dong, kan ada boneka yang aku kirim”
“tapi kan aku pengennya kamu, bukan cuma boneka”
“aku juga kangen kok”
“bagaimana kabar Harley?”
“dia sangat senang, dia janji akan jadi anak yang baik jika masuk SD nanti”
Natalie tersenyum, “Robert, boleh aku menanyakan sesuatu?”
“yap?”
“apa Jennifer dekat dengan orang tuamu?”
“yap, bahkan rumah kami bersebelahan”
Natalie diam.
“sayang, jangan berpikir yang tidak-tidak. Saat menyuruhnya pergi, berarti aku tidak ingin berurusan dengannya lagi”
“sebenarnya, aku tidak ingin membuat hubungan kalian rusak, apalagi jika dia dekat dengan orang tuamu”
“ayolah, bisa kita membicarakan hal lain?”
“ya...” Natalie tersenyum, “setiap malam, aku selalu latihan dansa dengan bonekamu”
“oh ya? Aku bersyukur kau suka dengan boneka itu, awalnya aku ragu untuk membeli teddy bear itu”
“apapun yang kau berikan, aku pasti akan suka”
“baiklah, aku ada urusan sebentar. Nanti aku telpon lagi, ok?”
“ok” Natalie menutup telponnya.
Dini yang duduk disamping Natalie, menatapnya. Ia tersenyum, “bagaimana?”
“Robert mengurus Stark Internasional, dia sedikit sibuk”
“berarti ada kemungkinan jika dia akan tinggal disana? Disini kan, SE hanya cabang dari SI?”
“ya... mungkin” Natalie sedih.
“jangan sedih, aku yakin kok” Dini menatap Natalie, “jika dia pindah, dia pasti akan membawamu”
Natalie tersenyum.
Knock knock...
Seseorang mengetuk pintu dan Natalie membukanya.
Natalie kaget melihat Robert tersenyum di hadapannya, ia pun langsung memeluknya. Natalie sangat senang, “akhirnya kau kembali”
Dini yang melihat itu, terdiam.
“Nat... Natalie...?”
Natalie sadar, itu bukan suara Robert. Ia melepas pelukannya dan menatap orang yang ia peluk, “Huan...?” Natalie menoleh dan melihat expresi Dini, “ma..maafkan aku” Natalie langsung berlari.
“Natalie?” Dini kaget.
Di taman kota,
Natalie duduk di bangku taman, ia mulai menangis.
Ya Tuhan... ada apa denganku? Setiap malam aku mimpi buruk, setiap hari aku begitu resah. Dan sekarang, aku mulai berhalusinasi. Tolong aku ya Tuhan... jangan biarkan semua ini merusak pikiranku, Dini pasti marah besar padaku. Karena aku baru saja memeluk pacarnya, padahal aku tidak pernah bermaksud melakukan itu.
Hari mulai larut, dan Natalie masih diam disana.
“Nat...”
Natalie menoleh dan melihat Dini yang mendekat.
“kamu ngapain disini? Aku khawatir banget, kamu kok gak pulang-pulang?”
“aku minta maaf, Din. Aku tadi salah liat, aku merasa aku melihat Robert. Aku memeluknya, dan ternyata itu... Huan”
“udahlah, lupain. Aku ngerti kok” Dini tersenyum, “mending, kita pulang yu?”
Natalie mengangguk dan mereka pun pulang.
Di kostan,
Natalie membuka pintu dan terdiam melihat Robert yang sedang duduk.
“hey” Robert tersenyum.
Ini pasti khayalan lagi, yang aku liat adalah Huan. Natalie hanya diam.
“Nat, kok diem?” Dini kaget, “itu beneran Robert” ia berbisik.
Natalie semakin kaget, ternyata ia tidak berkhayal. Matanya langsung memerah.
Robert tersenyum dan berdiri, ia mendekati Natalie. Robert menarik Natalie dan memeluknya.
Natalie mulai menangis.
Robert mengelusnya, “sayang..”
“a...aku senang, kau sudah kembali...”
“iya sayang, aku kan sudah bilang” Robert melepas pelukannya dan menatap Natalie, “aku pasti kembali untukmu”
Natalie tersenyum dengan air mata yang terus menetes.
Robert menatap Dini dan kembali menatap Natalie, “boleh aku menciummu di depat Dini?”
Natalie tersenyum malu dan Robert menciumnya.
“apa besok bimbingan?”
“yap, jam 9 pagi”
“itu tandanya, kau harus ke kantorku disaat siang”
“siap, bos”
Mereka tersenyum.
Dini bersyukur, Robert telah kembali untuk Natalie.
***
Siang itu,
Natalie masuk ke ruangan Robert, ia terdiam melihat anak laki-laki berseragam SD sedang menggambar di meja Robert.
“selamat siang?” Natalie mendekat.
“siang” anak itu menatap Natalie, “tante Natalie, ya?”
“i..iya” Natalie pun ingat pada anak laki-laki Robert, “apa kau Harley?”
“ya, aku anak pacar tante”
“ah? Eh...” Natalie kaget dan bingung.
“tidak usah bingung seperti itu, aku mengetahui semuanya”
“semua..?” Natalie semakin kaget.
“maukah kau duduk di dekatku?”
“ya, ya... tentu” Natalie mendekat dan melihat gambar buatan Harley, “wah... ini gambar apa? Apa ini gambar bidadari?”
“itu ibu, ibu bisa terbang karena berada di surga”
Natalie terdiam, ia takut membuat Harley sedih. Tapi ia juga melihat sepasang pria dan wanita yang sedang memegang tangan seorang anak laki-laki, “i..ini...?”
“itu ayah, aku dan tante”
“ah?”
“tante kenapa? Gambarku jelek?”
“enggak, sayang. Gambar kamu bagus, tante cuma...”
Robert masuk dan kaget melihat anaknya disana, “Harley?”
“hey ayah” Harley tersenyum.
“ba...bagaimana kau kemari?” Robert mendekat.
“aku naik bus sekolah, aku meminta pak supir untuk mengantarku kemari”
“ta..tapi kenapa?” Robert melihat ke arah Natalie dan kembali menatap Harley.
“karena aku rindu ayah”
Natalie diam.
Robert mengelus Harley, “sayang, bukankah kau sudah bersama ayah?”
“semenjak ibu meninggal, ayah menitipkanku di rumah kakek” Harley menatap Robert, “dan ayah pergi kesini, meninggalkan aku. Nenek bilang, ayah baik-baik saja. Tapi aku tau, ayah tidak pernah baik-baik saja. Setiap hari, aku memikirkan ayah. Terkadang aku menangis di kamar agar tidak ketauan kakek dan nenek, meski sebenarnya mereka tau”
Robert diam.
“aku sayang ayah, aku hanya ingin selalu berada disamping ayah”
“sayang” Robert memeluk Harley, “Natalie”
“ya?”
Robert menatap Natalie, “aku rasa, malam ini kita tidak bisa...”
“aku tau, aku mengerti” Natalie tersenyum, “kita bisa pergi dansa di lain hari kan?”
Robert tersenyum, “atau kau bisa pergi ke rumahku, malam ini?”
Di rumah Robert,
Natalie menemani Harley mengerjakan PR.
“tante”
“ya?”
“apa ayah benar-benar sedang memasak?”
“ya, dia ada di dapur. Memangnya kenapa?”
“aku tidak menyangka jika ayah akan memasak”
“emh..?”
“ayah tidak pernah memasak setelah ibu meninggal” Harley menatap Natalie, “meski saat itu umurku baru 3 tahun, tapi aku mengingatnya”
“wah... kau... kau hebat sekali bisa mengingat semua itu” Natalie bingung untuk berkomentar.
“jika ibu masih hidup, mungkin umur kalian tidak beda jauh”
“oh ya?”
“ya, ibu hampir seusia ayah. Sebentar lagi ayah berumur 25, berapa usia tante?”
“21, tepatnya bulan depan”
“emh... aku sudah menduganya”
“benarkah?”
“ya” Harley diam.
“ada apa?”
“apa kau mencintai ayah?”
“ke..kenapa kamu bertanya seperti itu?”
“semenjak ibu meninggal, aku belum pernah melihat ayah sebahagia ini. Dia pasti sangat mencintaimu”
Natalie diam, “aku...”
“selama ini, ayah selalu menelpon dan bilang jika aku harus jadi anak yang kuat dan tegar. Aku selalu berusaha untuk dewasa, tapi kenyataannya sulit. Aku masih anak-anak dan aku membutuhkan orang tua, aku selalu sedih jika mengingat apa yang terjadi. Tapi aku selalu bersembunyi setiap aku menangis, meski kenyataannya, nenek dan kakek mengetahui itu”
“kenapa kau harus sembunyi? Bukankah akan lebih baik jika kau terbuka pada kakek dan nenekmu?”
“aku tidak bisa, karena aku tau. Jika mereka memberi tau ayah, ayah akan semakin sedih”
“Harley” Natalie memeluk Harley.
Dan mereka pun tidak menyadari jika Robert menguping dari luar kamar Harley.
Robert masuk ke dalam, “saatnya makan malam” ia pura-pura tidak tau dengan apa yang mereka bicarakan.
“asyik...” Natalie tersenyum, “ayo sayang” ia mengelus Harley.
Harley pun mengangguk.
Robert mengendong Harley dan mereka pun pergi ke ruang makan.
***
Besoknya,
Natalie sedang bimbingan di ruang dosen.
“bagus, lanjut ke bab 5”
“beneran.. bu?” Natalie kaget, tapi ia juga merasa senang.
“iya”
“makasih, bu. Makasih”
Natalie pun keluar dari ruang dosen dan melihat Robert  yang sedang bicara dengan beberapa dosen di depan kelas.
Robert menoleh dan tersenyum, ia pun meninggalkan para dosen. Robert mendekati Natalie, “sudah selesai?”
“ya...” Natalie tersenyum, “kau sedang bicara apa dengan para dosen?”
“program beasiswa baru, aku rasa, banyak orang yang membutuhkan itu”
“tuan Robert, kau benar-benar dermawan”
“pasti” Robert merangkul Natalie dan mengajaknya pergi.
Di jalan,
“jadi, bagaimana kabar bimbinganmu?”
“semenjak dosenku tau, kau pacarku. Dia berubah, dia jadi...”
Robert menatap Natalie, “tidak galak? Tidak menyebalkan? Tidak membuat pusing...?”
“pokoknya, sekarang aku udah bab 5”
“waw, bagus. Itu tandanya, kau bisa wisuda bersama Dini. Iya kan?”
“akan ku usahakan”
“aku akan datang kesana untuk mendampingimu”
“janji?” Natalie menatap Robert.
“yap” Robert tersenyum.
Saat mereka sampai di kostan,
“hey, itu Dini dan Huan” Robert melihat Dini yang baru membuka kunci kostan.
“ya, mereka abis jalan-jalan”
“jalan-jalan?” Robert menatap Natalie.
“tidak, aku bercanda” Natalie tersenyum, “hari ini Huan mengajak Dini ke rumah orang tuanya”
“emh... ternyata mereka sudah benar-benar dekat dengan orang tua mereka?”
“bukan itu saja, Huan sudah bertunangan dengan Dini”
Robert menatap Natalie, “?”
“itu.. itu sangat membahagiakan bagi wanita manapun di dunia ini” Natalie tersenyum membayangkannya.
“aku rasa, itu biasa saja”
“ya... kau memang berbeda dengan Huan”
Mereka pun masuk ke kostan.
Natalie membuka pintu dan melihat Huan yang sedang duduk di sofa.
“hey, Nat”
“hey” Natalie tersenyum.
Robert masuk dan menatap Huan.
“hey tuan Robert”
“hey” Robert duduk.
Natalie pun duduk diantara mereka.
Robert menatap Natalie dan Huan, “kau sudah bertunangan?”
Huan tersenyum, “ya, aku akan mengajak Dini menikah setelah lulus nanti”
“wah... kau sangat berani” Natalie memuji Huan.
Robert kesal, “kau yakin akan menikahinya? Atau itu hanya rencana?”
“tuan Robert, aku sudah mengajak Dini bertunangan. Itu tandanya, kami sudah terikat. Jika kau membiarkan pacarmu berlama-lama tanpa kepastian, bisa-bisa dia diambil orang”
“maksudmu?” Robert menatap tajam pada Huan.
Natalie kaget dan diam.
“kau tenang saja, Natalie tidak akan melakukan itu” Huan tersenyum, “aku tau jika Natalie sangat mencintaimu, karena saat kau pergi, dia memelukku dan bilang jika dia berhalusinasi”
“berhalusinasi...?” Robert berpikir, “memelukmu?” ia semakin kaget.
Natalie panik.
Dini muncul membawa tas tangan, “ayo Huan”
“ok, sayang” Huan bangun.
Robert diam dan Natalie begitu panik.
“a..ada apa, ini?” Dini bingung melihat expresi mereka.
“kami permisi, tuan Robert” Huan merangkul Dini dan mereka pun pergi.
Natalie menatap Robert dengan sedikit takut.
“kau memeluknya?” Robert menatap Natalie, “saat aku pergi?”
“a...aku...”
***
Di sebuah kedai,
“Huan, ada apa?” Dini menatap Huan.
“kayanya aku salah bicara deh”
“emangnya kenapa?”
“aku bilang ke Robert kalau Natalie memelukku”
“ya ampun, kamu mau bikin mereka marahan?”
“tadinya gak gitu, tapi Robert menyebalkan”
“menyebalkan?”
“dia merasa pertunangan kita itu tidak penting, padahal aku tau jika Natalie juga ingin ikatan seperti itu darinya”
“ya... aku juga tidak mengerti dengan pikiran laki-laki dewasa seperti dia”
Mereka kembali makan.
Malamnya,
Di kostan, Dini masuk ke kamar dan melihat Natalie sedang menelpon. Ia pun duduk disamping Natalie.
Natalie tersenyum kepada Dini dan melanjutkan pembicaraannya di telepon, “kau sedang apa?”
“aku habis menidurkan Harley”
“ah... Harley”
“bagaimana kesanmu terhadapnya?”
“dia anak yang baik, aku rasa... dia begitu dewasa. Maksudku, sangat mengerti. Tidak seperti kebanyakan anak kecil lainnya”
“ya, dia memang luar biasa”
“ya, luar biasa. Seperti ayahnya”
“apa kau menyukainya?”
“tentu, dia anak yang hebat”
“aku senang mendengarnya, awalnya aku cemas saat kalian bertemu. Aku takut, Harley membuatmu tidak nyaman”
“tidak, sayang. Tentu tidak” Natalie tersenyum, “kami bahkan sudah menjadi teman”
“ya, aku lihat gambar buatan Harley. Aku tidak menyangka jika dia membuat itu untuk kita”
“ya, aku juga sudah lihat”
“ok, selamat malam. Semoga tidurmu nyenyak”
“kau juga” Natalie menutup telponnya.
Dini menatap Natalie, “aku minta maaf soal Huan”
“sudahlah, tidak apa-apa. Robert tidak marah” Natalie merangkul Dini, “kau sangat beruntung memiliki Huan, bagiku... dia sangat gentle. Kalian sudah bertunangan, tinggal satu hal lagi dan semua sudah tenang” Natalie agak sedih, “tapi Robert tidak begitu”
“hey, kamu dan Robert itu masih baru, kan? Aku dan Huan sudah pacaran lama”
“tapi untuk membuktikan keseriusan, tidak usah menunggu waktu lama kan?”
“Nat, apa kau tidak melihat keseriusan dari Robert? Dia meminta Jennifer untuk pergi dari hidupnya, dia kembali kesini setelah pergi begitu lama”
“aku tau, mungkin aku memang kurang sabar”
“santai saja, bisa saja Robert menjadi cinta pertamamu dan terakhirmu. Semoga kalian menikah disini, jika kalian menikah di negara Robert, aku gak punya ongkos” Dini tersenyum.
“mana mungkin kami membiarkanmu, kau dan Huan pasti akan menjadi tamu spesial di pernikahan kami”
Mereka tertawa.
“kita berkhayal kejauhan deh...” Natalie memeluk boneka teddy bear-nya.
***
Siang itu,
Robert sedang menelpon Natalie di ruang kerjanya.
“maafkan aku, sayang”
“emh... padahal, aku pengen banget ketemu kamu” Natalie agak sedih.
“iya, aku juga kangen. Tapi aku ada rapat siang ini, nanti sore aja ya?”
“iya deh”
“bye...” Robert menutup telponnya, “ah...”
Knock knock...
Huan masuk, “selamat siang, Robert”
“duduk, Huan”
“ada apa kau menghubungiku?”
“dengar, Natalie sangat mengagumimu. Aku tidak bicara tentang pelukan dan halusinasi, tapi...”
“masalah pertunangan?”
“yap...” Robert diam.
“ini sangat mudah, tuan. Saat kau yakin dia adalah pasanganmu, maka kau harus mengikatnya agak tidak diambil orang”
“apa itu alasanmu bertunangan?”
“tentu tidak, kami sudah berpacaran sejak lama dan aku merasa, aku harus melakukan itu”
Robert menatap Huan.
“Dini perempuan yang baik, aku sangat bersyukur bisa memilikinya. Maka dari itu, aku mengajaknya bertunangan dan...”
“?”
“itu juga salah satu cara untuk membuktikan jika aku serius padanya” Huan menatap Robert, “bukankah anda sudah berpengalaman? Anda memikili segalanya, kenapa anda tidak melakukan itu kepada Natalie?”
“aku rasa, aku tidak perlu melakukannya. Bertunangan belum tentu menikah, kan?”
“tapi cinta saja tidak cukup”
Robert diam.
“aku tau jika bertunangan tidak selalu berakhir dengan pernikahan, tapi setidaknya dia tau jika kita serius padanya”
“dengar, Huan. Seperti katamu, aku mudah melakukan itu. Bahkan aku bisa langsung mengajaknya menikah, jika perlu. Aku rasa, bertunangan hanya simbol belaka”
“setiap orang memiliki prinsip yang berbeda, tuan. Tapi aku rasa, apa yang kami pikirkan itu wajar. Karena mungkin, setiap anak muda berpikir seperti itu. Anda sudah dewasa, anda pasti mengerti”
“aku sangat mengerti” Robert menatap Huan, “aku ingat, istriku sangat bahagia saat pertama kali aku melamarnya”
Huan terdiam.
“hey, bagaimana jika kita ke kostan mereka sekarang?”
“ide bagus” Huan tersenyum.
Di kostan,
“selamat sore” Robert masuk.
“Robert, kau bersama Huan?” Natalie yang sedang duduk di sofa, menatap mereka.
“eh...” Robert bingung.
“tadi kami bertemu di jalan, aku menumpang” Huan tersenyum dan berharap alasannya tidak mencurigakan.
“bohong” Natalie menatap Huan, “jadi tuan Robert, kau sebenarnya tidak rapat kan tadi siang?” ia menatap tajam pada Robert.
Robert tersenyum bingung, ia pun pasrah jika Natalie akan marah.
Dini yang mendengar itu, langsung muncul. Ia mendekati Huan, “aku senang, kau datang. Ayo bantu aku membuat minum untuk Robert”
“i..iya” Huan mengikuti Dini ke belakang.
Robert mendekati Natalie dan duduk disampingnya, “Natalie...”
“cukup, kamu selalu berbohong padaku. Tadi aku menelpon sekretarismu, dia bilang, kau tidak rapat”
“dan dia juga bilang, jika Huan datang? Natalie, aku tidak bermaksud begitu”
“oh, jadi apa? Kau selalu menutupi sesuatu dariku” Natalie kesal, “aku pacarmu”
“aku tau, aku...”
“hey, hey...” Dini mendekat sambil membawa segelas air, “rasanya sore ini begitu panas ya?” ia menyimpannya di meja.
Robert tersenyum.
Natalie menatap Dini, “terima kasih” ia meminum air tersebut.
“Na...Natalie, itu untuk Robert” Huan kaget.
Natalie menatap tajam pada Huan.
Huan agak takut melihat Natalie.
“e..e... sepertinya, kami harus pergi” Dini memegang tangan Huan, “i..iya kan, Huan?”
“iya”
Mereka pun meninggalkan kostan.
Natalie kembali menatap Robert.
Robert menunduk, “a..aku hanya...” ia menatap Natalie, “aku hanya iri padanya, dia terlihat begitu hebat di matamu”
Natalie diam.
“mungkin aku memang pria yang penuh dengan kekurangan, tidak bisa membuat bahagia pasangannya. Seperti Huan membahagiakan Dini”
“pengecut”
“kau benar” Robert berdiri, “aku rasa, aku harus pulang”
Natalie diam.
Robert menatap Natalie dan berjalan ke arah pintu, “besok aku benar-benar rapat. Jika kau tidak percaya, kau boleh menelpon sekretariku”
“Robert...”
Robert menoleh.
“jika aku melakukan hal yang sama denganmu, apa yang akan kau lakukan?”
“maksudmu?”
“banyak perempuan cantik di dunia ini, aku hanya perempuan biasa yang uangnya pas-pasan. Aku bukan perempuan yang setiap hari ke salon dan merawat diri, aku selalu tampil apa adanya. Apa yang kau lihat dariku?”
“kau punya hati yang baik, aku mencintaimu karena kau sangat menarik bagiku”
“begitu juga aku” Natalie berdiri, “sejujurnya, aku begitu mengagumimu saat itu. Pria hebat dan terkenal, dermawan dan... ya Tuhan... aku benar-benar tidak menyangka saat kau jadi pacarku. Pacar seorang wanita biasa yang tidak punya apa-apa”
Robert mendekati Natalie, “maafkan aku, aku melakukan semua itu karena aku takut. Aku takut kehilanganmu”
Natalie tersenyum.
“kau memaafkan aku?” Robert mencium Natalie.
“tunggu” Natalie menatap Robert, “kemarin kamu nge-bully Huan, iya kan?”
“sayang, aku...”
“itu gak baik, Robert”
“iya aku tau, tapi kemarin dia menyebalkan”
“ya, tetap saja itu tidak baik”
“ok, tapi kami baik-baik saja kan?”
“tapi kau tetap harus minta maaf”
“baik, aku akan melakukannya”
Natalie menatap Robert.
“aku akan memasak malam ini, untuk kalian. Kau, Dini dan Huan”
“dan kau ikut untuk makan malam?”
“tidak, aku harus pulang”
Natalie agak kecewa, “aku mengerti, Harley ingin ayahnya cepat kembali. Iya, kan?”
“yap, maafkan aku”
“tidak apa-apa” Natalie menatap Robert, “jika aku menua, kulitku keriput dan rambutku memutih. Apa kau akan tetap mencintaiku?”
“jika kau sekarang tiba-tiba tua, aku akan kabur darisini. Tapi jika yang kau maksud di masa depan, tentu aku tetap mencintaimu. Karena aku pun akan mengalami hal yang sama”
“dasar” Natalie tersenyum.
Mereka pun berpelukan sambil tertawa.
Setelah memasak,
Robert menaruh masakannya di meja, “bagaimana?”
“lumayan” Natalie tersenyum, “kau memang jago memasak, ya?”
“memang”
“emh..” Natalie mendekati Robert dan menatapnya, “aku harap, jika menikah nanti, kau membiarkanku memasak”
“maksudmu?”
“maksudku, kau bekerja dengan giat di kantor. Aku di rumah, memasak dan mengurus Harley”
“eh... kau akan membuang gelar sarjanamu begitu saja?”
“tidak, jika kita menikah, aku otomatis menjadi nyonya CEO. Iya, kan?”
“sungguh pintar, apa kau mahasiswa ilmu politik?”
Mereka berciuman.
“selamat malam” Dini membuka pintu dan terdiam melihat itu.
Huan yang ada di belakang Dini pun ikut diam.
“eh, selamat malam” Natalie tersenyum malu.
Robert tersenyum, “kalau begitu, aku harus pulang”
“ya... hati-hati di jalan” Natalie menatap Robert.
Mereka berciuman lagi dan Robert pun pergi.
Dini dan Huan saling tatap, tapi mereka bersyukur karena pasangan itu sudah akur kembali.
“eh... lihat, Robert memasak makan malam untuk kita” Natalie tersenyum pada Dini dan Huan.
“benarkah?” Dini tersenyum.
“wah, sepertinya enak” Huan senang.
Mereka pun makan malam.
Di rumah Robert,
“ayah pulang” Robert membuka pintu.
“ayah” Harley berlari dan memeluk Robert.
“hey sayang” Robert menggendongnya.
“aku titip ini untuk tante Natalie” Harley memberikan sebuah lipatan kertas kepada Robert.
“ok”
Sore itu,
Natalie sedang menyapu di kostan.
Knock knock...
“ya, sebentar” Natalie membuka pintu.
“selamat sore” Robert menatap Natalie.
“ya ampun, ternyata ‘tuan so sibuk’ yang datang? Aku kira, Dini”
Robert tersenyum, “memangnya Dini kemana?”
“skripsinya udah selesai, dia lagi ngurus-ngurus buat sidang”
“waw, bagaimana denganmu?”
“sebentar lagi. Kalau ini di acc, aku juga nyusul kok”
“ok, good”
Mereka berciuman.
“o iya, Harley menitipkan ini untukmu” Robert memberikan kertasnya.
“emh... aku tau ini apa”
“yap, gambar kita”
“calon keluarga?” Natalie tersenyum, “aku akan menempelkannya di kamar dan berharap ini akan segera jadi kenyataan”
“oh, ya...?” tapi Robert tiba-tiba diam.
“ada apa?”
“sebenarnya aku sedikit lelah”
“emh... duduklah”
Robert duduk di sofa, “pijitin dong, nih pundak aku”
“dasar kakek-kakek” Natalie duduk dan mulai memijit, “bagaimana tuan, enak?”
“lumayan”
“emh... dasar laki-laki, mau enaknya doang”
Robert menoleh, “apa kau bilang?”
“laki-laki mau enaknya doang”
“awas ya”
Mereka berpelukan.
“hey, aku sudah mendekor kamar untukmu”
“di rumahmu?”
“yap”
“Robert, aku sudah bilang kan? Aku gak bisa move in sama kamu”
“ya, siapa tau kapan-kapan kau menginap?”
Natalie tersenyum, “sini, lanjutin pijitnya”
“ok, bagus. Tolong yang sebelah sini juga”
“iya, tuan tampan”
“apa kau bilang?”
“tuan tampan”
“terima kasih, nona cantik”
Natalie memeluk punggung Robert sambil tersenyum.
“hey, kenapa malah dipeluk? Katanya mau mijitin?”
Natalie tertawa.
Dini masuk, “sorry, aku kira...”
“gak apa-apa, mana Huan?” Natalie tersenyum.
Robert bersandar ke pundak Natalie.
“dia udah pulang” Dini tersenyum dan masuk ke kamarnya.
Natelie mengelus Robert, “kamu jangan sakit, ya?”
“aku gak bakalan sakit kalau masih bisa ketemu kamu” Robert menatap Natalie.
“dasar” Natalie mencium kening Robert.
“ah... aku jadi ngantuk”
“kamu mau tidur di sofa?”
“ya enggaklah, aku tidurnya sama kamu”
“Robert?” Natalie mendorong Robert.
“sayang, aku kan bercanda” Robert mengelus Natalie, “padahal kita suka pelukan dan berciuman”
“kalau gitu, mulai sekarang gak usah ngapa-ngapain”
“hey, kok malah tambah marah?”
“lagian kamu gitu terus”
“Natalie, aku selalu menghargai semua itu. Aku tidak akan bertindak lebih” Robert mengangkat tangan dengan pasrah, “aku tidak ingin kehilanganmu”
Natalie tersenyum, “jadilah ayah yang baik untuk Harley, buat aku bangga”
“ok, boleh minta cium?”
“tentu”
Setelah mereka berciuman, Robert pun pulang.
Natalie menutup pintu dan melihat Dini keluar dari kamarnya.
“kau tau? Aku selalu bahagia melihat kalian bersama” Dini tersenyum.
“kenapa?”
“karena aku akan merasa tenang. Jika aku menikah dan pergi meninggalkanmu, aku tidak akan khawatir karena Robert ada disampingmu”
Natelie tersenyum, “aku rasa, saat kau menikah, aku masih seperti ini”
“kenapa?”
“Robert butuh proses, trauma masa lalunya masih membayanginya”
“tapi aku yakin, dia memang serius padamu. Sangat serius”
“aku tau itu”
Mereka pun masuk ke kamar.
***
Natalie bangun, ia ingat jika hari ini adalah ulang tahunnya. Natalie senang, ini adalah hari yang sangat besar untuknya. Meski kenyataannya sulit, karena teman sekelasnya pasti ingin di traktir. Aduh... Natalie memegang kepalanya.
Dini membuka pintu kamar, “Natalie”
“apa? Kamu mau ditlaktir?”
“bukan itu, gimana kalau hari ini kita makan bareng? Aku sama Huan, kamu sama Robert. Tapi kalau dipikir-pikir, ditelaktir enak juga sih...” Dini tersenyum.
“dasar”
Di perusahaan,
“ya Tuhan... hari ini Natalie ulang tahun” Robert hampir lupa dan ia pun keluar dari ruangannya.
Sekretaris tersenyum, “tuan...”
“hari ini aku tidak bisa diganggu, Natalie ulang tahun. Aku harus segera menemuinya”
“maaf tuan, tapi kolega anda sebentar lagi datang”
“batalkan saja”
“tidak bisa, kolega ini adalah teman dari ayah anda. Beliau sering bekerjasama dengan Stark Internasional, waktunya terbatas. Beliau ingin, pertemuannya dengan anda bisa berakhir malam ini juga”
“apa?” Robert kaget. Itu tandanya, ia tidak bisa bertemu dengan Natalie.
Di kampus,
Setelah bimbingan, Natalie menelpon Robert.
“hallo?”
“sayang, kamu dimana?”
“maafkan aku, aku ada rapat mendadak. Kolegaku sudah datang, Nat” Robert menutup telponnya.
“hallo? Robert?” Natalie kecewa, ia menghubungi Robert lagi. Tapi Hp Robert tidak aktif, Natalie pun diam.
Dini mendekat, “kenapa?”
“Robert gak mau diganggu”
“lah, bukannya kalian udah janjian?”
“iya, tapi dia tiba-tiba ngebatalin. Katanya dia sibuk”
“harusnya kalau dia udah janji duluan sama kamu, semuanya bisa dipending”
“aku juga gak tau, kayanya aku pulang aja deh”
“Nat” Dini menghalangi Natalie.
“kenapa sih? Kamu pengen di tlaktir? Nih, aku kasih uangnya”
“bukan itu, Nat. Liat deh”
Natalie melihat teman sekelasnya sudah bersiap menunggu tlaktiran, “ok, kita pergi”
Di perusahaan,
Robert berusaha fokus, meski sebagian pikirannya tertuju pada Natalie. Ia hanya berharap, Natalie bisa memakluminya.
Hari mulai larut,
Natalie dan Dini kembali ke kostan.
“bener-bener gak ada kabar?” Dini menatap Natalie.
“Hp-nya masih gak aktif, kayanya dia emang gak niat. Udahlah Din, aku cape” Natalie masuk ke kamar.
Dini hanya diam, ia tau jika Natalie sedang sedih.
Di kamar,
Natalie menangis, ia ingat. Robert pernah bilang, jika ia harus terbiasa dikecewakan karena pekerjaan Robert yang begitu sibuk. Namun kenyataannya, hal itu tidak mudah. Hari spesialnya berubah jadi menyedihkan karena tidak ada Robert disampingnya.
Sementara itu, Dini menyiapkan makan malam, ia berharap jika Natalie akan keluar dari kamarnya.
Knock knock...
“iya” Dini membuka pintu.
“hey” Robert tersenyum, “boleh aku masuk?”
“kemana saja, kau? Hp gak aktif”
“uh... kau marah padaku?” Robert menatap Dini.
“apa kau tidak punya perasaan? Ini hari special untuk Natalie”
“aku tau itu, tapi tidak semua yang terlihat salah itu benar-benar salah kan?”
“maksudmu?”
“aku datang kesini untuk bertemu dengannya”
“dia di kamar, mungkin dia tidak mau bertemu denganmu”
“mungkin dia sedikit marah” Robert tersenyum dan masuk ke kamar Natalie.
Di kamar,
“hey, honey”
Natalie menoleh, “mau apa?”
“mengucapkan selamat ulang tahun” Robert mendekati Natalie.
“kau terlambat”
“tidak, ini masih hari ulang tahunmu”
“terserah kau saja”
“hey, aku minta maaf”
“apa yang membuatku begitu mudah untuk memaafkan semuanya?”
“aku sudah mendekor kamar, untukmu. Beberapa hari yang lalu” Robert menatap Natalie.
Natalie tersenyum dan memeluk Robert.
“jadi kau sudah tidak marah padaku?”
“masih dipertimbangkan”
“aku ingin mengundangmu menginap malam ini, di rumahku”
“dengan kamar dekorasimu?”
“yap”
“ok”
“ok” Robert tersenyum.
Mereka berciuman.
Malam itu,
Robert mengajak Natalie ke rumahnya, ini adalah kedua kalinya Natalie datang. Rumah yang luas dan besar, Natalie belum bisa membayangkan jika nantinya ia akan tinggal disana.
Robert membuka pintu, “ayah pulang”
“asyik, ayah udah pulang” Harley tersenyum melihat Natalie, “tante?”
“hey, Harley” Natalie mengelus Harley.
“hari ini Natalie ulang tahun” Robert menatap Harley.
“benarkah? Selamat ya, tante” Harley memeluk Natalie.
“terima kasih” Natalie pun memeluk Harley.
“aduh, aku kok jadi ngantuk” Harley langsung pergi.
“mencurigakan” Natalie menatap Robert.
Robert kaget, “apa? Aku tidak melakukan apapun”
“terus, kenapa Harley tiba-tiba pergi ke kamarnya?”
“mungkin karena dia tau, kalau kita pengen berduaan” Robert tersenyum dan memeluk Natalie.
Natalie sangat senang, ia memang sangat berharap untuk semakin serius dengan Robert.
“aku mencintaimu, Natalie”
Natalie tersenyum dan air matanya menetes.
“hey, kenapa?”
“aku gak apa-apa” Natalie kembali memeluk Robert.
Pagi itu,
Natalie membuka matanya, ia melihat Robert yang masih tertidur disampingnya. Natalie bangun dan terdiam, apakah pria itu benar-benar akan menjadi pendamping hidupnya?
“tante” Harley masuk.
“sayang?” Natalie mendekati Harley dan mengajaknya keluar, “ada apa?”
“aku pengen sarapan, aku pengen nyobain masakan tante”
“ok” Natalie tersenyum, “kamu tunggu di ruang makan ya?”
“gak mau, aku mau di sana” Harley menunjuk sebuah ruangan.
“ok” Natalie mulai menuruni tangga dan berjalan ke dapur.
Setelah memasak, Natalie masuk ke ruangan tadi. Disana sudah ada Harley yang sedang memainkan piano.
Natalie mendekat, “hebat sekali” ia menyimpan makanannya dan duduk disamping Harley.
“ayah yang mengajariku”
“begitukah?”
“ya, saat aku kecil, ayah suka nyanyi sambil main piano. Tapi ayah gak pernah main piano lagi setelah ibu meninggal” Harley menunduk.
Natalie memeluk Harley.
“aku selalu sedih mengingatnya, sekarang semua sudah berubah. Tapi aku harap, setelah tante muncul, ayah akan kembali seperti dulu”
“sayang...” Natalie mengelus Harley, “udah ya, mending kamu sarapan dulu”
Di kamar,
Robert membuka matanya, “emh...” ia bangun dan keluar dari kamar, Robert melihat Harley yang sudah bersiap untuk sekolah dan Natalie yang sedang merapikan rambut Harley.
“ayah” Harley tersenyum.
Robert mendekat, “maaf jadi merepotkanmu” ia menatap Natalie.
“tidak, Harley anak yang mandiri” Natalie tersenyum.
Robert mengelus Harley, “tentu, dia anakku”
Bus sekolah pun datang.
“ayah, aku pergi dulu ya. Bye, tante” Harley pergi.
“hati-hati” Natalie tersenyum.
Robert merangkul Natalie.
Natalie menatap Robert, “kamu baru bangun”
“emang kenapa?”
Mereka berciuman.
“eh, di atas ada piano kan?”
“emangnya kenapa? Kamu mau main?”
“aku gak bisa, kamu dong yang main”
“males ah”
“tapi Harley bilang, kamu jago main pianonya”
“ya udah, ayo” Robert merangkul Natalie.
Di ruang piano,
“kamu pengen lagu apa?”
“Try to Remember”
“emh...”
“I know Him by Heart?”
“eh...”
“apa dong?”
Robert mulai memainkan pianonya dan menyanyi...
I swear... by the moon and the stars in the sky
I be there...
And I swear... like the shadow that’s by your side
I be there...
For better or worse... ‘till that do us far...
I’ll love you with every beat of my heart
I swear...
(I Swear – All-4-One)
Robert menatap Natalie dan menciumnya, mereka pun tersenyum dan berpelukan.
“aku ingin makan malam bersamamu” Robert berbisik.
“apa ini sebagai pengganti karena kau tidak bisa mengajakku kemarin?”
“maybe” Robert mencium pipi Natalie, “aku antar kau ke kostan, tapi kau harus janji, malam ini kita pergi”
“sure” Natalie menatap Robert, “aku malah lebih khawatir, jika kau yang tidak bisa pergi”
“why?”
“karena rapat mendadak”
“tidak, hari ini aku libur. Aku akan menjemputmu jam 7 malam. Deal?”
“deal”
Robert pun mengantar Natalie pulang.
***
Natale sedang berdandan karena sebentar lagi, Robert akan datang.
“jadi dia benar-benar menyanyikan lagu itu untukmu?”
“yeah, I SWEAR. Itu terdengar seperti...”
“ya ampun Natalie, lagu I SWEAR? Itu mirip seperti janji suci yang diucapkan dalam pernikahan” Dini girang.
“maksudmu?”
“mungkin itu tanda-tanda jika Robert sudah mantap padamu”
“gak mungkin, Din. Ada juga kamu duluan kali, Huan kan udah ngajak kamu tunangan”
“jangan-jangan, dia mengajakmu makan malam sekalian melamarmu”
“udah ah, gak usah expektasi kejauhan. Entar jadinya kecewa”
“yah... dibilangin juga, aku ini udah berpengalaman”
“iya deh, iya”
Knock knock...
“itu pasti Robert” Natalie tersenyum.
“ya udah, cepet sana” Dini tidak sabar.
Natalie membuka pintu, “hey” ia tersenyum pada Robert yang berdiri disana.
“hey” Robert mencium Natalie, “kau sudah siap?”
“tentu”
Robert melihat Dini yang tersenyum, “Din”
“hati-hati” Dini menggeleng.
Robert merangkul Natalie dan mereka pun pergi.
Di sebuah restorant,
“jadi kamu udah pesen makanannya duluan?” Natalie menatap Robert.
“yap, aku ingin yang spesial untuk pasanganku”
“kau ini” Natalie tersenyum.
“kenapa lama sekali makanannya?” Robert melihat ke sekitar.
“ada apa? Kamu kok kaya yang gak tenang?”
“emh... aku baik-baik saja” Robert tersenyum.
Seorang pelayan mendatangi meja yang ada di sebelah mereka, disana sebuah cincin diamond terlihat dan semua pengunjung menjadi ramai.
Natalie kaget melihat itu, “wah... ada yang ngelamar pacarnya disini, so sweet banget ya?” Natalie menatap Robert.
Robert terdiam, “yap...”
“Robert, kamu kenapa?” Natalie kembali merasa aneh, “kamu sakit?”
“a... aku mau pulang”
Aneh... bukannya pesanan kami belum datang? Natalie bingung, “ok, ayo pulang”
Mereka pun pergi.
Di jalan,
“kamu gak apa-apa kan?”
“aku baik-baik saja” Robert begitu serius menyetir.
“Robert, apa kejadian di restorant membuatmu sakit? Apa dulu, kau melamar istrimu seperti itu?”
Kiiik....
Robert menghentikan mobilnya.
“apa aku salah bicara?” Natalie semakin khawatir.
“maafkan aku” Robert menatap Natalie dengan sedikit sedih.
Kenapa dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya padaku? Natalie mengelus Robert, “tidak apa-apa, aku rasa... kau perlu istirahat sekarang”
“terima kasih, Nat”
Setelah sampai di kostan,
Dini kaget melihat Natalie, “kok udah pulang? Robert mana?”
“aku juga gak ngerti kenapa? Awalnya Robert terlihat bahagia dan bersemangat, tapi saat meja sebelah kami melakukan lamaran...” Natalie sedih, “dia tiba-tiba berubah”
“maksudmu?”
“aku juga gak ngerti, Din” Natalie duduk disamping Dini, “mungkin dia ingat masa lalunya bersama sang istri, atau mungkin dia takut dengan hal-hal berbau lamaran”
“maksudmu... traumanya?”
Natalie mengangguk, “dia benar-benar berubah setelah kejadian tadi”
Dini diam, ternyata Robert adalah pria yang begitu sulit untuk difahami.
Besoknya,
Robert datang ke perusahaan.
“maaf tuan, tadi ada yang mengantarkan sesuatu” sekretaris memberikan sebuah kotak cincin kepada Robert.
“simpan saja”
“tapi tuan... orang itu bilang, ini milik anda. Dia bilang, dia sangat menyesal karena memberikannya ke meja yang salah”
Robert menatap kotak itu, “aku sudah berusaha meyakinkan diriku untuk ini, tapi hasilnya selalu gagal”
“tuan...” sekretaris itu tidak tega untuk menyimpan kotak tersebut.
“saat Natalie ulang tahun, aku sudah membeli cincin itu. Aku akan melamarnya di hari spesialnya, hari ulang tahunnya. Tapi kenyataannya, ada rapat yang harus aku selesaikan. Dan tadi malam... tadi malam aku ingin memberinya sebuah kejutan dengan cincin itu, tapi pelayan itu malah mengantarkannya ke meja lain. Meja yang ada di sebelah kami”
“tuan, aku rasa tuan harus...”
“selamat siang” seorang perempuan tersenyum.
“Alleta?” Robert menatap perempuan itu.
“hey Robert, lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu?”
“baik” Robert tersenyum, “bagaimana dengan pekerjaanmu?”
“sangat menyenangkan” Alleta tersenyum, “ingat saat kita kuliah dulu? Aku ingin pergi ke sebuah cafe”
“ya, mengenang masa lalu” Robert tersenyum. Saat mereka pacaran dulu, mereka sering ke cafe.
Di kampus,
Natalie sedang bimbingan, ia begitu gelisah dengan skripsinya.
“baiklah Natalie, akhirnya kau selesai” dosen itu tersenyum.
“jadi, skripsiku di acc bu?”
“yap, selamat ya”
“makasih bu, makasih banyak” Natalie sangat senang.
Di luar,
Dini sudah menunggu Natalie, ia tersenyum melihat Natalie keluar.
“Dini” Natalie berlari gembira, “aku di acc”
“yang bener?”
“nih, liat”
“wah, selamat Nat”
Mereka berpelukan.
“ini harus dirayakan” Natalie begitu bersemangat.
Di sebuah cafe,
“aku senang bertemu denganmu, sungguh” Robert menatap Alleta.
“kau bohong, kau terlihat sedang ada masalah”
“aku baik-baik saja, aku hanya...”
“kau sedang dilema?”
“yap” Robert diam, “aku ragu jika aku serius menjalin sebuah hubungan”
“siapa perempuan itu? Siapa orang yang bisa membuatmu jatuh cinta lagi? Aku jadi penasaran” Alleta tersenyum.
“Robert?” Natalie yang datang bersama Dini, menatap Robert.
Robert menoleh, “Natalie?”
Alleta menoleh, “hey” ia tersenyum, “apa kau pacar Robert?”
Natalie mendekat, “yap, siapa kau?” ia menatap Alleta.
“sayang, ini Alleta. Mantanku saat kuliah” Robert tersenyum, “Alleta, ini Natalie”
“harusnya sejak awal aku bertanya, berapa banyak perempuan yang dekat denganmu?” air mata Natalie menetes.
“Natalie...” Robert mau berdiri dari tempat duduknya.
“diam” Natalie marah pada Robert, “aku benci padamu” ia pergi.
Dini yang bingung pun mengikuti Natalie.
Robert diam.
“kenapa kau diam?” Alleta menatap Robert, “kejar dia, dia butuh penjelasanmu”
“aku...”
“Robert, kau ini kenapa?”
“aku rasa, dia ingin sendiri”
“Robert, kau bilang kau ingin melamarnya kan? Lakukan, setiap wanita akan luluh dengan itu”
“Alleta, aku sudah berpengalaman”
“iya, tapi kepergian istrimu membuatmu berubah menjadi seorang pengecut”
“aku memang pengecut” Robert menatap Alleta, “aku punya banyak mantan pacar yang masih dekat denganku”
“termasuk aku”
“dan aku punya trauma yang besar karena kepergian istriku”
Alleta diam.
“aku memang pengecut, dan Natalie tau itu” Robert pergi.
Alleta agak kesal, “kau memang orang yang membingungkan”
Di perusahaan,
Robert masuk ke ruangannya, ia duduk diam mengingat semuanya. Robert menunduk.
“tuan?” sekretaris masuk.
“itu semua salahku, aku yang membuat Selly meninggal. Aku yang menyetir mobilnya”
“tuan, itu semua kecelakaan”
“sekarang, aku juga yang membuat semuanya berantakan. Setiap masalah yang terjadi antara aku dan Natalie, selalu aku yang menjadi penyebabnya” Robert kesal pada dirinya, “aku bodoh, pengecut, memiliki trauma akut, aku gila” ia menatap sekretarisnya.
“tuan, tenangkan dirimu”
“dia perempuan yang baik, aku tidak pantas untuknya”
“tuan... tuan harus percaya, tuan harus bisa memantapkan hati tuan dalam memecahkan masalah ini. Tuan harus percaya jika tuan dapat menyelesaikan semuanya dengan melakukan yang terbaik”
Robert diam.
“lakukanlah yang menurut tuan benar”
Malamnya,
Robert pergi ke kostan Natalie, Dini membuka pintu.
“hey, Din”
“Robert?” Dini kaget.
“apa aku boleh masuk?”
“te..tentu, silahkan”
Robert masuk, “mana Natalie?”
“semenjak pulang dari cafe, dia terus diam di kamarnya”
“aku akan menemuinya”
Dini mengangguk.
Di kamar Natalie,
Knock knock...
Robert masuk, Natalie diam melihat Robert.
“Natalie... aku kesini untuk...”
“kau mau menjelaskan semuanya?”
Robert mengganguk dan mendekati Natalie, “aku sudah bilang, kan? Alleta mantan pacarku saat Kuliah, aku juga pernah bilang padamu jika...”
“kau berhubungan baik dengan semua mantan pacarmu?”
“yap...” Robert diam dan kembali menatap Natalie.
“seharusnya kau bilang padaku terlebih dahulu, agar aku bisa memakluminya dan aku...”
“tidak akan marah seperti tadi?”
Natalie diam.
“aku tau ini sangat sulit untukmu”
“sulit?” Natalie menatap Robert, “selama ini aku selalu berusaha memaklumi semuanya, memaklumi keadaanmu. Tapi kau...”
“aku tau, aku tau” Robert menatap Natalie, “semua ini salahku, selalu salahku, Nat” ia menahan emosinya, “aku memang orang yang gagal, aku gagal menjadi ayah yang baik, aku gagal menjadi suami dan aku adalah penyebal gagalnya hubungan ini” nada Robert mulai tinggi.
Natalie diam.
Robert menunduk, “maafkan aku, Nat” ia pun pergi.
Natalie langsung menangis.
Dini masuk ke dalam, “Nat?”
Natalie menatap Dini, “dia sudah pergi?”
“yap, matanya merah. Expresinya seperti menahan sakit, sepertinya dia sangat sedih dengan pertengkaran ini”
Natalie menunduk, “sepertinya, hubungan kami akan berakhir”
“apa maksudmu?” Dini kaget mendengar itu, “kau ingat saat dia menyanyikan lagu I SWEAR untukmu? Dia sangat mencintaimu, Nat”
“tidak, Din. Dia...”
“Nat, saat keluar dari sini, aku melihat expresinya” Dini duduk disamping Natalie, “dia sangat mencintaimu, percayalah padaku”
“aku takut kehilangan dia, Din. Aku sangat mencintainya”
Dini memeluk Natalie yang semakin menangis, “percaya padaku, Nat. Besok, dia akan kembali untukmu”
Paginya,
Natalie sudah bersiap untuk pergi ke kampus, ia akan mengurus persyaratan untuk ikut sidang skripsi.
“kamu gak apa-apa kan, kalau pergi sendirian?” Dini khawatir.
“aku baik-baik aja, kok” Natalie tersenyum, “aku harus kuat, iya kan? Lagi pula sebentar lagi sidang, tinggal selangkah lagi menuju sarjana”
“Nat...”
“do’akan aku ya, Din?”
“pasti” Dini tersenyum.
Natalie pun pergi.
***
Sorenya,
Natalie kembali ke kostan.
“Nat...” Dini mendekat.
“tadi siang, Robert menelponku”
“lalu?”
“kami putus” Natalie menunduk, “lucu juga ya, Din? Skripsiku selesai, hubunganku juga selesai” ia menahan diri agar tidak terlihat sedih.
“Nat...” Dini khawatir, “tadi Robert kesini, dia mencarimu”
“mencariku?” Natalie kaget mendengar itu, mungkinkah Robert akan meminta Natalie untuk kembali? Natalie menatap Dini, “apa yang dia katakan?”
Dini mengeleng, “dia hanya menitipkan ini untukmu”
Natalie menatap surat yang dipegang Dini, “aku rasa, semuanya sudah jelas. Buang saja” Natalie masuk ke kamarnya.
“Nat, kau harus membacanya. Mungkin ada hal penting yang akan Robert katakan lewat ini” Dini menatap kamar Natalie yang dikunci.
“buang saja, Din...”
Dini diam, ia menatap surat itu. Mungkinkah aku harus membaca ini? Dini kembali menatap kamar Natalie yang masih tertutup, maafkan aku, Nat. Aku harus membukanya.
Dini pun mulai membacanya,...
Selamat tinggal Natalie...
Yang selalu mencintaimu,
Robert
Dini terdiam.
Pagi itu,
Dini keluar dari kamar dan melihat Natalie sedang menelpon, ia mendekat.
Natalie menyimpan Hp-nya dan diam.
“Nat...” Dini duduk disamping Natalie, “apa dia menelponmu?”
Natalie menggeleng, “sekretarisnya yang menelponku”
“apa yang dia katakan?”
“dia memintaku datang ke Stark Enterprise”
“hari ini?”
“aku tidak akan pergi, Din”
“Nat...” Dini ingat dengan isi surat itu, “kau harus kesana”
“tapi Din, aku...”
“Nat, aku tau perasaanmu. Tapi kau harus kesana, pergilah” Dini menatap Natalie.
Natalie diam melihat expresi Dini.
“percayalah padaku, Nat”
Natalie menunduk.
Siangnya,
Natalie pergi ke SE.
Sekretaris Robert tersenyum, “Nat, kau tidak keberatan kan jika tidak dipanggil nona?”
“tak masalah, aku bukan pacar bos-mu lagi” Natalie mendekat, “ada apa? Apa dia yang menyuruhku kemari?”
“a..apa tuan tidak bilang apa-apa padamu?”
“?” Natalie menatap sekretaris itu.
“Nat, tuan sudah pergi. Dia kembali ke negaranya”
“pindah?”
“ya, kemarin malam”
Natalie diam.
“tuan bilang, akan tinggal bersama orang tuanya agar Harley tidak sendirian lagi”
“tinggal bersama orang tuanya?”
“bukan untuk kembali pada Jennifer, tapi demi kebaikan Harley”
“begitukah?” Natalie menahan kekecewaannya.
“dia sangat mencintaimu, Nat. Sebenarnya saat itu, dia ingin melamarmu” sekretaris itu memberikan kotak cincin pada Natalie.
Natalie menatapnya, “ini kan...?”
“yap, pelayan itu salah meja”
Natalie terdiam.
“dia sangat mencintaimu, Nat. Saat kalian bertengkar, tuan begitu kacau”
“aku tidak bisa menerimanya” Natalie mengembalikan kotak itu.
“aku tau, ini memang menyakitkan. Tapi aku tidak mungkin menyimpan ini, aku harus memberikannya padamu. Meski nanti, kau akan membuangnya”
Natalie mengambil kotak itu dan air matanya menetes.
“maafkan aku, Nat. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih, aku hanya ingin memberikan ini untukmu” sekretaris itu memberikan sebuah surat.
“apa ini? Surat perpisahan? Dia sudah memberikannya kemarin”
“bukan, Nat. Ini beasiswa”
“beasiswa?”
“ya, beasiswa untuk S2-mu. Tuan sudah mempersiapkan sejak dulu, tapi belum sempat diberikan padamu”
“ini terlalu berlebihan”
“Nat, tidak ada yang berlebihan. Sejak awal, tuan memang memiliki harapan besar padamu. Dan jika akhirnya seperti ini, aku tetap harus memberikan apa yang memang sudah jadi hakmu”
Natalie kembali diam.
***
Di kostan,
Natalie menatap surat Robert yang diberikan oleh Dini, “pria payah, kau tidak berani mengatakannya langsung dihadapanku” ia ingat jika Robert tidak bisa mengucapkan selamat tinggal, karena trauma masa lalunya.
Natalie pun mengingat semuanya, siapa yang sangka kisah cintanya harus berakhir seperti ini? Robert, pria dengan masa lalu yang begitu rumit, ternyata pergi meninggalnya. Ia tak bisa memungkiri jika cintanya memang begitu dalam kepada Robert, dan ia tau jika Robert juga sangat mencintainya. Namun takdir berkata lain.
Natalie ingat janji Robert saat Natalie menginap di rumahnya,...
Robert berhenti memainkan piano dan menatap Natalie, “aku akan menemanimu di wisuda nanti”
“janji?” Natalie yang duduk disamping Robert, tersenyum.
“janji”
Mereka berpelukan.
Namun kenyataannya, Natalie akan sendirian saat wisuda nanti.
Natalie masuk ke kamarnya sambil membawa surat itu, ia menatap gambar Harley yang ia tempel di dinding. Natalie juga ingat pada Harley...
“apa tante mencintai ayah?” Harley yang sedang mengambar, menatap Natalie.
“kenapa kau bertanya begitu?” Natalie kaget dan menatap Harley.
“maukah tante menjadi ibuku?”
Natalie tersenyum dan memeluk Harley.
Harley tersenyum, “aku sayang tante”
Air mata Natalie menetes dan ia pun mencabut gambarnya, Natalie menyimpannya ke sebuah kotak besar bersama surat perpisahan Robert. Ia juga menatap teddy bear pemberian Robert.
Natalie ingat, setiap malam ia memeluk boneka itu dan belajar dansa. Agar saat makan malam bersama Robert, mereka bisa berdansa dengan baik. Namun kenyataannya, mereka tidak akan pernah melakukan itu.
Natalie pun menyimpan boneka itu ke kotak yang sama dengan gambar Harley.
Ia mengeluarkan kotak cincin dari tasnya dan menyimpan itu ke tempat yang sama dengan barang lainnya. Ternyata memang benar, saat Dini menikah nanti, Natalie tetap sendirian. Dan dia akan sendiri di kostan atau ada teman baru yang akan menemaninya.
Natalie menutup kotak itu dan menggemboknya, air matanya terus menetes mengingat semua yang telah ia lalui bersama Robert.
“Natalie...” Dini masuk, ia sangat khawatir pada Natalie.
“Din...” Natalie menghapus air matanya dan berusaha tersenyum, “lihat, aku dapet beasiswa S2” Natalie memperlihatkan surat itu pada Dini.
Dini memeluk Natalie, ia tau jika Natalie begitu sedih. Dan Natalie pun hanya bisa menangis di pelukan Dini.
The End
___
Thank’s for reading…
Maaf kalau isinya kurang menarik, komentar kalian sangat berarti untuk Sherly! ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar