Author : Sherly
Holmes
Genre :
Romance-Drama, Friendship
Cerita ini adalah
fiktif belaka dan hanya untuk hiburan semata.
Malam itu,
“ah?” Natalie
terbangun.
Dini yang tidur di
sampingnya, kaget.
“Din...”
“ada apa?”
“aku mimpi buruk”
“ah...” Dini bosan,
“pasti selalu begini”
Sejak Robert pergi,
Natalie memang sering mimpi buruk.
“aku mimpi nyusul
Robert, tapi aku naik bis”
“naik bis? Bukankah
dia ke luar negeri?”
“makanya, aku gak
pernah nyampe ke rumah orang tuanya”
“ah... mimpi kamu
ada-ada aja deh”
“Din...”
“kenapa?”
“kalau dia gak
pernah kembali, bagaimana?”
“ngaco” Dini
menatap Natalie, “setiap pagi, dia selalu nelpon kan?”
Natalie mengangguk.
“itu tandanya, dia
masih milikmu”
Natalie mengangguk
lagi.
“udahlah, relax.
Liat boneka yang dia kirim, itu tandanya dia peduli sama kamu”
Natalie tersenyum
dan kembali tidur.
Pagi itu,
Seperti biasa,
Natalie sedang menelpon.
“jadi hari ini kamu
gak bimbingan?”
“iya, dosennya ada
acara”
“bagus”
“bagus apanya?”
“kamu bisa
istirahat di kostan”
“bosen, aku gak
bisa kemana-mana”
“kan ada Dini?”
“dia bimbingan.
Sebentar lagi juga, Huan jemput dia”
“ya gak apa-apa
dong, kan ada boneka yang aku kirim”
“tapi kan aku
pengennya kamu, bukan cuma boneka”
“aku juga kangen
kok”
“bagaimana kabar
Harley?”
“dia sangat senang,
dia janji akan jadi anak yang baik jika masuk SD nanti”
Natalie tersenyum,
“Robert, boleh aku menanyakan sesuatu?”
“yap?”
“apa Jennifer dekat
dengan orang tuamu?”
“yap, bahkan rumah
kami bersebelahan”
Natalie diam.
“sayang, jangan
berpikir yang tidak-tidak. Saat menyuruhnya pergi, berarti aku tidak ingin
berurusan dengannya lagi”
“sebenarnya, aku
tidak ingin membuat hubungan kalian rusak, apalagi jika dia dekat dengan orang
tuamu”
“ayolah, bisa kita
membicarakan hal lain?”
“ya...” Natalie
tersenyum, “setiap malam, aku selalu latihan dansa dengan bonekamu”
“oh ya? Aku
bersyukur kau suka dengan boneka itu, awalnya aku ragu untuk membeli teddy bear
itu”
“apapun yang kau
berikan, aku pasti akan suka”
“baiklah, aku ada
urusan sebentar. Nanti aku telpon lagi, ok?”
“ok” Natalie
menutup telponnya.
Dini yang duduk
disamping Natalie, menatapnya. Ia tersenyum, “bagaimana?”
“Robert mengurus
Stark Internasional, dia sedikit sibuk”
“berarti ada
kemungkinan jika dia akan tinggal disana? Disini kan, SE hanya cabang dari SI?”
“ya... mungkin”
Natalie sedih.
“jangan sedih, aku
yakin kok” Dini menatap Natalie, “jika dia pindah, dia pasti akan membawamu”
Natalie tersenyum.
Knock knock...
Seseorang mengetuk
pintu dan Natalie membukanya.
Natalie kaget
melihat Robert tersenyum di hadapannya, ia pun langsung memeluknya. Natalie
sangat senang, “akhirnya kau kembali”
Dini yang melihat
itu, terdiam.
“Nat...
Natalie...?”
Natalie sadar, itu
bukan suara Robert. Ia melepas pelukannya dan menatap orang yang ia peluk,
“Huan...?” Natalie menoleh dan melihat expresi Dini, “ma..maafkan aku” Natalie
langsung berlari.
“Natalie?” Dini
kaget.
Di taman kota,
Natalie duduk di
bangku taman, ia mulai menangis.
Ya Tuhan... ada apa denganku? Setiap malam aku mimpi
buruk, setiap hari aku begitu resah. Dan sekarang, aku mulai berhalusinasi.
Tolong aku ya Tuhan... jangan biarkan semua ini merusak pikiranku, Dini pasti
marah besar padaku. Karena aku baru saja memeluk pacarnya, padahal aku tidak
pernah bermaksud melakukan itu.
Hari mulai larut,
dan Natalie masih diam disana.
“Nat...”
Natalie menoleh dan
melihat Dini yang mendekat.
“kamu ngapain
disini? Aku khawatir banget, kamu kok gak pulang-pulang?”
“aku minta maaf,
Din. Aku tadi salah liat, aku merasa aku melihat Robert. Aku memeluknya, dan
ternyata itu... Huan”
“udahlah, lupain.
Aku ngerti kok” Dini tersenyum, “mending, kita pulang yu?”
Natalie mengangguk
dan mereka pun pulang.
Di kostan,
Natalie membuka
pintu dan terdiam melihat Robert yang sedang duduk.
“hey” Robert
tersenyum.
Ini pasti khayalan lagi, yang aku liat adalah Huan.
Natalie hanya diam.
“Nat, kok diem?”
Dini kaget, “itu beneran Robert” ia berbisik.
Natalie semakin
kaget, ternyata ia tidak berkhayal. Matanya langsung memerah.
Robert tersenyum
dan berdiri, ia mendekati Natalie. Robert menarik Natalie dan memeluknya.
Natalie mulai
menangis.
Robert mengelusnya,
“sayang..”
“a...aku senang,
kau sudah kembali...”
“iya sayang, aku
kan sudah bilang” Robert melepas pelukannya dan menatap Natalie, “aku pasti
kembali untukmu”
Natalie tersenyum
dengan air mata yang terus menetes.
Robert menatap Dini
dan kembali menatap Natalie, “boleh aku menciummu di depat Dini?”
Natalie tersenyum
malu dan Robert menciumnya.
“apa besok
bimbingan?”
“yap, jam 9 pagi”
“itu tandanya, kau
harus ke kantorku disaat siang”
“siap, bos”
Mereka tersenyum.
Dini bersyukur,
Robert telah kembali untuk Natalie.
***
Siang itu,
Natalie masuk ke
ruangan Robert, ia terdiam melihat anak laki-laki berseragam SD sedang
menggambar di meja Robert.
“selamat siang?”
Natalie mendekat.
“siang” anak itu
menatap Natalie, “tante Natalie, ya?”
“i..iya” Natalie
pun ingat pada anak laki-laki Robert, “apa kau Harley?”
“ya, aku anak pacar
tante”
“ah? Eh...” Natalie
kaget dan bingung.
“tidak usah bingung
seperti itu, aku mengetahui semuanya”
“semua..?” Natalie semakin
kaget.
“maukah kau duduk
di dekatku?”
“ya, ya... tentu”
Natalie mendekat dan melihat gambar buatan Harley, “wah... ini gambar apa? Apa
ini gambar bidadari?”
“itu ibu, ibu bisa
terbang karena berada di surga”
Natalie terdiam, ia
takut membuat Harley sedih. Tapi ia juga melihat sepasang pria dan wanita yang
sedang memegang tangan seorang anak laki-laki, “i..ini...?”
“itu ayah, aku dan
tante”
“ah?”
“tante kenapa?
Gambarku jelek?”
“enggak, sayang.
Gambar kamu bagus, tante cuma...”
Robert masuk dan
kaget melihat anaknya disana, “Harley?”
“hey ayah” Harley
tersenyum.
“ba...bagaimana kau
kemari?” Robert mendekat.
“aku naik bus
sekolah, aku meminta pak supir untuk mengantarku kemari”
“ta..tapi kenapa?”
Robert melihat ke arah Natalie dan kembali menatap Harley.
“karena aku rindu
ayah”
Natalie diam.
Robert mengelus
Harley, “sayang, bukankah kau sudah bersama ayah?”
“semenjak ibu
meninggal, ayah menitipkanku di rumah kakek” Harley menatap Robert, “dan ayah
pergi kesini, meninggalkan aku. Nenek bilang, ayah baik-baik saja. Tapi aku
tau, ayah tidak pernah baik-baik saja. Setiap hari, aku memikirkan ayah.
Terkadang aku menangis di kamar agar tidak ketauan kakek dan nenek, meski
sebenarnya mereka tau”
Robert diam.
“aku sayang ayah,
aku hanya ingin selalu berada disamping ayah”
“sayang” Robert
memeluk Harley, “Natalie”
“ya?”
Robert menatap
Natalie, “aku rasa, malam ini kita tidak bisa...”
“aku tau, aku
mengerti” Natalie tersenyum, “kita bisa pergi dansa di lain hari kan?”
Robert tersenyum,
“atau kau bisa pergi ke rumahku, malam ini?”
Di rumah Robert,
Natalie menemani
Harley mengerjakan PR.
“tante”
“ya?”
“apa ayah
benar-benar sedang memasak?”
“ya, dia ada di
dapur. Memangnya kenapa?”
“aku tidak menyangka
jika ayah akan memasak”
“emh..?”
“ayah tidak pernah
memasak setelah ibu meninggal” Harley menatap Natalie, “meski saat itu umurku
baru 3 tahun, tapi aku mengingatnya”
“wah... kau... kau
hebat sekali bisa mengingat semua itu” Natalie bingung untuk berkomentar.
“jika ibu masih
hidup, mungkin umur kalian tidak beda jauh”
“oh ya?”
“ya, ibu hampir
seusia ayah. Sebentar lagi ayah berumur 25, berapa usia tante?”
“21, tepatnya bulan
depan”
“emh... aku sudah
menduganya”
“benarkah?”
“ya” Harley diam.
“ada apa?”
“apa kau mencintai
ayah?”
“ke..kenapa kamu
bertanya seperti itu?”
“semenjak ibu
meninggal, aku belum pernah melihat ayah sebahagia ini. Dia pasti sangat
mencintaimu”
Natalie diam,
“aku...”
“selama ini, ayah
selalu menelpon dan bilang jika aku harus jadi anak yang kuat dan tegar. Aku
selalu berusaha untuk dewasa, tapi kenyataannya sulit. Aku masih anak-anak dan
aku membutuhkan orang tua, aku selalu sedih jika mengingat apa yang terjadi.
Tapi aku selalu bersembunyi setiap aku menangis, meski kenyataannya, nenek dan
kakek mengetahui itu”
“kenapa kau harus
sembunyi? Bukankah akan lebih baik jika kau terbuka pada kakek dan nenekmu?”
“aku tidak bisa,
karena aku tau. Jika mereka memberi tau ayah, ayah akan semakin sedih”
“Harley” Natalie
memeluk Harley.
Dan mereka pun
tidak menyadari jika Robert menguping dari luar kamar Harley.
Robert masuk ke
dalam, “saatnya makan malam” ia pura-pura tidak tau dengan apa yang mereka
bicarakan.
“asyik...” Natalie
tersenyum, “ayo sayang” ia mengelus Harley.
Harley pun
mengangguk.
Robert mengendong
Harley dan mereka pun pergi ke ruang makan.
***
Besoknya,
Natalie sedang
bimbingan di ruang dosen.
“bagus, lanjut ke
bab 5”
“beneran.. bu?”
Natalie kaget, tapi ia juga merasa senang.
“iya”
“makasih, bu.
Makasih”
Natalie pun keluar
dari ruang dosen dan melihat Robert yang
sedang bicara dengan beberapa dosen di depan kelas.
Robert menoleh dan
tersenyum, ia pun meninggalkan para dosen. Robert mendekati Natalie, “sudah
selesai?”
“ya...” Natalie
tersenyum, “kau sedang bicara apa dengan para dosen?”
“program beasiswa
baru, aku rasa, banyak orang yang membutuhkan itu”
“tuan Robert, kau
benar-benar dermawan”
“pasti” Robert
merangkul Natalie dan mengajaknya pergi.
Di jalan,
“jadi, bagaimana
kabar bimbinganmu?”
“semenjak dosenku
tau, kau pacarku. Dia berubah, dia jadi...”
Robert menatap
Natalie, “tidak galak? Tidak menyebalkan? Tidak membuat pusing...?”
“pokoknya, sekarang
aku udah bab 5”
“waw, bagus. Itu
tandanya, kau bisa wisuda bersama Dini. Iya kan?”
“akan ku usahakan”
“aku akan datang
kesana untuk mendampingimu”
“janji?” Natalie
menatap Robert.
“yap” Robert
tersenyum.
Saat mereka sampai
di kostan,
“hey, itu Dini dan
Huan” Robert melihat Dini yang baru membuka kunci kostan.
“ya, mereka abis
jalan-jalan”
“jalan-jalan?”
Robert menatap Natalie.
“tidak, aku
bercanda” Natalie tersenyum, “hari ini Huan mengajak Dini ke rumah orang
tuanya”
“emh... ternyata
mereka sudah benar-benar dekat dengan orang tua mereka?”
“bukan itu saja,
Huan sudah bertunangan dengan Dini”
Robert menatap
Natalie, “?”
“itu.. itu sangat
membahagiakan bagi wanita manapun di dunia ini” Natalie tersenyum membayangkannya.
“aku rasa, itu
biasa saja”
“ya... kau memang
berbeda dengan Huan”
Mereka pun masuk ke
kostan.
Natalie membuka
pintu dan melihat Huan yang sedang duduk di sofa.
“hey, Nat”
“hey” Natalie
tersenyum.
Robert masuk dan
menatap Huan.
“hey tuan Robert”
“hey” Robert duduk.
Natalie pun duduk
diantara mereka.
Robert menatap
Natalie dan Huan, “kau sudah bertunangan?”
Huan tersenyum,
“ya, aku akan mengajak Dini menikah setelah lulus nanti”
“wah... kau sangat
berani” Natalie memuji Huan.
Robert kesal, “kau
yakin akan menikahinya? Atau itu hanya rencana?”
“tuan Robert, aku
sudah mengajak Dini bertunangan. Itu tandanya, kami sudah terikat. Jika kau
membiarkan pacarmu berlama-lama tanpa kepastian, bisa-bisa dia diambil orang”
“maksudmu?” Robert
menatap tajam pada Huan.
Natalie kaget dan
diam.
“kau tenang saja,
Natalie tidak akan melakukan itu” Huan tersenyum, “aku tau jika Natalie sangat
mencintaimu, karena saat kau pergi, dia memelukku dan bilang jika dia
berhalusinasi”
“berhalusinasi...?”
Robert berpikir, “memelukmu?” ia semakin kaget.
Natalie panik.
Dini muncul membawa
tas tangan, “ayo Huan”
“ok, sayang” Huan
bangun.
Robert diam dan
Natalie begitu panik.
“a..ada apa, ini?”
Dini bingung melihat expresi mereka.
“kami permisi, tuan
Robert” Huan merangkul Dini dan mereka pun pergi.
Natalie menatap
Robert dengan sedikit takut.
“kau memeluknya?”
Robert menatap Natalie, “saat aku pergi?”
“a...aku...”
***
Di sebuah kedai,
“Huan, ada apa?”
Dini menatap Huan.
“kayanya aku salah
bicara deh”
“emangnya kenapa?”
“aku bilang ke
Robert kalau Natalie memelukku”
“ya ampun, kamu mau
bikin mereka marahan?”
“tadinya gak gitu,
tapi Robert menyebalkan”
“menyebalkan?”
“dia merasa
pertunangan kita itu tidak penting, padahal aku tau jika Natalie juga ingin
ikatan seperti itu darinya”
“ya... aku juga
tidak mengerti dengan pikiran laki-laki dewasa seperti dia”
Mereka kembali
makan.
Malamnya,
Di kostan, Dini
masuk ke kamar dan melihat Natalie sedang menelpon. Ia pun duduk disamping
Natalie.
Natalie tersenyum
kepada Dini dan melanjutkan pembicaraannya di telepon, “kau sedang apa?”
“aku habis
menidurkan Harley”
“ah... Harley”
“bagaimana kesanmu
terhadapnya?”
“dia anak yang
baik, aku rasa... dia begitu dewasa. Maksudku, sangat mengerti. Tidak seperti
kebanyakan anak kecil lainnya”
“ya, dia memang
luar biasa”
“ya, luar biasa.
Seperti ayahnya”
“apa kau
menyukainya?”
“tentu, dia anak
yang hebat”
“aku senang
mendengarnya, awalnya aku cemas saat kalian bertemu. Aku takut, Harley
membuatmu tidak nyaman”
“tidak, sayang.
Tentu tidak” Natalie tersenyum, “kami bahkan sudah menjadi teman”
“ya, aku lihat
gambar buatan Harley. Aku tidak menyangka jika dia membuat itu untuk kita”
“ya, aku juga sudah
lihat”
“ok, selamat malam.
Semoga tidurmu nyenyak”
“kau juga” Natalie
menutup telponnya.
Dini menatap Natalie,
“aku minta maaf soal Huan”
“sudahlah, tidak
apa-apa. Robert tidak marah” Natalie merangkul Dini, “kau sangat beruntung
memiliki Huan, bagiku... dia sangat gentle. Kalian sudah bertunangan, tinggal
satu hal lagi dan semua sudah tenang” Natalie agak sedih, “tapi Robert tidak
begitu”
“hey, kamu dan
Robert itu masih baru, kan? Aku dan Huan sudah pacaran lama”
“tapi untuk
membuktikan keseriusan, tidak usah menunggu waktu lama kan?”
“Nat, apa kau tidak
melihat keseriusan dari Robert? Dia meminta Jennifer untuk pergi dari hidupnya,
dia kembali kesini setelah pergi begitu lama”
“aku tau, mungkin
aku memang kurang sabar”
“santai saja, bisa
saja Robert menjadi cinta pertamamu dan terakhirmu. Semoga kalian menikah
disini, jika kalian menikah di negara Robert, aku gak punya ongkos” Dini
tersenyum.
“mana mungkin kami
membiarkanmu, kau dan Huan pasti akan menjadi tamu spesial di pernikahan kami”
Mereka tertawa.
“kita berkhayal
kejauhan deh...” Natalie memeluk boneka teddy bear-nya.
***
Siang itu,
Robert sedang menelpon
Natalie di ruang kerjanya.
“maafkan aku,
sayang”
“emh... padahal,
aku pengen banget ketemu kamu” Natalie agak sedih.
“iya, aku juga
kangen. Tapi aku ada rapat siang ini, nanti sore aja ya?”
“iya deh”
“bye...” Robert
menutup telponnya, “ah...”
Knock knock...
Huan masuk,
“selamat siang, Robert”
“duduk, Huan”
“ada apa kau
menghubungiku?”
“dengar, Natalie
sangat mengagumimu. Aku tidak bicara tentang pelukan dan halusinasi, tapi...”
“masalah
pertunangan?”
“yap...” Robert
diam.
“ini sangat mudah,
tuan. Saat kau yakin dia adalah pasanganmu, maka kau harus mengikatnya agak
tidak diambil orang”
“apa itu alasanmu
bertunangan?”
“tentu tidak, kami
sudah berpacaran sejak lama dan aku merasa, aku harus melakukan itu”
Robert menatap
Huan.
“Dini perempuan
yang baik, aku sangat bersyukur bisa memilikinya. Maka dari itu, aku
mengajaknya bertunangan dan...”
“?”
“itu juga salah
satu cara untuk membuktikan jika aku serius padanya” Huan menatap Robert,
“bukankah anda sudah berpengalaman? Anda memikili segalanya, kenapa anda tidak
melakukan itu kepada Natalie?”
“aku rasa, aku
tidak perlu melakukannya. Bertunangan belum tentu menikah, kan?”
“tapi cinta saja
tidak cukup”
Robert diam.
“aku tau jika
bertunangan tidak selalu berakhir dengan pernikahan, tapi setidaknya dia tau
jika kita serius padanya”
“dengar, Huan.
Seperti katamu, aku mudah melakukan itu. Bahkan aku bisa langsung mengajaknya
menikah, jika perlu. Aku rasa, bertunangan hanya simbol belaka”
“setiap orang
memiliki prinsip yang berbeda, tuan. Tapi aku rasa, apa yang kami pikirkan itu
wajar. Karena mungkin, setiap anak muda berpikir seperti itu. Anda sudah
dewasa, anda pasti mengerti”
“aku sangat
mengerti” Robert menatap Huan, “aku ingat, istriku sangat bahagia saat pertama
kali aku melamarnya”
Huan terdiam.
“hey, bagaimana
jika kita ke kostan mereka sekarang?”
“ide bagus” Huan
tersenyum.
Di kostan,
“selamat sore”
Robert masuk.
“Robert, kau
bersama Huan?” Natalie yang sedang duduk di sofa, menatap mereka.
“eh...” Robert
bingung.
“tadi kami bertemu
di jalan, aku menumpang” Huan tersenyum dan berharap alasannya tidak
mencurigakan.
“bohong” Natalie
menatap Huan, “jadi tuan Robert, kau sebenarnya tidak rapat kan tadi siang?” ia
menatap tajam pada Robert.
Robert tersenyum
bingung, ia pun pasrah jika Natalie akan marah.
Dini yang mendengar
itu, langsung muncul. Ia mendekati Huan, “aku senang, kau datang. Ayo bantu aku
membuat minum untuk Robert”
“i..iya” Huan
mengikuti Dini ke belakang.
Robert mendekati
Natalie dan duduk disampingnya, “Natalie...”
“cukup, kamu selalu
berbohong padaku. Tadi aku menelpon sekretarismu, dia bilang, kau tidak rapat”
“dan dia juga
bilang, jika Huan datang? Natalie, aku tidak bermaksud begitu”
“oh, jadi apa? Kau
selalu menutupi sesuatu dariku” Natalie kesal, “aku pacarmu”
“aku tau, aku...”
“hey, hey...” Dini
mendekat sambil membawa segelas air, “rasanya sore ini begitu panas ya?” ia
menyimpannya di meja.
Robert tersenyum.
Natalie menatap
Dini, “terima kasih” ia meminum air tersebut.
“Na...Natalie, itu
untuk Robert” Huan kaget.
Natalie menatap
tajam pada Huan.
Huan agak takut
melihat Natalie.
“e..e...
sepertinya, kami harus pergi” Dini memegang tangan Huan, “i..iya kan, Huan?”
“iya”
Mereka pun
meninggalkan kostan.
Natalie kembali
menatap Robert.
Robert menunduk,
“a..aku hanya...” ia menatap Natalie, “aku hanya iri padanya, dia terlihat
begitu hebat di matamu”
Natalie diam.
“mungkin aku memang
pria yang penuh dengan kekurangan, tidak bisa membuat bahagia pasangannya.
Seperti Huan membahagiakan Dini”
“pengecut”
“kau benar” Robert
berdiri, “aku rasa, aku harus pulang”
Natalie diam.
Robert menatap
Natalie dan berjalan ke arah pintu, “besok aku benar-benar rapat. Jika kau
tidak percaya, kau boleh menelpon sekretariku”
“Robert...”
Robert menoleh.
“jika aku melakukan
hal yang sama denganmu, apa yang akan kau lakukan?”
“maksudmu?”
“banyak perempuan
cantik di dunia ini, aku hanya perempuan biasa yang uangnya pas-pasan. Aku
bukan perempuan yang setiap hari ke salon dan merawat diri, aku selalu tampil
apa adanya. Apa yang kau lihat dariku?”
“kau punya hati
yang baik, aku mencintaimu karena kau sangat menarik bagiku”
“begitu juga aku”
Natalie berdiri, “sejujurnya, aku begitu mengagumimu saat itu. Pria hebat dan
terkenal, dermawan dan... ya Tuhan... aku benar-benar tidak menyangka saat kau
jadi pacarku. Pacar seorang wanita biasa yang tidak punya apa-apa”
Robert mendekati
Natalie, “maafkan aku, aku melakukan semua itu karena aku takut. Aku takut
kehilanganmu”
Natalie tersenyum.
“kau memaafkan
aku?” Robert mencium Natalie.
“tunggu” Natalie
menatap Robert, “kemarin kamu nge-bully Huan, iya kan?”
“sayang, aku...”
“itu gak baik,
Robert”
“iya aku tau, tapi
kemarin dia menyebalkan”
“ya, tetap saja itu
tidak baik”
“ok, tapi kami
baik-baik saja kan?”
“tapi kau tetap
harus minta maaf”
“baik, aku akan
melakukannya”
Natalie menatap Robert.
“aku akan memasak
malam ini, untuk kalian. Kau, Dini dan Huan”
“dan kau ikut untuk
makan malam?”
“tidak, aku harus
pulang”
Natalie agak
kecewa, “aku mengerti, Harley ingin ayahnya cepat kembali. Iya, kan?”
“yap, maafkan aku”
“tidak apa-apa”
Natalie menatap Robert, “jika aku menua, kulitku keriput dan rambutku memutih.
Apa kau akan tetap mencintaiku?”
“jika kau sekarang
tiba-tiba tua, aku akan kabur darisini. Tapi jika yang kau maksud di masa
depan, tentu aku tetap mencintaimu. Karena aku pun akan mengalami hal yang
sama”
“dasar” Natalie
tersenyum.
Mereka pun
berpelukan sambil tertawa.
Setelah memasak,
Robert menaruh
masakannya di meja, “bagaimana?”
“lumayan” Natalie
tersenyum, “kau memang jago memasak, ya?”
“memang”
“emh..” Natalie
mendekati Robert dan menatapnya, “aku harap, jika menikah nanti, kau
membiarkanku memasak”
“maksudmu?”
“maksudku, kau
bekerja dengan giat di kantor. Aku di rumah, memasak dan mengurus Harley”
“eh... kau akan
membuang gelar sarjanamu begitu saja?”
“tidak, jika kita
menikah, aku otomatis menjadi nyonya CEO. Iya, kan?”
“sungguh pintar,
apa kau mahasiswa ilmu politik?”
Mereka berciuman.
“selamat malam”
Dini membuka pintu dan terdiam melihat itu.
Huan yang ada di
belakang Dini pun ikut diam.
“eh, selamat malam”
Natalie tersenyum malu.
Robert tersenyum,
“kalau begitu, aku harus pulang”
“ya... hati-hati di
jalan” Natalie menatap Robert.
Mereka berciuman
lagi dan Robert pun pergi.
Dini dan Huan
saling tatap, tapi mereka bersyukur karena pasangan itu sudah akur kembali.
“eh... lihat, Robert
memasak makan malam untuk kita” Natalie tersenyum pada Dini dan Huan.
“benarkah?” Dini
tersenyum.
“wah, sepertinya
enak” Huan senang.
Mereka pun makan
malam.
Di rumah Robert,
“ayah pulang”
Robert membuka pintu.
“ayah” Harley
berlari dan memeluk Robert.
“hey sayang” Robert
menggendongnya.
“aku titip ini
untuk tante Natalie” Harley memberikan sebuah lipatan kertas kepada Robert.
“ok”
Sore itu,
Natalie sedang
menyapu di kostan.
Knock knock...
“ya, sebentar”
Natalie membuka pintu.
“selamat sore”
Robert menatap Natalie.
“ya ampun, ternyata
‘tuan so sibuk’ yang datang? Aku kira, Dini”
Robert tersenyum,
“memangnya Dini kemana?”
“skripsinya udah
selesai, dia lagi ngurus-ngurus buat sidang”
“waw, bagaimana
denganmu?”
“sebentar lagi.
Kalau ini di acc, aku juga nyusul kok”
“ok, good”
Mereka berciuman.
“o iya, Harley menitipkan
ini untukmu” Robert memberikan kertasnya.
“emh... aku tau ini
apa”
“yap, gambar kita”
“calon keluarga?”
Natalie tersenyum, “aku akan menempelkannya di kamar dan berharap ini akan
segera jadi kenyataan”
“oh, ya...?” tapi
Robert tiba-tiba diam.
“ada apa?”
“sebenarnya aku
sedikit lelah”
“emh... duduklah”
Robert duduk di
sofa, “pijitin dong, nih pundak aku”
“dasar kakek-kakek”
Natalie duduk dan mulai memijit, “bagaimana tuan, enak?”
“lumayan”
“emh... dasar
laki-laki, mau enaknya doang”
Robert menoleh,
“apa kau bilang?”
“laki-laki mau
enaknya doang”
“awas ya”
Mereka berpelukan.
“hey, aku sudah
mendekor kamar untukmu”
“di rumahmu?”
“yap”
“Robert, aku sudah
bilang kan? Aku gak bisa move in sama kamu”
“ya, siapa tau
kapan-kapan kau menginap?”
Natalie tersenyum,
“sini, lanjutin pijitnya”
“ok, bagus. Tolong
yang sebelah sini juga”
“iya, tuan tampan”
“apa kau bilang?”
“tuan tampan”
“terima kasih, nona
cantik”
Natalie memeluk
punggung Robert sambil tersenyum.
“hey, kenapa malah
dipeluk? Katanya mau mijitin?”
Natalie tertawa.
Dini masuk, “sorry,
aku kira...”
“gak apa-apa, mana
Huan?” Natalie tersenyum.
Robert bersandar ke
pundak Natalie.
“dia udah pulang”
Dini tersenyum dan masuk ke kamarnya.
Natelie mengelus
Robert, “kamu jangan sakit, ya?”
“aku gak bakalan
sakit kalau masih bisa ketemu kamu” Robert menatap Natalie.
“dasar” Natalie
mencium kening Robert.
“ah... aku jadi
ngantuk”
“kamu mau tidur di
sofa?”
“ya enggaklah, aku
tidurnya sama kamu”
“Robert?” Natalie
mendorong Robert.
“sayang, aku kan
bercanda” Robert mengelus Natalie, “padahal kita suka pelukan dan berciuman”
“kalau gitu, mulai
sekarang gak usah ngapa-ngapain”
“hey, kok malah
tambah marah?”
“lagian kamu gitu
terus”
“Natalie, aku
selalu menghargai semua itu. Aku tidak akan bertindak lebih” Robert mengangkat
tangan dengan pasrah, “aku tidak ingin kehilanganmu”
Natalie tersenyum,
“jadilah ayah yang baik untuk Harley, buat aku bangga”
“ok, boleh minta
cium?”
“tentu”
Setelah mereka
berciuman, Robert pun pulang.
Natalie menutup
pintu dan melihat Dini keluar dari kamarnya.
“kau tau? Aku
selalu bahagia melihat kalian bersama” Dini tersenyum.
“kenapa?”
“karena aku akan
merasa tenang. Jika aku menikah dan pergi meninggalkanmu, aku tidak akan
khawatir karena Robert ada disampingmu”
Natelie tersenyum,
“aku rasa, saat kau menikah, aku masih seperti ini”
“kenapa?”
“Robert butuh
proses, trauma masa lalunya masih membayanginya”
“tapi aku yakin,
dia memang serius padamu. Sangat serius”
“aku tau itu”
Mereka pun masuk ke
kamar.
***
Natalie bangun, ia
ingat jika hari ini adalah ulang tahunnya. Natalie senang, ini adalah hari yang
sangat besar untuknya. Meski kenyataannya sulit, karena teman sekelasnya pasti
ingin di traktir. Aduh... Natalie
memegang kepalanya.
Dini membuka pintu
kamar, “Natalie”
“apa? Kamu mau
ditlaktir?”
“bukan itu, gimana
kalau hari ini kita makan bareng? Aku sama Huan, kamu sama Robert. Tapi kalau
dipikir-pikir, ditelaktir enak juga sih...” Dini tersenyum.
“dasar”
Di perusahaan,
“ya Tuhan... hari
ini Natalie ulang tahun” Robert hampir lupa dan ia pun keluar dari ruangannya.
Sekretaris
tersenyum, “tuan...”
“hari ini aku tidak
bisa diganggu, Natalie ulang tahun. Aku harus segera menemuinya”
“maaf tuan, tapi
kolega anda sebentar lagi datang”
“batalkan saja”
“tidak bisa, kolega
ini adalah teman dari ayah anda. Beliau sering bekerjasama dengan Stark
Internasional, waktunya terbatas. Beliau ingin, pertemuannya dengan anda bisa
berakhir malam ini juga”
“apa?” Robert
kaget. Itu tandanya, ia tidak bisa bertemu dengan Natalie.
Di kampus,
Setelah bimbingan,
Natalie menelpon Robert.
“hallo?”
“sayang, kamu
dimana?”
“maafkan aku, aku
ada rapat mendadak. Kolegaku sudah datang, Nat” Robert menutup telponnya.
“hallo? Robert?”
Natalie kecewa, ia menghubungi Robert lagi. Tapi Hp Robert tidak aktif, Natalie
pun diam.
Dini mendekat,
“kenapa?”
“Robert gak mau
diganggu”
“lah, bukannya
kalian udah janjian?”
“iya, tapi dia
tiba-tiba ngebatalin. Katanya dia sibuk”
“harusnya kalau dia
udah janji duluan sama kamu, semuanya bisa dipending”
“aku juga gak tau,
kayanya aku pulang aja deh”
“Nat” Dini
menghalangi Natalie.
“kenapa sih? Kamu
pengen di tlaktir? Nih, aku kasih uangnya”
“bukan itu, Nat.
Liat deh”
Natalie melihat
teman sekelasnya sudah bersiap menunggu tlaktiran, “ok, kita pergi”
Di perusahaan,
Robert berusaha
fokus, meski sebagian pikirannya tertuju pada Natalie. Ia hanya berharap,
Natalie bisa memakluminya.
Hari mulai larut,
Natalie dan Dini
kembali ke kostan.
“bener-bener gak
ada kabar?” Dini menatap Natalie.
“Hp-nya masih gak
aktif, kayanya dia emang gak niat. Udahlah Din, aku cape” Natalie masuk ke
kamar.
Dini hanya diam, ia
tau jika Natalie sedang sedih.
Di kamar,
Natalie menangis,
ia ingat. Robert pernah bilang, jika ia harus terbiasa dikecewakan karena
pekerjaan Robert yang begitu sibuk. Namun kenyataannya, hal itu tidak mudah.
Hari spesialnya berubah jadi menyedihkan karena tidak ada Robert disampingnya.
Sementara itu, Dini
menyiapkan makan malam, ia berharap jika Natalie akan keluar dari kamarnya.
Knock knock...
“iya” Dini membuka
pintu.
“hey” Robert
tersenyum, “boleh aku masuk?”
“kemana saja, kau?
Hp gak aktif”
“uh... kau marah
padaku?” Robert menatap Dini.
“apa kau tidak
punya perasaan? Ini hari special untuk Natalie”
“aku tau itu, tapi
tidak semua yang terlihat salah itu benar-benar salah kan?”
“maksudmu?”
“aku datang kesini
untuk bertemu dengannya”
“dia di kamar,
mungkin dia tidak mau bertemu denganmu”
“mungkin dia
sedikit marah” Robert tersenyum dan masuk ke kamar Natalie.
Di kamar,
“hey, honey”
Natalie menoleh, “mau
apa?”
“mengucapkan
selamat ulang tahun” Robert mendekati Natalie.
“kau terlambat”
“tidak, ini masih
hari ulang tahunmu”
“terserah kau saja”
“hey, aku minta
maaf”
“apa yang membuatku
begitu mudah untuk memaafkan semuanya?”
“aku sudah mendekor
kamar, untukmu. Beberapa hari yang lalu” Robert menatap Natalie.
Natalie tersenyum
dan memeluk Robert.
“jadi kau sudah
tidak marah padaku?”
“masih
dipertimbangkan”
“aku ingin
mengundangmu menginap malam ini, di rumahku”
“dengan kamar
dekorasimu?”
“yap”
“ok”
“ok” Robert
tersenyum.
Mereka berciuman.
Malam itu,
Robert mengajak
Natalie ke rumahnya, ini adalah kedua kalinya Natalie datang. Rumah yang luas
dan besar, Natalie belum bisa membayangkan jika nantinya ia akan tinggal
disana.
Robert membuka
pintu, “ayah pulang”
“asyik, ayah udah
pulang” Harley tersenyum melihat Natalie, “tante?”
“hey, Harley”
Natalie mengelus Harley.
“hari ini Natalie
ulang tahun” Robert menatap Harley.
“benarkah? Selamat
ya, tante” Harley memeluk Natalie.
“terima kasih”
Natalie pun memeluk Harley.
“aduh, aku kok jadi
ngantuk” Harley langsung pergi.
“mencurigakan”
Natalie menatap Robert.
Robert kaget, “apa?
Aku tidak melakukan apapun”
“terus, kenapa
Harley tiba-tiba pergi ke kamarnya?”
“mungkin karena dia
tau, kalau kita pengen berduaan” Robert tersenyum dan memeluk Natalie.
Natalie sangat
senang, ia memang sangat berharap untuk semakin serius dengan Robert.
“aku mencintaimu,
Natalie”
Natalie tersenyum
dan air matanya menetes.
“hey, kenapa?”
“aku gak apa-apa”
Natalie kembali memeluk Robert.
Pagi itu,
Natalie membuka
matanya, ia melihat Robert yang masih tertidur disampingnya. Natalie bangun dan
terdiam, apakah pria itu benar-benar akan menjadi pendamping hidupnya?
“tante” Harley
masuk.
“sayang?” Natalie
mendekati Harley dan mengajaknya keluar, “ada apa?”
“aku pengen
sarapan, aku pengen nyobain masakan tante”
“ok” Natalie
tersenyum, “kamu tunggu di ruang makan ya?”
“gak mau, aku mau
di sana” Harley menunjuk sebuah ruangan.
“ok” Natalie mulai
menuruni tangga dan berjalan ke dapur.
Setelah memasak, Natalie
masuk ke ruangan tadi. Disana sudah ada Harley yang sedang memainkan piano.
Natalie mendekat,
“hebat sekali” ia menyimpan makanannya dan duduk disamping Harley.
“ayah yang
mengajariku”
“begitukah?”
“ya, saat aku
kecil, ayah suka nyanyi sambil main piano. Tapi ayah gak pernah main piano lagi
setelah ibu meninggal” Harley menunduk.
Natalie memeluk
Harley.
“aku selalu sedih
mengingatnya, sekarang semua sudah berubah. Tapi aku harap, setelah tante
muncul, ayah akan kembali seperti dulu”
“sayang...” Natalie
mengelus Harley, “udah ya, mending kamu sarapan dulu”
Di kamar,
Robert membuka
matanya, “emh...” ia bangun dan keluar dari kamar, Robert melihat Harley yang
sudah bersiap untuk sekolah dan Natalie yang sedang merapikan rambut Harley.
“ayah” Harley
tersenyum.
Robert mendekat,
“maaf jadi merepotkanmu” ia menatap Natalie.
“tidak, Harley anak
yang mandiri” Natalie tersenyum.
Robert mengelus
Harley, “tentu, dia anakku”
Bus sekolah pun
datang.
“ayah, aku pergi
dulu ya. Bye, tante” Harley pergi.
“hati-hati” Natalie
tersenyum.
Robert merangkul
Natalie.
Natalie menatap
Robert, “kamu baru bangun”
“emang kenapa?”
Mereka berciuman.
“eh, di atas ada
piano kan?”
“emangnya kenapa?
Kamu mau main?”
“aku gak bisa, kamu
dong yang main”
“males ah”
“tapi Harley
bilang, kamu jago main pianonya”
“ya udah, ayo”
Robert merangkul Natalie.
Di ruang piano,
“kamu pengen lagu
apa?”
“Try to Remember”
“emh...”
“I know Him by
Heart?”
“eh...”
“apa dong?”
Robert mulai
memainkan pianonya dan menyanyi...
I
swear... by the moon and the stars in the sky
I
be there...
And
I swear... like the shadow that’s by your side
I
be there...
For
better or worse... ‘till that do us far...
I’ll
love you with every beat of my heart
I
swear...
(I
Swear – All-4-One)
Robert menatap
Natalie dan menciumnya, mereka pun tersenyum dan berpelukan.
“aku ingin makan
malam bersamamu” Robert berbisik.
“apa ini sebagai
pengganti karena kau tidak bisa mengajakku kemarin?”
“maybe” Robert
mencium pipi Natalie, “aku antar kau ke kostan, tapi kau harus janji, malam ini
kita pergi”
“sure” Natalie
menatap Robert, “aku malah lebih khawatir, jika kau yang tidak bisa pergi”
“why?”
“karena rapat
mendadak”
“tidak, hari ini
aku libur. Aku akan menjemputmu jam 7 malam. Deal?”
“deal”
Robert pun
mengantar Natalie pulang.
***
Natale sedang
berdandan karena sebentar lagi, Robert akan datang.
“jadi dia
benar-benar menyanyikan lagu itu untukmu?”
“yeah, I SWEAR. Itu
terdengar seperti...”
“ya ampun Natalie,
lagu I SWEAR? Itu mirip seperti janji suci yang diucapkan dalam pernikahan”
Dini girang.
“maksudmu?”
“mungkin itu
tanda-tanda jika Robert sudah mantap padamu”
“gak mungkin, Din.
Ada juga kamu duluan kali, Huan kan udah ngajak kamu tunangan”
“jangan-jangan, dia
mengajakmu makan malam sekalian melamarmu”
“udah ah, gak usah
expektasi kejauhan. Entar jadinya kecewa”
“yah... dibilangin
juga, aku ini udah berpengalaman”
“iya deh, iya”
Knock knock...
“itu pasti Robert”
Natalie tersenyum.
“ya udah, cepet
sana” Dini tidak sabar.
Natalie membuka
pintu, “hey” ia tersenyum pada Robert yang berdiri disana.
“hey” Robert
mencium Natalie, “kau sudah siap?”
“tentu”
Robert melihat Dini
yang tersenyum, “Din”
“hati-hati” Dini
menggeleng.
Robert merangkul
Natalie dan mereka pun pergi.
Di sebuah
restorant,
“jadi kamu udah
pesen makanannya duluan?” Natalie menatap Robert.
“yap, aku ingin
yang spesial untuk pasanganku”
“kau ini” Natalie
tersenyum.
“kenapa lama sekali
makanannya?” Robert melihat ke sekitar.
“ada apa? Kamu kok
kaya yang gak tenang?”
“emh... aku
baik-baik saja” Robert tersenyum.
Seorang pelayan mendatangi
meja yang ada di sebelah mereka, disana sebuah cincin diamond terlihat dan
semua pengunjung menjadi ramai.
Natalie kaget
melihat itu, “wah... ada yang ngelamar pacarnya disini, so sweet banget ya?”
Natalie menatap Robert.
Robert terdiam,
“yap...”
“Robert, kamu
kenapa?” Natalie kembali merasa aneh, “kamu sakit?”
“a... aku mau
pulang”
Aneh... bukannya pesanan kami belum datang?
Natalie bingung, “ok, ayo pulang”
Mereka pun pergi.
Di jalan,
“kamu gak apa-apa
kan?”
“aku baik-baik
saja” Robert begitu serius menyetir.
“Robert, apa
kejadian di restorant membuatmu sakit? Apa dulu, kau melamar istrimu seperti
itu?”
Kiiik....
Robert menghentikan
mobilnya.
“apa aku salah
bicara?” Natalie semakin khawatir.
“maafkan aku”
Robert menatap Natalie dengan sedikit sedih.
Kenapa dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya padaku?
Natalie mengelus Robert, “tidak apa-apa, aku rasa... kau perlu istirahat
sekarang”
“terima kasih, Nat”
Setelah sampai di
kostan,
Dini kaget melihat
Natalie, “kok udah pulang? Robert mana?”
“aku juga gak
ngerti kenapa? Awalnya Robert terlihat bahagia dan bersemangat, tapi saat meja
sebelah kami melakukan lamaran...” Natalie sedih, “dia tiba-tiba berubah”
“maksudmu?”
“aku juga gak
ngerti, Din” Natalie duduk disamping Dini, “mungkin dia ingat masa lalunya
bersama sang istri, atau mungkin dia takut dengan hal-hal berbau lamaran”
“maksudmu...
traumanya?”
Natalie mengangguk,
“dia benar-benar berubah setelah kejadian tadi”
Dini diam, ternyata
Robert adalah pria yang begitu sulit untuk difahami.
Besoknya,
Robert datang ke
perusahaan.
“maaf tuan, tadi
ada yang mengantarkan sesuatu” sekretaris memberikan sebuah kotak cincin kepada
Robert.
“simpan saja”
“tapi tuan... orang
itu bilang, ini milik anda. Dia bilang, dia sangat menyesal karena
memberikannya ke meja yang salah”
Robert menatap
kotak itu, “aku sudah berusaha meyakinkan diriku untuk ini, tapi hasilnya
selalu gagal”
“tuan...”
sekretaris itu tidak tega untuk menyimpan kotak tersebut.
“saat Natalie ulang
tahun, aku sudah membeli cincin itu. Aku akan melamarnya di hari spesialnya,
hari ulang tahunnya. Tapi kenyataannya, ada rapat yang harus aku selesaikan.
Dan tadi malam... tadi malam aku ingin memberinya sebuah kejutan dengan cincin
itu, tapi pelayan itu malah mengantarkannya ke meja lain. Meja yang ada di
sebelah kami”
“tuan, aku rasa
tuan harus...”
“selamat siang”
seorang perempuan tersenyum.
“Alleta?” Robert
menatap perempuan itu.
“hey Robert, lama
tak bertemu. Bagaimana kabarmu?”
“baik” Robert
tersenyum, “bagaimana dengan pekerjaanmu?”
“sangat menyenangkan”
Alleta tersenyum, “ingat saat kita kuliah dulu? Aku ingin pergi ke sebuah cafe”
“ya, mengenang masa
lalu” Robert tersenyum. Saat mereka pacaran dulu, mereka sering ke cafe.
Di kampus,
Natalie sedang
bimbingan, ia begitu gelisah dengan skripsinya.
“baiklah Natalie,
akhirnya kau selesai” dosen itu tersenyum.
“jadi, skripsiku di
acc bu?”
“yap, selamat ya”
“makasih bu,
makasih banyak” Natalie sangat senang.
Di luar,
Dini sudah menunggu
Natalie, ia tersenyum melihat Natalie keluar.
“Dini” Natalie
berlari gembira, “aku di acc”
“yang bener?”
“nih, liat”
“wah, selamat Nat”
Mereka berpelukan.
“ini harus
dirayakan” Natalie begitu bersemangat.
Di sebuah cafe,
“aku senang bertemu
denganmu, sungguh” Robert menatap Alleta.
“kau bohong, kau
terlihat sedang ada masalah”
“aku baik-baik
saja, aku hanya...”
“kau sedang
dilema?”
“yap” Robert diam,
“aku ragu jika aku serius menjalin sebuah hubungan”
“siapa perempuan
itu? Siapa orang yang bisa membuatmu jatuh cinta lagi? Aku jadi penasaran”
Alleta tersenyum.
“Robert?” Natalie
yang datang bersama Dini, menatap Robert.
Robert menoleh,
“Natalie?”
Alleta menoleh,
“hey” ia tersenyum, “apa kau pacar Robert?”
Natalie mendekat,
“yap, siapa kau?” ia menatap Alleta.
“sayang, ini
Alleta. Mantanku saat kuliah” Robert tersenyum, “Alleta, ini Natalie”
“harusnya sejak
awal aku bertanya, berapa banyak perempuan yang dekat denganmu?” air mata
Natalie menetes.
“Natalie...” Robert
mau berdiri dari tempat duduknya.
“diam” Natalie
marah pada Robert, “aku benci padamu” ia pergi.
Dini yang bingung
pun mengikuti Natalie.
Robert diam.
“kenapa kau diam?”
Alleta menatap Robert, “kejar dia, dia butuh penjelasanmu”
“aku...”
“Robert, kau ini
kenapa?”
“aku rasa, dia
ingin sendiri”
“Robert, kau bilang
kau ingin melamarnya kan? Lakukan, setiap wanita akan luluh dengan itu”
“Alleta, aku sudah
berpengalaman”
“iya, tapi
kepergian istrimu membuatmu berubah menjadi seorang pengecut”
“aku memang
pengecut” Robert menatap Alleta, “aku punya banyak mantan pacar yang masih
dekat denganku”
“termasuk aku”
“dan aku punya
trauma yang besar karena kepergian istriku”
Alleta diam.
“aku memang
pengecut, dan Natalie tau itu” Robert pergi.
Alleta agak kesal,
“kau memang orang yang membingungkan”
Di perusahaan,
Robert masuk ke
ruangannya, ia duduk diam mengingat semuanya. Robert menunduk.
“tuan?” sekretaris
masuk.
“itu semua salahku,
aku yang membuat Selly meninggal. Aku yang menyetir mobilnya”
“tuan, itu semua
kecelakaan”
“sekarang, aku juga
yang membuat semuanya berantakan. Setiap masalah yang terjadi antara aku dan
Natalie, selalu aku yang menjadi penyebabnya” Robert kesal pada dirinya, “aku
bodoh, pengecut, memiliki trauma akut, aku gila” ia menatap sekretarisnya.
“tuan, tenangkan
dirimu”
“dia perempuan yang
baik, aku tidak pantas untuknya”
“tuan... tuan harus
percaya, tuan harus bisa memantapkan hati tuan dalam memecahkan masalah ini.
Tuan harus percaya jika tuan dapat menyelesaikan semuanya dengan melakukan yang
terbaik”
Robert diam.
“lakukanlah yang
menurut tuan benar”
Malamnya,
Robert pergi ke
kostan Natalie, Dini membuka pintu.
“hey, Din”
“Robert?” Dini
kaget.
“apa aku boleh
masuk?”
“te..tentu,
silahkan”
Robert masuk, “mana
Natalie?”
“semenjak pulang
dari cafe, dia terus diam di kamarnya”
“aku akan
menemuinya”
Dini mengangguk.
Di kamar Natalie,
Knock knock...
Robert masuk,
Natalie diam melihat Robert.
“Natalie... aku
kesini untuk...”
“kau mau
menjelaskan semuanya?”
Robert mengganguk
dan mendekati Natalie, “aku sudah bilang, kan? Alleta mantan pacarku saat
Kuliah, aku juga pernah bilang padamu jika...”
“kau berhubungan
baik dengan semua mantan pacarmu?”
“yap...” Robert
diam dan kembali menatap Natalie.
“seharusnya kau
bilang padaku terlebih dahulu, agar aku bisa memakluminya dan aku...”
“tidak akan marah
seperti tadi?”
Natalie diam.
“aku tau ini sangat
sulit untukmu”
“sulit?” Natalie
menatap Robert, “selama ini aku selalu berusaha memaklumi semuanya, memaklumi
keadaanmu. Tapi kau...”
“aku tau, aku tau”
Robert menatap Natalie, “semua ini salahku, selalu salahku, Nat” ia menahan
emosinya, “aku memang orang yang gagal, aku gagal menjadi ayah yang baik, aku
gagal menjadi suami dan aku adalah penyebal gagalnya hubungan ini” nada Robert
mulai tinggi.
Natalie diam.
Robert menunduk,
“maafkan aku, Nat” ia pun pergi.
Natalie langsung
menangis.
Dini masuk ke
dalam, “Nat?”
Natalie menatap
Dini, “dia sudah pergi?”
“yap, matanya
merah. Expresinya seperti menahan sakit, sepertinya dia sangat sedih dengan
pertengkaran ini”
Natalie menunduk,
“sepertinya, hubungan kami akan berakhir”
“apa maksudmu?”
Dini kaget mendengar itu, “kau ingat saat dia menyanyikan lagu I SWEAR untukmu?
Dia sangat mencintaimu, Nat”
“tidak, Din.
Dia...”
“Nat, saat keluar
dari sini, aku melihat expresinya” Dini duduk disamping Natalie, “dia sangat
mencintaimu, percayalah padaku”
“aku takut
kehilangan dia, Din. Aku sangat mencintainya”
Dini memeluk
Natalie yang semakin menangis, “percaya padaku, Nat. Besok, dia akan kembali
untukmu”
Paginya,
Natalie sudah
bersiap untuk pergi ke kampus, ia akan mengurus persyaratan untuk ikut sidang
skripsi.
“kamu gak apa-apa
kan, kalau pergi sendirian?” Dini khawatir.
“aku baik-baik aja,
kok” Natalie tersenyum, “aku harus kuat, iya kan? Lagi pula sebentar lagi
sidang, tinggal selangkah lagi menuju sarjana”
“Nat...”
“do’akan aku ya,
Din?”
“pasti” Dini
tersenyum.
Natalie pun pergi.
***
Sorenya,
Natalie kembali ke
kostan.
“Nat...” Dini
mendekat.
“tadi siang, Robert
menelponku”
“lalu?”
“kami putus”
Natalie menunduk, “lucu juga ya, Din? Skripsiku selesai, hubunganku juga
selesai” ia menahan diri agar tidak terlihat sedih.
“Nat...” Dini khawatir,
“tadi Robert kesini, dia mencarimu”
“mencariku?”
Natalie kaget mendengar itu, mungkinkah Robert akan meminta Natalie untuk
kembali? Natalie menatap Dini, “apa yang dia katakan?”
Dini mengeleng,
“dia hanya menitipkan ini untukmu”
Natalie menatap
surat yang dipegang Dini, “aku rasa, semuanya sudah jelas. Buang saja” Natalie
masuk ke kamarnya.
“Nat, kau harus
membacanya. Mungkin ada hal penting yang akan Robert katakan lewat ini” Dini
menatap kamar Natalie yang dikunci.
“buang saja,
Din...”
Dini diam, ia
menatap surat itu. Mungkinkah aku harus
membaca ini? Dini kembali menatap kamar Natalie yang masih tertutup, maafkan aku, Nat. Aku harus membukanya.
Dini pun mulai membacanya,...
Selamat
tinggal Natalie...
Yang
selalu mencintaimu,
Robert
Dini terdiam.
Pagi itu,
Dini keluar dari
kamar dan melihat Natalie sedang menelpon, ia mendekat.
Natalie menyimpan
Hp-nya dan diam.
“Nat...” Dini duduk
disamping Natalie, “apa dia menelponmu?”
Natalie menggeleng,
“sekretarisnya yang menelponku”
“apa yang dia katakan?”
“dia memintaku
datang ke Stark Enterprise”
“hari ini?”
“aku tidak akan
pergi, Din”
“Nat...” Dini ingat
dengan isi surat itu, “kau harus kesana”
“tapi Din, aku...”
“Nat, aku tau
perasaanmu. Tapi kau harus kesana, pergilah” Dini menatap Natalie.
Natalie diam
melihat expresi Dini.
“percayalah padaku,
Nat”
Natalie menunduk.
Siangnya,
Natalie pergi ke
SE.
Sekretaris Robert
tersenyum, “Nat, kau tidak keberatan kan jika tidak dipanggil nona?”
“tak masalah, aku
bukan pacar bos-mu lagi” Natalie mendekat, “ada apa? Apa dia yang menyuruhku
kemari?”
“a..apa tuan tidak
bilang apa-apa padamu?”
“?” Natalie menatap
sekretaris itu.
“Nat, tuan sudah
pergi. Dia kembali ke negaranya”
“pindah?”
“ya, kemarin malam”
Natalie diam.
“tuan bilang, akan
tinggal bersama orang tuanya agar Harley tidak sendirian lagi”
“tinggal bersama
orang tuanya?”
“bukan untuk
kembali pada Jennifer, tapi demi kebaikan Harley”
“begitukah?”
Natalie menahan kekecewaannya.
“dia sangat
mencintaimu, Nat. Sebenarnya saat itu, dia ingin melamarmu” sekretaris itu
memberikan kotak cincin pada Natalie.
Natalie menatapnya,
“ini kan...?”
“yap, pelayan itu
salah meja”
Natalie terdiam.
“dia sangat
mencintaimu, Nat. Saat kalian bertengkar, tuan begitu kacau”
“aku tidak bisa
menerimanya” Natalie mengembalikan kotak itu.
“aku tau, ini
memang menyakitkan. Tapi aku tidak mungkin menyimpan ini, aku harus
memberikannya padamu. Meski nanti, kau akan membuangnya”
Natalie mengambil
kotak itu dan air matanya menetes.
“maafkan aku, Nat.
Aku tidak bermaksud membuatmu sedih, aku hanya ingin memberikan ini untukmu”
sekretaris itu memberikan sebuah surat.
“apa ini? Surat
perpisahan? Dia sudah memberikannya kemarin”
“bukan, Nat. Ini
beasiswa”
“beasiswa?”
“ya, beasiswa untuk
S2-mu. Tuan sudah mempersiapkan sejak dulu, tapi belum sempat diberikan padamu”
“ini terlalu
berlebihan”
“Nat, tidak ada
yang berlebihan. Sejak awal, tuan memang memiliki harapan besar padamu. Dan
jika akhirnya seperti ini, aku tetap harus memberikan apa yang memang sudah
jadi hakmu”
Natalie kembali
diam.
***
Di kostan,
Natalie menatap
surat Robert yang diberikan oleh Dini, “pria payah, kau tidak berani
mengatakannya langsung dihadapanku” ia ingat jika Robert tidak bisa mengucapkan
selamat tinggal, karena trauma masa lalunya.
Natalie pun
mengingat semuanya, siapa yang sangka kisah cintanya harus berakhir seperti
ini? Robert, pria dengan masa lalu yang begitu rumit, ternyata pergi
meninggalnya. Ia tak bisa memungkiri jika cintanya memang begitu dalam kepada
Robert, dan ia tau jika Robert juga sangat mencintainya. Namun takdir berkata
lain.
Natalie ingat janji
Robert saat Natalie menginap di rumahnya,...
Robert berhenti memainkan
piano dan menatap Natalie, “aku akan menemanimu di wisuda nanti”
“janji?” Natalie yang
duduk disamping Robert, tersenyum.
“janji”
Mereka berpelukan.
Namun kenyataannya,
Natalie akan sendirian saat wisuda nanti.
Natalie masuk ke
kamarnya sambil membawa surat itu, ia menatap gambar Harley yang ia tempel di
dinding. Natalie juga ingat pada Harley...
“apa tante mencintai
ayah?” Harley yang sedang mengambar, menatap Natalie.
“kenapa kau bertanya
begitu?” Natalie kaget dan menatap Harley.
“maukah tante menjadi
ibuku?”
Natalie tersenyum dan
memeluk Harley.
Harley tersenyum, “aku
sayang tante”
Air mata Natalie
menetes dan ia pun mencabut gambarnya, Natalie menyimpannya ke sebuah kotak
besar bersama surat perpisahan Robert. Ia juga menatap teddy bear pemberian
Robert.
Natalie ingat,
setiap malam ia memeluk boneka itu dan belajar dansa. Agar saat makan malam
bersama Robert, mereka bisa berdansa dengan baik. Namun kenyataannya, mereka
tidak akan pernah melakukan itu.
Natalie pun
menyimpan boneka itu ke kotak yang sama dengan gambar Harley.
Ia mengeluarkan
kotak cincin dari tasnya dan menyimpan itu ke tempat yang sama dengan barang
lainnya. Ternyata memang benar, saat Dini menikah nanti, Natalie tetap
sendirian. Dan dia akan sendiri di kostan atau ada teman baru yang akan
menemaninya.
Natalie menutup
kotak itu dan menggemboknya, air matanya terus menetes mengingat semua yang
telah ia lalui bersama Robert.
“Natalie...” Dini
masuk, ia sangat khawatir pada Natalie.
“Din...” Natalie
menghapus air matanya dan berusaha tersenyum, “lihat, aku dapet beasiswa S2”
Natalie memperlihatkan surat itu pada Dini.
Dini memeluk
Natalie, ia tau jika Natalie begitu sedih. Dan Natalie pun hanya bisa menangis
di pelukan Dini.
The End
___
Thank’s for reading…
Maaf
kalau isinya kurang menarik, komentar kalian sangat berarti untuk Sherly! ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar